Arkana Wibowo Seorang Dosen tampan yang terkenal killer. Diusianya yang mencapai kepala tiga. Pria berjambang tipis itu masih betah melajang. Satu ketika ia bertemu dengan Kanaya, salah satu mahasiswinya yang super aneh, dan selalu membuat Arka kesal. Namun dibalik tingkah menyebalkan Kanaya. Gadis itu mengetahui sesuatu yang Arkana tak menyadarinya. Apakah sebenarnya yang Kanaya tahu tentang dosen killernya itu? Temukan keseruan jawabannya di setiap bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Kanaya menatap Pak Dosennya bergantian. Tatapannya seakan memohon, untuk tidak berkata yang macam-macam lagi di hadapan Kakaknya. Namun sepertinya semua itu sudah terlambat. Dosen killer itu telah mengakui sesuatu yang tak pernah mereka lakukan.
Sungguh, kebodohan yang fatal. Itulah kesalahan orang-orang pandai yang menganggap yang lain bodoh. Kesalahan yang kini Arka rasakan. Naasnya dosen berhidung mancung itu, kecerdasannya kalah oleh emosi. Arka menelan ludah, menatap Faruq nan tajam.
"Apa...? Adik, katanya?, oh sial. Sejak kapan aku menjadi dosen bodoh dan memalukan seperti ini di hadapan mahasiswaku sendiri? Sial," umpat Arka. Ia tak tahu, harus berkata apa. Ia tak bisa menarik kembali ucapannya mengenai pernyataan konyolnya itu, dan tak mungkin Faruq yang seperti singa jantan yang mengamuk itu, akan percayai penjelasannya.
Faruq menatap adiknya dengan mata menggelap. "Masuk...!" perintah Faruq pada Kanaya.
"Tapi Mas, kamu harus dengar dulu penjelasanku. Apa yang pak Arka ucapkan itu, hanya...” Namun kata-kata Kanaya terpotong, tak mampu meladeni amarah yang menggebu-gebu di mata Faruq. Konflik yang berkecamuk antara mereka semakin menganga, jauh dari titik temu. Arka berdiri, di tengah keputusasaan yang menerkam hatinya. Emosi yang tak terbendung melesat melampaui akal sehat, menghantarkan mereka pada pertempuran bathin masing-masing.
"Kanaya Wijaya..! Mas bilang Masuk..! Siapa yang memintamu membela kekasihmu ini..?" ucap Arka semakin murka, karena mendengar pengakuan Arka yang membuat darah Faruq mendidih. Kakak mana yang rela, bibir adiknya disentuh pria yang bukan mahramnya.
Arka menggaruk tengkuknya, melirik ke arah Kanaya yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Kanaya masuk ke kamar, dengan perasaan berkecamuk.Sementara di teras rumah, suasana semakin memanas. Saat Faruq melontarkan pertanyaan yang membuat Arka menghela nafas.
"Sejauh mana hubungan kalian? Apa kau tahu, aku menjaga adikku seperti menjaga berlian, tapi ternyata ada maling yang merangkak masuk," sindir Faruq dengan nada sinis.
"Kenapa diam? Katakan, berapa lama kau merayu adikku?" tanya Faruq sambil mengepalkan tinju. Arka merasa ngeri, takut serangan Faruq akan mendarat di wajah tampannya, jadi ia pun menjawab sekenanya "Satu bulan lalu," ujar Arka, mencoba mempertahankan wibawanya. Faruk mendengus, wajahnya mengejek. "Satu bulan?, dan aku tak tahu, apa saja yang telah kau lakukan pada adikku Kanaya. Hah. Jika begitu, aku minta pertanggungjawabanmu," kata Faruq, nada suaranya dingin dan tegas.
"Apa? Pertanggungjawaban? Aku tak menghamili adikmu, kami hanya..." ujar Arka, terbata-bata, wajahnya mulai kalap. Ucapannya terhenti saat tangan besar Faruq kembali menarik kerah kemeja Arka.
"Apa kamu bilang? Hanya berpacaran? Apa kamu dosen dari perguruan tinggi sampah? Sampai kau tak tahu batasan?" Faruq mengejek Arka, menghina harga dirinya dan membuat Arka merasa kecil.
Arka dengan penuh amarah melepaskan cengkeraman tangan Faruq yang menekan keras pada kerah kemejanya.
"Kata-kata Anda terlalu sempurna, saat merendahkan orang lain," ucap Arka dengan suara datar, kesabarannya kian menipis, terkikis oleh kata-kata sindiran Faruq yang melampaui batas.
"Apa sekarang yang Anda mau?" tantang Arka, tak ingin terlihat pengecut, di mata Faruq, demi mempertahankan harga dirinya, Arka pun melontarkan pertanyaan menantang. Faruq menatap Arka tajam, bermaksud menyudutkannya tanpa ampun.
"Nikahi adikku, bawa orang tuamu kemari. Jadilah pria yang bertanggung jawab, jika cinta itu dihalalin bukan dipacarin," ujarnya tanpa memberi Arka kesempatan untuk berkata-kata. Arka mencoba menjawab tegas, tak gentar sekalipun dalam menghadapi desakan Faruq yang memojokkannya.
"Baiklah, tapi tidak dalam waktu dekat ini, karena mereka sedang berada di Amerika," ungkap Arka, nada angkuhnya seolah tak tertandingi. Bagi Arka, urusan menjelaskan pada Kanaya hanyalah persoalan kecil, yang terpenting adalah mempertahankan harga dirinya di hadapan Faruq. Ia harus bertanggung jawab atas pernyataannya sendiri. Karena orang bijak tidak menyalahkan orang lain, melainkan mengambil tanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Arka selalu berpegang pada prinsip: setiap masalah harus diselesaikan dan kesediaan untuk memikul tanggung jawab.
"Oke, saya pegang omonganmu dan saya tunggu etiket baikmu, segera..!" Faruq lalu menepuk bahu Arka sedikit keras, seolah memberi tekanan lebih pada Arka."Pulanglah, dan jangan coba-coba menemui Kanaya di luar jam kuliah, sebelum kalian resmi, menikah. Karena adikku Kanaya adalah tanggung jawabku, hingga akhirat nanti. Aku minta pengertianmu," Faruq memandang Arka tajam, penuh penegasan.
Arka melirik tajam, lalu meraih kunci mobilnya dan pulang tanpa basa-basi, menelan seluruh emosi yang muncul di dadanya. Setiap detik yang berlalu, ketegangan diantara mereka terasa semakin pekat, menambah keganasan dalam suasana yang seharusnya tenang.
Faruq melangkah masuk, mengetuk pintu kamar Kanaya dengan perasaan cemas.
"Dek, buka pintunya..." pinta Faruq seraya menekan handel pintu yang terkunci dari dalam. Suasana hatinya tak menentu, cemas akan keadaan adiknya. "Aku ingin sendiri, Mas," sahut Kanaya dengan suara bergetar, mengungkapkan betapa sedih dan terpukul hatinya saat ini. Rasa kesal, bercampur aduk di dada Kanaya.
"Mas bilang buka..!" bentak Faruq sedikit meninggi, bersikeras agar pintu itu terbuka. Kanaya pun mengalah. Dibalik pintu, wajah gadis bermata bulat itu tampak sembab dan murung. Arka masuk ke kamar adiknya, duduk di pinggir ranjang sambil menatap Kanaya dalam. Pria berwajah tegas itu merasa sakit, melihat adik kesayangannya disentuh oleh dosennya.
"Kenapa kamu lakukan itu, Dek? Apa kamu tak kasihan pada ayah dan ibu di dalam kubur? Karena perbuatan putrinya yang tak senonoh, mereka harus menerima kepedihan di alam kuburnya," ucap Faruq dengan mata penuh kecewa. "Mas, ini tak seperti apa yang Mas fikirkan. Sungguh, kami tak melakukannya. Pak Arka hanya meniup mataku yang terkena debu," Kanaya berusaha menjelaskan fakta sebenarnya, suaranya patah-patah oleh isakan tangis yang hendak pecah. Mendengar penjelasan adiknya, Faruq tersenyum miris. Hatinya berkecamuk, ingin mempercayai Kanaya namun kecewa yang mendalam masih menyelimuti pikirannya. Dia menatap Kanaya semakin kecewa, mencoba mencari kebenaran di balik kerumitan emosi mereka.
"Kamu masih menyangkalnya, Kanaya?" Faruq memandang adiknya dengan tatapan menusuk dan skeptis.
"Mas, aku berkata jujur. Pak Arka sengaja berbohong, karena ingin memanfaatkan keadaan ini," ucap Kanaya lirih sambil menatap mata kakaknya yang meragukan.
"Kamu pikir Masmu ini bodoh, Kanaya? Masmu ini laki-laki juga. Mana ada seorang pria yang dengan angkuhnya, mengaku tindakan tak senonohnya di hadapan orang lain, jika kalian tak saling mencintai," ucap Faruq dengan nada tegas. Kanaya merasa dadanya sesak, mendengar ucapan Mas Faruq-nya, hatinya ingin menjerit memprotes.
"Dia seorang pria sombong yang menghalalkan segala cara, Mas. Aku tak pernah memiliki pikiran kotor seperti yang kamu tuduhkan, percaya padaku!" gumam Kanaya dalam hati, merasa sakit karena ucapan-ucapannya kini tak lagi dipercaya oleh orang yang paling dia sayangi.
Kanaya tertunduk, air matanya mulai menetes satu persatu di atas pangkuannya. Arka lalu dengan lembut menarik kepala Kanaya, membawanya dalam dekapannya yang hangat. "Sudah, jangan menangis. Tak perlu kamu sesali, semua sudah terjadi. Mas, sudah bicara pada kekasihmu itu, dan aku sudah memutuskan, kalian akan segera menikah, dia menyetujuinya," ujar Faruq dengan lembut namun tegas. Mendengar hal itu, Kanaya sontak mengangkat wajahnya dari dada Faruq. Matanya terbelalak, bibirnya bergetar. "Apa...? Menikah...? Mas...! Aku gak mau!" Tolak Kanaya, dengan suara lirih penuh haru. Faruq menegakkan bahunya, menatap Kanaya dengan tatapan yang tajam dan penuh pertanyaan. "Jadi maumu apa? Mau terus seperti ini? Jadi budak pelampiasan nafsu dosenmu itu, hah?!" Kesabarannya terusik, emosinya mendidih. Kanaya tersentak, pandangannya mencari titik fokus pada wajah Faruq yang semakin marah, "Mas, Pak Arka itu gak benar-benar ingin menikahiku. Dia gak cinta sama Nay. Dia hanya ingin memanfaatkan Nay," bisik Kanaya dengan berat. Mata Faruq menyipit, hatinya berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kanaya. Ia mencari kebenaran di balik ucapan sang adik.
jgn lemah dong jd cewek nay...
si naya jgn tolol2 amat deeh...mdh luluh aj sm arja..tegas dikit woyy...😏😜😏
si arka cuma bafsu aj yg gedek ke naya bukan cinta...
kalau gak cinta aja sih mending ya, tapi tuh dosen cinta sama orang lain.
kalau dianya gak cinta juga masih ada mendingnya minimal gak makan hati, Lah ini nikah bertepuk sebelah tangan mau lagi ampun
harusnya tegas dong jangan mau di nikahi dengan alasan apapun