Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Selama menjadi istrinya, tak sekali pun Maira pernah merasakan duduk di sebelah kemudi Reza di mobil suaminya itu.
Hingga setelah Maira tiba di kafe, ia membuka pesan dari Reza.
“Mau kemana?”
“Ra, di mana?”
“Kamu mau bertemu siapa? Dion?”
Maira yang jarang membalas pesan Reza pun hanya membaca isi pesannya saja. Hingga dua kali Reza meneleponnya, tapi tak diangkat juga olehnya. Ini adalah salah satu cara melampiaskan kekesalannya pada sang suami.
###
Malam hari, ketika sudah di rumah, Reza langsung menuju ke kamar Alisha, karena tahu Maira pasti ada di sana.
"Ra, kenapa sih tidak pernah mau membalas pesanku? Apa tidak tahu caranya membalas pesan singkat?” ketusnya.
“Sssttt, lagi tidur,” jawab Maira santai sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibir, meminta Reza tak berbicara dengan suara keras karena Alisha baru saja mulai tidur.
Dengan terpaksa, Reza kembali ke kamarnya dan membersihkan dirinya, agar ia bisa secepatnya berbicara dengan Maira.
Beberapa menit kemudian selesai mandi dan berganti baju, saat keluar kamar, Reza bertemu Maira yang juga sedang menutup pintu kamar Alisha dengan pelan. Seketika Reza langsung menarik tangan Maira, hingga tubuhnya hampir menempel di tubuh Reza. Maira pun langsung menjauhkan dirinya.
Reza kembali bertanya soal pesannya yang tak terbalas dengan muka dan nada kesal. “Kenapa tidak pernah membalas pesanku?”
Dengan melipatkan kedua tangannya, Maira memasang wajahnya yang santai dan tenang. “Takut mengganggu kamu, Mas. Lagi pula kenapa harus kepo aku mau ke mana dengan siapa, aku saja tidak mau tahu kamu mau ke mana dengan dia.”
Reza langsung menjelaskan bahwa dia hanya makan siang dengan Vany.
“Ya, terserah,” ujar Maira sembari menuruni tangga.
Reza mengejar Maira untuk menyelesaikan masalah ini. “Ra, kamu marah? Aku hanya makan siang, aku tidak enak kalau...”
Belum selesai melanjutkan ucapannya, Maira menyahutnya. “Tidak enak kalau menolak ajakannya? Takut ketahuan kalau kamu sudah menikah? Lagi pula, bukannya selama ini kamu melarangku untuk marah apalagi protes, kenapa sekarang kamu tiba-tiba bertanya padaku apakah aku marah?”
“Mas, selama kamu menutupi pernikahan ini, mau sampai kapan pun ya akan tetap tidak enakan seperti ini. Kamu tidak enak dengan dia, tapi kamu seenaknya dengan istrimu sendiri. Eh, pengasuh anakmu. Tapi tidak apa-apa juga kalau lama-lama kamu bisa menyukainya, kita bisa langsung cerai,” lanjut Maira membuat Reza sedikit membentaknya.
“Jaga ucapanmu, Maira! Aku tidak suka kamu membahas perceraian!” sahut Reza emosional.
Masih dengan mimik santai dan tenang, Maira kembali mengingatkan tujuan pernikahan mereka. Bahwa semua itu akan berakhir seperti apa yang diucapkan Reza saat itu, jika ia telah menemukan pengasuh yang mau menginap, atau ketika Reza sudah menemukan ibu baru untuk anaknya. Ia juga mengutarakan bahwa sudah resiko dari sebuah pernikahan diam-diam, banyak wanita yang akan mendekati duda seperti Reza yang kaya raya, dan masih muda. Maira juga meminta agar Reza melupakan usahanya untuk belajar mencintainya, karena pasti tak akan berhasil.
“Ikuti saja alurnya, kalau kamu mencintai yang lain, ya sudah tinggalkan pernikahan kita yang hanya siri ini. Toh apa yang kamu lakukan ini adalah salah satu cara untuk mencari pengganti ibunya Alisha, bukan untuk belajar mencintaiku!”
###
Di Sabtu pagi ini, Reza ingin kembali mengobrol dengan Maira. Karena akhir pekan adalah waktu terpanjang untuk saling berbicara. Ia hanya ingin menegaskan pernikahan mereka.
Setelah memastikan Alisha aman dijaga oleh baby sitternya, Reza mengajak Maira mengobrol di balkon kamarnya.
“Ra, sekali lagi aku minta maaf. Aku harap kamu masih mau menunggu sampai aku benar-benar mencintai kamu. Aku tahu aku salah, dan tidak seharusnya berbuat seperti kemarin-kemarin, tapi aku sendiri juga masih bingung dengan perasaanku,” ungkap Reza mengungkapkan isi hatinya.
“Jadi maunya bagaimana? Kalau memang mau belajar menyukai aku, tidak seharusnya kamu berdekatan dengan perempuan lain. Sedangkan yang kamu lakukan, bisa menggagalkan usahamu sendiri. Kamu akan semakin bingung dengan perasaanmu kalau kamu membiarkan banyak perempuan datang di hatimu, Mas. Itu kenapa aku pernah bilang, lupakan saja usahamu. Kembali lah ke tujuan awal pernikahan kita, jadi tak perlu melibatkan perasaan di sini. Anggap saja aku memang sedang bekerja denganmu,” terang Maira mengungkapkan isi hatinya.
“Tapi aku juga tidak bisa kalau begitu, Ra. Aku tidak bisa mengabaikanmu. Aku tidak mau kalau kamu pergi pergi sendiri tanpa pamit, aku bisa kepikiran, tak tahu kenapa aku jadi bisa seperti ini. Mungkin, karena bagaimana pun kamu tetap adiknya Nindy, mantan istriku. Dan sekarang, kamu istriku,” ucap Reza kebingungan dengan perasaannya sendiri.
“Kamu memang egois ya, Mas. Seolah kamu bebas mau pergi dengan perempuan mana pun, tapi tidak denganku. Aku bahkan tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan, bisa bebas pergi denganmu hingga makan di luar atau sekedar ikut naik 1 mobil denganmu. Ya, mungkin memang nasib seorang pengasuh memang begini. Sudah lah, Mas. Tentukan dulu kamu mau bagaimana. Seperti yang aku ucapkan semalam, selama kamu menyembunyikan pernikahan kita, selamanya juga kamu akan begini, karena apa? Karena banyak yang ingin mendekatimu, dan kamu bersikap seakan dengan senang hati menerima mereka. Jadi, usahamu jelas tak akan berhasil. Lebih baik, kita jalani hidup sendiri-sendiri saja, meski tinggal 1 atap, seperti yang kamu inginkan di awal pernikahan kita,” jelas Maira sembari bergegas pergi meninggalkan Reza.
Reza dengan cepat kembali mengejarnya dan memeluk tubuh Maira. Dengan penuh kelembutan ia mengucapkan permintaan maafnya karena belum bisa menjadi suami yang baik untuknya. Juga belum bisa menentukan arah pernikahan mereka. Ia hanya bisa meminta waktu Maira untuk menunggunya.
“Jadi, kalau 3 bulan kamu belum juga bisa mencintai aku, bagaimana? Mau tetap begini, cerai, atau bagaimana?" lanjut Maira meminta kejelasan.
Reza tak bisa menjawab, dengan tetap memeluk istrinya ia meminta Maira tak lagi mengucap kata cerai di depannya. Ia hanya ingin Maira menunggunya. Setelah 3 bulan nanti, akan mereka bicarakan kemudian, setelah ia berjuang dengan perasaannya.
Tentu hal ini tak adil bagi Maira, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Reza melakukan apa yang ingin dilakukannya. Juga pasrah akan keputusan Reza nantinya. Keputusan tentang kelanjutan pernikahan mereka, apakah Reza bisa mencintainya pada akhirnya, atau justru tetap tidak bisa sama sekali. Artinya, selama itu pula ia harus membiasakan diri melihat suaminya bersama yang lain.
Setidaknya, itu adalah salah satu jalan agar keputusan suaminya segera jelas. Jika ternyata Reza justru lebih mencintai Vany maupun perempuan yang lainnya, itu sudah merupakan keputusan yang sangat jelas. Tentu, dengan begitu Maira hanya tinggal menunggu waktu saja untuk pergi. Dalam arti lain, ia tetap harus memposisikan dirinya sebagai karyawan dan pengasuh.
Di tengah perdebatan mereka, tiba-tiba ponsel Reza berdering.
Cantika memanggil...
"Malam, Pak. Maaf mengganggu, saya sudah di depan rumah Pak Reza untuk mengantar berkas yang selesai ditandatangani oleh Bu Firda, untuk Bapak proses."
Seketika raut panik Reza terpancar.
...****************...
""' nyesss 😭