Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Menjelang zuhur, halaman balai desa berubah. Kursi-kursi plastik tersusun menghadap meja panjang. Selembar kain putih dipasang seadanya sebagai latar. Tidak ada pelaminan apalagi hiasan. Hanya orang-orang yang bekerja tanpa banyak bicara. Seolah semua itu memang harus selesai hari ini.
Darwin berdiri di bawah pohon mangga, melipat tangan di depan dada. Matanya mengikuti warga yang hilir mudik.
Seseorang membawa termos. Ada yang menata gelas. Beberapa ibu sibuk di dapur balai desa. Tak seorang pun bertanya apakah ia sudah siap atau belum.
Pak Lurah menghampirinya. "Mas Darwin."
Darwin menoleh. " Ya, Pak Lurah."
"Sudah waktunya." Pak Lurah tersenyum ramah seolah orang yang paling bahagia.
Darwin mengembuskan napas panjang. "Kalau saya bilang belum siap, mau apa ?"
Pak Lurah tersenyum tipis. "Nanti juga siap dengan sendirinya." Jawaban yang sama sekali tidak membantu.
Penghulu membuka mapnya. " Pasangan pengantin silakan duduk."
Darwin segera duduk. Sedangkan Kinan berada di sampingnya. Jarak di antara mereka begitu dekat. Bukan karena pilihan melainkan keadaan.
Penghulu menyampaikan beberapa nasihat sebelum akad dimulai. Suaranya tenang, jelas, dan terdengar sampai ke telinga Darwin. Darwin mendengar setiap katanya. Hanya saja, tak satu pun benar-benar singgah di kepalanya. Pikirannya masih tertahan pada dua puluh empat jam terakhir. Kabur dari kejaran anak buah ayahnya.
Bermalam di bak mobil pikap. Menumpang di rumah Bu Ratih. Lalu pagi tadi datang ke balai desa dipanggil pak Lurah.
Kini ia duduk di depan penghulu. Menunggu akad nikah. Semuanya bergerak terlalu cepat, seolah hidupnya melompati beberapa bab tanpa sempat meminta izin.
"...apakah Saudara bersedia?" tanya penghulu.
Darwin mengangkat kepala. Suasana mendadak sunyi. Semua mata tertuju kepadanya. Ia menoleh ke arah Kinan. Perempuan itu duduk tenang. Tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, tanpa mendesak, tanpa memohon. Seolah apa pun jawaban Darwin, ia telah bersiap menerimanya.
Darwin menarik napas panjang. "Bersedia."
Penghulu mengangguk pelan dan membuka lembar berikutnya.
Akad dimulai. Suaranya tenang. Darwin mengikuti setiap kalimat yang diucapkan. Tangannya terasa dingin. Anehnya, bukan karena gugup. Lebih karena hidupnya baru saja mengambil belokan yang bahkan tidak sempat ia lihat.
Beberapa detik kemudian...Penghulu tersenyum.
"Sah."
Sunyi.
Lalu..."Alhamdulillah." Ucapan itu datang hampir bersamaan dari beberapa warga.
Bu Ratih mengusap sudut matanya. Seorang bapak menepuk bahu Darwin. "Selamat, Mas." Dan beberapa warga juga mengucapkan selamat.
Darwin hanya mengangguk. Ia bahkan belum sempat memahami bahwa satu kata tadi telah mengubah seluruh hidupnya.
Pak Lurah berdiri. "Baik. Urusan pertama selesai."
Darwin mengangkat kepala. " Lalu, urusan apa lagi ?"
Pak Lurah membuka map lain. "Sekarang urusan tempat tinggal. Bukankah kalian datang ke desa kami untuk mencari tempat tinggal?"
Darwin berkedip. "Oh, iya?"
Pak Lurah menoleh ke arah warga. "Rumah kosong siapa yang masih bisa ditempati?"
Seorang pria mengangkat tangan. "Rumah Pak Maman masih kosong, Pak."
"Iya."
"Waktu pemiliknya berangkat kerja ke Kalimantan, kuncinya dititipkan ke Pak RT."
Pak RT yang berdiri di belakang langsung mengangguk. "Ada. Saya selalu membawa kunci itu."
Pak Lurah tersenyum puas. "Bagus." Ia menoleh kepada Darwin dan Kinan. "Mulai sore ini kalian tinggal di sana."
Darwin spontan berdiri. "Pak... kami belum punya uang."
Pak Lurah menggeleng. "Pemiliknya sudah lama bilang, kalau ada warga yang benar-benar butuh, silakan dipakai dulu."
Darwin terdiam. "Tapi kami bukan warga sini."
Pak Lurah tersenyum. "Tadi memang bukan." Beliau berhenti sebentar. "Lima menit yang lalu, kalian sudah menjadi keluarga di desa ini."
Kalimat itu membuat Darwin kehilangan jawaban.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore menjelang ketika Pak RT menyerahkan sebuah anak kunci.
"Kecil rumahnya." ujar Darwin.
"Tapi cukup untuk kalian sepasang pengantin baru."
Darwin menerima kunci itu. Logamnya terasa dingin di telapak tangan.
Pak RT berjalan di depan. Mereka mengikuti. Rumah itu berada di ujung desa. Terlihat rumah sederhana itu tidak besar. Dindingnya masih kokoh. Halamannya dipenuhi rumput liar.
Pintu kayunya berderit saat dibuka. Udara pengap langsung menyambut mereka. Ruangan kosong.
Sebuah meja tua. Dua kursi. Lemari kayu. Dan sebuah kamar sederhana.
Pak RT pamit pulang. "Kalau ada yang rusak, bilang."
Darwin mengangguk pelan. "Terima kasih Pak RT, sudah mengantar sampai ke sini. "
Pak RT menunjuk Kinan sambil tertawa kecil. "Kalau sudah menikah, izin keluar rumah ya sama istri."
Darwin hanya menghela napas. Pintu rumah akhirnya tertutup.
Darwin memandangi kunci di tangannya. Lalu rumah yang kini resmi mereka tempati. Ia tertawa pelan. "Kemarin kita cuma cari tempat tidur." Ia mengangkat kunci itu sedikit. "Hari ini kita dapat rumah... sekalian istri."
Kinan menoleh datar. "Itu urutannya terbalik."
Darwin tersenyum tipis. "Mungkin."
Hening kembali memenuhi ruangan.
Krrkk... Suara pelan memecah keheningan.
Darwin mengangkat kepala. Kinan tetap berdiri seolah tidak mendengar.
Beberapa detik berlalu. Krrkk...Kali ini lebih jelas.
Darwin menatap Kinan. Alisnya terangkat.
"Itu... suara apa?"
Kinan mengembuskan napas pelan. "Jangan dipedulikan."
"Perutmu?"
Kinan mengangguk tipis. "Aku masih bisa bertahan."
Darwin mengusap wajahnya pelan, lalu terkekeh pendek tanpa rasa lucu. "Bagus."
Kinan menoleh.
"Masalah kita belum selesai." Darwin menyandarkan punggung ke dinding. "Sekarang ditambah satu lagi."
"Apa?"
Darwin menepuk perutnya sendiri. "Kita sama-sama kelaparan malam ini."
Kinan menoleh ke dapur. "Kita tidak punya makanan. Kompor saja kita juga tidak punya."
Tatapan Darwin ikut bergeser ke dapur. "Besok kita cari kerja."
Kinan mengangguk kecil. " Ide yang tepat."
"Sepertinya..."
Tok.
Tok.
Tok.
Mereka berdua menoleh bersamaan ke arah pintu.