Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Setibanya di Rumah Sakit, Lulu segera di periksa oleh Dokter dan di beri obat melalui infus yang terpasang di tangan kirinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok? dia baik-baik saja, kan?" Cecar Luis, orang yang Lulu kenali dan yang membawanya ke Rumah Sakit.
"Saat ini kondisinya masih begitu lemah. Sepertinya pasien kekurangan asupan gizi dan vitamin, pasien juga mengalami asam lambung tinggi yang mempengaruhi peradangan di lambungnya, sehingga tubuh pasien menjadi lemah dan jatuh pingsan," Tutur Dokter menjelaskan.
"Tapi dia pasti sembuh, kan Dok?" Tanya Luis.
"Tuan tenang saja, saya sudah memberikan vitamin dan beberapa obat tambahan untuk pasien. Jika pasien sudah siuman nanti, sebaiknya Tuan memberinya makanan saja. Tapi dengan satu syarat, makanannya tidak boleh yang kasar dulu, beri pasien bubur atau makanan lembek lainnya dulu saja untuk sementara waktu ini, jika sudah tidak ada keluhan pada lambungnya baru tuan bisa memberikannya makanan yang lain!" Tutur Dokter menjelaskan.
"Saya pasti mengingatnya, Dok! terimakasih untuk bantuannya, ya!" Sahut Luis merasa lega.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, ya! mari!" Ucap Dokter berpamitan.
"Iya, Dok! silahkan!" Sahut Luis mengantar hingga pintu ruangan rawat Lulu.
Setelah mengantar Dokter keluar dari ruangan Lulu, Luis kembali menghampiri Lulu yang masih terbaring di bangsal Rumah Sakit. Wajahnya terlihat masih sedikit pucat. Namun meski begitu, Lulu masih terlihat sangat cantik dan imut.
"Kenapa kamu bisa seperti ini, Lu? apa Devin memperlakukan kamu begitu buruk, ya?" Gumam Luis seraya merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Lulu.
Merasa terusik, Lulu akhirnya membuka kedua matanya. Dia sedikit meringis seraya memindai sekeliling ruangan yang bercat serba putih itu.
"Kenapa aku ada di sini?" Tanya Lulu seraya memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit berdenyut.
"Kamu tadi pingsan. Karena khawatir, aku langsung membawa kamu ke Rumah Sakit! apa sekarang kamu merasa lebih baik? kamu mau makan sesuatu?" Cecar Luis.
"Hm... aku memang sudah sangat kelaparan. Sejak semalam aku belum makan apa pun! karena terlalu lelah setelah pesta resepsi, aku memutuskan segera tidur setelah membersihkan diri!" Tutur Lulu tanpa ada yang dia tutupi.
"Astaga, pantas saja tadi Dokter bilang kamu kekurangan asupan gizi dan vitamin. Ternyata itu, ya penyebabnya. Bagaimana Devin memperlakukanmu? dia benar-benar tega membiarkan kamu kelaparan! dasar kurang ajar!" Ucap Luis penuh emosi.
"Luis, apa kamu mau berjanji padaku? aku tidak mau keluargaku dan keluarga Devin tau masalah ini. Bagaimana pun juga kami baru menikah, aku tidak mau membuat masalah yang bisa mengganggu kesehatan Kakek Satrio dan juga Papa!" Lirih Lulu.
"Apa kau mencintai Devin?" Tanya Luis tiba-tiba.
"Entahlah, aku dan dia sama-sama orang asing, mungkin aku harus banyak beradaptasi dengan gaya hidupnya! termasuk..." Lulu menjeda ucapannya, dan hal itu berhasil membuat Luis menjadi kian penasaran.
"Termasuk apa? Thalita?" Tebak Luis. Entah mengapa, hatinya ikut merasa sakit saat melihat Lulu bersedih.
"Bagaimana pun juga, mereka adalah pasangan kekasih yang sesungguhnya, aku tidak seharusnya berada di antara mereka. Hanya saja keadaan keluarga ku saat ini sangat bergantung pada keluarga Devin," Tutur Lulu sendu.
Tanpa aba-aba, Luis meraih kedua tangan Lulu. Sejak bertemu dengan gadis di hadapannya itu, Luis sudah jatuh hati dan menyukainya. Sebab itu, Luis berniat mengutarakan perasaannya. Luis yakin, cepat atau lambat, Lulu juga pasti bisa menyukainya. Apalagi Luis tau jika pernikahan Lulu dan sahabatnya itu hanya terjalin atas perihal balas budi.
"Alula, apa aku boleh bicara serius padamu?" Ucap Luis berhati-hati, dia tidak ingin melakukan kesalahan sedikit pun yang bisa membuat Lulu malah menjauhinya kelak.
"Tentu, tapi tidak perlu seserius ini, juga! tangan kiri ku juga masih sakit terpasang infus!" Sahut Lulu seraya menarik kedua tangannya yang di pegang Luis.
Luis menuruti Lulu, dia tak ingin membuat Lulu tak nyaman saat bersamanya. Setelah keduanya duduk dan tenang, Luis mulai mengutarakan perasaannya pada Lulu.
"Alula, aku menyukaimu!" Ucap Luis.
Seketika, Lulu menatap tajam ke arah bola mata Luis. Lulu benar-benar tak menyangka, jika Luis mengungkapkan perasaannya pada istri dari sahabatnya sendiri.
"Kamu salah makan obat, ya Is? masa kamu suka sama aku? gak perlu bercanda, deh!" Kekeh Lulu mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung.
"Aku serius, Lu! aku benar-benar menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu! sebelumnya, aku belum pernah merasakan detak jantungku berdebar lebih kencang seperti saat berada di dekat kamu. Aku yakin, itu semua pasti karena perasaan suka aku sama kamu! jadi, kamu mau kan terima perasaan aku ini?" Ucap Luis penuh harap.
"A...aku, aku tidak bisa! maafkan aku Luis, aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat! selain itu, aku juga masih punya kekasih yang harus aku beri penjelasan setelah pernikahan ku kemarin, dia pasti sangat kecewa saat ini!" Jawab Lulu.
"Aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan gadis yang jauh lebih baik dari aku, kamu adalah orang yang baik, Is! kamu pasti banyak yang menyukai!" Tutur Lulu sedikit menghibur.
"Tapi perempuan yang dekat dengan aku cuma kamu! apa kamu masih mau berteman dengan ku setelah ini?" Sahut Luis murung.
"Tentu saja, kita bisa berteman sampai kapan pun!" Ucap Lulu yang membuat Luis kembali menyunggingkan senyumnya.
"Terimakasih! terimakasih masih mau berteman denganku!" Sahut Luis senang.
"Tak apa, Lu! aku bisa menunggu mu sampai kamu mau menerima perasaan aku!" Batin Luis.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota X. Sepasang kekasih terlihat bahagia setelah keluar dari sebuah bioskop.
"Aku sedikit lelah, Tha! apa kita bisa pulang sekarang?" Ucap Devin.
Raganya memang sudah sangat lelah, setelah seharian itu menemani Thalita berkeliling ke sana kemari.
"Ok, tapi di perjalanan nanti kita mampir ke Apotek dulu, ya!" Sahut Thalita yang membuat Devin menautkan kedua alisnya.
"Apotek?" Gumam Devin.
"Ya Tuhan, aku melupakan gadis bar-bar itu! bagaimana keadaannya sekarang? setelah di bantu berganti pakaian tadi pagi, tidak ada seorang pun yang menemaninya di kamar hotel! aku harus segera kembali ke sana, sekarang! sebaiknya aku langsung mengantar Thalita ke apartemennya dulu supaya dia tidak cemburu!" Batin Devin.
"Vin, kamu kenapa malah melamun? aku cuma mau membeli vitamin! kamu tidak keberatan, kan kita mampir sebentar ke Apotek?" Tegur Thalita yang melihat sang kekasih malah melamun.
Thalita pikir, Devin berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya. Sehingga dia beralasan ingin memberi sebuah vitamin. Padahal niat awalnya memang hendak membeli obat kontrasepsi.
"So...sorry Tha, aku hanya teringat pekerjaanku saja barusan, sepertinya setelah mengantarmu, aku akan langsung ke kantor! kamu tidak apa-apa, kan kalau aku tinggal?" Tutur Devin.
"Hm... kamu bukan mau menemui gadis itu lagi, kan Vin?" Tanya Thalita dengan menajamkan sorot matanya ke arah Devin.
"Mampus aku! kenapa Thalita bisa tepat menebak! pasti karena dia sangat mencintaiku dan tak mau aku pergi! tapi, aku benar-benar harus melihat keadaan gadis itu, sekarang! sebaiknya aku berkata jujur saja padanya. Aku yakin, Thalita pasti bisa mengerti dengan keadaanku saat ini!" Batin Devin.
"Tha, se...sebenarnya aku memang harus melihat kondisi gadis itu, bagaimana pun juga kami baru saja menikah, aku takut Kakek akan curiga jika aku meninggalkannya begitu saja setelah pesta kemarin!" Jujur Devin.
"Oh, jadi kamu sudah mengakui pernikahan kalian itu, ya?" Sindir Thalita seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bu...bukan seperti itu, Tha! tapi kamu sendiri tau, kan alasan aku menikahinya! aku mohon kamu maklumi keadaan ku saat ini! toh, setelah satu tahun nanti, aku pasti berpisah dengan gadis itu!" Ucap Devin.
"Aku tidak boleh egois dulu! selama aku belum mendapatkan apa yang aku incar, aku tidak boleh membuatnya curiga!" Batin Thalita.
"Baiklah! kali ini aku akan percaya padamu! aku harap kamu bisa memegang ucapan mu itu, Vin! aku benar-benar takut kehilangan, kamu!" Ucap Thalita seraya memeluk Devin.
.
.
.
.
.
Yuhu... jangan pernah bosan beri dukungannya ya guys, biar Momi tambah semangat Up-nya, see you next bab 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.