Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Hari Selasa ini Renata dan
Tia benar-benar sibuk, karena besok mereka harus ke Bandung, acara kantor, yang
kebetulan mereka ikut mewakili dari divisinya, selain ada lagi dua orang yang
ikut, termasuk direktur di divisinya. Untuk divisi-divisi lain juga terlibat
termasuk Erwin yang juga sebagai salah satu direktur. Dan hari ini Renata
sedang mempersiapkan dokumen-dokumen yang harus dibawa sebagai bahan presentasi
direkturnya. Acara di Bandung sampai dengan Jumat malam. Tiba-tiba ponsel Renata
terdengar nada panggilan masuk, Renata melihat ponselnya, rupanya Erwin.
“Siang pak..”
“Kok pak...??”
“Bapak lupa kalau ini di
kantor..??”
“Hee... he.... Ren besok ke Bandung kita bareng ya..”
“Maaf pak saya sudah
janjian dengan teman-teman, karena mau mampir-mampir dulu.”
“Mampir kemana..?”
” Ada yang mau dibeli.
Kebetulan teman yang tahu tempatnya. Maaf pak...”
“ Okelah kalau begitu.
Sampai ketemu besok di Bandung ya..Kita cari kulineran lagi yang enak” Ada nada
kecewa dalam ucapan Erwin.
Renata menghembuskan
nafasnya dengan kasar. Ada kelegaan di wajahnya karena berhasil menghindar dari
Erwin
“Kenapa Ren...?” Tia bertanya
dengan heran
“Pak Erwin ngajak bareng
ke Bandung besok...”
“Terus...?”
“Ya gak terus-terus....
Seremmm...”
“Kayaknya bener-bener
serius tuh cowok. Ehh... ngomong-ngomong mas Bram kapan pulang?”
“Gak tau, gak ada kabar.”
“Masak sih....” Tia
heran. Renata hanya mengangkat ke dua bahunya dan tidak menjawab.
Acara meeting kantor di
Bandung berjalan dengan lancar. Renata sengaja menghindar untuk tidak berdekatan
dengan Erwin, baik di acara meeting maupun acara santai. Karena kebetulan acara
sangat padat, Erwin pun tidak sempat mengajak Rena keluar seperti janjinya
waktu di kantor.
Dan ini adalah Jumat
malam, dimana akan diadakan meeting terakhir sebelum acara ditutup dengan gala
dinner. Peserta mau langsung pulang selesai meeting atau mau sampai besok pagi,
terserah masing-masing. Jam 18.30 Renata dan Tia sudah bersiap-siap menuju ke tempat acara yang
kebetulan melewati lobby.
“Ren... tuh ada yang nyari..”
Kata Tia sambil menunjuk seseorang yang sibuk dengan ponselnya, sedang duduk di
sofa lobby hotel membelakangi arah mereka keluar dari lift.
“Siapa...” Renata heran.
“Yuk kita samperin...”
Tia menarik pelan tangan Renata, dan Renatapun hanya menurut mengikuti langkah
Tia.
Sampai di dekat lak-laki
itu Tia masih dengan menarik tangan Renata, mengajak duduk di sofa yang kosong
di depan laki-laki itu.
“Niiihhh... tuan putrinya..”
Renata kaget, rupanya Bram sudah ada di depannya.
“Apa kabar Ren, Tia...?” Bram
bangkit dan menyalami Renata dan Tia. Renata bengong melihat kehadiran Bram di
hotel.
*Flashback on*
Hari kamis sore Tia
mendapat telpon dari Bram, yang rupanya baru datang dari Texas. Dia memang sengaja
tidak memberitahukan kepulangannya kepada Renata. Dia akan memberi kejutan, dan
memang dia sudah berniat sepulang dari Texas dia akan mengungkapkan isi hatinya
kepada Renata. Ternyata Renata sedang mengikuti acara di Bandung juga dengan
Tia.
“Tolong jangan kasih tau
Renata kalau aku pulang ya. Aku mau buat surprise.”
“Oke, mas Bram kapan ke Bandungnya..?
“Besok siang aku ke
Bandung. Aku nginep di hotel yang sama aja, terus Arya nyusul habis kantor.”
“Siiip... kebetulan acara
Jumat malem closing skalian gala dinner. Culik aja Rena, ajak pergi. Ntar aku yang
atur. Sebelum acara mulai kalian bisa jalan.”
*Flashback off*
“Kabar baik. Kapan pulang mas..?” Tanya Renata
“Kemaren
sore sampai. Sory ya... sengaja gak kasih tahu biar surprise..”
“Iya...tadi
pasti Rena mikir yang nyari pak Erwin ya....” Tia bercanda
“Pak
Erwin..? Siapa..?” Tanya Bram heran
“Itu
tuhhh direktur ganteng yang ngejar-ngejar Renata terus...”
Renata melotot mendengar
omongan Tia, Bram tersenyum melihat muka Renata yang menurut Bram sangat lucu
dan menggemaskan.
“Tapi jangan kuatir mas...
Rena sekarang udah pinter ngeles, ngindarin pak Erwin sampai pak Erwin
kelimpungan...haa.....”
“Isshh... apaan sih...?’
Renata mencubit lengan Tia.
“Auuu.... sakit Ren..!!’
“Bodo...!!!”
“Eh buruan kalo mau jalan,
ntar keburu orang-orang pada turun...” Tia mengingatkan Bram
“Ayo Ren... kita keluar
dulu...” Ajak Bram. Renata menoleh ke arah Tia dan Bram bergantian.
“Udaaahhh... gak usah
bingung Ren. Ntar kalo ada yang nyari, gue alesan loe lagi gak enak badan, atau
alesan lain. Tuhh,...kasian mas Bram jauh-jauh dari amrik...”
Renata masih diam.
“ Loe nunggu pak Erwin
turun Ren...?” Tanya Tia menyadarkan Renata, yang kemudian melihat ke arah
Bram.
“Oke kita jalan ya
Ren...”
“Kemana...?’
“Udaahhh... terserah mas
Bram aja,dia lebih tahu Bandung. Mau sampe pagi juga boleh. Nih kunci kamar, tadi
aku dah minta satu lagi. Jadi ntar kalo pulang gak usah bangunin aku.’ Kata Tia
sambil menyerahkan kunci kamar hotel pada Renata.
“Trim Tia, kita jalan dulu.”
Bram pamit
“Oke ati-ati. Awas pulang
harus utuh, jangan sampai kurang...” Renata melotot lagi ke arah Tia sambil
kembali mencubit Tia. Bram geleng-geleng kepala melihat tingkah dua gadis itu.
Kemudian melangkah keluar dari lobby menuju tempar parkir
‘Kita makan dulu ya Ren,
tadi belum makan kan...?” Kata Bram setelah keluar dari parkiran hotel
“Terserah mas Bram..”
“Mau makan apa..? Jangan
bilang terserah lagi ya...?”
“Aku sebenernya sudah
booking tempat yang ada makannya juga. Tapi kalau Rena pengen yang lain boleh
juga.”
“Gak usah mas. Yang ada aja..”
“Oke kalau begitu, kita langsung
aja. Mudah-mudahan kamu cocok tempatnya. Agak di atas sih dan udaranya cukup
dingin. Gak papa kan..?”
“Gak masalah mas.”
“Ee... iya ngomong-ngomong
gimana kakimu. Udah bener-bener sembuh..?’
“Udah sih, Cuma mesti
ati-ati, takut keseleo lagi.”
“Syukurlah...”
next