Rubby Hania, Gadis cantik yatim piatu yang di asuh sang paman dan Bibi. Namun sayang sang Bibi begitu kejam memperlakukan nya.
Suatu malam tepat setelah sang paman di makamkan, Rubby di usir sang Bibi. Rubby bertemu seorang pria bule yang sedang melintas. Marco Tarance hampir saja menabarak nya. Marco sempat memakinya. Namun anak laki-laki Marco yang berusia 6 tahun Avalon Tarance, malah menolong dan membawa Rubby pulang.
Akhirnya Rubby menjadi pengasuh Avalon. Suatu malam Marco hampir memperkosa Rubby, dan Avlon yang memergoki sang Ayah yang hendak berbuat aib, maka ia memaksa Marco agar menikahi Rubby.
Bagaimana kisah selanjutnya Antara, Rubby, Marco dan Avalon. Sorry, I Love you.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 13. call me Marco
"Come on Rubby kamu bisa!" pekik Marco saat mobil yang Rubby kendalikan menyalip dua kendaraan sekaligus yang masing masing berjarak 100 meter dan 2 kendaraan itu sekiranya bejarak 300 meter jauhnya, hingga Rubby dapat melewatinya.
"Tuan ini terlalu berbahaya! ucap Rubby. "Kendalikan saja dengan baik dan penuh konsentrasi. Jagan lupa perhitungan yang matang Rubby."
"Ayo, aku tantang tiga mobil besar di depan dan dua mobil kecil setelah nya. Menyalip dari kiri kamu silang ke kanan. lalu mobil kecil yang di depan itu setelah kau dapat melewatinya. Mobil ini resmi menjadi milikmu," tukas Marco.
"Tapi Tuan...!"
Marco menatap nya penuh keyakinan. Rubby membuang rasa takutnya, ia menarik nafas dalam. "BISMILLAHIROHMANIROHIM" ucap Rubby matap.
Rubby mulai melajukan kendaraannya dengan menambah kecepatan. dengan keyakinan, penuh perhitungan yang pasti setelah ia lihat kanan-kiri tidak ada kendaraan dan aman untuk ia lalui di samping kirinya, ia mulai melewati kendaraan besar yang panjang nya perkiraan hampir 10 meter.
"Fast Rubby. Yes good job! Yuhuuu," teriak Marco penuh kemenangan.
Rubby mendahului truck trailer itu dengan kecepatan yang ia tambah kembali lalu setelah mobil besar itu sukses ia dahului dari sebelah kiri. Maka mobil nya ia bawa ke lajur kana kanan, klakson panjang berbunyi dari kendaraan yang ia lewat tadi.
"Tenang Rubby, jangan gentar," ucap Marco
Rubby merasa mendapatkan kekuatan. Ia kembali memacu kendaraannya melewati dua buah mobil besar di depannya dan itu berhasil. Rubby ikuti perintah Marco dengan menyalip mobil itu ke arah kiri.
Kemudian ia melewati dua mobil kecil 2 di depannya dengan menyalip di sebelah kiri lalu ke kanan. "Astagfirullah, oleng Tuan," teriak Rubby.
"Tenang!" ucap Marco, ia pun sedikit panik. Namun ia membantu Rubby menarik perlahan setir yang dipegang Rubby saat mobil nya nyelonong ke kanan hampir mengarah ke pembatas jalan tol. Tangan kiri Marco berada di atas kemudi dan tangan kanan nya memeluk bahu Rubby.
"Rem perlahan," pinta Marco. Rubby pun mengikuti nya. "Tuan, tangan Rubby bergetar dan jantung Rubby berdegup kencang," ucap Rubby jujur.
"Tidak mengapa, karena ini hal baru bagimu!" ucap Marco. Dengan sisa keberaniannya. Rubby berusaha mengendarai kendaraannya dan mengikuti setiap ucapan Marco.
"Baik Tuan!" Masih dengan rasa berdebar yang berlebih dan setiap buku tangan yang terasa dingin akhir nya Rubby dapat menguasai laju kendaraan nya dengan kecepatan sedang dan mereka berhasil menarik lebih ke arah tengah setelah sebelumnya hampir menabrak pagar pembatas sebelah kanan.
"Ya sudah, masuk ke Rest area saja dulu," ucap Marco. Rubby pun membelokan kendaraan nya ke rest area. Marco berusaha menenangkan Rubby saat sudah berhenti di rest arean, wajah Rubby yang terlihat pucat, membuat Marco merasa bersalah.
"Maafkan Aku Rubby!" ucap Marco. "Tidak mengapa, malah harusnya Rubby berterimakasih pada Tuan,yang sudah membuat Rubby menjadi perempuan pemberani," jawab Rubby.
'Ya sudah! Aku belikan minum untuk mu. Pindahlah duduk mu ke belakang. Tenangkan dirimu dahulu," pinta Marco. "Baik Tuan!"
Akhirnya dengan bantuan Marco. Rubby dipersilahkan duduk di belakang. lalu ia bergegas membeli minuman. Tak berapa lama Marco pun kembali. Marco masuk ke tempat duduk Rubby dan duduk di sebelahnya.
"Minum dulu, tenangkan dirimu! aku yang akan membawa mobil. kamu cukup duduk di sini dan tenang! selamat mobil ini sudah menjadi milikmu," ucap Marco
"Tidak perlu Tuan. Ini terlalu berlebihan, Aku senang melakukannya tanpa harus diberi hadiah," ucap Rubby.
"Maaf! aku sudah katakan aku sudah lama tidak bermain-main di jalan raya dan aku hanya ingin membuat engkau berani. Tolong terima mobil ini," pinta Marco dengan nada yang memaksa.
"Tapi Tuan!" tukas Rubby. "Huusstt, tak ada penolakan lagi! mobil ini resmi menjadi milikmu, aku sudah berjanji dan aku pantang mengingkari janji. Nanti aku akan urus surat-suratnya," ucap Marco. menempelkan jari telunjuk nya di bibir Rubby.
"Baiklah kalau begitu aku akan terima! terima kasih Tuan, tapi mobilnya tetap dapat Tuan pakai kok, tidak masalah!" ujar Rubby.
"Baik, aku akan tetap meminjamnya darimu. Karena saat ini aku sudah tidak punya mobil," ucap Marco. Tersenyum malu.
"Sudah tahu Tuan tidak punya mobil lagi, kok malah memberikannya padaku," ucapan Rubby seraya menurunkan tangan Marco dari bibirnya.
"Hehe iya juga! atau mungkin aku terlalu bodoh?" ucap Marco sembari tertawa. "Tidak juga Tuan, itu karena Anda terlalu baik! dan saya fikir hari ini pun jika Tuan mau, Tuan sudah membeli mobil yang baru."
"Hehe, thank you Rubby. Kamu selalu membuat aku senang. kamu memang gadis yang baik," ucap Marco. lalu ia raih Rubby ke dalam pelukannya. Rubby yang mendapat pelukan tiba-tiba ia merasa tersentak dan hendak menarik diri. "Jangan, tolong!"
"Tuan, maaf ini tidak pantas!" seru Rubby pelan. "Bagiku pantas saja! memang mengapa?"
"Kita hanya sekedar Boss dan pelayan Tuan. maka ini tidak pantas, Rubby tidak ingin reputasi Tuan menjadi buruk, Jika ada yang tahu Tuan memeluk pengasuh Anak Tuan," tutur Rubby.
"Biarkan saja! aku tak peduli Rubby. Biarkan mereka beranggapan apa. Bukanakah di mata Tuhan semua manusia itu sama?" tanya Marco sembari melepaskan pelukannya pada Rubby.
"Hemm, terserah Tuan. Namun maaf Rubby dan Tuan bukanlah Mahram. Maka kita juga tidak pantas berpeluk seperti tadi. Rubby malu pada Allah," ucap Rubby.
"Maaf Rubby. Aku sudah reflek memeluk mu! aku menganggap pelukan dari seorang teman. Kamu mau kan menjadi teman ku?" tanya Marco.
"Apa aku pantas menjadi teman untuk Tuan?" tanya Rubby. "Pantas saja, baik karena kita sudah menjadi teman. Maka panggil namaku saja, jangan sebut aku dengan kata Tuan," pinta Marco.
"Tapi Tuan!.."
"Sudahlah, sebut aku Marco saja ya! oke kita kembali pada tujuan Awal mendengarkan kamu bercerita. Aku yang akan mengemudi, Kamu tetap duduk di sini," ucap Marco, sembari keluar dari bangku belakang dan menuju bangku. mengemudi
Marco kembali mengendarai kendaraan nya, yang kini sudah menjadi milik Rubby. Tak lama hujan deras pun turun. Ia lihat dari kaca spion tengah. Rubby tertidur di bangku belakang. Marco tersenyum senang, dengan kecepatan sedang ia membawa kendaraannya keluar dari jalan tol menuju sebuah apartemen
Kini sudah di parkiran apartemen dia mencoba membangunkan Rubby. "Rubby bangun! kita telah sampai."
Uumm, Rubby menggeliat. "Ini di mana Tuan?" tanya Rubby. "Marco! call me Marco," ucap Marco penuh tekanan. bukan nya menjawab dari pertanyaan Rubby.
"I_iya Ma_Marco," ucap Rubby gugup. Lidah nya kelu, karena belum terbiasa. "That's good,come on!" ajak Marco.
Rubby pun mengikuti langkah Marco, sebetulnya ia merasa tidak tenang dalam hatinya. Mengapa Marco mengajaknya ke sebuah apartemen. "Maaf marco, mengapa kamu mengajakku ke apartemen?" tanya Rubby malu-malu, ia terpaksa bertanya karena ia merasa takut.
"Kita butuh tempat yang tenang untuk kamu bercerita! maka dari itu aku membawamu ke apartemen ku. Di sini tempat nya sepi," ucap
Marco.
Rubby bergidik saat mendengar kata 'sepi', sebetulnya ia was was. Takut Marco melakukan hal-hal aneh terhadapnya
"Ya Allah tolong lindungi aku. Aku terpaksa mengikuti nya, Karena dia ingin mendengar cerita saya, saya mohon ampun ya Robb. Dia membantuku sebelumnya,"
batin Rubby. Hingga kini sampailah sudah di apartemen Marco.
Next👉
msak orang baik harus d madu
tpi gpp udah ending juga
gemes q ma emily
pngen uwel uwel mak AUTHORRRRRRRRRR
Q GA HARUS nunggu up nya buat tahu kejutan krna pas q baca udah tamat
tpi tetep aja masih deg deg an
pa lagi yg part 1 walah 3kli baca ga bosen
ampe klo dngar bacaan Ar-Rahman q pasti inget ustad afnan
smangat bunda