NovelToon NovelToon
Suamiku Koma, Aku Di Jual Adik Ipar

Suamiku Koma, Aku Di Jual Adik Ipar

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:165.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kim Yuna

Karena kecelakaan yang menimpa suaminya, Reyhan. Shanaya Almira Frederica terpaksa menerima tawaran yang di berikan oleh Sonia, adik Ipar nya sendiri untuk membayar biaya pengobatan Reyhan yang saat itu sedang terbaring koma di rumah sakit.

Shanaya harus menikah dengan cucu dari keluarga Anggara, Vano Anggara yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Shanaya juga harus melahirkan keturunan darinya.

Sonia dengan tega berbohong kepada Shanaya, termasuk uang yang di dapat dari assisten kepercayaan keluarga Anggara. Itu sama saja jika Sonia menjual dirinya kepada keluarga Anggara.

Sungguh Shanaya amat sangat marah kepada adik Ipar nya itu. Tetapi untuk mundur ia tidak bisa, karena pasti akan berurusan dengan hukum karena ia sudah menandatangani kontrak perjanjian.

Bagaimana kehidupan Shanaya setelah ini? apakah ia akan kembali bersatu dengan suaminya, Reyhan ? atau justru terjebak dengan pernikahan nya bersama Vano Anggara, cucu dari keluarga Anggara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POV AUTHOR

Semua orang mendadak panik. Vano segera di larikan ke rumah sakit. Percobaan bunuh diri yang Vano lakukan hampir saja merenggut nyawa nya.

Dari semua orang yang menunggu di luar ICU hanya Tuan Bramastya lah yang paling panik. Lelaki tua yang duduk di kursi roda itu tampak sangat cemas sekali.

"Sekarang, ayah bisa lihat kan apa yang terjadi?" ketus bu Lita memecah keheningan yang tercipta. Wanita berambut pirang yang duduk di hadapan Tuan Bramastya menatap serius lelaki tua itu.

Tuan Bram sama sekali tidak peduli. Sorot mata nya tertuju pada pintu ruang ICU yang tertutup. Meskipun telinganya mendengar ucapan Bu Lita dengan jelas.

Hah! Bu Lita membuang nafas kasar. Jemari nya memijat pelipisnya untuk sesaat. Sabrina yang duduk di samping Bu Lita mengusap lembut bahu Ibunya. Menatap simpati.

"Kalau saja Ayah mendengar sarankan semua tidak akan terjadi seperti ini!" cetus Bu Lita penuh penekanan. "Ayah harus sadar, Vano sudah tidak waras dan sekarang Ayah lihat sendiri kan. Gara-gara ide konyol Ayah menikahkan dengan wanita itu, justru berakibat fatal seperti ini!" tegas Bu Lita penuh penekanan.

Shanaya menundukkan wajahnya semakin dalam. Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap di dalam dadanya. Tapi dia bisa apa?

"Nyonya Lita, sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat." Pak Hendra menengahi.

Wajah Bu Lita semakin dongkol. "Coba saja dari dulu Vano di masukkan ke rumah sakit jiwa. Pasti tidak akan terjadi seperti ini!" omel Bu Lita kesal, membuang tatapannya ke arah lain.

Shanaya membuang nafas berat. Meskipun ia adalah istri sah Vano. Tetapi ia tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan internal keluarga Anggara.

Lampu yang berada di atas ICU telah padam sesaat kemudian, seorang Dokter muncul dari balik pintu ruangan.

"Hendra, cepat!" Tuan Bram mengguncang pergelangan tangan Pak Hendra yang duduk di bangku. Tanpa menjawab, Pak Hendra segera bangkit dan menghadap langkah kaki berseragam putih yang baru saja keluar.

"Bagaimana keadaan Tuan Vano, Dok?" tanya Pak Hendra dengan nada memburu. Di samping Pak Hendra ada Shanaya yang berdiri mensejajarinya.

"Pasien kehilangan banyak sekali darah. Tetapi tidak perlu khawatir, karna saat ini pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya," tutur lelaki berseragam putih itu tersenyum hangat. Wajah Pak Hendra dan Tuan Bram nampak lega.

Shanaya mengusap wajahnya penuh syukur. Dengan begitu rasa bersalah di dalam dirinya tidak terlalu besar.

Bu Lita dan Sabrina sudah tidak ada di antara mereka. Pasti dua wanita itu telah pergi karena kesal pada Tuan Bram yang selalu menolak sarannya.

Mentang-mentang karena Bu Lita hanyalah seorang gundik dari mendiang Tuan Bima Anggara, membuat Tuan Bram, bapak mertuanya sama sekali tidak pernah menghargainya. Tetapi sayangnya karena sebuah wasiat yang putranya tinggalkan. Tuan Bram membiarkan Bu Lita dan putrinya tinggal di rumah bak istana.

"Mbak Naya, saya harus mengantarkan Tuan Bram pulang. Apakah anda bisa menemani Mas Vano di sini sebentar?" ucap Pak Hendra.

Shanaya yang tengah berdiri di samping ranjang Vano memasang wajah gugup. Meskipun pada akhirnya mengiyakan permintaan Pak Hendra.

"Biar Shanaya saja yang mengantarkan aku pulang, Pak Hendra. Tetaplah berada di sini untuk Vano." lelaki yang duduk di atas kursi roda itu menatap serius pada Pak Hendra. "Barangkali Vano akan membutuhkan sesuatu saat sadar nanti." Tuan Bram menutup ucapannya.

Lelaki berjas hitam dengan tubuh kurus tinggi itu mengangguk lembut. "Baiklah, saya akan tetap di sini, Tuan!"

"Sa-saya akan pulang bersama Kakek Bram?" Shanaya mengalihkan pandangannya yang sedikit gugup pada Tuan Bram.

.

.

.

"Tidurlah Kakek, sepertinya anda lelah!" Shanaya menatap lelaki tua yang duduk di sampingnya. Wajah lelah itu memang sangat kentara sekali di balik kerutan yang semalam menegang.

Tuan Bram tidak menoleh sedikitpun pada Shanaya. Tatapannya tertuju pada kaca yang berada di samping mobil.

"Terima kasih, kamu sudah menolong cucuku!" lirih Tuan Bram. Suara tuanya terdengar bergetar.

"Sama-sama Kakek, siapapun yang berada di posisi saya pasti akan menolong Mas Vano," jawab Shanaya berusaha bijak.

Hingga mobil yang membawa Tuan Bram dan Shanaya sampai di rumah. Tidak ada percakapan apapun yang terjadi lagi di antara mereka.

"Sudah sampai di sini saja!" ucap Tuan Bram saat Shanaya mengantarkan nya ke kamar.

"Kemungkinan besok saya tidak bisa ke rumah sakit. Saya kurang enak badan. Saya ingin beristirahat saja di rumah."

Shanaya mengangguk lembut "Kakek tidak usah khawatir sebagai seorang istri saya akan menjaga suami saya."

Tuan Bram menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis. Mengangguk kan kepala nya. Lalu menutup pintu kamar.

Bueh.... bueh ...

Shanaya melepeh. Menyesali perkataan nya yang baru saja keluar dari bibirnya.

"Bisa-bisanya aku berkata semanis ini!" Shanaya merasa jijik pada diri nya sendiri.

...----------------...

Hanya beberapa jam Shanaya tidur. Ia harus segera menyiapkan barang-barang milik Vano untuk di bawa ke rumah sakit.

Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap-siap Shanaya berjalan ke arah lemari besar yang berada di samping jendela pintu ganda. Mencari beberapa potong baju Vano yang akan di bawa ke rumah sakit.

"Yang ini, ini dan ...!" gerakan tangan Shanaya terhenti saat merasakan jemari nya menyentuh sesuatu di bawah tumpukan baju paling bawah.

"Apa ini?" gumam Shanaya. Ia mengambil selembar foto yang ia temukan.

"Apakah wanita ini yang bernama Anaya?" ucapan itu mengalir begitu saja saat melihat sosok wanita bermata sipit, berhidung kecil yang berpose mesra dengan Mas Vano dalam foto tersebut.

"Sepertinya iya, pasti wanita ini yang bernama Anaya. Kasihan sekali." Shanaya menyimpulkan.

Benda pintar miliknya yang berada di tas menyadarkan Shanaya. Cepat ia mengembalikan foto tersebut pada tempatnya. Sebelum tangannya meraih handphone yang meraung yang ada di dalam tas miliknya.

"Pak Hendra!" cepat-cepat Shanaya mengangkat panggilannya saat melihat nama kontak Pak Hendra tertera pada layar.

"Halo Pak Hendra?"

"Mbak Naya tolong cepat ke sini ya. Saya ada meeting pukul sembilan nanti." suara Pak Hendra terdengar memburu dari balik telepon.

Ekor mata Shanaya melirik pada jam yang menempel pada dinding. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Iya Pak Hendra, sebentar lagi saya berangkat." Shanaya mengakhiri panggilan nya secara sepihak.

Semua barang-barang yang akan Vano butuhkan telah Shanaya siapkan. Dalam sebuah tas berukuran sedang.

"Oh, iya obat Mas Vano!" Shanaya baru teringat jika ia belum menyiapkan obat yang selama ini Vano konsumsi.

Lagi, langkah Shanaya terhenti. Ia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Mencari obat-obatan itu. Tetapi tidak menemukannya. Semua tempat sudah Shanaya periksa, tetapi percuma saja. Shanaya tidak menemukan apapun.

"Ah, dimana ya obat Mas Vano!" keluhnya dengan suara lesu. Pelipisnya telah basah oleh keringat.

"Oh iya, bukankah selama ini yang menyiapkan obat-obatan Mas Vano adalah Bik Inah. Kenapa aku tidak tanya bibik saja."

Gegas Shanaya menuju ke lantai bawah. Tempat assisten rumah tangga Kakek Bram berada.

Hening, Shanaya tidak menemukan siapapun di lantai bawah. Bahkan Bu Lita yang biasa menghabiskan waktunya untuk berolahraga di ruang tengah lantai bawah juga tidak nampak. Kalau Sabrina, pasti dia sudah berangkat ke kampus sejak tadi pagi.

"Bik, bibik!" seru Shanaya di ruang belakang. Semakin dalam ia melangkahkan kakinya, tetap tidak menemukan siapapun.

"Duh, bagaimana ini. Kenapa bibik tidak ada!" keluh Shanaya, langkah nya berhenti di depan pintu kamar Bik Inah.

Cukup lama Shanaya berdiri di depan pintu dan berpikir. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memutar gagang pintu kamar Bik Inah.

Tidak ada siapapun di kamar itu. Meskipun ragu Shanaya tetap masuk. Langkahnya tertuju pada nakas yang berada di samping ujung ranjang. Karena tempat itulah biasanya seseorang menyimpan sesuatu yang berharga.

"Nah, benarkan dugaan ku!" Shanaya menemukan beberapa jenis obat yang berbeda dan ia mengambil satu persatu dari setiap jenis obat-obatan itu.

...----------------...

"Maaf, Pak Hendra aku terlambat!" ucap Shanaya saat tiba di kamar Vano.

Lelaki berkulit putih berhidung mancung itu sudah sadar. Ia menyadarkan tubuhnya pada ujung ranjang menatap kedatangan Shanaya.

Pak Hendra mendelik pada Shanaya, lalu mengalihkan tatapan nya pada Vano.

"Mas, saya pamit dulu yah. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya lakukan." pamit Pak Hendra.

Vano mengangguk lembut tanpa mengatakan apapun.

Pak Hendra telah pergi. Di dalam ruangan itu hanya ada Shanaya dan Vano. Mereka sama-sama diam. Shanaya tampak gugup sekali. Sesekali ia mengusap pelipisnya yang basah karena keringat. Jantungnya sedang tidak baik-baik saja.

"Kenapa kamu?"

Shanaya yang sejak tadi menundukkan kepala, perlahan menatap pada Vano.

"Tidak, tidak apa-apa." jawab Shanaya seraya memainkan ujung jemarinya.

"Oh yah Mas Vano sudah minum obat belum?" tanya Shanaya berusaha mencairkan suasana.

"Obatku tidak ada di sini." Jawab Vano datar. Tatapan nya sama sekali tidak berkedip pada Shanaya. Tatapan nya aneh sekali.

'Duh kenapa dia menatapku seperti ini?' Batin Shanaya, ia semakin tidak nyaman dengan tatapan itu.

Shanaya tersenyum paksa menutupi kegugupannya. "Mas Vano tenang saja, aku sudah membawa obat-obatan Mas Vano." Shanaya berjalan menuju ke arah bangku sofa di mana tas berukuran sedang yang ia bawa berada di sana.

"Selamat pagi."

Dokter Frans muncul dari balik pintu yang terbuka, berjalan masuk.

"Selamat pagi, Dokter Frans." jawab Vano datar. Tanpa senyum sedikitpun.

"Mbak Naya!" Dokter Frans mengalihkan tatapannya pada Shanaya yang tengah sibuk mencari sesuatu.

"Selamat pagi, Dok!" sahut Shanaya setelah mendapatkan obat-obatan milik Vano. Senyuman ramah terukir dari bibirnya.

"Ini Mas, aku sudah membawakan obat untuk Mas Vano." Shanaya menyodorkan obat pada Vano.

"Tunggu, Mbak Naya itu obat apa?" cegah Dokter Frans menatap tajam pada obat-obatan yang berada di tangan Shanaya.

Bersambung

...----------------...

...----------------...

...----------------...

1
Queen Za
.
kimiatie
cerita yang asyik
iren thezer
bagus alur ceritanya
Alanna Th
tq othor, spt d dunia nyata; pd akhirnya smua org akan mnghadap Sang Khalik, mk brusahalh baik" sj dg smua org
Alanna Th
kalo aq jadi penulis cerinya (sorry, thor. bkn tak suka ya), akan kbwt shanaya mninggal tnp mlht bayinya. biar vano mnyesal seumur hdpnya
Alanna Th
🎼🎶 terlambat sudah kau datang padaku, stlh kau sakiti hatiku, saat itu cintaku sdg tumbuh, kau biarkan mnjadi layuuu🎶
Alanna Th
waaa
Alanna Th
tinggal selangkah mnuju lobang kubur aja, msh sekeji itu! tunggulh smp bayinya lahir slamat. smoga s kakek dpt pljrn
Alanna Th
naaah, ktahuan kbohongn naya. smoga vano mmaafkn
Alanna Th
jadi d mata kakek vano n naya hanya pencetak ahli waris utk klg anggara
Alanna Th
tuh msh aja nekad mndekati vano, nagih janji vano, dirinya sendiri tdk setia sjk awal. smoga vano brtindak tegas n msk akal
Alanna Th
anaya bnr" y tdk tau malu demi mmprthnkn atm brjlnny, brusaha mnjegal lngkh vano
Alanna Th
smoga shanaya pergi dari vano
Alanna Th
bagus s vano dilema; mana yg mo dtolong anaya atau shanaya? kl bisa dua"nya skalian. d rs gk akan saling mnyerang toh?
Alanna Th
biasanya cowo nylametin cewe dari akibat pmbiusan, ini kebalik. waa, mnarik, thor
Alanna Th
jngn" mrk brcerai, naya hamil
Alanna Th
lupa diri s vano ktemu cln istriny yg ia gk tau tlh brkhianat. tega kamu, stdkny minta bli tuk jmpt naya plng k hotel
Alanna Th
pasti obat vano yg bikin vano tdk sembuh" dari depresinya
Alanna Th
bnr", teganya sonia; pasti dia juga akan mmbuang ibu n kakaknya yg dianggap hanya mnyusahknny saja. bnyk korban d sini. karma apa yg akan mnimpa sonia???
Alanna Th
tapi sonia benar y uangnya dpake utk reyhan smp sembuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!