Rasa cinta itu justru tersadar, ketika cemburu dirasakannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf Elsa
"Elang, janji yah kamu jangan pernah tinggalin aku.." suara Elsa kecil terngiang di telinga Elang. Walaupun sudah lama tapi masa-masa itu tak akan pernah terlupa olehnya.
"Dan sekarang gue ngerasa lo yang akan ninggalin gue," ada lenguhan panjang di ujung gumamannya. Elang turun dari motornya saat sudah berhenti beberapa saat di teras rumahnya. Dia melepas helm dan jas hujannya. Berjalan perlahan masuk ke dalam rumahnya.
"Elang, Elsa mana?" pertanyaan mamanya menghentikan langkahnya sesaat.
"Hujan ma, Elsa gak jadi ke sini." dengan nada yang cukup datar Elang memberi alasan. Elang kembali melangkahkan kakinya menuju anak tangga.
"Elang, mama udah terlanjur masak buat Elsa." teriak mama sambil mengikuti Elang.
Tidak ada respon dari Elang bahkan ekspresi Elang begitu muram. Bu Dian begitu menyadari raut wajah Elang yang tidak biasanya. Dia menghentikan langkahnya di depan kamar Elang yang tertutup pelan. "Keliatannya Elang lagi ada masalah. Apa sama Elsa?" gumamnya. "Elang, kamu mandi air hangat terus makan!" teriak Bu Dian dari luar kamar Elang.
Di dalam, Elang hanya melenguh panjang. Melihat hape-nya yang kini sudah banyak WA dari Elsa. "Gue gak bisa marah sama lo, tapi gue gak rela kalau lo sama Fandi. Shits!! Rasa apa sih ini?!" Elang kembali menaruh hape-nya tanpa membalasnya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama. Setelah keluar kamar mandi, Elang malah merebahkan badannya. Menaikan selimut karena badannya terasa menggigil. "Cinta? Apa ini yang namanya cinta. Tapi, kenapa begitu menyakitkan. Kalau seandainya gue bilang sama Elsa tentang perasaan gue, apa iya Elsa bisa nerima perasaan gue?" Elang mengacak rambutnya sesaat karena frustasi.
"Elang, kamu gak makan?" pertanyaan Bu Dian dari depan pintu kamar Elang cukup keras yang membuat lamunan Elang menghilang sesaat.
"Bentar lagi, ma." jawab Elang. Lapar, iya tapi rasa laparnya sudah kalah dengan perasaannya. Elang malah mengambil hape-nya. Membuka galeri untuk melihat beberapa foto Elsa yang tersimpan.
"Lang," panggil Bu Dian yang kini memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Elang. Dia berjalan mendekati Elang yang masih berbaring di atas tempat tidur. "Elang, kamu sakit?"
Elang sedikit terkejut. Dia langsung menaruh hape-nya dan duduk menghadap mamanya. "Aku gak sakit, cuma lagi capek aja, Ma."
Bu Dian duduk di samping Elang. Dia merasa putranya yang satu ini pasti sedang mempunyai sebuah masalah. "Kamu ada masalah?" selidiknya.
"Nggak ada." jawab Elang sambil menggeleng pelan.
"Mikirin Elsa?" tebakan mamanya seketika membuat Elang begitu salah tingkah.
"E-enggak. Buat apa mikirin Elsa, tiap hari juga ketemu."
Bu Dian tersenyum, dia begitu peka dengan Elang. Apa yang dirasakan Elang, juga bisa dia rasakan. "Gak usah bohong sama mama. Mama ngerti apa yang kamu rasakan. Keliatannya anak mama udah mulai jatuh cinta sama Elsa."
"Haha, jatuh cinta, sama Elsa lagi. Mana mungkin sih, Ma. Lagian Elsa juga lebih milih jalan sama cowok lain." Curhat colongan pun muncul yang membuat mamanya tersenyum puas.
"Jadi, anak mama dari tadi itu lagi cemburu." Bu Dian semakin menggoda Elang.
Elang hanya terdiam, tersadar akan rasanya itu, "Jadi, dari tadi itu gue cemburu," gumam Elang di hatinya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bel rumah Elang.
"Jangan-jangan itu Elsa." Bu Dian berdiri dan akan beranjak pergi untuk membukakan pintu.
"Kalau Elsa, bilang Elang lagi gak ada di rumah, dia lagi terbang." Elang kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya lagi.
Bu Dian hanya menggelengkan kepalanya. Jelaslah, Elsa tidak menyukai Elang, Elang masih begitu sangat kekanak-kanakan. Bu Dian melangkah menuruni anak tangga lalu melangkah cepat membuka pintu rumahnya. Benar apa dugaannya, Elsa yang datang. "Elsa, ayo masuk sayang." Bu Dian langsung menarik tangan Elsa untuk masuk ke dalam rumah.
"Elang, ada tante?" tanya Elsa sambil celingukan mencari sesosok Elang yang biasanya menyambutnya dengan heboh saat ke rumah.
"Elang, ada di kamarnya. Kamu ikut tante tapi kamu jangan berisik." Bu Dian mengajak Elsa ke kamar Elang. Bu Dian sangat tahu, jika Elang sudah marah pasti dia kekeh untuk menolak bertemu dengan Elsa.
Perlahan, mereka masuk ke dalam kamar Elang. Elang masih saja menutup wajahnya dengan selimut.
"Elang, ada Bagas nyariin kamu."
Sesuai dugaan Bu Dian, Elang langsung membuka selimutnya. Spontan, Elang terkejut melihat Elsa sudah berada di kamarnya. Elang langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar ke balkon. Memegang pagar pembatas sambil menatap pepohonan yang masih terlihat basah.
"Lo ngapain ke sini?" suara Elang masih nampak begitu kaku.
"Udah, jangan berantem. Mama keluar dulu, selesain baik-baik masalah kalian."
Seiring kepergian Bu Dian, Elsa berjalan mendekati Elang. "Emang, manusia lupa itu gak wajar sampai lo marah kayak gini."
"Wajar, kalau lo gak jalan sama Fandi."
"Apa salahnya? Gue udah gede, udah saatnya gue deket sama seseorang kecuali lo sebagai sahabat gue."
Perkataan Elsa memang benar, tapi rasanya hati Elang semakin terluka dan semakin menusuknya begitu dalam. Dia tidak rela jika Elsa dekat dengan Fandi. "Lo suka sama Fandi?"
Elsa terdiam, dia tapakkan tangannya di pagar pembatas dekat tangan Elang. Sedikit berpikir dan masih tidak menjawab pertanyaan Elang.
"Iya?" tanya Elang yang kini sambil menatap ekspresi Elsa. Elsa sedikit tersenyum kecil. "Hmmm, tanda-tanda..." Elang membuang pandangannya lagi dari Elsa.
Kini Elsa yang menautkan alisnya. Menatap Elang dengan penuh kekesalan. "Lo kenapa sih sekarang jadi ngambekan gini? Emang kalau gue suka sama Fandi itu masalah buat lo? Pantesan gak ada cewek yang suka sama lo, lo masih kekanak-kanakan sih."
"Kalau gue masih kekanak-kanakan trus lo apa? Lo kenal sama Fandi baru beberapa hari aja udah jatuh cinta." Elang kini menatap Elsa lagi dengan intens. "Sa, gue gak mau lo salah pilih."
"Salah pilih? Lo siapa gue sampai gue harus nuruti semua kata lo. Lagian Fandi itu keliatannya cowok baik." Dan lagi, Elsa berbicara tanpa memikirkan perasaan Elang.
Elang sudah tidak mampu berkata lagi. Dia sadar dengan perkataan Elsa. Dia bukan siapa-siapa dan selamanya akan menjadi seseorang yang tidak berarti buat Elsa. Padahal selama ini Elang selalu menemani Elsa, di saat apapun.
Elang menghela napas panjang, dia buang lagi pandangannya, mengeraskan rahang bawahnya menahan gejolak emosi di dadanya. "Gue emang bukan siapa-siapa lo dan lo juga gak perlu berdiri di sini buat gue."
Tersadar akan kata pengusiran dari Elang. Elsa tahu betul Elang semakin marah padanya. "Elang, maaf gue..."
Elang langsung memotong perkataan Elsa, "Lo gak perlu minta maaf sama gue. Gue udah pernah bilang sama lo, apapun yang lo lakuin sama gue itu gak pernah salah. Gue ngerti, lo butuh seseorang di samping lo selain gue. Lebih baik sekarang lo pergi, karna sekarang gue mau sendiri."
Mendengar perkataan Elang, air mata Elsa hampir saja terjatuh. Mana mungkin dia menjalani hari-harinya tanpa Elang. Semua itu salah. Bukan ini maksud Elsa. "Elang.." Elsa memegang tangan Elang tapi Elang menarik tangannya.
"Ya udah, gue pulang..." Elsa yang memang begitu cengeng, akhirnya menangis. Dia membalikkan badannya dan akan melangkah pergi.
"Sa," tersadar akan tangisan Elsa, Elang menahan langkah Elsa dengan menggenggam tangannya. "Lo ngapain nangis sih." Elang kini menatap mata Elsa yang sudah basah. Dia hapus air mata Elsa yang berhasil lolos di pipinya. "Maafin gue. Lo tahu kan sifat gue. Gue gak mungkin bisa serius marah sama lo. Apa yang gue katakan barusan cuma emosi sesaat gue. Gue pernah janji sama lo kalau gue gak akan ninggalin lo, kecuali kalau..."
Perkataan Elang terhenti. Elsa menatap raut wajah Elang begitu dalam saat menunggu apa yang akan dikatakan Elang. Bayangan masa lalu Elsa terlintas lagi dibenaknya, tentang janji yang pernah mereka buat.
"Kecuali apa?" Elsa akhirnya bertanya karena Elang tidak juga melanjutkan perkataannya.
"Kecuali kalau lo minta buat gue ninggalin lo."
Perkataan yang dalam di dapat Elsa lagi. Elsa tidak habis pikir kenapa Elang sekarang begitu mellow. "Lo ngomong apa sih?"
Keseriusan wajah Elsa membuat Elang tertawa. "Emang kalau lo ke toilet mau gue temenin."
"Ih, dasar rese' lo!" Elsa memukul pelan perut Elang tapi justru Elang menariknya dalam rangkulannya.
"Kita makan yuk, kasian tau nyokap gue udah masak banyak buat lo. Haha, lo kan makannya banyak."
"Ih, kok lo suka bener sih kalau ngomong."
Pertengkaran itu mungkin untuk saat ini bisa diredam tapi jika Elsa benar-benar mencintai Fandi, bagaimana dengan perasaan Elang yang sebenarnya.
"Gitu dong baikan, Mama gak mau liat kalian bertengkar." senyum sumringah tergambar di wajah Bu Dian melihat Elang dan Elsa sudah akur saat menuju meja makan.