Apakah sesulit itu kau mencintai aku. Sehingga aku bagaikan bayangan dimatamu. Aku ingin kau melihat ku sekali saja, melihatku sebagai kekasihmu.sebelum aku mulai menyerah dan memilih pergi dengan sikap dingin mu itu. Kapan es itu mencair? Dan kapan senyum terbit di bibirmu? senyum untuk ku.
_Yuna Delisia Putri-
Aku tak menganggap mu sebagai kekasih ku, Walaupun kau adalah kekasih ku. Bahkan aku ingin kau pergi dari hidupku, Pergi jauh dari hidupku.
_Alfran Mahendra_
Apakah Yuna sanggup bertahan dengan Alfran yang tak menganggap ia sebagai kekasih. Dan apakah Alfran akan mencintai Yuna setelah Yuna ingin mulai menyerah dan melepaskan Afran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini apa?
Happy reading
*****
Keheningan menyapa Yuna dan Gibran. Gibran melirik Yuna sekilas yang menatap ke arah keluar melalui jendela mobilnya. Gibran tak tau hendak memulai pembicaraan dengan Yuna, ia hanya bisa diam saja tanpa mengajak Yuna berbicara karena sejujurnya ia bingung ingin memulai pembicaraan dengan topik apa. Yuna yang merasa tak enak hati pada Gibran, menoleh ke arah Gibran.
"Gibran?"
"Hah i-iya, Yun." jawab Gibran gugup dengan melirik ke arah Yuna.
Yuna tersenyum tipis. "Makasih ya, lo udah mau nganter gue pulang, padahal rumah gue sama lo kan beda arah," ucap Yuna tulus.
"Santai aja, gue mana tega lihat cewek pulang sendirian. Gak kayak cowok lo," jawab Gibran tersenyum ke arah Yuna dengan menyindir sikap Alfran terhadap Yuna. Yuna tertunduk murung, memang benar apa yang di katakan Gibran. Alfran tak peduli padanya sampai mengantarkan dirinya pulang saja tidak mau.
"Eh.. sorry, sorry gue gak bermaksud buat lo sedih," ucap Gibran merasa bersalah terhadap Yuna yang menjadi terlihat murung.
"Gak apa-apa kok, apa yang lo katakan tentang Al gak salah. Mungkin gue aja yang terlalu berlebihan, gue terlalu tergantung sama Alfran. Pantas aja Al gak suka sama gue," ucap Yuna memainkan kuku-kuku jarinya menahan sesak di dadanya mengingat sikapnya dulu yang terlalu manja pada Alfran walau Alfran sama sekali tak menghiraukannya.
Gibran yang mendengarnya merasa semakin bersalah telah membuat Yuna bersedih kembali.
"Maaf gue gak bermaksud buat lo sedih lagi, gue yakin Alfran akan berubah dan melihat ke arah lo sebagai seseorang kekasih yang sangat berharga baginya, kalau gue jadi Alfran gue gak akan menyia-nyiakan cewek sebaik lo," ucap Gibran membuat Yuna tersentak dan menatap ke arah Gibran yang sudah kembali fokus pada kemudinya.
"Maksud lo apa?"
"Maksud gue, kalau gue jadi Alfran, gue gak akan membuat lo sedih hanya karena alasan gak jelas di masa lalu. Dan gak akan membuat lo berjuang sendiri dengan hubungan yang sudah terjalin sangat lama."
"Yuna?"
"Iya."
"Bisakah lo lepasin Alfran? Gue gak tega setiap melihat lo sedih karena dia. Masih banyak cowok di luaran sana yang suka sama lo. Lo cantik, baik, pintar, ramah gak sombong dan mudah tersenyum."
"Gue gak bisa, gue cinta sama Alfran. Biarkan gue berjuang untuk mendapatkan cinta Alfran, sampai gue ngerasa perjuangan gue sia-sia dan di saat itu gue akan pergi melepaskan Alfran."
Gibran menghela nafasnya kasar, sungguh gadis yang berada di sampingnya ini sangat keras kepala sekali. sudah di sakiti masih saja bertahan, Gibran semakin kagum dengan Yuna. Seandainya dirinya yang menjadi kekasih Yuna, Gibran tak akan menyia-nyiakan Yuna begitu saja.
"Yuna, tubuh lo kenapa bintik-bintik merah gini?" tanya Gibran panik saat baru menyadari jika tubuh Yuna di penuhi dengan bintik-bintik merah. Gibran menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia melihat tubuh Yuna dengan panik.
"G-gue gak apa-apa," jawab Yuna gugup.
"Gak apa-apa gimana, ini tubuh lo banyak bintik merahnya," ucap Gibran meninggi menatap ke arah Yuna khawatir.
"Yuna hidung lo berdarah," lanjut Gibran yang langsung mengambil tisu untuk membersihkan darah di hidung Yuna.
"Gib, gue gak apa-apa," ucap Yuna lirih dengan mulai meringis karena kembali merasakan sakit di kepalanya.
"Gue gak percaya, lo diam aja. Gue bersihin darah lo." sentak Gibran dengan serius.
"Gib, bisa ambilkan obat gue di tas?" ucap Yuna yang sudah tidak kuat lagi dengan sakit kepalanya. Ia akan mencari alasan nanti jika Gibran bertanya tentang obat yang ia minum. Gibran langsung membuka tas Yuna mencari-cari obat yang di maksud oleh Yuna.
Deg.
Gibran mematung menatap obat yang sudah di temukan olehnya, ia menatap Yuna dan obat itu secara bergatian.
"Ini obat apa?" tanya Gibran pelan memberikan obat itu pada Yuna karena Gibran sudah tak tega mendengar ringisan kesakitan dari mulut Yuna. Yuna menerima obatnya dengan tangan gemetar membuat Gibran merasa sesak di hatinya.
"Cuma vitamin biasa," jawab Yuna setelah sakit kepalanya berangsur-angsur menghilang.
Gibran tidak bodoh, ia mengenali jenis obat yang di konsumsi oleh Yuna karena ia pernah melihat almarhumah mamanya meminum obat itu.
"Jangan bohong sama gue, ini obat apa Yuna?"
"Hanya obat sakit kepala biasa, Gib." jawab Yuna lirih mencoba meyakinkan Gibran yang masih tak percaya
Gibran mengacak rambutnya frustasi. "Gue tau ini obat bukan obat biasa, ini obat untuk meredakan sakit kepala karena luekimia, kan? Jawab gue dengan jujur Yuna?" tanya Gibran dengan keras mengguncang bahu Yuna keras membuat gadis itu meringis.
"B-bukan," jawab Yuna gugup.
"Gue tau Yuna, karena mama gue pernah meminum obat ini. Kenapa lo harus bohong Yuna? Kenapa?"
Gibran menatap Yuna, ia menghela nafas kasar saat mendengar isak tangis dari Yuna. "Gue mohon jangan beritahu penyakit gue sama Alfran, gue gak mau dia kasihan sama gue."
Gibran membawa Yuna kepelukannya, Gibran merasa sakit di hatinya. Kenapa harus dirinya yang mengetahui fakta ini? Kenapa tidak Alfran saja? Hatinya sakit, lagi dan lagi orang yang ia sayangi harus pergi meninggalkannya hanya karena penyakit mematikan itu. Gibran tak ingin kehilangan Yuna, sudah cukup ia mengalah dengan Alfran. Kali ini Gibran tak ingin mengalah, biarkan dirinya berjuang untuk mendapatkan Yuna.
"Gue janji, gue akan selalu ada buat lo," ucap Gibran lirih di telinga Yuna.
******
Jangan lupa vote, like dan komennya