NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: tamat
Genre:Pembantu / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”

Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.

Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nenek Onderdil Bodol

Aroma busuk menyeruak di kamar berpenerangan remang. Ana dengan malas keluar dari selimutnya, menyalakan lampu lalu memeriksa onderdil pasiennya. 

Bahu wanita bertubuh gempal itu merosot, helaan napas lelah berhembus dari bibirnya yang sedikit mengerucut. Dengan suara selembut bisikan, Ana membangunkan nenek yang mendengkur pulas meski onderdilnya penuh dengan kotoran. 

“Nenek, bangun.” 

Wanita berwajah bak barbie itu langsung mendengus kesal, alisnya mengerut galak. “Huh! Ada apa ganggu orang tidur saja!” bentaknya. 

“Kamu BAB,” sahut Ana tak kalah galak. 

Ia benar-benar dibuat lemas oleh pasiennya seharian ini. Sudah lebih dari sepuluh kali, pasiennya buang hajat, belum lagi rentetan pesan dari sang suami mokondo yang baru berhenti setelah Ana mentransfer uang seratus ribu rupiah. 

Selesai membersihkan onderdil sang pasien, Ana kembali membaringkan badannya sambil melihat ponselnya. Sudut bibirnya melengkung tipis saat melihat salah satu story sahabatnya yang menampilkan wajah kusut sedang duduk di taman kota, dengan caption ‘menjaga orang gila, wajib ikut gila’ ia lalu mengetik balasan untuk sang sahabat. 

“Aku juga sedang jadi orang gila.” 

Pagi datang dengan begitu cepat, rasanya baru sebentar Ana memejamkan mata, tapi riuhnya dunia sudah kembali membangunkannya. Masih bersyukur di bangunkan kembali dari pada tak bangun sama sekali. Naudzubillah😩

Seperti hari-hari sebelumnya, awal pagi Ana selalu dibuka dengan memeriksa onderdil nenek, beruntung pagi ini onderdil sang nenek tidak bekerja. Ia lalu berjalan dengan gontai ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum memutar mesin cuci—mencuci sprei dan selimut bekas perang dengan kotoran semalam. 

Sambil menunggu mesin cucinya selesai bekerja, Ana menyempatkan diri untuk sarapan. Segelas kopi hitam dan dua lembar roti tawar dengan selai kacang menjadi menu sarapan Ana pagi itu. Wajah wanita itu nampak sumringah saat melihat pesan di layar ponselnya. 

“Selamat pagi Ibu ku yang cantik,” isi pesan manis yang dikirim Danu—putra sulungnya. 

“Pagi sayang,” balas Ana, matanya masih fokus menatap kanal pesan yang langsung menunjukkan titik tiga bergoyang pertanda Danu sedang mengetik balasan. 

“Ibu sudah sarapan, Danu lagi sarapan pake nasi pecel.” Danu kembali mengirim balasan, disusul pesan gambar yang menampilkan dia dan Raka sedang sarapan nasi pecel bersama Mbah Utinya.  

Ana tersenyum lembut, satu tangannya mengambil roti lalu mencelupkannya ke kopi sebelum ia masukkan ke dalam mulutnya, sedang tangan lainnya sibuk mengetik balasan pesan yang sang putra kirimkan. 

“Kok belum pada berangkat sekolah?” tanyanya, kemudian. 

“Hari ini hari minggu Ibu ku tersayang, libur sekolah, jadi bebas pegang ponsel ‘kan?” 

Tawa kecil terbit dari bibir Ana, bahagia sekali pagi-pagi sudah mendapat pesan cinta dari sang buah hati, seolah itu merupakan obat lelah paling mujarab untuknya. 

Pesan cinta dari Danu dan Raka, memang menjadi rutinitas pagi untuk Ana, sebelum ia berperang dengan kotoran dan juga ocehan sang pasien. Seolah seperti dopamin, pesan singkat sang putra selalu menjadi penyemangat tersendiri untuknya terlebih jika Mbak Asih mengirim video si kecil Aidar, seolah segunung masalah pun runtuh saat itu juga.  

Ana kembali mengetik balasan untuk Danu bersamaan dengan habisnya menu sarapannya. 

“Ya sudah, Ibu mau kerja dulu Mas, nanti kalau sudah beresan ibu telepon,” ucap pesan balasan Ana. 

Ia kemudian beranjak dari duduknya, merapikan bekas sarapannya lalu masuk ke kamar bersiap membangunkan sang pasien.  

Aroma busuk kembali menyapa penciuman Ana ketika selimut yang menutupi tubuh sang pasien ia buka, setumpuk kotoran menyambutnya. Ia kemudian mengambil tisu basah, mengenakan sarung tangan lalu membersihkan onderdil nenek. Sengaja ia tak membawa nenek ke kamar mandi, karena kalau pagi nyawa wanita tua itu belum terkumpul sepenuhnya, akan percuma mendudukkannya di kursi BAB. 

Selesai dengan drama kotoran, Ana mulai membangunkan pasiennya, mendudukkannya di kursi roda seraya menyuguhkan nasi hangat dengan taburan abon babi di atasnya. 

Alis Ana mengerut dalam saat melihat wajah nenek yang begitu kesakitan sambil memegang pangkal pahanya. 

“Kenapa?” tanya Ana, karena dilihatnya raut kesakitan nenek sedikit berbeda. 

“Kakiku sakit sekali,” keluh nenek. 

“Ya sudah cepat sarapan terus minum obat biar nggak sakit,” sahut Ana. 

Nenek masih terus meringis kesakitan sambil memegang pangkal pahanya, wajahnya yang sedikit pucat dan berkeringat membuat Ana sedikit khawatir. 

Ia lalu mendekati pasiennya itu, memeriksa apakah ada demam atau hanya sakit seperti biasa. Setelah memastikan tidak ada demam, Ana kembali meminta nenek untuk menghabiskan sarapannya. 

“Nenek, kamu habiskan sarapanmu, aku mau menjemur pakaian, kalau butuh sesuatu pencet bell,” ucapnya yang hanya dijawab ringisan oleh nenek. 

Ana menyelesaikan pekerjaannya dengan buru-buru, karena di dengarnya sang pasien terus-terusan berteriak kesakitan. Wanita bertubuh gempal itu menghela napas lelah saat melihat mangkuk nasi nenek tidak berkurang satu suap pun. 

“Kenapa belum dimakan juga sarapannya?” tanyanya. 

Nenek berdesis lirih, satu tangannya menekan pangkal pahanya kuat. “Aku tidak sanggup makan, Ana. Kakiku sakit sekali.”  

“Kamu harus makan, kalau tidak makan bagaimana kamu mau minum obat. Sini biar aku bantu kamu,” ujar Ana, lalu mengambil mangkuk nasi nenek. 

Namun, niat baiknya di tolak mentah-mentah wanita tua itu, dengan sedikit kasar dan raut judes, nenek mengambil kembali mangkuk nasi yang ada di tangan Ana lalu mulai menyuapkan sendiri ke mulut mungilnya. 

Sambil terus meringis, nenek dengan cepat menghabiskan sarapannya, lalu meminum obat yang sudah Ana siapkan.  Sudut mata wanita lanjut usia itu melirik tajam ke arah Ana yang sedang sibuk di dapur, satu tangannya dengan pelan menarik laci lemari yang ada di sebelahnya. 

Dengan cepat ia mengambil beberapa butir obat, lalu menelannya dan berpura-pura kesakitan begitu mengetahui Ana kembali ke kamar. 

“Bantu aku tidur, Ana, aku tidak sanggup duduk terlalu lama di kursi roda,” rintih nenek. 

Ana langsung mengerjakan perintah sang nenek tanpa menaruh curiga, bahwa petaka sedang menantinya. 

Bersambung. 

1
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
ojok goblok Nompo Roy....
awas 👊🏻
Muhammad Arifin
saran ya .... jgn masukkan unsur agama jika jln ceritanya begini terkesan ana murahan.apalagi ana memakai jilbab, stigma orang berjilbab JD buruk.
Anna: Terima kasih sarannya, Kak.
Tapi mohon maaf, saya tidak setuju Anda mengatakan stigma orang berhijab jadi buruk hanya karena penggambaran tokoh Ana. Banyak kok penggambaran cerita wanita muslimah kelakuan bejat, bahkan di dunia nyata contohnya juga ada.
Tapi, apapun pendapat Anda, terima kasih sudah sudi mampir di karya sederhana saya, dan semoga Anda membaca hingga selesai, siapa tau pola pikir Anda tentang Ana sedikit berubah. 🙏
total 1 replies
Muhammad Arifin
semangat kak buat terus menulis 🔥🔥🔥
Anna: Terima kasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
tuti raniati
Terimakasih Thor ceritanya sangat bagus, perjuangan seorang ibu bagi anak-anaknya yang penuh pengorbanan menyentuh sekali membacanya, sukses selalu Thor teruslah berkarya
Nurgusnawati Nunung
ceritanya bagusss
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. bagus ceritanya..
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
Anna: Amin, mkasih banyak kak.
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Bagus ya jalan ceritanya... Author the beast
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
untung mertuanya baik..
Anna: lebih ke mengerti keadaan.
total 1 replies
Moch Sholeh
dahh,ngk tau lah Thor mau komen apa,, tapi yg pasti ini cerita* TOP MARKOTOP* semangat terus berkarya 👍
Anna: Makasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
Linceu thea
jeng jeng siapa kamu sampai ga setuju woy 🤣🤣🤣
Anna: Nyonya Huang. 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
siapa yang Ndak setujuuu.....
Anna: Yang pasti bukan Andi.🤭
total 1 replies
Linceu thea
😍😍 nah lho akhirnya
Anna: ketemu juga 🤭
total 1 replies
Mul Yanto
lanjut Kak Ana 💪 semangat
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
CallmeArin
habis kmana aja kak, lama banget ngilangnya. udah jamuran aku nunggu😭🤣
Anna: Amin, makasih kakak-kakak yang baik 🫶
total 4 replies
Kustri
oalaaah ternyata bp tiri... hla pantes sayang cm pura"
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?
Mul Yanto
cerita nya bagus dan menarik
Siti Musyarofah
sampe lupa jln ceritanya Thor
Anna: Kakak, mohon maaf. karya ini memang saya revisi total dari bab 1, jadi ada sedikit perubahan. 🙏
total 1 replies
CallmeArin
akhirnya setelah sekian purnama
Anna: doa kan ya kak, semoga revisi yang satu nya bisa cepet beres, biar setiap up karya bisa crazy up. 🙏🙏🫶
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!