Karya Jalur Kreatif
Anzel Ashakalif punya cita-cita menjadi dokter. Tapi keluarganya, terutama ayahnya tidak mengizinkan Anzel menjadi dokter karena kelemahan dan kemampuan Anzel yang sedikit. Bahkan keluarganya selalu melarang Anzel melakukan apa saja yang membuat malu keluarganya itu.
Suatu hari tanpa sepengtahuan keluarganya,Anzel mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran, dia berjalan kaki dari rumah menuju universitas yang di inginkan karena jaraknya tidak jauh. Ketika pulang setelah mendaftar, tiba-tiba sebuah mobil menyerempetnya dengan sengaja hingga dia terpental ke selokan pinggir jalan.
Tidak ada yang tahu kejadian itu, Anzel pun tak sadarkan diri. Setelah sadar, dia ternyata di tolong oleh seorang kakek berjanggut panjang berwarna putih. Dia kaget ketika sadar berada di mana, sebuah laboratorium besar dan kuno.
"Siapa kamu?"
"Saya adalah seorang profesor. Kamu akan jadi seorang profesor yang sangat terkenal dan hebat dengan segala kemampuanmu dalam meracik apa pun, termasuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Menculik Anzel
Beberapa percobaan formula yang di buat Anzel dan profesor Ghaaziy beberapa kali harus gagal. Minggu lalu laki-laki tua itu membuat formula dari oli bekas dan di campurkan dengan formula yang dia buat ternyata gagal dan menimbulkan ledakan. Kini dia membuat lagi formula baru, dengan di bantu Anzel percobaan itu hampir rampung dan bisa di praktekan.
Keduanya menyiapkan alat yang akan di gunakan untuk pembuatan listrik dari oli bekas tersebut.
"Semoga saja ini berhasil, karena aku akan seminarkan percobaan ini pada mereka di pinggir kota atau bahkan yang ada di pegunungan. Karena mereka yang di pegunungan jarang sekali mendapatkan aliran listrik dari pemerintah," kata profesor Ghaaziy.
"Benarkah? Itu berarti anda harus tampil keluar dari sarang ini, profesor," kata Anzel.
"Kamu pikir aku macan? Keluar dari sarang," ucap profesor Ghaaziy sedikit kesal dengan istilah yang di gunakan Anzel.
"Heheh, tentu itu pantas untuk anda. Jika markas, tentunya banyak sekali orang-orang berkumpul di tempat ini. Atau persembunyian, ya mungkin tepatnya tempat persembunyian anda ini," kata Anzel.
Profesor Ghaaziy tidak merespon lagi, dia kini mulai mencoba hasil uji coba formula yang dia buat dengan Anzel. Keduanya menyiapkan semuanya selama beberapa jam. Kini percobaan itu di mulai, dan hasilnya sungguh menakjubkan. Berhasil.
"Berhasil, profesor. Anda berhasil membuat listrik dari bahan oli ini di campur dengan formula anda," kata Anzel.
"Itu formula kamu yang membuatnya, Anzel. Tentu formula itu adalah hasil ciptaanmu, aku hanya mencoba dengan media oli bekas pakai dan di campur dengan formula buatanmu itu," kata profesor Ghaaziy.
"Aah, tentu jika bukan anda yang memulai. Aku tidak tahu, profesor," kata Anzel merendahkan dirinya.
"Jangan merendahkan diri. Kali ini kamu buat sebanyak mungkin, dan di jual pada mereka yang membutuhkan. Tentu saja pengusaha yang bergerak lebih banyak menggunakan listrik, akan tertarik dengan hasil karyamu ini," kata profesor Ghaaziy.
Anzel diam, dia ragu apakah akan di terima oleh masyarakat. Tapi tentunya pemerintahan akan mencarinya dan meminta formula itu, seperti yang sudah-sudah. Tapi tidak mengapa selama untuk kepentingan umum, begitu pikiran Anzel.
"Sebenarnya aku telah membuat formula baru, profesor. Tapi aku ragu untuk melanjutkannya," kata Anzel.
"Formula baru? Dan kenapa ragu?" tanya profesor Ghaaziy.
"Ini menyangkut persenjataan, bisa di katakan ini adalah senjata pemusnah massal," jawab Anzel.
"Apa?!"
"Iya, aku sudah beberapa kali mempelajari senjata pemusnah itu. Bom atom atau bom nuklir, seperti apa yang anda katakan dulu. Bahwa aku bisa membuat itu yang lebih sempurna, awalnya aku coba beberapa bulan lalu. Aku perhitungkan semua rumusnya dan sangat sempurna, tapi aku belum bisa mempraktekannya," kata Anzel.
"Kamu coba prkatekan secara pelan-pelan dengan media sederhana saja. Aku pikir kamu juga punya rumus sendiri dengan mengembangkan hukum relativitas milik Albert Einstein," kata profesor Ghaaziy.
"Ya profesor."
"Sekarang kita kembangkan yang sudah kita buat ini, kita buat sebanyak mungkin formulanya. Lalu kita jual pada mereka, tapi bagi masyarakat di pegunungan kita berikan gratis dengan menjelaskan cara pembuatannya," kata profesor Ghaaziy.
"Baiklah, profesor."
_
Persiapan peluncuran formula baru kini sudah di siapkan. Seperti biasa, semua lapisan masyarakat sudah menunggu peluncuran formula baru dari Anzel melalui media televisi dengan menjelaskan semuanya.
Sementara itu, profesor Cullen benar-benar kesal sekali. Dia tidak bisa menarik Anzel untuk bergabung dengan perusahaannya, dia ingin Anzel berada dalam naungan perusahaan bisnisnya yang bergerak dalam teknologi.
"Bagaimana, apa ada yang bisa membujuknya ikut bergabung dengan kita?" tanya profesor Cullen pada anak buahnya.
"Maafkan saya profesor, kami belum bisa. Apakah waktu itu anda bicara dengannya, dia mau di bujuk?" tanya anak buahnya.
"Dia dengan tegas menolaknya, sungguh sangat di sayangkan. Dia itu jenius, tapi tidak mau mengikuti bisnisku dalam teknologi. Aku yakin dia bisa membuat senjata mematikan dengan kejeniusannya itu," kata profesor Cullen.
"Sebentar lagi dia juga akan melakukan siaran langsung untuk penjelasan penemuannya itu."
"Perhatikan dia baik-baik, cari cara agar dia mau bergabung dengan kita," kata profesor Cullen lagi.
"Bagaimana kalau kita menculiknya?"
"Apa? Menculiknya?"
"Ya, seperti dulu anda memaksa profesor Ghaaziy membantu anda dalam pembuatan senjata dan teknologi lainnya," ucap anak buahnya lagi.
Profesor Cullen diam, dia tampak berpikir. Apakah harus melakukan itu? Tapi dia ingin Anzel bisa bekerja dengannya, jika di biarkan laki-laki itu dengan penemuan-penemuannya. Maka, kemungkinan bisnisnya juga akan kalah dan akan beralih pada produk yang di buat oleh Anzel.
"Profesor?"
"Tapi aku tidak ingin dia mengira diriku terlalu berambisi, padahal itu benar," kata profesor Cullen.
"Kita culik lalu menyuruhnya membuat satu teknologi saja, profesor. Membuat senjata canggih misalkan."
"Baiklah, lakukan semuanya. Setelah dia selesai melakukam wawancara dengan media televisi itu, sambut dia atau kawal dia seperti kemarin itu. Aku tidak mau dia lolos lagi," kata profesor Cullen.
"Baik profesor, saya akan melakukannya dengan baik dan rapi."
Setelah melakukan itu, anak buah profesor Cullen itu pun pergi dari hadapan laki-laki itu. Mereka bersiap untuk menculik Anzel.
Sementara itu, Anzel sudah menjelaskan dengan penemuannya bersama profesor Ghaaziy itu. Formulanya sudah di produksi secara massal pula, sehingga jika ada yang akan membelinya tinggal memberinya saja.
Dua jam Anzel melakukan wawancara dan juga menjelaskan semuanya. Setelah selesai, dia langsung pulang ke laboratorium di mana dia tinggal sekarang. Saat memasuki mobil, dia tidak menyadari akan ada mata-mata yang mengintainya. Meninggalkan gedung stasiun televisi untuk pulang. Saat di pertengahan jalan, seperti biasa ada dua mobil mengapitnya. Bukan dua, tapi tiga mobil berada di belakangnya.
"Sial, aku tidak bisa lolos kalau begini," ucap Anzel.
Dia berpikir keras agar bisa lolos dari kepungan tiga mobil itu. Melajukan mobilnya kencang, tapi datang lagi satu mobil menutup jalannya. Membuat Anzel bingung, siapa mereka itu.
Hingga di sebuah belokan, mobil Anzel di tambrak dari belakang lalu mobil kanan kiri juga ikut menabraknya. Dan terjadilah benturan keras membuat mobil Anzel terpelanting hingga dia tidak sadarkan diri.
Dengan cepat satu mobil berhenti dan langsung berlari menuju mobil Anzel. Menarik laki-laki itu lalu membawanya pergi, dalam setengah sadarnya Anzel bertanya pada orang yang membawanya itu.
"Aku mau di bawa kemana?"
"Bertemu dengan profesor kami."
_
_
*******