NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 Nadia Sadar

Gemericik air terdengar memantul di dalam gua. Aroma lumut yang lembap memenuhi udara. Hawa dingin masih terasa menusuk sampai ke tulang. Aldo berdiri mematung di depan tengkorak itu. Tenggorokannya terasa kering. Kakinya ingin melangkah mundur, bahkan kalau perlu berlari sejauh mungkin seperti yang biasa dia lakukan setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang berbau mistis.

Tidak banyak yang tahu kalau pemimpin gangster pelajar itu sebenarnya takut hantu. Dia berani melawan puluhan orang sekaligus, berani melompat pagar sekolah setinggi dua meter, bahkan berani menantang preman pasar. Tapi urusan hantu, nyalinya langsung ciut.

Matanya terus menatap tengkorak yang tergeletak di dekat ransel tua itu.

"Jangan bergerak... jangan bergerak..." gumamnya pelan.

Tentu saja tengkorak itu tidak bergerak. Tapi justru itulah yang membuat Aldo semakin merinding.

Dia ingin kabur. Sungguh ingin kabur.

Namun bayangan wajah Nadia yang pucat langsung muncul di kepalanya. Nadia membutuhkan pertolongan. Kalau dia pulang dengan tangan kosong, gadis itu bisa dalam bahaya.

Akhirnya Aldo menelan ludah.

Dengan tangan gemetar dia meraih ransel tersebut.

Tangannya menangkup. Bibirnya bergetar. Matanya terpejam rapat.

“Bos hantu aku ambil barangnya ya semoga bos tenang di alam sana.”

Setelah mengucapkan itu, Aldo langsung menyambar ransel tersebut.

“Maaf bos, pinjam dulu!”

Dia buru-buru berbalik lalu berlari keluar gua tanpa menoleh sedikit pun. Air terjun kembali mengguyur tubuhnya saat dia menerobos tirai air. Baju yang sudah basah menjadi semakin berat. Ransel tua itu juga ikut terkena air.

Begitu sampai di pinggir sungai kecil, Aldo menjatuhkan ransel itu di tanah lalu duduk sambil terengah-engah.

“Untung enggak ngejar.”

Setelah napasnya sedikit tenang, dia membuka ransel tersebut.

Seketika aroma busuk menyeruak keluar.

“Buset!”

Aldo langsung menutup hidung.

Di dalamnya ada beberapa kotak makanan yang isinya sudah membusuk. Warnanya berubah aneh dan dipenuhi jamur. Tanpa pikir panjang dia membuang semuanya ke semak-semak.

Kotak makanannya kemudian dia cuci di sungai sampai bersih.

“Lumayan. Bisa buat wadah nanti.”

Dia kembali memeriksa isi ransel satu per satu.

Ada sendok dan garpu berbahan logam. Ada pemantik api. Ada batu api. Ada kotak P3K yang sudah kusam. Ada juga sebuah pisau komando yang sarungnya mulai pudar dimakan usia.

Mata Aldo langsung membesar.

“Sepertinya dia tentara atau apa,” gumam Aldo.

Dia terus membongkar isi ransel itu. Beberapa stel pakaian masih tersimpan di dalamnya, tetapi sudah lembap dan berbau tidak sedap. Ada juga kantung air yang kondisinya masih cukup bagus meski kosong.

Aldo memandang ke arah air terjun lalu menundukkan kepala beberapa kali.

“Bos hantu maafin gue... nanti kalau bokap gue nemuin lu, gue akan bawa lu dan semayamkan di tempat yang layak bos.”

Setelah merasa sedikit lebih tenang, dia mengisi kantung air di sungai. Kemudian dia memanggul ransel itu dan mulai mencari tanaman cabai rawit seperti yang diminta Nadia.

Baru beberapa menit berjalan, dia sudah mengomel sendiri.

“Ini ada-ada aja. Mana ada coba cabe rawit di hutan. Kadang-kadang ya.”

Dia terus berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri. Cabai rawit jelas tidak ditemukan. Yang ada justru pohon jambu hutan dengan buah merah yang terlihat segar.

Perut Aldo langsung berbunyi.

“Kalau ini sih lumayan.”

Dia memotong batang kecil lalu menggunakannya untuk memukul ranting pohon. Beberapa buah jambu berjatuhan ke tanah.

Aldo memungut semuanya lalu memasukkannya ke dalam ransel.

Setelah itu dia melanjutkan perjalanan menuju tempat Nadia menunggu.

Semakin lama berjalan, tubuhnya semakin terasa remuk. Bahunya nyeri. Kakinya pegal. Pinggangnya seperti dipukul berkali-kali. Bagaimanapun dia baru saja jatuh dari ketinggian puluhan meter semalam. Kalau saja tubuhnya tidak menghantam beberapa pohon terlebih dahulu, mungkin sekarang yang tersisa darinya hanya tinggal nama.

Dengan napas ngos-ngosan akhirnya dia sampai.

Nadia masih bersandar di batang pohon besar. Kepalanya menunduk. Wajahnya pucat. Keringat membasahi dahinya meski udara pagi cukup dingin.

“nad lu engga apa-apa” tanya aldo.

Nadia membuka mata perlahan.

“haus,” ucap Nadia.

Aldo langsung berlutut di sampingnya. Dia membuka kantung air lalu menyodorkannya.

Nadia meminum dengan rakus. Setelah beberapa teguk, wajahnya terlihat sedikit lebih baik. Dia membenarkan posisi duduknya sambil menahan nyeri di betis.

“mana bambunya” tanya nadia.

“enggak ada pohon bamboo” jawab aldo.

Wajah Nadia langsung muram. Bahunya turun pelan. Seolah harapan yang tadi masih ada mulai menghilang sedikit demi sedikit.

Namun Aldo segera menyeringai.

“tara gua bawa ini,” ucap aldo mengacungkan pisau komando.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Nadia tersenyum.

Hal itu sangat jarang dilihat Aldo.

“dapat dari mana ini?” tanya nadia.

“dari hantu” jawab aldo.

Aldo berharap Nadia ketakutan.

Tapi gadis itu malah tersenyum lebih lebar.

“baguslah kalau dari hantu ga usah balikin pisaunya” jawab nadia enteng.

Aldo langsung mendecak kesal.

Kemudian dia mengeluarkan kotak P3K yang sudah usang dari dalam ransel. Walaupun bagian luarnya kusam, isi di dalamnya masih cukup lengkap. Ada perban, plester, kapas, dan sedikit alkohol yang masih bisa digunakan.

Mata Nadia langsung menatap kotak itu penuh harapan. Setidaknya sekarang mereka punya kesempatan untuk mengeluarkan peluru dari kakinya dengan lebih aman.

Berikut versi yang diperbaiki dengan narasi lebih hidup, reaksi tubuh lebih terasa, dan gaya yang lebih luwes:

Nadia menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Napasnya naik turun tidak beraturan. Wajahnya pucat, sementara keringat dingin terus membasahi dahinya. Sesekali kelopak matanya bergetar menahan rasa sakit yang menjalar dari betis hingga ke pinggang.

“perban, alcohol dan plester dekatkan dengan beitis gua” perintah nadia.

Tak banyak bicara, Aldo langsung mengikuti instruksi itu. Tangannya bergerak cepat mengeluarkan isi kotak P3K lalu menatanya di atas daun lebar di samping Nadia.

“bukain sepatu gue” kembali nadia memrintah.

Aldo malah terdiam beberapa detik.

“nanti kalau sudah sembuh gue jadi babul u,,,sekarang lu jadi babu gue dulu” ucap nadia.

“enggak—enggak bukan itu maksud gue,,gue inget kata nyokap gue,,kalau cewek kakinya putih berarti kulitnya juga putih karena kalau muka bisa di beri make up”

“cih dasar mesum,,cepat gue udah ga tahan” ketus nadia.

“aih sudah kayak gini masih saja galak.”

Dengan canggung Aldo membuka tali sepatu Nadia. Jantungnya berdebar tidak jelas. Setelah sepatu terlepas, terlihat kaki Nadia yang putih bersih. Aldo sempat mengernyit heran. Setahunya Nadia bekerja sebagai montir. Harusnya penuh bekas oli dan goresan. Tapi yang dia lihat justru kulit yang mulus dengan otot yang terbentuk karena latihan keras.

Kemudian Nadia menyuruh Aldo merobek bagian bawah celana jeansnya. Aldo menelan ludah pelan. Saat kain robek, luka tembak di betis Nadia terlihat jelas. Kulit di sekitarnya membengkak dan memerah. Bekas darah mengering menempel di sana.

“pindahkan alcohol ke kotak makan itu” perintah nadia.

Aldo segera menuangkannya.

“rendam pisau itu terleih dahulu” ucap nadia.

Pisau komando dimasukkan ke dalam alkohol. Aldo memperhatikannya sambil berusaha mengabaikan rasa gugup yang terus menghantui.

Nadia menarik napas panjang lalu menatap Aldo lurus-lurus.

“al gue minta lu jangan ragu, hidup mati gue tergatung lu, kalau lu ragu maka gue mati” ucap nadia.

Kalimat itu membuat tenggorokan Aldo terasa kering. Selama ini dia sering berkelahi. Memukul orang bukan masalah baginya. Tapi mengeluarkan peluru dari kaki manusia adalah hal yang berbeda.

“pertama lu bersihkan luka gue pakai air bersih, terus perhatikan letak pelurunya, buat sayatan sekitar peluru” Nadia menarik napas. Wajahnya mulai memucat lagi. “jangan pernah ragu lu harus congkel peluru itu sampai keluar, kalau nanti gue pingsan lu jangan panik, lanjutkan ke tahap selanjutnya lu siram luka gue pakai alcohol terus lu lilit pakai perban”

Nadia mengatakannya seolah sedang menjelaskan cara mengganti oli motor.

Sebaliknya, Aldo justru merasakan bulu kuduknya berdiri. Membayangkan pisau menyayat daging dalam keadaan sadar saja sudah membuat telapak tangannya berkeringat. Dia menatap luka di betis Nadia, lalu menatap pisau yang terendam alkohol.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!