Ini kisah kejiwaan seseorang yang diakibatkan oleh trauma masa lalu, bercerita tentang seorang gadis yang tidak bisa melepaskan kenangan masa lalu yang telah merenggut kehormatannya. Dia habiskan bertahun-tahun hanya untuk bertemu dengan pria yang ternyata tidak pernah mengingatnya sama sekali.
Akankah dia menemukan kebahagiaan yang telah hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simple Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTSD - 13
Sejak dari toko bunga itu, sekarang Ayya dan Ray semakin dekat. Mereka sudah bertukar nomor HP. Terkadang Ayya menghubungi Ray hanya untuk menanyakan hal-hal yang dibuat-buatnya. misalnya dia menanyakan bengkel mana yang bagus kalau ingin servis mobil. Di lain kesempatan, dia mengeluh kameranya rusak dan ingin memperbaikinya. Lalu tanpa segan dia meminta Ray menemaninya. Dia rela menunggu berjam-jam hanya untuk bisa bertemu dan bersama.
Setiap hari Ayya memutar otaknya agar menemukan ide untuk menghubungi Ray. Di satu sisi, dia tergila-gila untuk terus bersama dengan Ray, tetapi di sisi lain, dia teringat pada luka hatinya akibat kelakuan laki-laki itu, dan seketika dendamnya membara.
Sekarang dia seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Dan sayangnya, tak seorangpun tahu tentang itu, sehingga cinta dan dendam itu terus berkembang di hati tanpa ada yang bisa membantu meredamnya.
🖤
Tak terasa hari yang ditunggu, yaitu pesta Mel akan berlangsung besok. Sejak pagi beberapa pegawai Ayya sudah datang ke rumah Mel untuk mendekorasi ruang dengan menghias meja, peralatan saji, memasang beberapa ornamen dan sebagainya.
“Selamat siang Mbak Mel,” sapa Ayya yang baru saja tiba di rumah Mel. Dia datang untuk memeriksa sudah sejauh mana persiapan yang dilakukan oleh para pegawainya.
“Selamat siang Mbak Ayya. Gimana kabarnya? Kita beberapa hari ini gak ketemu ya?” Mel menyambut Ayya dengan senyum khasnya yang manis.
“Iya Mbak, kebetulan aku lagi sibuk banget.”
“Pastilah, pengusaha muda kayak Mbak Ayya pasti sibuk.”
“Ah gak juga Mbak, kebetulan ada urusan yang tiba-tiba saja,” Ayya terkekeh.
“Aku mau lihat kerjaan karyawanku Mbak, sudah sampai mana.”
“Oh ya boleh, silakan masuk!”
Melinda dan Ayya berjalan menuju halaman belakang tempat pesta besok malam akan digelar.
Ayya memeriksa dan memberi beberapa instruksi kepada pegawainya. Dia ingin memberikan hasil terbaik untuk Melinda.
“Gimana Mbak, ada saran? Siapa tahu Mbak Mel gak suka dengan tata letaknya?” tanya Ayya.
“Sudah bagus Mbak, aku suka, cantik sekali!” Mel tersenyum mengedarkan pandangannya. Memang indah dan serasi setting yang dibuat oleh Ayya.
“Syukurlah kalau Mbak Mel suka.”
“Besok makanannya akan dikirim mulai jam 4 sore ya Mbak, nanti karyawanku ada yang standby di sini beberapa orang.”
“Iya, aku percayakan semuanya sama Mbak Ayya, yang penting pestaku berjalan lancar dan sukses.”
Ayya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Iya pasti Mbak, aku gak akan mengecewakan pelanggan.”
“Oh ya, besok Mbak Ayya datang kan?”
“Aku gak janji ya Mbak, soalnya aku juga lagi ada pesanan lain yang cukup besar. Dan karena sebagian karyawanku akan standby di sini jadi mungkin aku harus standby di toko. Tapi akan aku usahakan.”
“Waah… sayang sekali. Tadinya aku ingin Mbak Ayya ikut merasakan kebahagiaanku sekaligus memperkenalkan Mbak Ayya sama Mas Ray suamiku,” ada raut kecewa di wajah Mel.
“Aku juga ingin banget datang Mbak. Tapi akan aku usahakan ya.”
“Mudah-mudahan bisa ya, walaupun cuma sebentar.”
“Iya Mbak, mudah-mudahan.”
🖤
Mel berdiri di depan cermin. Malam itu dia sangat cantik dengan gaun malam pas badan yang melebar di bagian bawahnya berwarna peach. Wajahnya sangat ceria menyorotkan sinar bahagia. Meski dengan make up yang sederhana tapi kecantikannya memancar.
“Kamu cantik sekali sayang,” ucap Ray yang baru datang dan langsung memeluknya dari belakang.
Mel tersenyum, “Mas juga gagah dan tampan,” ucapnya lembut.
Ray menciumi leher istrinya yang jenjang, wangi menguar dari sana membangkitkan hasratnya, “Aku jadi pengen,” bisiknya.
“Ih… jangan dong mas!” Mel segera melepaskan pelukan suaminya dan menjauh dua langkah.
Ray berdiri menatapnya heran. Bagaimana Mel bisa menolaknya seperti itu?
“Kenapa?!”
“Nanti aku repot mesti dandan lagi,” jawab Mel merajuk, “Nanti saja kalau pestanya sudah selesai ya,” menghampiri suaminya lalu menciumnya sekilas.
Dia tidak ingin kalau Ray jadi marah lalu suasana yang seharusnya romantis ini menjadi berantakan.
“Aku sudah menyiapkan kejutan untuk kita nanti malam,” bisiknya di telinga Ray.
“Baiklah kalau begitu, aku tak sabar menunggu,” Ray tersenyum merangkul pinggang Mel.
“Kita turun yuk Mas, pasti tamu-tamu sudah pada datang,” ajak Mel.
🖤
Sebuah pesta kebun yang indah. Lampu-lampu dipasang memberi kesan glamour. Para tamu yang merupakan keluarga dan sahabat dekat sudah berkumpul di sana. Mereka bertepuk tangan menyambut kedatangan tuan rumah, Ray, Mel, dan Bintang yang memasuki area pesta. Mereka sangat serasi berbalut gaun dan stelan senada dengan wajah sumringah penuh kebahagiaan.
Acara dimulai dengan pembukaan dari pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan dari Ray sebagai tuan rumah. Dia mengatakan kebahagiaannya memiliki keluarga yang harmonis, anak yang lucu dan cerdas. Tak lupa Ray menyatakan cinta pada istrinya yang bergelayut manja di pundaknya.
Dilanjut dengan tiup lilin dan pemotongan kue, Ray memberi hadiah istimewa untuk anak dan istri tercinta. Keharmonisan mereka membuat semua mata yang memandang merasa iri. Bagaimana tidak iri, mereka cantik dan tampan, kaya pula, dan saling mencintai satu sama lain. Benar-benar keluarga idaman.
Rasa iri itu dirasakan pula oleh sepasang mata yang sedang menatap mereka dari balik sekat penyimpanan makanan. Mata yang indah tetapi menyimpan kilatan dendam dan benci yang mendalam. Tak terasa air mata membasahi mata indah itu sebagai pengiring luka hatinya yang menganga.
🖤
“Mbak, ada Mbak Mel ingin bertemu,” suara pelayan di toko melalui saluran intercom.
“Ya, suruh ke ruanganku saja,” jawab Ayya.
“Selamat pagi Mbak Ayya,” suara lembut Mel terdengar begitu dia memasuki ruang kerja Ayya.
“Pagi juga Mbak,” Ayya berdiri menyambut kedatangan tamunya.
“Bagaimana pestanya semalam? Maaf ya aku gak bisa datang.”
“Pestanya sukses dan lancar, semuanya berjalan sesuai rencana,” Mel tersenyum.
Mereka duduk di sofa masih saling menatap. Ada raut bahagia di wajah Mel. Rupanya dia puas dengan pestanya semalam, dan terutama dengan pesta berduanya bersama Ray.
“Sayang Mbak Ayya gak datang, padahal suamiku ingin sekali berkenalan dengan Mbak, dia puas sekali dengan penyajian dan rasa makanannya.”
“Iya maaf Mbak, aku gak bisa ninggalin kerjaan. Hari ini kita harus nyiapin pesta juga di tempat lain.”
“Gak apa-apa Mbak, mudah-mudahan ke depannya aku bisa ngenalin Mbak Ayya ke Mas Ray,” jawab Mel tersenyum.
“Oh ya Mbak, aku ke sini mau bayar pelunasannya, ini,” Mel memberikan selembar cek pada Ayya.
“Ahh… ya terima kasih Mbak,” Ayya menerima cek tersebut lalu katanya, “Lho kayaknya ini kelebihan deh Mbak.”
“Gak apa-apa, kata Mas Ray itu bonus karena kami puas dengan pekerjaannya.”
“Waah… terima kasih banyak ya Mbak Mel. Aku tunggu order berikutnya,” senyum lebar Ayya mengembang di wajahnya.
“Iyalah aku gak akan nyari catering ke tempat lain. Yang pasti-pasti saja!” Mel tertawa renyah.
🖤🖤🖤🖤
Salahkah jika diri ini mencintamu karena hal yang telah kau tinggalkan di dalamnya?
Salahkah diri ini jika membencimu karena hal yang telah melukai hatiku?
Cinta dan benci ini telah bersatu menjadi bara dendam
Akan aku tunjukkan ia padamu agar kau menyadarinya
…
Happy reading semuanya 😍😍😍😍
𝚝𝚞 𝚕𝚊𝚑 𝚢𝚐 𝚊𝚍𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚢𝚢𝚊
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚢𝚊