"Aku ingin putus"Ucap Michi tertunduk dia menahan tangisnya.
"Putus? kenapa?"Satria meminta penjelasan dia tidak terima begitu saja.
"Karena aku hamil"jelas Michi.
Duar....
Bagai di lempar Boom ke wajahnya Satria sungguh terkejut medengar pernyataan kekasihnya orang yang paling dia cintai hamil,bagaimana tidak karena selama ini mereka jarang bertemu bahkan Satria sangat menjaga Michi dia tak pernah berani menyentuh gadis itu meski sehelai rambut pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Sangat Berarti
Pukul 8 pagi.
Agung memegangi perutnya,dia kelaparan sejak malam belum makan Agung akhirnya mendekati Michi yang sedang duduk di toko.
"Chi...aku lapar..."ucapnya manja.
Michi berdecak dan menghela nafas meski masi kesal dan rasa benci itu masih ada tapi dia tidak tega juga melihat orang kelaparan.
Michi mengambil beberapa kue di etalasenya dan memberikannya kepada Agung.
"Nih...buat ganjal perut,aku belum masak jadi makan ini saja dulu"ucap Michi ketus.
Biar ketus tapi baik itu yang membuat Agung tersenyum padanya.
Michi berjalan ke dapur dia memeriksa stok bahan dan mencatatnya di sebuah catatan kecil. Agung mngikutinya.
"Chi...aku nggak punya baju ganti,dan nggak punya uang mau beli bisa kau belikan aku pakain ganti?"pinta Agung dengan tidak tahu malunya.
Michi lalu mengeluarkan dompetnya dari saku celemek yang dia pakai saat ini,dia lalu mengeluarkan uang lima lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Agung.
"Nih...banti beli lah kebutuhan mu"ucap Michi datar.
Agung bengong menerima uang itu.
"Chi segini bisa kebeli apaan? Beli ****** doang ajah nggak dapet Chi..."ucap Agung sombong.
Michi berdecak kesal mendengar kesombongan orang yang tidak tahu malu ini.
Michi lalu mengambil kembali uang tersebut.
"Loh kok di ambil lagi?"tanya Agung bingung.
"Ya kata mu itu nggak cukup,ya sudah aku ambil lagi,kamu fikir saja sendiri bagaimana mendapatkan uang dengan cepat"ucap Michi ketus.
"Heuh...sombong betul kau ini,kau tak tahu kau ini hanya numpang disini tahu?!"Agung betkata ketus.
"Hei...tuan muda apa anda tidak salah bicara bukankah sebaliknya hah?! anda yang menumpang disini bukan saya?!"Michi tak kalah ketusnya.
Agung lalu memgeluarkan ponselnya dan entah mengutak atik apa,lalu tak lama menunjukan sebuah dokumen pada Michi.
"Baca itu baik-baik"ucap Agung ketus pada Michi.
Ternyata itu adalah akte kepamilikan gedung yang di tempati Michi,dan disana tertulis bahwa gedung tersebut adalah milik dari Agung Wijaya.
"Sudah bacanya jadi sekarang siapa yang numpang hah?!"ucap Agung ketus dan sombong.
Jadi waktu lima tahun yang lalu saat Michi mengontrak ruko tersebut tak lama Agung membeli ruko tersebut dari pemilik yang sebelumnya,dan membebaskan Michi dari uang sewa ruko tersebut.
Michi tak mengira pemilik ruko yang seblumnya menjual ruko tersebut pada Agung,walau pemilik yang sebelumnya pernah menjelaskan,kalau ruko ini sudah ada yang membeli dan berganti kepemilikan dan pemiliknya membebaskan uang sewa padanya,tapi sungguh dia tak menyangka kalau orang tersrbut adalah Agung Wijaya.
"Dasar licik"ucap Michi ketus.
"Hei...gadis tusuk gigi harusnya kau ini berterima kasih bukan malah berkata seperti itu?!"ucap Agung.ketus.
Michi melangkah kesal keluar dari dapur dan menemui Sinta di toko.
Disana terlihat Michi bergumam nggak jelas.
Agung menghampiri Michi di toko.
"Chi...ck...mana uanganya pelit sekali sih kamu ini"ucap Agung ketus.
"Aku hanya bisa kasih segitu"ucap Michi ketus.
"Segitu cukup buat beli apa Chi..."Agung sewot.
"Bisa pak Agung anda bisa beli semua kebutuhan anda dengan jumlah uang segitu"Michi sewot.
"Itu kalau kamu kalau aku ya beda Chi..."Agung sombong.
"Astagfirullah Agung Wijaya kenapa anda ini berbeda banget dengan adik anda hah...Satria biasa pakai barang no branded loh pak...bahkan dia selalu pakai jaket yang saya berikan sebagai hadiah ualng tahunnya meski itu hanya seharga 200ribuan"ucap Michi ketus.
"Hei...jangan samakan aku dengan Adik ku...dia memang cinta sama kamu mangkanya dia pakai jaket murahan itu agar kamu senang"Agung sewot.
Agung jadi ingat saat Satria keluar rumah memakai jaket berbahan jeans yang dia katakan itu dari seseorang.
Ternyata itu dari dia pantas saja.
Batin Agung.
Dan Agung melihat kalung yang digunakan Michi bandul kalung berukiran huruf SM bandul itu dari emas murni,Agung tahu itu karena Satria pernah mengemasnya dalam kotak dan mengatakan itu untuk wanita yang di cintainya.
"Dasar licik kau memberikan adik ku jaket seharga 200ribu sedangkan kau sendiri dapat bandul emas seharga jutaan"singgung Agung.
Merasa tersinggung Michi akhirnya sewot kembali,dia menjelaskan pada Agung,dia tak pernah meminta itu semua dari Satria,bahkan dirinya tak pernah tahu kalau Satria itu anak dari presedir tempatnya bekerja,bila dia tahu Satria anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja dia pun tak berani menjalin hubungan dengan Satria,begitulah penjelasan Michi,yang hanya di anggap omong kosong oleh Agung.
Sinta melihat Michi dan Agung yang selalu.berdebat setiap bertemu,Sinta seolah melihat sisi lain dari Michi,Michi yang pendiam jarang berbicara apa lagi sampai berdebat seperti ini apa lagi dengan seorang pria betul-betul sangat berbeda.
"Oke nanti anda ikut saya kepasar kita belanja kebutuhan anda disana"ucap Michi akhirnya berusaha mengalah.
"Apa?! pasar kau gila ya...masa aku belanja ke pasar nggak mau ah..."tolak Agung.
"Terserah anda pak Agung...kalau anda mau punya pakaian ganti anda ya harus ikut dengan saya,tapi bila anda masih ingin mengenakan pakain itu selama berhari-hari terserah anda"ucap Michi santai.
"Tapi Chi....masa di pasar sih?"Agung merengek.
"Mau nggak?"Ucap Michi meledek bahkan dia sempat menarik garis bibirnya.
Sinta terkejut melihat itu,sebab baru pertama kalinya ini dirinya melihat bosnya itu tersenyum tulus seperti itu,meski sering melihat Michi tersenyum pada pelanggan dirinya belum pernah melihat senyuman setulus itu lahir dari wajah Michi.
"Huh dasar pelit"umpat Agung,sambil cemberut.
Sebenarnya Michi bisa saja menuruti kemauan Agung untuk membeli segala keperluannya di toko baju ternama,namun Michi ingin mengajari pada Agung bahwa gaya hidup itu tak perlu mewah.
Di sisi lain.
Devan memberitahukan Satria kejadian yang terjadi tadi pagi di depan toko Michi,Devan sempat bingung kenapa Agung bisa berada di depan toko Michi sambil bergoyang seperti orang gila disana,bahkan dia sempat merekam kejadian tersebut dan memberikannya pada Satria.
Satria tersenyum saat melihat video tersebut,apa lagi saat melihat Michi berdebat dengan Agung dengan memakai mukena.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak? Apa kalian sebenarnya saling kenal?"Devan penasaran.
"Hem....iya...biarkan saja kakak ku,dia sedang di hukum papah"ucap Satria.
"Tapi kenapa pak Agung ada di toko mba Chichi pak?apa pak Agung kenal dengan Mba Chichi?"Devan bingung.
"Iya...mereka saling kenal"ucap Saria singkat.
Dia juga tak mingkin menceritakan semuanya kepada Devan,cerita dibalik perkenalan mereka kan. Bahkan Satria tak menceritakan hal ini pada Naura tunangannya karena ini termasuk aib keluarga,biar bagaimana pun keduanya adalah orang yang sangat berarti bagi Satria.
Bersambung.