Pernikahan Yang tidak diinginkan, akhirnya terjawab sudah, jalan terakhir adalah perpisahan.
Siapa sangka jika kenyataannya telah ternoda sebelum nikah dengan lelaki lain. Hancur sudah harapan suaminya ketika istrinya mengatakan hal yang jujur saat malam dimana sang suami meminta haknya.
Sungguh sangat terkejut saat Devan mengetahui kebenaran soal pengakuan istrinya telah direnggut mahkotanya, dan saat malam itu juga Liyan diceraikan.
Sungguh terluka hatinya, dan dikembalikan kepada orang tuanya.
Kedua orang tuanya murka, itu sudah pasti. Dengan tekad serta keputusan yang diambil, yakni mengasingkan putrinya jauh dari kota.
Siapa sangka, jika kenyataannya telah hamil.
Siapa dia? Lianva.
Penasaran? yuk ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa malu dan canggung
Saat sudah berada di dapur, Liyan bingung harus mengerjakan apa, pikirnya. Celingukan, itu sudah pasti.
'Bagaimana ini, aku harus ngapain? mana ada anak perempuannya juga, lagi. Semoga saja tidak judes, bisa berabe jadinya.' Batin Liyan masih berdiam diri di ambang pintu.
"Loh, ada Nak Liyan. Kok diam aja, jangan malu-malu. Anggap saja kalau rumah ini rumahnya Nak Liyan juga. Ibu minta maaf sebelumnya, jika rumah Ibu gak sebagus dan semewah punya Nak Liyan di kota. Tapi tenang saja, soal kebersihan pasti terjamin." Ucap Ibu Arum saat mendapati Liyan yang sudah berdiri diambang pintu.
"Tidak apa-apa kok, Bu. Saya sebelumnya juga pernah ikut tinggal di kampung, waktu itu salah alamat. Jadi, Liyan gak kaget lagi. Makasih banyak ya, Bu, sudah mau menerima Liyan untuk tinggal di rumahnya Ibu." Jawab Liyan sebaik mungkin, sadar diri karena ikut dengan orang yang tidak dikenalinya.
Yena yang tidak ingin membuat Liyan canggung, ia segera mendekatinya.
"Perkenalkan, namaku Yena. Aku anaknya Ibu Arum. Semoga betah ya, tinggal di rumah macam gubuk. Maklum, kami tinggal di kampung dengan seadanya, sesuai apa yang kita punya." Ucap Yena memperkenalkan diri, dan juga mengulurkan tangannya.
"Salam kenal kembali, namaku Liyanva, panggil saja Liyan. Terima kasih ya, sudah mau menerimaku untuk tinggal di rumah kamu." Jawab Liyan yang juga memperkenalkan diri, dan menerima uluran tangannya.
"Kalau kamu capek, gak udah ikutan bantu masak. Atau gak, aku buatkan teh hangat, kamu pasti capek karena perjalanan dari kota. Duduk saja di sini, aku mau buatkan kamu teh hangat, jika gak suka, aku buatkan wedang jahe, biar badan terasa hangat." Ucap Yena, Liyan tersenyum dengan penuh rasa bahagia dan sangat beruntung ketika dipertemukan dengan orang-orang baik.
"Tidak usah repot-repot, nanti kalau aku kepingin, aku buat sendiri aja. Aku bantu masak, ya." Jawab Liyan yang langsung ikutan mengupas bawang putih.
Ibu Arum yang melihat sikap Liyan yang tidak jauh dari putrinya, pun merasa lega karena tidak seperti yang dibayangkannya.
Kemudian, Ibu Arum segera memanggil Aditya untuk membakar ikan.
"Adit, Dit, dimana kamu?"
Ibu Arum memanggil manggil Adit.
"Ya, Bude, kenapa?"
Sahut Aditya saat namanya dipanggil, dan segera menghampiri.
"Tolong bantuin Bude bakar ikan, soalnya Bude ada kerjaan yang lainnya. Sudah hampir mau gelap, kamu yang bakar ikannya ya?"
"Tapi, Bude. Kalau perempuan tadi itu gak suka, gimana? mendingan Bude tanya aja dulu. Takutnya dianya gak suka ikan bakar." Jawab Aditya.
"Iya juga ya. Ya udah, Bude mau tanya dulu. Kamunya cuci bersih ikannya. Ingat, harus benar-benar bersih." Ucap Ibu Arum yang juga memberi tugas kepada Aditya.
Ibu Arum yang tidak ingin lama-lama, segera menanyakan perihal ikan bakar kepada Liyan, takutnya tidak suka, pikirnya.
"Nak Liyan." Panggil Ibu Arum mengagetkan.
Liyan langsung mendongak karena merasa jika namanya dipanggil.
"Iya, Bu, ada apa ya?"
Sahut Liyan dan langsung bertanya kepada pokok intinya.
"Kamu suka ikan bakar atau tidak, Nak?" tanya ibunya Yena.
"Oh, ikan bakar. Iya Bu, saya suka. Maksudnya, kalau Liyan suka ikan bakar." Jawab Liyan yang tiba-tiba mendadak teringat dengan kenangannya saat baru pertama kali masuk ke rumah miliknya orang tua asihnya Vando, dan juga disuguhkan dengan hal yang serupa, yakni ikan bakar, tentu saja ingatannya pun kembali lagi.
"Ya udah kalau memang suka, Ibu mau lanjut bakar ikannya. Kamu gak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja." Ucap ibu Arum.
Liyan mengangguk dan tersenyum.
namanya juga novel ya...
suami selingkuh dengan saudaramu, suami menghamili saudaramu, dan akhir kalian pisah, dan suami hidup dengan dikejar banyak ma wanita dia hidup normal saja setelah berpisah dan akhir dia menikah dengan saudaramu sedangkan author terpuruk, tapi malah author dibuat bucin yang terus berharap pada mantan suami, author dibuat mengejar dan berjuang untuk mantan suami, apakah adil jika author diperlakukan seperti itu, renungkan lah, karena jawaban author menentukan karakter author
jika author tidak masalah jika diperlakukan seperti itu, tidak masalah berati author sportif
tapi kalau author merasa tidak adil, maka itu lah yang author lakukan pada devan
kalau novel pemeran utama pria, dan pemeran wanita korban ini yang terjadi
*pemeran utama pria menyesal dan dia yang berjuang dapat kesempatan
*kalian hadirkan lelaki lain pahlawan bagi pemeran utama wanita
sekarang ini novelnya pemran utama wanita melakukan kesalahan pada pemran utama pria tapi apa yang terjadi
*tetap saja pemeran utama pria yang dibuat salah dan menyesal dan berjuang
*tetap saja dihadirkan lelaki lain jadi pahlawan, kalian tidak berani hadirkan wanita lain yang jadi pahlawan bagi devan
author coba kau bayang diposisi devan adil tidak author untuk dia
*calon istrinya selingkuh dan sesudah menikah dia tau istri hamil anak saudaranya sendiri tapi kalian buat dia seolah2 salah dan menyesal, dia yang author buat berjuang dan mengejar cinta,
adil tidak kalau author diposisi devan????
lihat dari segala sudut pandang jangan hanya melihat dari sudut pemeran utama wanita karena itu sangat membuat kalian jadi egois
sedihnya 😢