Perselingkuhan? Itulah yang dilakukan Liora, perselingkuhan yang tidak sengaja dilakukannya kala dipaksa meminum minuman keras. Seorang pemuda rupawan yang merenggut kesuciannya. Kesucian yang seharusnya dijaga untuk suaminya. Walaupun dirinya menikah hanya karena hutang budi.
Suami yang cacat, buruk rupa akibat kebakaran. Sang suami yang telah pergi meninggalkannya ke luar negeri untuk urusan bisnis, selama lima tahun.
Dirinya menangis terisak, merutuki kebodohannya yang menikmati malam dengan pria lain. Pemuda yang mengulurkan tangannya, tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Terimakasih," ucap sang pemuda, mengecup punggungnya. Namun wanita itu hanya menangis.
"Apa yang harus aku katakan pada suamiku saat dia pulang nanti?! Aku sudah memiliki suami! Dasar sialan!" umpatnya memukul sang pemuda.
Sang pemuda mengenyitkan keningnya, ini juga yang pertama baginya. Namun, meniduri istri sendiri memang terasa menyenangkan.
"Rahasiakan dari suamimu, jadikan aku simpananmu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Hitam
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuknya berkali-kali, namun tidak ada jawaban."Liora?" panggilnya.
"Liora..." panggil Arga lagi, menghela napas kasar. Pemuda yang kembali tertunduk, berjalan ke kamarnya sendiri. Mungkin kali ini Liora benar-benar marah padanya.
"Kenapa kembali?" tanya Intan.
Arga menggeleng."Dia tidak membukakan pintu," jawabnya tertunduk.
Intan memijit pelipisnya sendiri, menghela napas kasar."Kamu pemilik rumah. Bebas memasuki ruangan manapun kecuali kamar ibu dan ayah. Jika tidak dibukakan pintu, suruh pelayan mengambil kunci cadangannya! Apa pintunya terkunci?"
"Aku tidak memeriksanya," jawaban lugu, terkesan pasrah dari putranya, membuat Intan menepuk dahinya sendiri.
"Kamu menyukainya atau tidak?!" tanya Intan lagi.
"Aku menyukainya. Tapi jika bertemu apa yang harus aku katakan?" tanya Arga ragu.
"Begini, kamu ibu sekolahkan tinggi-tinggi. Sudah biasa persentasi di hadapan klien. Yang kamu hadapi sekarang mantan wanita penghibur. Apa kamu tidak mengerti caranya bicara?!" tanya sang ibu. Dengan lugunya putranya menggeleng.
"Lebih baik aku bicara di hadapan ratusan audience daripada bertemu dengannya dalam keadaan canggung." Jawaban dari Arga, membuat Intan mengenyitkan keningnya. Entah sifat siapa yang ditiru putranya.
Wanita yang menghela napas berkali-kali sifat yang benar-benar mirip dengan Kairan yang harus berlatih mati-matian untuk melamarnya. Ayah dan anak dengan sifat serupa.
"Apa yang akan kamu katakan jika bertemu dengan Liora? Bayangkan ibu adalah Liora." Pinta Intan memberikan pelatihan singkat pada putranya.
Arga menghela napas kasar benar-benar membayangkan ibunya adalah Liora."Liora maaf, aku tidak bermaksud. Tidak bermaksud, maksudku kamu seharusnya makan yang banyak seperti bebek yang baik!"
Plak!
Bahu putranya dipukul pelan oleh Intan, mengenyitkan keningnya kesal."Apa begitu caranya merayu perempuan?!"
Arga tertunduk, benar-benar canggung rasanya berhadapan dengan Liora dalam situasi seperti ini. Sedangkan Intan menghela napas berkali-kali, dirinya benar-benar kesal. Baru menyadari putranya yang mewarisi sifat Kairan.
"Lalu bagaimana? Ibu pasti tahu kan, cara ayah menaklukkan ibu," tanya Arga ragu.
Intan terdiam sejenak, bagaimana dirinya dapat bercerita jika Kairan tipikal yang pasif bahkan pemalu jika menyangkut masalah hati. Walaupun setelah menikah lumayan romantis dan ganas.
"Ayahmu memojokkan ibu. Dengan tegas mengatakan aku menyukaimu. Kemudian tanpa menunggu jawaban ibu dagu ibu disentuhnya. Kemudian kami berciuman untuk pertama kali," cerita karangan dari Intan. Hal yang terjadi sebenarnya? Dirinya menyatakan cinta pada Kairan, tidak menyerah walaupun berkali-kali ditolak. Hingga akhirnya, dengan malu-malu Kairan mengatakan juga menyukainya.
"Ayah memang terlihat seperti itu. Apa aku juga harus melakukannya?" tanya Arga.
Intan mengangguk."Buka pintu kamarnya, bicaralah dengan benar. Kemudian keluarlah dari kamar dengan senyuman. Jangan dengan wajah seperti orang yang sedang sembelit!" tegasnya.
Arga mengangguk."Apa ibu bisa menemaniku,"
Plak!
Intan kembali memukul dahinya sendiri. Mengapa bisa jadi sesuai ini? Putranya yang polos, terkena godaan wanita penghibur. Setelah sang wanita agresif menjauh putranya malah kebingungan cara mendekatinya.
Benar-benar frustasi, Intan mengangguk pada akhirnya. Berjalan mengikuti langkah putranya.
Tok! Tok! Tok!
"Liora?" pintu itu kembali diketuk oleh Arga.
"Lama!" Intan mendorong tubuh putranya mulai mengetuk dengan kencang."Liora bangun! Atau pintunya aku buka!" teriaknya.
Hingga akhirnya pintu itu dibuka oleh Intan. Kamar yang benar-benar rapi, tidak ada satu orangpun disana. Intan melirik ke arah putranya penuh rasa bersalah.
"Ibu... maksudnya kita akan mencarinya. Tersenyum ya? Dia tidak akan bermain-main terlalu jauh," Intan terkekeh. Sedangkan putranya terlihat tidak tersenyum sama sekali.
*
Sedangkan di tempat lain.
Winata tengah mengenyitkan keningnya, menatap seekor bebek yang terpisah dari rombongannya.
"Pak bebeknya ketinggalan satu!" teriaknya.
"Iya!" Sang pemilik kembali membawa bambu yang diikat kantong plastik. Menggiring bebeknya pergi.
Banyak hal yang ada di benak Winata saat ini. Menghela napas kasar, merindukan sekaligus mencemaskan putrinya.
Hingga pria itu meraih handphone Nokia lama miliknya. Memeriksa nomor kontak yang ada di sana. Menghubungi satu persatu nomor yang tertera.
"Halo nak Sastro, begini bapak mau pertimbangkan lamaran kamu. Tapi bisa tolong temukan Liora. Dia di kota sendirian takutnya ada apa-apa. Bukan cuma kamu, mungkin ada beberapa orang yang juga bapak hubungi. Jadi kalau ada yang bisa membawa Liora pulang, bapak nikahkan langsung dengan Liora," ucap Winata pada seseorang di seberang sana.
"Iya pak, bapak kirim saja nama kotanya nanti saya cari," ucap Sastro yang bekerja di minimarket. Seseorang yang sering menyapa Liora, pernah mengajukan lamaran sebelumnya. Ditolak oleh sang gadis tanpa direview terlebih dahulu.
Winata segera mematikan panggilannya, mengirim nama kotanya lewat pesan singkat. Seorang ayah yang tidak dapat melarang putrinya, namun juga mencemaskannya. Setidaknya dengan memiliki suami akan ada yang menjaga putrinya.
Nomor kontak lain di hubunginya dengan tujuan yang sama. Dua tahun ini entah sudah berapa pemuda yang melamar putrinya. Namun ditolak oleh pria berambut botak yang memiliki senyuman tenang tersebut.
"Halo, nak Dwi, ini bapaknya Liora. Begini Liora sendirian di kota, bisa nak Dwi membawanya pulang. Nanti jika berhasil membawa Liora pulang..." kata-kata terhenti menatap ke arah Kairan yang mengenyitkan keningnya.
"Aku mendengar semuanya..." Raut wajah Kairan berubah tersenyum menyeringai. Masih mengenakan pakaian rapi, membawa gulungan kertas besar berisikan rencana proyek pembangunan pos arung jeram.
"Nanti bapak hubungi lagi," ucap Winata pada seseorang di seberang sana.
"Mendengar apa?" tanya Winata dengan wajah tenangnya. Kembali berjalan, duduk di warung kecil dekat sawah, tepatnya bersebelahan dengan jalan raya.
"Kamu berniat mengadakan kompetisi bukan? Aku bisa menemukan putrimu dan membawanya pulang, menikahkannya dengan putraku seperti rencana semula. Maka kamu bisa mengawasi tempat wisata yang aku bangun, melalui putrimu. Ini, disini akan dibangun pos pertama untuk arung jeram, nanti di bagian hulu sungai akan ada villa dan restauran. Jadi..." Kata-kata Kairan disela.
"Tidak," jawaban dari Winata penuh senyuman. Benar-benar kolot dan keras kepala, sifat yang diwariskannya pada putrinya.
"Kenapa? Putraku sempurna, tampan dan pintar dan kaya. Tidak ada yang kurang. Kita hanya perlu berbesan bekerja sama untuk kesejahteraan warga desa, terutama cucu kita," komat-kamit Kairan berbohong, menjambak rambutnya sendiri kesal.
Winata menatap dengan tenang."Itulah intinya ,pasti ada yang tidak beres dengan putramu. Makanya berusaha menjodohkan dengan putriku. Seperti memukul dua lalat sekali tepuk. Plak! Dua-duanya tewas!"
"Dia benar-benar sempurna tampan, baik hati, pintar dan kaya." Setengah memang kenyataan, setengah lagi kebohongan diucapkan Kairan.
"Itulah yang janggal, bersikeras menikahkan putramu dengan putriku yang lulusan SMU. Lebih masuk akal jika mengikuti pergaulan kalangan atas menikahkan putramu dengan sesama keluarga pebisnis. Dapat aku tebak jika putramu tidak jelek pasti cacat. Putriku pantas menemukan yang lebih baik, kecuali putriku sendiri yang merangkak memohon padaku untuk menikah dengan putramu baru aku akan mengijinkan," ucap Winata memakan pisang goreng, setelah mengamati tidak ada bakpao disana.
Kairan terdiam, ikut-ikutan mengambil pisang goreng kata-kata yang tepat sasaran dari mulut Winata tidak dapat dibantah olehnya. Memakan dengan benar-benar kesal. Sampai sekarang mendapatkan ijin pembangunan penginapan, namun tidak mendapatkan ijin akses jalan. Musuh bebuyutan yang benar-benar menyebalkan olehnya.
"Mau kopi?" tanya Winata.
"Boleh," jawab Kairan.
"Kopi hitam dua!" teriak Winata pada penjaga warung. Dua orang yang berlainan sifat. Namun mewariskan sifat mereka pada anak mereka masing-masing.
yg aku khawatirkan David, kalau Lim sih kagak
bisa jadi rival Arga nih selain Lim
selingkuhan Liora suaminya sendiri, gmn saat tau nanti akan semakin membenci Arga atau gmn
kepikiran dgn anaknya Lisa yg di adopsi Liora, jadi masalah gak ya nanti nya
walaupun ditinggal untuk bisnis dan berobat agak nyesek ya lima lho