Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 PGD
Jam pun menunjukkan pukul 3 sore. Semua mahasiswa dan mahasiswi satu kelas dengan Ana berhamburan pulang, karna ini adalah pelajaran terakhir. Ana dan Lufi sudah sampai di parkiran. Lufi pun segera melajukan kendaraannya menuju basecamp tempat dambaan mertua berkumpul.
Mereka berdua sudah di tunggu oleh teman-teman mereka sejak tadi. Karna para teman-teman cowok, sudah pulang dari kampus sejak jam 1 siang.
Lufi memarkirkan mobilnya di depan minimarket yang tak jauh dari basecamp. Mereka ingin mampir dulu membeli beberapa camilan untuk sekedar menggoyangkan lidah mereka.
Setelah 2 kantong kresek berukuran sedang sudah full beberapa macam jajanan, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju basecamp.
Sesampainya di basecamp, mereka di sambut oleh empat sekawan itu sampai ke teras rumah.
''Selamat datang bidadari-bidadari cantik,'' Indra pun mengeluarkan rayuan gombalnya kepada Lufi dan Ana.
Ana hanya menanggapinya dengan tersenyum, namun Lufi hanya cuek-cuek saja. Mereka pun segera masuk ke dalam basecamp.
''Bawa apa tuh,'' Lukman yang paling antusias jika menyangkut makanan.
''Nih aku bawa camilan untuk kalian semua,'' Lufi meletakkan kantong kresek di meja ruang tamu. Tempat mereka mengobrol.
''Sini An,'' Kevin menepuk sofa di dekatnya. Namun Ana lebih memilih duduk di sebelah Indra. Kevin terlihat kecewa, namun ia berusaha tersenyum di depan teman-temannya.
''Aku di sini aja Kak,'' ucap Ana tersenyum ke arah Kevin.
Mereka pun asik mengobrol. Walaupun Kevin juga kadang menanggapi ucapan teman-temannya. Namun di fikirannya, ia memikirkan Ana yang tak mau dekat dengannya.
''An, nanti ke Cafetaria bareng aku aja, kebetulan aku mau kesana,'' ajak Kevin. Ia tak akan menyerah sebelum berperang.
''Eh nggak usah Kak, soalnya aku udah janjian sama Kak fadil. Aku bareng dia aja,'' Ana merasa tak enak menolak ajakan Kevin yang merupakan sahabat sekaligus atasannya di Cafetaria.
Di kampus tadi Ana mendapat pesan dari Fadil, jika Fadil juga akan berangkat sore hari seperti Ana. Fadil juga akan mengambil 1 shift saja, katanya.
''Dia nolak aku udah 2 kali? Ada apa sebenarnya dengan Ana,'' batin Kevin menatap Ana penuh selidik.
''Fadil?'' Kevin pun mengerutkan keningnya.
''Iya Kak, kebetulan rumah kami searah,'' ucap Ana.
''Ya sudah kalau begitu,'' Kevin hanya pasrah. Ia hanya memasang muka datarnya.
''Maafin aku Kak. Tapi ini demi kebaikan bersama,'' batin Ana menghembuskan nafasnya kasar.
Lufi merasa jika sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Biasanya Ana tak pernah menolak ajakan Kevin.
''Ada apa dengan Ana, seperti ada yang di sembunyikan,'' batin Lufi. Lufi memutuskan mengajak Ana untuk pulang terlebih dulu. Lufi penasaran dengan apa yang di sembunyikan sahabatnya itu.
''Bro, kita balik dulu. Kasihan Ana, pasti dia lelah. Belum lagi nanti harus kerja,'' pamit Lufi kepada teman-temannya. Ana pun juga ikut pamit, karna ia benar-benar merasa tak nyaman dengan tatapan Kevin kepada dirinya.
''Aku pamit Kak,'' ucap Ana. Indra, Nino dan Lukman menjawab dengan kalimat hati-hati. Berbeda dengan Kevin yang hanya diam dan memasang muka datarnya saja.
Lufi segera menyalakan mesin mobilnya, ia segera melajukan kendaraannya meninggalkan basecamp.
''Ana, aku mau tanya sama kamu. Tapi kamu harus jawab jujur. Apa yang kamu sembunyikan dari aku?'' tanya Lufi menatap Ana dalam-dalam. Sebelum itu, Lufi sudah menepikan mobilnya terlebih dulu.
''Sembunyikan apa sih Fi?'' Ana pun gugup saat Lufi sudah menginterogasi dirinya.
''Aku tau otakmu tak sekecil itu An. Aku tau jika kamu tau maksud pertanyaanku,'' ucap Lufi.
''Tingkah kamu seharian ini aneh tau nggak An,'' ucap Lufi lagi.
''Maafin aku Fi,'' Ana menunduk.
''Kenapa harus meminta maaf. Aku hanya ingin tau jawabanmu An. Bukan malah permintaan maaf,'' Lufi pun sedikit kesal kepada Ana.
''Tapi kamu harus janji, jangan bilang ini kepada siapapun. Termasuk teman-teman kita,'' ucap Ana.
''Iya cepetan, apa yang kamu sembunyikan sebenarnya,'' Lufi pun tak sabar ingin mendengar penjelasan Ana.
''Pacar Kak Kevin mengancam aku tadi pagi,'' ucap Ana pelan.
''Pacar? Mengancam? Maksudnya gimana ini?'' Lufi bingung dengan penjelasan Ana.
Ana pun segera menceritakan kejadian tadi pagi kepada Lufi tanpa terlewat sedikit pun.
''Tapi apa kamu yakin jika perempuan itu pacar Kevin?'' tanya Lufi.
''Kalau bukan pacar kenapa harus mengancam aku Fi. Pasti dia pacar Kak Kevin. Dia cemburu karna selama ini aku terlalu dekat dengan Kak Kevin,'' ucap Ana.
''Kadang juga ada An, yang hanya fans beratnya tapi sudah seperti istrinya. Kita jangan terlalu berfikir hal yang belum tau kebenarannya,'' ucap Lufi.
''Aku harus gimana Fi. Kak Kevin pasti berfikir yang tidak-tidak kepada ku. Aku jadi merasa tak enak hati kepadanya,'' ucap Ana.
''Mending kita tanya kebenarannya aja sama Kevin. Dari pada kita hanya menebak-nebak tanpa tau kebenarannya,'' ucap Lufi.
''Jangan Fi. Nggak usah. Aku nggak mau merusak hubungan orang,'' ucap Ana.
''Tapi An, aku melihat jika Kevin menyukaimu dari awal bertemu kemarin,'' ucap Lufi.
''Jangan terlalu berfikir tentang sesuatu yang tak jelas kebenarannya. Itu ucapanmu tadi,'' ucap Ana.
''Tapi An----''
''Udahlah nggak usah.''
''Kita pulang sekarang. Masih ada waktu 1 jam untuk beristirahat,'' ucap Ana sambil melihat jam yang ada pada tangannya. Lufi hanya mengangguk pasrah. Lufi tau jika keputusan Ana yang paling terbaik.
Lufi melajukan kembali mobilnya. Namun otaknya masih memikirkan ucapan Ana tadi.
''Aku harus tanya ke Nino. Kebenaran tentang pacar Kevin,'' batin Lufi.
Sedangkan Ana sibuk bertukar pesan dengan Fadil. Ana merasa jika dia nyaman dengan pria yang berumur di atasnya itu.
''Jangan senyum-senyum sendiri Ana. Nanti kesambet,'' ucap Lufi.
''Apaan sih Fi,'' ucap Ana dengan muka yang memerah.
''Siapa? Kak Fadilmu itu kah?'' tanya Lufi penasaran. Namun Ana hanya tersenyum memperlihatkan gigi putih miliknya.
''Ih, baru aja kerja. Udah dapat gebetan aja,'' ucap Lufi.
''Teman Fi temen,'' ucap Ana membenarkan ucapan Lufi.
''Temen lama-lama jadi demen,'' ucap Lufi.
''Enggak lah. Aku masih mau fokus kuliah dan kerja. Untung-untung kuliah hasil dari kerja keras sendiri. Pasti Bapak dan Ibu bangga Fi. Selama ini aku belum bisa membahagiakan mereka,'' ucap Ana.
''Aku akan selalu bersamamu An. Di kala suka ataupun duka,'' Lufi mengangkat jari kelingkingnya ke arah Ana, Ana pun mengangkat jari kelingkingnya dan di pautkan di jari Lufi.
''Thanks Fi,'' Ana memeluk Lufi dari samping.
*
*
Ayo jangan lupa dukungannya teman.
Aku hanya butiran debu tanpa dukungan darimu😁😁😁
Jangan lupa like, coment, vote, fav, dan beri hadiah🥰🥰🥰
Aku tunggu😚😚😚😚