[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13. Gadis Picik
Zahra berjalan ke arah kantin di ikuti oleh Verrel di belakangnya. Zahra berjalan dengan santainya, kali ini dia tidak menunduk atau risih, karena apa? Keberadaan Verrel yang berjalan 1 meter di belakangnya membuat siswi-siswi di koridor hanya fokus ke arah Verrel.
"Segitu besarnya kah pesona seorang Verrel Aryanka Radeya sampai-sampai mereka hanya fokus ke arah Verrel?" ngoceh Zahra membatin. Zahra berhenti sejenak dan berbalik menatap Verrel yang juga menghentikan langkahnya seperti dirinya.
Verrel mengangkat sebelah alisnya karena Zahra yang berhenti tiba-tiba dan beralih menatapnya seperti orang aneh.
"Ngapain Lo natap gue kek gitu?" cetus Verrel.
Zahra meringis mendengar nada cetus milik pemuda itu, nada bicaranya memang tak pernah bersahabat.
"Verrel ..." panggil Zahra sambil menoleh ke belakang menatap Verrel yang berdiri setengah meter di belakangnya. Mereka sekarang sudah berada di ambang pintu kantin.
Verrel mengangkat sebelah alisnya "Verrel? tuan ****'!! " bentak Verrel tidak terima.
"Iya udah tuan! traktir aku yah," lirih Zahra dengan wajah memelasnya. Dia benar-benar lapar saat ini dan di juga lupa membawa bekal.
"Hm," balasnya sekenanya sembari berjalan ke meja khusus dirinya dan kedua sahabatnya.
"Yeh! Makasihh," pekik Zahra antusias, sambil mengikuti arah langkah pemuda di depannya.
"Eh Pen! pesenin gue juga yah!" titah Verrel.
Zahra hanya mengangguk patuh dan beranjak untuk memesan makanannya, dia akan makan banyak hari ini mumpung di traktir. Bisa di bilang Zahra tidak akan membuang-buang kesempatan emas ini.
Setelah memesan dan antri cukup lama, kini Zahra membawa nampan berisi makanannya dan juga Verrel, Nasi goreng + batagor + bakso pesanan Verrel. Setelah itu Zahra kembali berlari ke salah satu penjual untuk membeli minuman.
"Mbak kantin, Zahra ambil minumnya lima yah," ujar Zahra ramah.
"Ambil aja yang penting bayar," balas seorang wanita yang di panggil mbak kantin oleh Zahra.
"Iya mbak tenang aja, itu ... tuh mbak yang bayar yang duduk sendiri di meja paling pojok," ujar Zahra sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Verrel, Verrel juga menatap ke arah gadis itu dan mengernyit bingung saat Zahra mengajukan telunjuk ke arahnya.
"Bang Verrel?" tanya wanita itu yang di balas anggukan antusias oleh Zahra.
"Ya udah mbak, Zahra ambil dua dulu yah entar sisanya yang tiga Zahra ambil pas pulang skolah," tutur Zahra yang di balas anggukan kecil oleh wanita di depannya.
Zahra berlari-lari kecil menuju meja tempat Verrel duduk, hingga ada seseorang yang sengaja menabrakkan dirinya dengan keras hingga gadis kecil itu meringis kesakitan.
Brukkk ...
"Aww ..." rintih Zahra saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kini gadis itu tengah duduk di lantai kantin memegang bahunya yang terasa sakit akibat pemuda di depannya. Sedangkan minuman yang di pegangnya terlempar entah kemana.
Pemuda yang menabrak gadis itu hanya menampilkan wajah mengejeknya, "Makanya lo jangan lari-lari di ruangan seramai ini, kek anak TK Lo, cih!"
BUGH!!
Pemuda yang menambrak plus mengejeknya kini terhuyung beberapa meter saat mendapat tendangan keras oleh pemuda lainnya.
Verrel menendang pemuda itu hingga terhuyung beberapa meter, Verrel menatap pemuda itu dengan raut datarnya tetapi dengan pancaran mata yang menyorot tajam.
Semua penghuni kantin menatap ke sang rival, bahkan seantero sekolah ini sudah mengerumuni kantin. Banyak yang berdecak sebal dan menyumpah serapahi Zahra, bahkan siswi-siswi tidak waras itu menginginkan jika dia saja yang ada di posisi Zahra dan di bela oleh Verrel.
Pemuda yang menabrak Zahra hanya memalingkan wajahnya, memperbaiki seragamnya yang sedikit berantakan dan merintih kesakitan akibat tendangan maut Verrel.
Pemuda itu hendak melangkah dan meninggalkan tempat ini tetapi suara menyeramkan Verrel terdengar, "Mau kemana lo?" sarkas Verrel.
"Gue mau ke kelas!" jawab pemuda itu. Terlihat di wajahnya bahwa pemuda itu benar-benar tidak ingin berurusan dengan most wanted sekolah ini. Jika saja di luar sekolah mungkin dia akan membalas tendangan Verrel, tetapi sayangnya tidak! mereka masih berada di kawasan sekolah dan dia tidak ingin ulahnya ketahuan oleh guru BK.
Verrel menyeringai membuat para penonton bergidik ngeri, "Cih! minta maaf sama cewek ini buruan!" perintah Verrel.
"Mau Lo apa hagh?!" tanya pemuda itu tidak terima.
"Lo budeg!" desis Verrel.
Pemuda yang menabrak Zahra terlihat sangat menyeramkan, kedua tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras dan tatapan tajamnya yang menatap nyalang. Dengan terpaksa pemuda itu menuruti kemauan Verrel dia berjalan ke arah Zahra dan membungkuk kan badannya, menatap gadis yang sedang terisak-isak sambil memegang sebelah bahunya yang terasa sakit dan menunduk dalam, "Gue minta maaf!" bisiknya pelan dan langsung berjalan menerobos kerumunan.
Verrel menatap ke arah Zahra yang sedang menangis akibat sakit di sekujur tubuhnya. Verrel berdecih dan menstabilkan ekspresinya kembali, "BANGUN!!" sentaknya tegas.
Dan sentakan itu sukses membuat Zahra terpelonjak kaget dan berdiri sambil terisak-isak, gadis itu masih menunduk. Bahkan Verrel mendengar jelas suara isak tangis gadis di depannya ini, terbesit rasa bersalah dalam benaknya bukannya membantu Zahra berdiri dia malah membentaknya.
Verrel emang nggak ada baik-baiknya_-.
Setelah kepergian pemuda yang menabrak Zahra, penonton mulai berkurang karena merasa takut menjadi sasaran kemarahan Verrel.
Verrel berjalan keluar kantin tanpa menoleh ke arah Zahra, ia yakin bahwa gadis itu pasti akan mengikutinya dan benar saja! Zahra tengah berjalan di belakangnya sambil terisak-isak.
"Sialan! Bisa-bisanya laki-laki itu buat bocah pendek ini menangis sesenggukan," tutur Verrel membatin
Verrel yang merasa risih akibat suara Zahra yang tak kunjung reda pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya 180° untuk menatap gadis yang sekarang ada di depannya.
Verrel menunduk untuk melihat jelas wajah Zahra dan yang di dapatinya adalah wajah sembab, mata merah akibat menangis, bibirnya pucat seperti tak ada darah yang mengalir di tubuhnya dan jangan lupa kan hidungnya yang sesekali mengeluarkan cairan yang gadis itu lap menggunakan hijabnya.
Verrel menatap datar ke arah Zahra yang masih sesenggukan, "Benar-benar tak terurus" batinnya.
Zahra mendongakkan kepalanya menatap dalam manik mata hitam pekat milik pemuda di depannya. Verrel sempat tertegun melihat pancaran menenangkan mata gadis bernetra coklat gelap itu dan Verrel akui mata gadis itu benar-benar indah.
Verrel memalingkan wajahnya dan memutus kontak mata di antara mereka, pemuda itu menatap lurus ke depan, "Hapus air mata lo! dan berhenti menangis," perintah Verrel.
Mendengar suara Verrel, Zahra semakin menangis sesenggukan. Verrel menatap gadis itu dan mengernyit bingung. Apa dia salah menyuruh Zahra berhenti menangis?
Verrel kembali menunduk melihat keadaan gadis di depannya yang mengenaskan, "Gue tuan Lo! dan ini perintah berhenti menangis!!" sentaknya tegas.
Zahra masih saja terus menangis menghiraukan suara tegas milik Verrel yang menyuruhnya berhenti.
"Apa tubuhnya benar-benar sakit? akibat jatuh tadi?" Bingung Verrel dalam hati.
"Apa gue terlalu kasar dan menyakiti hatinya?" Lanjutnya lagi.
Kini Verrel sedang bertengkar dengan fikirannya sendiri, terbesit rasa bersalah dalam dirinya. Kini pancaran mata tajamnya kian berubah dan muka datar khas-nya menyinggungkan senyum tipis yang jarang di keluarkan nya.
"Zahra, lo kenapa nangis?" tanya Verrel hati-hati, ia tidak ingin gadis di depannya membuat gendang telinganya rusak akibat suara tangisnya yang semakin lama semakin menjadi-jadi.
Mendengar suara lembut Verrel, Zahra mendongakkan kepalanya dan lagi-lagi dua kelereng beda warna itu saling bertubrukan. Zahra menyeka air matanya dan kembali menatap Verrel yang belum memalingkan wajahnya, "Aku lapar tuan perutku sakit," cicit Zahra.
"Sial!!" umpat Verrel dalam hati.
Verrel memalingkan wajahnya saat itu juga dan menatap lurus pandangan di depannya. Kini dia benar-benar menyesal berbaik hati kepada Zahra, dan dia benar-benar menyesal telah menyunggingkankan senyum tipis berharganya kepada gadis picik seperti Zahra.
"Tuan ... " lirih Zahra menatap memelas pemuda di depannya yang enggan menatapnya lagi.
Zahra memang merasakan sakit di sekujur tubuhnya tapi perutnya jauh lebih sakit, ia lapar! ia butuh tenaga untuk berusaha hidup tenang di sekolah ini, dan ia juga butuh vitamin untuk menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Kita balik ke kelas! gue bakal suruh Daniel dan Deon untuk beli makanan," ujar Verrel dengan nada dinginnya tanpa menatap ke arah Zahra.
Zahra mengangguk kecil dan menghentikan aksi nangisnya, tenaganya benar-benar terkuras hari ini.
"Cowok muka datar makasih udah nolong aku tadi." Zahra ingin sekali menyuarakan isi hatinya untuk berterimakasih kepada Verrel kerena telah menolongnya. Zahra menyinggungkan senyum tulus tanpa sepengetahuan Verrel yang masih enggan untuk hanya sekedar menatap dirinya.
####
Verrel melangkah lebih dulu memasuki kelas di ikuti oleh Zahra di belakangnya. Audy yang memasang aerphone telinganya sontak melepasnya setelah melihat keadaan Zahra yang mengenaskan.
Matanya sembab akibat nangis yang berlebihan dengan hijabnya yang sedikit basah karena Verrel yang menyuruhnya membersihkan hijabnya dengan air dan merampas eskulin salah satu adik kelas yang keluar dari toilet dan melemparnya ke arah Zahra.
"Lo kenapa Ra?" tanya Audy dengan nada khawatirnya.
Zahra tersenyum dan langsung memeluk Audy, "Aku nggak pa-pa kok Dy nggak usah khawatir," ujar Zahra.
Jujur! Zahra sangat menyayanginya gadis yang satu ini~Audy. Zahra sudah berjanji bukan, untuk menjadi teman yang baik dan salah satunya tidak membuat Audy khawatir.
"Ra, lo boleh kok cerita ke gue," ujar Audy tulus.
"Nggak papa ko Dy, cuman jatuh doang tadi di kantin."
Di tengah kesibukannya berbicara dengan Audy, Daniel datang dan menghentikan aksi ngobrol mereka.
"Nih makanannya bebeb Zahra," seru Daniel sambil meletakkan sepiring nasi goreng dan sebotol minuman.
Zahra tersenyum merekah dan segera menyantap makanan nya sebelum guru mata pelajaran selanjutnya memasuki kelas ini.
Setelah Daniel meletakkan makanan di meja Zahra, kini Daniel dan Deon sedang beralih memandang Verrel menuntut penjelasan.
"Lo apain anak orang hagh?" geram Daniel.
"Gila Lo Rel, Zahra macam bocah yang nggak ke urus gara-gara Lo!" timpal Deon.
Sedangkan Verrel hanya menatap datar ke arah mereka tak berniat menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya itu tidak penting.
Deon dan Daniel kembali ke bangkunya saat Bu Tini memasuki kelas mereka dengan beberapa buku dipelukannya.
Zahra menghentikan aksi makannya padahal gadis itu masih sangat lapar! Verrel menoleh ke arah Zahra dengan mengerutkan keningnya, melihat tingkah Zahra yang membuatnya kesal. Belum tiga menit gadis itu makan dan sekarang sudah berhenti setelah nangis terisak-isak di depan Verrel tadi. Tentu Verrel tidak terima ia merasa di permainkan oleh gadis picik seperti Zahra.
"Makan!" perintah Verrel menatap sekilas ke arah Zahra.
Zahra hanya menggelengkan kepalanya menolak perintah Verrel, ia tidak akan makan karena Bu Tini sudah ada di ruangan ini dan akan segera memulai proses belajar mengajar.
"Gue bilang makan!!" titah Verrel lebih tegas.
"Verrel apa-apaan kamu kenapa berteriak seperti itu?!!" bentak Bu Tini.
Verrel menatap tajam ke arah Bu Tini, "Ibu Diam atau ..." kata Verrel dengan seringainya. Membuat Ibu Tini mengangguk kecil.
Verrel menoleh ke arah Zahra "MAKAN!!" timpalnya lagi untuk kesekian kalinya.
Zahra gelagapan tak tahu harus apa, Zahra menatap Ibu Tini dan tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf. Setelah itu kembali mengambil nasi goreng yang di simpannya di dalam laci.
"Cowok muka datar benar-benar menyebalkan," gerutu Zahra.
____________________________
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN SHARE:-*