Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Misty Yang Aneh
Nyonya Aura dan Angkasa mengalihkan pandangannya saat mendengar suara bas, Tuan Edgar, begitu juga dengan Indira, dia menelan ludahnya kasar saat melihat laki-laki paru baya berjalan ke arahnya dengan tatapan tajamnya, tidak. Bukan cuma ke arahnya saja tapi ke arah yang lain juga, Indira mengusap dahinya yang berkeringat entah kenapa melihat tatapan laki-laki di depannya membuat dirinya takut. Indira menundukan pandangannya menghindari tatapan tuan Edgar.
Tuan Edgar berdiri di samping istrinya beliau melihat Angkasa dan juga Indira, yang lagi menundukan pandangannya beliu menarik sudut bibirnya ternyata dugaannya benar kalau yang sudah mengacaukan rencananya adalah putranya sendiri! Tapi yang tidak dirinya mengerti kenapa putranya itu malah membawa perempuan di depannya itu pulang kerumahnya? Batin Tuan Edgar bertanya-tanya karena beliau tidak tau tentang pernikahan Angkasa dan Indira.
"Ternyata kau masih tau jalan pulang? Dan siapa perempuan yang ada di sampingmu itu?" tanya, Tuan Edgar menunjuk Indira dengan dagunya.
Deg...
Indira yang mendengar, Tuan Edgar menanyakan dirinya jantungnya berasa mau copot aura orang di depannya bener-bener membuatnya sulit untuk bernapas, rahangnya yang koko pun tatapannya yang tajam mampu melumpuhkan keberaniannya saat berdebat melawan suaminya barusan. Indira meremas jari jemarinya yang entah sejak kapan berkeringat.
Angkasa menaikan alisnya mendengar pertanyaan dari, Papahnya, dia tersenyum mengejek pintar sekali, Pak tua itu pura-pura tidak tau padahal dirinya lah yang berencana menculik istrinya dan berniat membunuhnya. Angkasa melihat sang istri yang terlihat sedang ketakutan. Dia mengaitkan jari jemarinya di selah-selah jari Indira membuat perempuan itu mendongakan kepalanya.
"Dia, Indira, istriku, Pah," jawabnya langsung mengakui Indira sebagai istrinya.
"Istri? Jangan bercanda, Angkasa. Mana mungkin kamu mau menikah sama perempuan udik seperti dia." ujar, Tuan Edgar tergalak melihat Indira dengan tatapan merendahkan.
"Terserah apa kata, Papah, tapi yang jelas Indira adalah istriku," ucap Angkasa lagi.
"Kau! Dasar anak tidak tau di untung berani sekali kau menikahi perempuan kampung tanpa sepengetahuan, Papah! Apa kau tidak ingat kalau kamu sudah, Papah jodohkan sama Maudi? Perlu kamu ingat itu Angkasa!" teriak, Tuan Edgar menarik kerah kemeja putranya.
"Itu kan kemauan, Papah, sedangkan aku tidak mau di jodohkan sama gadis itu," Angkasa melepaskan cengkraman tangan Papahnya dan berlalu pergi dari hadapannya.
Angkasa, menaiki anak tangga menggandeng tangan istrinya sedangkan di belakangnya ada 2 art yang membawa barang-barangnya dan koper milik istrinya. Sesampainya di kamar Angkasa menyuruh para art meninggalkan kamarnya dan langsung menghempaskan tanga istrinya kuat membuat, Indira terhuyung hampir terjatuh.
Indira meringis kesakitan karena genggaman tangan suaminya itu terlalu kuat meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangannya, kalau boleh jujur Indira sangat berterimakasih sama suaminya karena sudah menyelamatkan dirinya dari laki-laki paru baya yang di depan tadi. Indira mengitari pandangan melihat kamar yang begitu luas bahkan lebih luas dari kamarnya banyak barang-barang mewah di dalamnya, dia kebingungan harus berbuat apa setelah ini karena dirinya tidak tau apapun.
"Tunggu apa lagi, kau mau berdiri di situ sampai berapa lama? Bereskan semua barang-barang ku dan siapkan keperluan ku buat ke kantor," ujar Angkasa mengagetkan istrinya.
"Tapi aku tidak tau dimana tempat barang-barang ini, dan keperluan apa yang harus aku siapkan?" tanyanya denga raut wajah bingung.
"Sebentar lagi bi Narsi, kesini dia yang akan mengajarimu," sahut Angkasa bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Enggak lama terdengar suara ketukan dari luar seseorang yang di maksud Angkasa, sudah datang art yang mengurus keperluan, Tuan mudanya itu bi Narsi sedikit menundukan kepalanya saat melihat Indra, ya dirinya sudah di beri tau kalau harus mengajari Indira atau istri baru tuan mudanya.
Di bawa, Tuan Edgar lagi meluapkan semua amarahnya setelah mengetahui kebenarnya kalau sang putra sudah menikahi perempuan yang berusaha untuk di lenyapkannya! Bukannya mati tapi perempuan itu malah datang kerumahnya yang kini sudah berstatus sebagai menantunya.
"Kenapa, Mamah, tidak memberi tau kalau putra kita semalem menikahi perempuan itu? Dan kenapa, Mamah malah membiarkannya begitu saja!" teriak, Tuan Edgar di depan wajah istrinya.
"Kenapa, Mamah, harus melarangnya, Pah? Putra kita sudah melakukan kesalahan besar jadi sudah sepantasnya dia bertanggung jawab yaitu dengan cara menikahi Indira," jawab Nyonya Aura membalas tatapan suaminya.
"Tapi Angkasa, dia sudah, Papah jodohkan dengan, Maudi, apa Mamah lupa?" tanyanya.
"Mamah sama sekali tidak peduli dengan perjodohan itu. Dan, Mamah tentu tidak melupakan hal itu Pah, tapi sekarang keadaanya sudah berbalik seharusnya, Papah senang karena putra kita sudah mau bertanggung jawab atas perbuatannya, bukannya malah marah-marah enggak jelas seperti ini." Nyonya Aura menggeleng tidak mengerti sama jalan pikiran suaminya beliau meninggalkan suaminya dan masuk kedalam kamar.
"Ini semua gara-gara perempuan itu, lihat saja saya pastikan kamu akan menderita tinggal di rumah ini." batin, Tuan Edgar.
******
Setibanya di kantor Angkasa dan Candra, menjadi pusat perhatian dari semua karyawan yang bekerja di perusahaannya, ternyata yang menarik perhatian dari mereka semua yaitu atasannya yang biasanya terlihat ganteng dan berwibawa kini terlihat terdapat banyak luka lebam di wajahnya, akan tetapi itu tidak mempengaruhi ketampanan Angkasa, biarpun wajahnya penuh lebam tetep dia masih terlihat ganteng seperti biasa ya itulah bisikan-bisikan para karyawannya.
Candra menghentikan langkahnya dia berbalik badan memberikan tatapan tajamnya sama semua orang membuat mereka yang tadinya saling berbisik berubah menjadi tegang, selain Angkasa dan Tuan Edgar orang yang mereka takuti setelah keduanya yaitu Candra dan Tuan Malik, ayah dari Candra asisten pribadi tuan Edgar.
"Apa kalian bosen mencari biaya hidup? Kerjakan tugas kalian jangan sampai ada kesalahan sedikit pun atau kalian siap meninggalkan perusahan ini! Apa kalian mengerti!" ujar Candra menekankan ucapannya.
"Maafkan kami, Pak," sahut semuanya dengan menundukan pandangannya.
Tanpa menyahuti permintaan maaf karyawannya, Candra bergegas menyusul Angkasa yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya menuju ke lif khusus Ceo. Candra masih melihat keberadaan Angkasa lagi berdiri di depan lif dengan langkah lebarnya dia berhasil menyusul Angkasa, keduanya masuk kedalam lif Candra langsung memencet tombol lantai paling atas.
Saat keluar dari lif keduanya langsung di sambut sama Misty, sekertaris pribadi Angkasa keduanya saling berpandangan saat melihat keberadaan Misty, setau mereka Misty meminta izin selama 1 minggu tapi sekarang perempuan itu sudah mulai masuk kerja.
Misty mendekati kedua atasannya dia sedikit membungkukan badannya sebagai sapaan, melihat wajah lebam atasnya reflek Misty langsung mendekati Angkasa dan menanyakan keadaannya.
"Ya ampun, Pak Angkasa, muka, Bapak kenapa?" tanyanya panik hampir menyentuh wajah Angkasa.
Sontak Angkasa, langsung menjauhkan tubuhnya saat Misty berusaha menyentuhnya. Dia menaikan alisnya melihat tingkah sekertarisnya itu, Angkasa nyelonong pergi dan masuk kedalam ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Candra, sedangkan di depannya ruangan Misty.
"Hei, ada apa dengan mu? Kau berusaha menggodan, Tuan muda!" ujar Candra dengan tatapan intimidasinya.
"T-idak, maafkan saya, Pak Candra," ucapnya.
"Kembali bekerja lain kali tidak usah berlebihan seperti tadi," ucap Candra mengingatkan Misty.
"Baik, Pak." jawab Misty lagi.
Candra menggeleng merasa ada yang aneh sama sekertaris, Tuan mudanya itu.
"Dasar asisten kaku," umpat Misty pelan.
"Apa kamu bilang!" seru Candra menarik tangan Misty.
*****
Bersambung .....