°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
S2 CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].
Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.
Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.
Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?
Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?
"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Memulai.
...~•Happy Reading•~...
Kaliana tidak mau menunggu, karena Danny harus menempuh jalur lambat. Padahal Kaliana bisa membuat mereka melewati jalur cepat untuk mencapai tujuan.
Danny jadi tertegun dan melihat Kaliana. Akhirnya Danny mengangguk mengerti, mengingat hubungan baik dan kedekatan Kaliana dengan penyidik di ruang gelar perkara.
Kaliana segera menghubungi Bram untuk memastikan kehadiran mereka. "Siang, Pak. Apakah aku mengganggu?" Tanya Kaliana, saat Bram merespon panggilannya. Bram langsung mengerti, kode Kaliana ketika menyapa dengan formal. Pasti dia tidak sendiri.
"Tidak. Aku lagi makan siang di ruangan. Sekarang aku sudah tidak bisa keluar untuk makan di luar sesukanya lagi. Susah jadi seleb dadakan." Bram berkata lalu tertawa mendengar ucapannya. Dia sekarang sudah tidak bebas keluar lagi, karena sering dicari, bahkan ditunggu oleh awak media.
"Oh. Apa kami bisa kunjungi tahanan Ibu Chasina setelah ini? Aku ada perlu dengan beliau." Kaliana langsung pada intinya. Dia tahu, sekarang waktu adalah emas. Mereka harus pergunakan dengan baik dan cepat, karena sewaktu-waktu kasusnya akan dilimpahkan ke pengadilan. Sedangkan mereka belum melakukan persiapan apa pun.
"Ibu Chasina akan jadi clientmu juga?" Tanya Bram terkejut mendengar permintaan Kaliana. Dia sudah bisa menebak, jika Kaliana berkata demikian. Jika tidak, kaliana hanya akan membantu dengan memberikan keterangan yang dia tahu, tanpa perlu menyelidiki sesuatu.
"Orang tuanya tadi malam hubungi aku, jadi sekarang mau bicara sebentar dengan beliau dan pengacaranya." Kaliana menjelaskan lagi, karena akan datang dengan Danny.
"Pengacaranya belum hubungi kami untuk beritahu kedatangannya." Ucap Bram, karena Chasina belum didampingi pengacara sejak ditahan.
"Ini sekalian aku beritahu, pengacara Pak Marons yang akan jadi pengacara Bu Chasina. Setelah ini kami berdua akan ke sana." Ucap Kaliana langsung, tanpa berputar. Dia ingin Bram mengerti dan memfasilitasi mereka berdua.
"Baik. Kalian datang saja, nanti aku beritahu penjaga. Sorry, aku tidak bisa dampingi." Ucap Bram, serius. Sebab sekarang dia harus berhati-hati bertemu dengan seseorang.
"Tidak masalah. Nanti kita bisa bertemu lain kali atau setelah perkara ini disidangkan." Kaliana mengerti kondisi Bram yang tidak leluasa lagi. Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan setelah saling memberi salam.
"Ok, Pak Danny. Setelah dari sini kita bisa menemui Ibu Chasina di tahanan." Ucap Kaliana. Bagi Kaliana, soal perjanjian kerja sama dengan orang tua Chasina bisa nanti saja. Yang penting mereka bisa melakukan hal lebih penting, menemui Chasina di tahanan.
"Baik..." Danny langsung memberikan kode kepada waiters untuk mendekati meja mereka. Kaliana buru-buru menghabiskan desserts nya, begitu juga dengan Danny.
"Pak Danny tolong ikutin saya, ya. Saya mau titip mobil di Mall terdekat dan akan ikut mobil Pak Danny ke kantor polisi. Maklum, saya hanya jaga perasaan mantan rekan kerja di sana." Kaliana berkata dengan pelan dan serius. Dia berharap Danny bisa mengerti dan tidak banyak bertanya. Danny mengangguk mengerti, lalu keluar ke tempat parkir dan meninggalkan restoran.
Mobil jeephar yang sudah dimodifikasi miliknya, terlalu keren dan mahal untuk seorang mantan penyidik. Dia tidak ingin ada pemikiran liar tentang asal dananya. Dia juga tidak mau menjelaskan sumber dananya dari asuransi orang tuanya yang meninggal dalam penerbangan.
~**
Beberapa waktu kemudian, Danny juga ikut masuk ke Mall dan menunggu Kaliana untuk bersama-sama ke kantor polisi. Danny sudah terbiasa dengan ritme kerja Kaliana yang cepat dan detail, sehingga bisa hemat waktu.
Setelah tiba di kantor polisi, Raka sudah menunggu mereka atas perintah Bram. Kemudian mereka diantar untuk menemui Chasina di tahanan. Bram sudah kirim pesan kepada Kaliana, bahwa tidak bisa menemui mereka, karena dia sedang diawasi oleh pimpinan.
Saat Chasina dibawa masuk, mata Chasina berkaca-kaca saat melihat kehadiran Kaliana dan Danny. Dia tidak menyangka tamu yang akan ditemui adalah Kaliana dan Danny. Sebab selama ditahan, hanya Pak Adolfis yang datang melihatnya. Ada sedikit harapan terbesit di hatinya, saat melihat kehadiran Kaliana dan Danny.
"Bu Chasina, saya Danny yang diminta oleh Ayah anda untuk menjadi pengacara anda." Danny memperkenalkan dirinya secara resmi kepada Chasina. Walaupun mereka sudah bertemu di ruang gelar perkara, tapi hanya sebatas melihat saja, tanpa bertegur sapa.
Chasina mengulurkan tangan untuk menyambut perkenalan Danny sambil menyebut namanya dengan pelan. "Terima kasih, Pak. Saya berharap banyak dari anda dalam kasus ini." Ucap Chasina pelan, penuh harap.
"Baik. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu anda. Apakah anda perlu menanda tangani surat penunjukan saya sebagai pengacara anda? Atau Pak Adolfis yang akan tanda tangan?" Tanya Danny sebelum Kaliana berbicara.
"Saya saja, Pak. Apakah Pak Danny ada bawa berkasnya?" Tanya Chasina serius. Dia tidak mau menunda penunjukan Danny sebagai pengacaranya, karena khawatir terjadi sesuatu atau Daddy nya berubah pikiran.
Danny mengangguk, lalu mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tas kerja yang di bawanya. Kemudian memberikan lembaran tersebut dan pulpen kepada Chasina untuk ditanda tangani.
Setelah Danny menyelesaikan keabsahan statusnya sebagai pengacara Chasina, Kaliana mengambil bagian juga untuk berbicara secara pribadi sebagai detektif.
"Bu Chasina, kita sudah berkenalan sebelumnya. Tetapi sekarang, saya perkenalkan diri secara resmi sesuai dengan profesi saya sebagai detektif swasta. Saya diminta oleh Ayah anda untuk bantu menyelidiki kasus ini. Jadi saya mohon kerja samanya." Kaliana memperkenalkan diri dengan tenang dan serius.
"Jika ada hal-hal pribadi yang saya tanyakan, harap bisa dijawab dengan benar. Agar kami bisa membantu anda dalam menyelesaikan kasus ini." Kaliana tetap berkata serius.
"Istilahnya begini, anda harus berkata jujur kepada kami. Karena jika anda berbohong, bukan kami yang rugi, tetapi anda sendiri yang rugi."
"Anda sudah lihat apa yang terjadi dengan suami anda, bukan? Dia melakukan segala cara untuk membohongi kami, tapi tidak ada ampun jika kami menemukan kebenarannya." Kaliana berkata tegas.
"Supaya Bu Chasina tahu, anda akan dihukum lebih berat jika kami menemukan yang tidak sesuai dengan keterangan anda." Kaliana mengingatkan sambil melihat Chasina dengan serius. Chasina mengangguk mengerti dan ucapkan terima kasih.
"Sekarang tolong tunjukan semua bekas luka cakaran korban yang anda perlihatkan tadi malam kepada kami." Ucap Kaliana lagi, lalu mengeluarkan ponsel dari kantongnya.
Tanpa bertanya, Chasina langsung mengulurkan kedua tangannya kepada Kaliana untuk diphoto. Kemudian di bagian lehernya yang masih membekas, semua diperlihatkan untuk melengkapi keterangan yang disampaikan.
"Apakah anda memiliki bukti pembayaran atau pemeriksaan luka cakaran ini di klinik atau rumah sakit yang anda katakan itu?" Kaliana bertanya serius dan detail untuk mengumpulkan bukti tambahan.
"Saya tidak ingat lagi Bu Kaliana. Mungkin masih di mobil." Jawab Chasina sambil berpikir. Saat itu dia tidak berpikir untuk menyimpan semuanya, jadi letakan begitu saja. Dia tidak menyangka, akan diperlukan.
"Kalau dalam mobil, sudah tidak ada. Kami sudah sisir saat itu dan tidak menemukan apa-apa yang berhubungan dengan itu. Anda pasti ingat, kami menyisir mobil suami anda, bersih." Kaliana mengingatkan tentang apa yang dilakukannya dengan Pak Yosa, saat menyelidiki mobil suaminya, Jaret.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
haadeehh...aneh aneh rekan kerjamu bram🤦🤦