“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Onderdil Bodol
Aroma busuk menyeruak di kamar berpenerangan remang. Ana dengan malas keluar dari selimutnya, menyalakan lampu lalu memeriksa onderdil pasiennya.
Bahu wanita bertubuh gempal itu merosot, helaan napas lelah berhembus dari bibirnya yang sedikit mengerucut. Dengan suara selembut bisikan, Ana membangunkan nenek yang mendengkur pulas meski onderdilnya penuh dengan kotoran.
“Nenek, bangun.”
Wanita berwajah bak barbie itu langsung mendengus kesal, alisnya mengerut galak. “Huh! Ada apa ganggu orang tidur saja!” bentaknya.
“Kamu BAB,” sahut Ana tak kalah galak.
Ia benar-benar dibuat lemas oleh pasiennya seharian ini. Sudah lebih dari sepuluh kali, pasiennya buang hajat, belum lagi rentetan pesan dari sang suami mokondo yang baru berhenti setelah Ana mentransfer uang seratus ribu rupiah.
Selesai membersihkan onderdil sang pasien, Ana kembali membaringkan badannya sambil melihat ponselnya. Sudut bibirnya melengkung tipis saat melihat salah satu story sahabatnya yang menampilkan wajah kusut sedang duduk di taman kota, dengan caption ‘menjaga orang gila, wajib ikut gila’ ia lalu mengetik balasan untuk sang sahabat.
“Aku juga sedang jadi orang gila.”
Pagi datang dengan begitu cepat, rasanya baru sebentar Ana memejamkan mata, tapi riuhnya dunia sudah kembali membangunkannya. Masih bersyukur di bangunkan kembali dari pada tak bangun sama sekali. Naudzubillah😩
Seperti hari-hari sebelumnya, awal pagi Ana selalu dibuka dengan memeriksa onderdil nenek, beruntung pagi ini onderdil sang nenek tidak bekerja. Ia lalu berjalan dengan gontai ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum memutar mesin cuci—mencuci sprei dan selimut bekas perang dengan kotoran semalam.
Sambil menunggu mesin cucinya selesai bekerja, Ana menyempatkan diri untuk sarapan. Segelas kopi hitam dan dua lembar roti tawar dengan selai kacang menjadi menu sarapan Ana pagi itu. Wajah wanita itu nampak sumringah saat melihat pesan di layar ponselnya.
“Selamat pagi Ibu ku yang cantik,” isi pesan manis yang dikirim Danu—putra sulungnya.
“Pagi sayang,” balas Ana, matanya masih fokus menatap kanal pesan yang langsung menunjukkan titik tiga bergoyang pertanda Danu sedang mengetik balasan.
“Ibu sudah sarapan, Danu lagi sarapan pake nasi pecel.” Danu kembali mengirim balasan, disusul pesan gambar yang menampilkan dia dan Raka sedang sarapan nasi pecel bersama Mbah Utinya.
Ana tersenyum lembut, satu tangannya mengambil roti lalu mencelupkannya ke kopi sebelum ia masukkan ke dalam mulutnya, sedang tangan lainnya sibuk mengetik balasan pesan yang sang putra kirimkan.
“Kok belum pada berangkat sekolah?” tanyanya, kemudian.
“Hari ini hari minggu Ibu ku tersayang, libur sekolah, jadi bebas pegang ponsel ‘kan?”
Tawa kecil terbit dari bibir Ana, bahagia sekali pagi-pagi sudah mendapat pesan cinta dari sang buah hati, seolah itu merupakan obat lelah paling mujarab untuknya.
Pesan cinta dari Danu dan Raka, memang menjadi rutinitas pagi untuk Ana, sebelum ia berperang dengan kotoran dan juga ocehan sang pasien. Seolah seperti dopamin, pesan singkat sang putra selalu menjadi penyemangat tersendiri untuknya terlebih jika Mbak Asih mengirim video si kecil Aidar, seolah segunung masalah pun runtuh saat itu juga.
Ana kembali mengetik balasan untuk Danu bersamaan dengan habisnya menu sarapannya.
“Ya sudah, Ibu mau kerja dulu Mas, nanti kalau sudah beresan ibu telepon,” ucap pesan balasan Ana.
Ia kemudian beranjak dari duduknya, merapikan bekas sarapannya lalu masuk ke kamar bersiap membangunkan sang pasien.
Aroma busuk kembali menyapa penciuman Ana ketika selimut yang menutupi tubuh sang pasien ia buka, setumpuk kotoran menyambutnya. Ia kemudian mengambil tisu basah, mengenakan sarung tangan lalu membersihkan onderdil nenek. Sengaja ia tak membawa nenek ke kamar mandi, karena kalau pagi nyawa wanita tua itu belum terkumpul sepenuhnya, akan percuma mendudukkannya di kursi BAB.
Selesai dengan drama kotoran, Ana mulai membangunkan pasiennya, mendudukkannya di kursi roda seraya menyuguhkan nasi hangat dengan taburan abon babi di atasnya.
Alis Ana mengerut dalam saat melihat wajah nenek yang begitu kesakitan sambil memegang pangkal pahanya.
“Kenapa?” tanya Ana, karena dilihatnya raut kesakitan nenek sedikit berbeda.
“Kakiku sakit sekali,” keluh nenek.
“Ya sudah cepat sarapan terus minum obat biar nggak sakit,” sahut Ana.
Nenek masih terus meringis kesakitan sambil memegang pangkal pahanya, wajahnya yang sedikit pucat dan berkeringat membuat Ana sedikit khawatir.
Ia lalu mendekati pasiennya itu, memeriksa apakah ada demam atau hanya sakit seperti biasa. Setelah memastikan tidak ada demam, Ana kembali meminta nenek untuk menghabiskan sarapannya.
“Nenek, kamu habiskan sarapanmu, aku mau menjemur pakaian, kalau butuh sesuatu pencet bell,” ucapnya yang hanya dijawab ringisan oleh nenek.
Ana menyelesaikan pekerjaannya dengan buru-buru, karena di dengarnya sang pasien terus-terusan berteriak kesakitan. Wanita bertubuh gempal itu menghela napas lelah saat melihat mangkuk nasi nenek tidak berkurang satu suap pun.
“Kenapa belum dimakan juga sarapannya?” tanyanya.
Nenek berdesis lirih, satu tangannya menekan pangkal pahanya kuat. “Aku tidak sanggup makan, Ana. Kakiku sakit sekali.”
“Kamu harus makan, kalau tidak makan bagaimana kamu mau minum obat. Sini biar aku bantu kamu,” ujar Ana, lalu mengambil mangkuk nasi nenek.
Namun, niat baiknya di tolak mentah-mentah wanita tua itu, dengan sedikit kasar dan raut judes, nenek mengambil kembali mangkuk nasi yang ada di tangan Ana lalu mulai menyuapkan sendiri ke mulut mungilnya.
Sambil terus meringis, nenek dengan cepat menghabiskan sarapannya, lalu meminum obat yang sudah Ana siapkan. Sudut mata wanita lanjut usia itu melirik tajam ke arah Ana yang sedang sibuk di dapur, satu tangannya dengan pelan menarik laci lemari yang ada di sebelahnya.
Dengan cepat ia mengambil beberapa butir obat, lalu menelannya dan berpura-pura kesakitan begitu mengetahui Ana kembali ke kamar.
“Bantu aku tidur, Ana, aku tidak sanggup duduk terlalu lama di kursi roda,” rintih nenek.
Ana langsung mengerjakan perintah sang nenek tanpa menaruh curiga, bahwa petaka sedang menantinya.
Bersambung.
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?