Louisa Rae adalah putri tunggal dari pasangan konglomerat Bertrand Rae dan Agatha Rae. Gadis yang baru berusia 18 tahun itu begitu manja, sombong, dan keras kepala bahkan sampai tak ada yang bisa bertahan lebih dari dua bulan menjadi Bodyguard atau pelayan pribadinya.
Hingga kini ia mendapatkan Bodyguard baru yang bernama Ethan E Mayer, seorang pria tampan dan seksi yang berusia 30. Louisa memperlakukan Ethan layaknya seorang babu, tetapi pria itu dengan santai menerimanya. Hingga Louisa menyadari ia telah jatuh cinta pada pria itu dan ia bertekad akan menaklukan sang Bodyguard dengan cara apapun, segala godaan ia pun lancarakan demi membuat Ethan bertekuk lutut padanya.
Namun, apakah kisah Louisa akan sesederhana itu?
Sementara tanpa ada yang menyadari, Ethan bukanlah Bodyguard biasa yang bekerja hanya untuk uang. Ethan bekerja untuk sesuatu yang lebih besar.
Apakah itu?
Dan mampukah Louisa menggoda sang Bodyguard sexy hingga bertekuk lutut padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Misi Ethan?
Louisa terbangun saat pagi hari, bahkan matahari kini sudah tinggi. Gaun cantik gadis itu juga sudah berganti dengan piyama sutera.
"Astaga, kepalaku sakit sekali." Louisa memijit pelipisnya dan seketika kedua bola mata gadis itu membulat sempurna saat ia ingat apa yang terjadi tadi malam.
"MOMMY!"
Louisa berteriak sangat lantang dan tak lama kemudian yang dipanggil pun datang. "Lou, kau sudah bangun, Sayang." Nyonya Agatha segera menghampiri putrinya yang terlihat ketakutan itu.
"Mom, syukurlah kau sudah pulang. Tadi malam ada yang ingin membunuhku, Mom, mereka ... mereka banyak sekali. Mereka menembaki mobil, aku hampir mati, Mom." Louisa kembali gemetar saat mengingat bagaimana mereka menembaki mobilnya, bahkan ia melihat sendiri bagaimana mereka mati dalam genangan darah mereka sendiri.
"Sshhtt, tidak apa-apa, Sayang." Nyonya Agatha memeluk putrinya itu dengan lembut, berusaha menenangkan Louisa yang tampaknya mengalami trauma. "Semuanya baik-baik saja sekarang, okay?"
"Siapa mereka, Mom?" Louisa mendongak, menatap wajah sang ibu yang juga terlihat cemas.
"Hanya musuh bisnis Daddy, jangan khawatir kami sudah mengurusnya," jawab sang ibu sambil tersenyum lembut.
"Benarkah? Tapi orang-orang itu mati, Mom, apakah polisi akan menangkap Ethan?" tanya Louisa dengan lirih, ia takkan rela jika Ethan dipenjara karena Bodyguardnya itu hanya melakukan tugasnya.
"Tidak akan," jawab Nyonya Agatha. "Tapi aku kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan, Lou," seru sang ibu. Ethan sudah bercerita semuanya, kenapa kamu nakal sekali, hm? Bukankah aku selalu mengingatkan kalau hidup orang-orang seperti kita selalu dalam bahaya? Itulah mengapa kami menyiapkan Bodyguard terbaik untuk melindungimu. Tapi kau malah dengan sengaja pergi darinya."
Louisa hanya bisa menunduk dalam mendengar omelan sang ibu. Selama ini ia memang selalu dijaga oleh Bodyguard pilihan karena ia adalah anak pengusaha kaya raya, tetapi Louisa tak pernah benar-benar mengerti bahwa ada yang mengincar nyawanya seperti ini.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, okay?" tegas Nyonya Agatha.
"Baik, Mom," sahut Louisa. "Oh ya, Ethan ada di mana sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Dia membunuh enam orang sendirian dalam waktu singkat, apakah dia terluka?"
...🦋...
"Luka itu bagaikan cenderamata untuk seorang prajurit, bukan? Sebuah kebanggaan dan bukti bahwa dia adalah kesatria sejati."
Ethan hanya tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Bertrand, seolah ia mencibir kata-kata bijak itu. Lengan kanannya yang tertembak kini sudah diobati juga sudah diperban oleh Dokter.
Saat ini Ethan sedang berada di ruang kerja Tuan Bertrand untuk menceritakan apa yang terjadi tadi malam, tentu saja Ayah Louisa itu sangat senang dan berterima kasih pada Ethan atas apa yang dia lakukan.
Setelah mendengar ada yang mencoba mencelakai Louisa, Tuan Bertrand dan istrinya langsung pulang untuk mengurus dan menyelidiki siapa di balik penyerangan ini.
"Aku sangat berterima kasih padamu, Ethan. Kau sudah menyelamatkan tuan putri kami, aku sungguh tak salah telah memilihmu untuk menjadi Bodyguard pribadi Louisa," ungkap pria paruh baya itu sembari menandatangani cek kosong, kemudian ia memberikannya pada Ethan. "Isi lah berapa pun yang kau mau, Ethan, anggap itu sebagai tanda terima kasihku padamu. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk pekerjaanmu."
Ethan menerima selembar cek itu meski sedikitpun ia tidak terlihat tertarik menerima tanda terima kasih itu. "Bolehkah aku pergi sekarang?" tanya Ethan kemudian.
"Tentu saja, hari ini kau boleh istirahat. Tidak perlu bekerja, Lou juga pasti butuh istirahat," tukas Tuan Bertrand.
Ethan hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Tuan besar itu, saat ia hendak pergi, tiba-tiba Tuan Bertrand kembali memanggilnya. "Ethan?"
"Iya, Tuan Rae?" sahut Ethan.
"Bi Amy bilang Lou ingin kau tinggal dalam rumah ini, itu tidak masalah. Aku memberimu izin, kau sudah mempertaruhkan nyawa demi Lou, takkan ada yang meragukan kesetiaanmu pada kami."
Ethan langsung berseringai mendengar kata-kata Tuan Bertrand, ia seperti seorang raja iblis yang berhasil merebut tahtanya kembali.
"Terima kasih, Tuan Rae," ucap Ethan.
Ethan segera ke kembali ke kamarnya, dan sesampainya di sana ia merobek selembar cek yang diberikan Tuan Bertrand. "Kau pikir aku bekerja untuk uang, Rae?" Ethan tersenyum sinis, sorot matanya pun tampak sangat berbeda. "Tidak! Aku bekerja di sini untuk sesuatu yang lebih besar. Untuk merebut kembali tahta yang pernah kau rebut dengan curang."
...🦋...
Sementara itu, topik tentang Ethan sang pahlawan sedang dibicarakan dengan begitu hangat di markas pada Bodyguard dan sopir. Tony yang menyaksikan langsung bagaimana Ethan menembaki mereka bercerita dengan begitu detail bagaimana pergerakan Ethan yang tenang bahkan raut wajahnya tak terlihat tegang sedikitpun.
"Sebagai seorang Bodyguard memang sudah seharusnya kita tidak mengenal takut, kita menjaga mereka dengan nyawa kita," ujar salah satu Bodyguard.
"Tapi Ethan berbeda dari kita, dia seperti ... pembunuh profesional," seru Tony. "Tak ada satupun tembakannya yang meleset, jika tidak mengenai kepala, pasti mengani leher atau jantungnya."
"Mungkin Ethan memang sudah terbiasa membunuh, apalagi sebelumnya dia pernah menjadi Bodyguard pribadi menteri luar negeri selama satu tahun. Dia juga pernah menjadi anggota militer," sambung Bodyguard yang lainnya.
"Yeah, kau benar. Bukankah Bodyguard Nona Rae memang pilihan? Dia tidak suka jika dikawal banyak orang karena itulah Bodyguard yang dipilih Tuan Rae benar-benar Bodyguard yang bisa melindunginya dari bahaya apapun."
...🦋...
Louisa menghampiri Ethan yang saat ini ada di kamarnya, gadis itu masuk tanpa permisi seperti biasa dan lagi-lagi Ethan baru saja selesai mandi.
"Oh my gosh!" gumam Louisa sambil menjatuhkan dirinya di tepi ranjang.
"Nona Rae, kau benar-benar tidak sopan," tegur Ethan. Ia segera memakai bajunya.
"Ini rumahku, aku bisa keluar masuk ke mana pun semauku," ujar Louisa.
Ethan hanya bisa geleng-geleng kepala, kini ia semakin yakin gadis ini memang tak punya otak.
"Oh ya, bagaimana lukamu?" Louisa mendekati Ethan, ia hendak menyentuh luka pria itu. "Seharusnya kau tidak mandi, bagaimana jika lukamu terkena air?"
"Aku sudah terbiasa dengan luka, Nona Rae, jangan khawatir," ucap Ethan. "Bisakah kau pergi sekarang? Ayahmu menyuruhku istirahat, kau juga pasti butuh istirahat."
"Bagaimana kalau kita beristirahat bersama di sini?"
Ethan menghela napas berat kemudian berkata, "Apa kau mau aku memperkosamu, hm?" gertaknya agar Nona muda itu pergi. Namun, yang Louisa lakukan justru sebaliknya. Dia justru merangkak ke tengah ke ranjang kemudian duduk bersila di sana.
"Di sini aku yang berkuasa, Ethan. Jadi sepertinya aku yang akan memperkosamu."
...🦋...
mengingatkan aku dg Don Gabriel Emerson.
Sehat selalu kak Author