NovelToon NovelToon
Love Journey Story

Love Journey Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Geamul

Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.

Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.

Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.

Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.

Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Hari yang Baik

Hari minggu ini, Al mengajak Jia untuk pergi jalan-jalan dan membatalkan jadwal untuk belajar. Jia pun sempat menolak, karena menurutnya hanya untuk membuang-buang waktu dan uang.

“Kamu kenapa tiba-tiba ngajak jalan-jalan?” tanya Jia.

“Gue bosen banget belajar mulu, sekali-kali kita refreshing biar gak suntuk.”

“Tapi Al, kita belum ngerjain tugas.”

“Udah, jangan dulu mikirin tugas. Gampang itumah, nanti juga beres.”

“Hmm ...” Jia bergumam.

“Ya udah, yuk kita berangkat sekarang!”

Akhirnya Jia pun menerima ajakan Al, karena sudah lama juga Jia belum pernah lagi jala-jalan. Karena selama ini, ia hanya sibuk untuk bekerja dan belajar. Jadi, tak ada salahnya ia untuk mencoba hal itu dan berusaha menikmati hari liburnya.

Mereka pun berangkat dengan mengggunaan motor, menelusuri jalanan di kota kembang yang sangat khas. Pemandangan yang cerah nan sejuk dan jalanan yang sedikit basah karena tadi malam sudah turun hujan, menemani perjalanan mereka.

“Al, kita mau kemana sih?” tanya Jia sedikit berteriak karena bisingnya kendaraan.

“Nanti juga lo tahu,” jawab Al sembari menoleh ke arah Jia.

Setelah 20 menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Jia sangat senang ketika ia tahu tempat yang akan ditujunya. Sungguh setelah sekian lama akhirnya ia bisa ke tempat ini lagi, ia pun sangat tak percaya.

“Al, kamu serius mau ajak aku ke trans studio?” tanya Jia tak percaya.

“Iya, serius,” jawab Al pasti.

“Kenapa, lo gak suka?” sambung Al.

“Suka, justru aku suka banget Al. udah lama banget aku gak kesini, dan sekarang akhirnya kesini juga. Makasih ya Al,” Jia tersenyum senang, matanya berbinar menelusuri tempat itu.

Al pun ikut tersenyum melihat Jia, dia langsung menarik tangan Jia untuk masuk ke dalam dan menaiki semua wahana yang ada. Jia masih merasa tak percaya, ini adalah seperti mimpi yang terwujud baginya.

Tak henti-hentinya Jia tertawa lepas, ia sangat menikmati hari liburnya. Pikirannya merasa bebas dan tenang, baru kali ini Jia bisa melepaskan beban dirinya selepas-lepasnya. Dan mampu meningatkan kebahagiaan pada dirinya.

Al pun ikut melepaskan semua beban dalam dirinya, berusaha membuat cerita baru dengan orang yang selalu mengusik pikirannya. Membuat kenangan yang tidak pernah terlupakan, dan menjadikan hari ini adalah hari yang baik untuknya terutama untuk Jia.

Keduanya pun beristirahat di sebuah kursi setelah selesai menaiki wahana yang membuat tenaga mereka sedikit terkuras. Mereka terduduk sembari menertawakan sisa-sisa keseruan mereka saat menaiki wahana.

“Tunggu bentar ya, gue mau beli minum dulu,” ucap Al lalu beranjak menuju toko yang tak jauh dari tempat duduk mereka.

Jia pun menunggu dan masih terus menikmati suasana trans studio di sore hari. Tak lama Al kembali dengan membawa 2 minuman dingin. Al membagikan minumannya pada Jia.

“Maskasih Al,” Jia langsung meminumnya.

Seketika mereka terdiam, sembari merehatkan kakinya yang sudah lelah karena berjalan mengelilingi tempat itu, lalu mereka asik dengan pikirannya masing-masing. Terkadang menertawakan lagi kejadian-kejadian yang membuat keduanya tertawa bersama.

“Tempatnya masih sama ya? hanya saja sekarang makin banyak wahananya,” ucap Jia menyapu sekelilingnya.

“Emangnya kapan lo kesini?” tanya Al.

“Udah lumayan lama, waktu aku kelas 1 smp. Dan waktu Ayah masih sehat,” jawab Jia yang suaranya mulai memelan.”

Al menjadi merasa tidak enak, “Sorry ya. Hmm, nanti kalau Ayah lo udah sembuh, gue bakal ajak kalian kesini,” ucap Al menghibur.

“Beneran Al?” sahut Jia kembali sumringah.

Al mengangguk dengan pasti dan tersenyum melihat Jia kembali tersenyum. mereka pun melanjutkan perjalannya menuju taman yang dihiasi dengan bebagai tumbuhan dan lampu-lampu yang berwarna-warni.

“Al,” Jia memanggil Al.

“Hm?” Al berdeham.

“Aku boleh tahu cita-citamu apa?”

“Cita-cita gue?” Al mengulangi pertanyaan Jia. “Hmm … gak tahu,” jawab Al kebingungan.

“Lho, kok gak tahu?” Jia tertawa kecil.

“Ya, gimana? Gue bingung mau jadi apa, mungkin kemauan gue terlalu banyak.”

“Em ... kalau menurut aku sih, kamu mulai cari cita-cita kamu dari apa yang kamu suka. Misalnya, kalau kamu suka main musik, kamu harus sering belajar dan latihan musik. Kalau kamu suka menyanyi, kamu harus sering juga latihan nyanyi biar kamu bisa nemuin cita-cita dari hobi kamu itu,” Jia menoleh ke arah Al, laki-laki itu hanya terdiam dan mengangguk.

”Karena dengan menekuni hal yang kita suka, itu akan lebih mudah membantu menemukan cita-cita kita dan kita pun akan menjalaninya dengan senang hati, karena apa yang kita kerjakan itu adalah hobi yang akan selalu kita lakuin,” sambung Jia, kali ini Jia menengadahkan wajahnya ke atas, menatap langit sembari tersenyum dan membayangkan cita-citanya.

Al mengikuti Jia, menengadakan wajah dan semakin terbawa kedalam kata-kata Jia. dia pun mulai membayangkan apa yang harus dia lakukan, lalu meyakinkannya bahwa itu adalah cita-cita yang di inginkannya.

Dari kecil, Al selalu mengikuti Ibunya dalam melakukan bisnis arsitektur karena dulu sang Ibu adalah seorang arsitek. Al melihat Ibunya sangat bekerja keras untuk membangun bisnisnya itu, ia pun selalu diajari agar bisa menjual produk yang mereka miliki dengan baik.

Dan Al selalu teringat perkataan sang Ibu, ‘Al, kalau nanti udah besar, Mama harap kamu mau terusin bisnis ini ya! Karena kamu adalah anak Ibu satu-satunya. Dan Mama yakin, kamu pasti akan sukses melebihi Mama,’ ucap Ibu Al.

Kata-kata itu pun selalu datang ketika Al sedang merindukan Ibunya. Dan sekarang ia baru sadar ketika Jia memberitahukan bahwa cita-cita harus ditekuni. Dan sekarang, pikirannya pun terbuka lebar, Al benar-benar mempertimbangkan kembali.

Saat sang Ibu masih ada, Al selalu menggambarkan rumah untuk Ibunya. Namun, ketika sudah tiada, Al tidak pernah lagi menggambar dan ia benar-benar mengubur semua hobinya dan nmenyimpannya rapat-rapat didalam kotak yang gelap.

Tetapi sekarang, semuanya seperti tumbuh kembali di dalam dirinya. Seolah ada energi yang mampu menguatkan dirinya, dan membangkitkan kembali semangat untuk terus melakukan hal yang ia sukai.

“Gue suka menggambar rumah,” ucap Al tiba-tiba.

“Kamu mau jadi arsitek?” tanya Jia.

Al mengangguk sangat yakin, matanya berbinar-binar seperti melihat mutiara yang indah. Jia pun sangat senang melihat Al yang akhirnya bisa menemukan apa yang ia sukai dan mampu memutuskannya.

“Tapi, kenapa kamu kuliah di jurusan ekonomi?” Jia mulai penasaran.

Al mengembus nafas, “Gue dipaksa sama Papa, dan sebenarnya gue juga gak mau kuliah ditempat Papa,” jawabnya kesal.

“Memangnya, kamu sebenci itu sama Pak Wijaya?” tanya Jia kembali dengan hati-hati.

“Gue gak tau. Tapi yang pasti, gue sangat kecewa,” sahut Al.

“Kamu, udah tahu alasannya kenapa Pak Wijaya membuat kamu kecewa?” Al hanya terdiam, tidak menjawab petanyaan Jia.

“Mungkin, dia punya alasan kuat Al. Pesan aku, kamu jangan terlalu egois ya! maaf kalau aku terlalu ikut campur, karena aku gak mau kamu menyesal nantinya,” ucap Jia dengan pasti dan dengan penuh perhatian.

Hari pun sudah menggelap, Jia dan Al bergegas pulang. Al langsung mengantarkan Jia pulang.

“Makasih banyak ya Al, untuk hari ini.”

“Iya, makasih juga. Gue, langsung pulang ya,” Al pun pergi menembus angin malam yang dingin dengan motor kesayangannya. Dan Jia langsung memasuki rumahnya.

1
Aixaming
Aku gak pernah menyangka kalau membaca cerita bisa membuatku merasa sebahagia ini.
Ayu Geamul: terimakasih ya sudah membaca ceritaku🙌🏻
total 1 replies
Dianapunky
Cocok di hati nih.
Ayu Geamul: terimakasih kak 🥰 jangan lupa mampir lagi untuk baca bab selanjutnya 🤗☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!