Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Langkah Pertamaku Sendiri
Malam telah turun ketika Citra Lestari pulang ke rumah.
Matanya yang berbentuk almond tampak lebih cerah dari biasanya, sudut bibirnya melengkung ke atas tanpa bisa ditahan. Langkahnya ringan, hampir seperti ia ingin berlari.
Begitu melangkah masuk, ia langsung bertemu Arjuna Pratama yang baru saja keluar dari ruang kerja setelah menyelesaikan pengecekan email. Pria itu mengenakan pakaian santai abu-abu gelap yang nyaman, bahu lebar dan pinggang ramping, bersandar santai di kusen pintu.
"Kau sudah kembali?" Ia mengangkat alis, pandangannya langsung tertuju pada wajah mungil itu — yang dengan terang-terangan mengumumkan *aku punya kabar gembira*. Tanpa sadar, sudut mulutnya ikut terangkat.
*Emosi pacarnya selalu terbaca jelas di wajahnya. Tidak pernah bisa di sembunyikan.*
"Mm!" Citra mengangguk antusias. Seperti burung kecil yang riang, ia melompat menghampirinya dalam beberapa langkah, mendongak menatapnya, suaranya manis dan penuh kegembiraan yang tak terbendung:
"Mas Arjuna, saya mendapat peran!"
Dan dalam beberapa hari ini,Arjuna melarang citra memanggil nama nya dengan Tuan atau apapun,tetapi citra sepertinya sudah terbiasa memanggilnya dengan Tuan Arjuna,dan Hari ini terlihat Bahwa Citra Mulai Memanggil Nama nya Langsung.
Arjuna terjangkit kebahagiaannya begitu saja. Tangannya bergerak spontan, mengacak-acak lembut rambut panjangnya. "Oh? Peran apa? Pemeran utama wanita?"
"Bukan." Citra menggeleng, rambut panjangnya yang seperti rumput laut bergoyang mengikuti gerakan. "Dia seorang pelacur! Hanya dua adegan!"
Ia mengangkat dua jari mungilnya, matanya berbinar. "Adegan pertama menari — penampilan yang harus memukau! Adegan kedua..." wajah kecilnya berkerut sebentar, "...mayat yang dingin."
Kerutan itu langsung digantikan kegembiraan. "Kakak Siska yang membantuku mendapatkannya. Sutradara bilang aku lolos audisi."
Arjuna hampir tersedak air liurnya sendiri.
Ia menatap gadis kecil dalam pelukannya yang begitu gembira mendapat peran dua adegan sehingga hampir melompat-lompat kegirangan — matanya dipenuhi rasa geli yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Seorang pelacur? Mayat?" Ia mengulanginya, nada penuh kelakar. Lengannya yang panjang menarik Citra ke dalam pelukannya, jarinya mencubit pipi lembut merah muda itu.
"Hanya ini yang membuatmu sebahagia ini?" Ia mendekatkan wajah ke telinga Citra, suaranya rendah dan sambil tersenyum. "Sayang, apa kau lupa siapa pacarmu?"
Ia berhenti sejenak, nadanya dipenuhi kesombongan yang terang-terangan memanjakan: "Arjuna Pratama, hmm? Selama namanya disebut, akan ada banyak peran utama wanita dan produksi besar yang siap kau pilih."
"Kamu suka berakting? Besok aku minta Raka Hadiputra buatkan naskah untukmu, berakting sepuas hatimu."
"Untuk apa repot-repot menjadi pelacur kecil dalam dua adegan? Apalagi sebagai mayat?"
Citra berdiri dalam pelukannya, mendengarkan pernyataan mewah itu, merasa sedikit linglung.
*Tentu saja ia tahu siapa Arjuna. Bahkan mungkin lebih baik dari Arjuna sendiri — ia tahu betapa berkuasanya pria ini, dan betapa lebih berkuasa lagi ia di masa depan.*
Tapi...
Ia mendongak. Matanya yang jernih menatap Arjuna dengan sungguh-sungguh. Suaranya lembut, namun mengandung sedikit keras kepala yang tidak mau mundur:
"Itu tidak sama, Mas Arjuna."
"Bagaimana bisa tidak sama?" Arjuna mengangkat alis, bertanya dengan penuh minat.
"Ini... ini adalah sesuatu yang saya dapatkan dengan mengikuti audisi sendiri." Citra menekankan kata itu. "Kakak Siska memberi saya kesempatan, dan sutradara menyetujui saya."
"Meskipun hanya dua adegan, ini adalah langkah pertama saya ke industri hiburan — dan ini langkah yang saya ambil sendiri."
Matanya semakin berbinar saat ia melanjutkan: "Lagipula, perannya sangat menantang. Tarian itu harus menawan tanpa menjadi vulgar. Dan memerankan mayat membutuhkan kepekaan akan keindahan yang dingin, seperti es yang diam..."
Arjuna mengamatinya — gadis kecil ini dengan sungguh-sungguh menganalisis peran dua adegan seolah ia sedang membahas film pemenang penghargaan — dan rasa geli di hatinya semakin kuat, bercampur dengan sesuatu yang lebih hangat.
*Di antara semua wanita di sekitarnya, siapa yang tidak mengincar kontrak endorsement mewah atau naskah besar dengan peran utama? Dialah yang pertama begitu antusias dengan peran kecil seperti ini.*
"Baiklah, baiklah." Ia terkekeh pelan, nadanya penuh pengertian. Tangannya yang melingkari pinggang rampingnya mengencang, menariknya lebih dekat. "Langkah pertamamu, diambil sendiri. Lalu, aktris kecilku — apa rencana selanjutnya?"
Wajah mungil Citra sedikit memerah mendengar itu. Baru kemudian ia teringat alasan sebenarnya mengapa ia bergegas pulang.
Ia segera meraih lengan Arjuna dan mengguncangnya sedikit — tapi pria itu memeganginya terlalu erat, tidak bergerak sedikit pun. Citra menyerah dan mendongak, matanya yang berkaca-kaca penuh antisipasi dan permohonan genit:
"Mas....Arjuna... sutradara mengatakan tarian saya belum cukup bagus. Gerakan saya tidak standar, dan mengandalkan temperamen saja tidak cukup..."
"Dia memberi saya waktu satu bulan untuk berlatih secara khusus..."
Suaranya mengecil, menjadi lebih lembut dan manis: "Saya ingin mempekerjakan guru tari — yang sangat mahir dalam tari klasik... mas ..Arjuna, tolong..."
Arjuna menatap penampilannya yang lembut dan hampir memohon itu, dan hampir tidak bisa menahan tawanya.
"Hanya ini?" Ia mencubit dagunya, menggoyangkan sedikit. "Seorang pelacur kecil dalam dua adegan, sepadan dengan semua kesulitan ini? Dan kamu ingin guru yang sangat baik pula?"
Ia sengaja menggoda: "Pacarmu tinggal bilang, banyak penari pengganti kelas atas yang siap. Mengapa repot-repot berlatih sendiri?"
"Aku tidak mau pengganti!" Citra langsung menggeleng keras, wajah kecilnya penuh kegigihan. "Aku ingin menari sendiri!"
"Sutradara bilang adegan itu close-up. Perlu menangkap tatapan mata dan perasaan — sehebat apa pun penari pengganti, tatapan matanya tidak akan sama. Saya ingin menampilkannya dengan baik sendiri!"
Ia kembali mengguncang lengan Arjuna, suaranya semanis madu: "Tolong... Mas Arjuna... bantu saya mempekerjakan guru... maukah Anda..."
Sambil berbicara, ia mendongak menatap Arjuna dengan mata almond yang jernih, polos, dan penuh harap — seperti kucing kecil yang berusaha menyenangkan tuannya, mustahil ditolak siapa pun.
Hati Arjuna luluh seketika. Niatnya untuk menggoda menguap begitu saja.
Ia menunduk, mengecup lembut dahi Citra.
"Iya."
Nadanya langsung berubah penuh pengertian dan tanpa syarat: "Bukankah itu hanya guru tari? Besok aku carikan yang terbaik. Guru terbaik di negeri ini cukup? Kalau tidak, aku datangkan dari luar negeri."
Mata Citra langsung melengkung membentuk bulan sabit. Ia berjinjit dengan gembira dan mengecup rahang keras Arjuna. "Terima kasih, Mas Arjuna! Anda yang terbaik!"
"Namun..."
Arjuna mempererat genggamannya di pinggang Citra, tidak membiarkannya melepaskan diri. Mata Elang-nya yang dalam menyimpan keintiman yang hangat saat ia menunduk, mendekatkan wajah ke wajah Citra yang cantik dan lembut, suaranya merendah:
"Ucapan terima kasih secara lisan saja tidak cukup."
"Pelacur kecilku — bagaimana kau berencana berterima kasih dengan pantas, hmm?"
Citra langsung memerah hingga ke cuping telinganya yang mungil. Ia paham maksud tersirat di balik kata-kata itu. Dengan malu-malu, ia hendak menyembunyikan wajahnya di dada Arjuna — tapi pria itu dengan nakal mengangkat dagunya, tidak membiarkan ia bersembunyi.
Senyum di mata Arjuna semakin dalam.
*Peran kecil dengan hanya dua adegan?*
*Tiba-tiba terasa cukup menarik juga.*
Setidaknya, peran itu memperlihatkan sisi lain dari Kekasih kecilnya — begitu ceria, begitu pekerja keras, dan begitu menggemaskan.