🍁Sequel dari SEMESTA RAI.🍁
Ranu Wais Prianggoro.
Tampan, terlahir dari keluarga kaya. Sejak lahir, seolah seluruh perhatian dunia berpusat padanya. Pesonanya sebagai konten kreator nomor 1 di indonesia, membuatnya tidak pernah luput dari perhatian dari semua orang.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Miara Tisha, gadis yang sama sekali tidak peduli dengan ketenaran yang disandang Ranu. Gadis yang sama sekali mengabaikannya padahal orang-orang di sekitarnya sibuk menginginkan perhatian Ranu.
Dan sejak saat itu, hati Ranu seperti tertarik ke dunia Mia.
Bagaimana perjalaan kisah Ranu demi menarik perhatian Mia?
Yukk,, cuuussss...➡️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PiEl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Bukan Cari Pembenaran.
Proses syuting sedang berlangsung. Banyak warga yang melihatnya. Termasuk beberapa teman Fuan dari kantor dinas pariwisata. Hari yang terik sangat cocok dengan permainan air.
Para warga yang kebanyakan ibu-ibu itu membantu dengan memasak di pinggir sungai. Mereka memasak kari kambing yang di belikan oleh pak zul untuk mereka bersantap siang ini.
Bersama dengan Ranu, ada juga beberapa nelayan yang menjala ikan. Itu semua adalah kebutuhan untuk syuting.
Mia sedang duduk di atas rerumputan di pinggir sungai. Pandangannya lurus memperhatikan Ranu yang nampak sangat profesional dalam bekerja. Ia juga terus mendekap tas Ranu di pangkuannya. Ia menoleh saat tiba-tiba Fandra ikut duduk di sampingnya.
“Udah, gak usah di fikirin. Kan kelakuan Yola emang begitu.”
“Mas Fandra lagi belain Yola sekarang?” Lirih Mia. Nada suaranya terdengar malas menanggapi.
Fandra terkejut karna Mia salah menanggapi maksudnya. “Bukan gitu, Mia.”
“Udahlah, Mas. Gak usah bahas Yola. Males banget aku denger namanya juga.”
“Mia, sebagai seorang muslim yang baik, kita di ajarkan untuk saling memaafkan. Bahkan ada aturan kalau tidak boleh lebih dari tiga hari jika kita bertengkar dengan seseorang. Apalagi dengan sesama muslim.”
“Aku bukan membela diriku sendiri, Mas. Bukan juga cari pembenaran atas sikapku. Aku memang bukan muslimah yang sempurna. Aku gak pernah marah sama Yola lebih dari sehari. Aku selalu berusaha ngelupain apapun perbuatan dia ke aku. Tapi kamu lihat sendiri sikapnya ke aku gak pernah berubah sama sekali. Padahal dia yang salah sejak awal. Apa dia pernah minta maaf ke aku? Jawabannya, enggak. Sama sekali. Aku udah berusaha jadi orang yang pemaaf. Tapi ada saatnya saat hatiku juga sakit dan terluka karna sikapnya itu.”
“Karna tulah yang buat aku gak bisa mengalihkan perasaanku dari kamu, Mia. Kamu sadar gak sih kalau kamu ini perempuan hebat? Kamu terus berusaha untuk jadi muslimah yang baik. Pokoknya aku bangga sama kamu.” Fandra tersenyum kepada Mia.
Mia juga ikut tersenyum saat dia menoleh kepada pria itu. Ada sekumpulan perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya.
Dari kejauhan, Ranu sesekali memperhatikan ke arah Mia dan Fandra yang nampak tertawa senang. Entah kenapa ada rasa aneh melihat kedekatan mereka berdua.
“Mas, kayaknya udah cukup take-nya.” Kata Haris memberitahu.
Ranu mengangguk kemudian turun dari sampan bersama dengan beberapa nelayan. Karna waktu juga sudah menjelang siang, jadi mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar.
Fandra sudah pergi meninggalkan Mia untuk membantu membereskan perlengkapan syuting. Dan Mia sedang asyik dengan ponselnya sendiri. Ia tidak menyadari kalau Ranu sudah lumayan lama berdiri di depannya sambil memperhatikannya.
Barulah setelah beberapa saat, Mia melihat bayangan Ranu dan langsung mendongakkan kepalanya. Ia memicingkan matanya karna silau melihat Ranu yang berdiri membelakangi matahari. Ia tidak bisa melihat Ranu dengan jelas.
Mengerti akan hal itu, Ranu menggeser tubuhnya hingga bayangannya jatuh tepat di wajah Mia. Untuk sesaat Mia terpana. Namun segera menundukkan wajahnya kembali.
“Ngapain main panas? Entar gosong.” Seloroh Ranu sambil mengambil duduk di sebelah Mia.
“Gosong kan malah eksotis.” Jawab Mia sekenanya.
“Hahahahaha. Klimis-klimis gimana, gitu ya?”
“Oh iya. Tadi ada telfon. Dari mamamu.” Ujar Mia yang kemudian menyerahkan tas kepada pemiliknya.
Ranu menerimanya dan langsung merogoh ponselnya.
“Maaf tadi terpaksa aku angkat. Takutnya ada hal penting. Maaf kalau lancang.”
Ranu menggelengkan kepala tanpa mengalihkan wajahnya dari ponsel. “Gak apa-apa. Santai aja lagi.”
“Halo, Nak.” Sapa suara wanita saat panggilan video Ranu sudah tersambung.
“Halo, Ma. Maaf tadi Ranu lagi syuting.”
“Iya, gak apa-apa. Kamu abis mandi? Kok basah begitu?” Tanya Esta dengan mendekatkan wajahnya ke ponsel.
“Main di air.”
Mia meninggalkan Ranu yang sedang mengobrol dengan ibunya. Ia mengambilkan sepiring kari kambing dan membawanya kembali kepada Ranu.
“Siapa itu?” Tanya Esta penasaran.
“Oh, ini? Kenalin, Ma. Namanya Mia. Udah masuk kriteria belum buat jadi calon menantu? Hhahahahahaha.” Seloroh Ranu sambil terbahak. Tidak peduli kalau Mia mencibir kepadanya.
“Oh, Mia? Iya tadi Mama sempet ngobrol bentar sama dia. Mama sih setuju aja apapun pilihan kamu. Kamu yang akan menjalani, bukan Mama.” Esta membawa serius ucapan putranya. Membuat Ranu semakin terkekeh saja mendengarnya.
“Udah ya, Ma. Udah di pelototin ini sama calon menantu Mama. Hahahahaha.” Kata Ranu yang langsung mematikan ponselnya.
Plak!
“Auh! Sakit Mia!” Pekik Ranu saat sebuah ranting rumput mendarat di punggungnya.
“Siapa suruh ngomong sembarangan?”
“Yeee. Namanya juga becanda. Gak usah di bawa serius. Tapi siapa yang tau jodoh, ya kan? Hehehehehe.”
“Aku cari ranting yang lebih besar, kamu tunggu di sini!” Ancam Mia. Ia langsung berdiri hendak pergi mencari kayu untuk memukul Ranu.
Namun Ranu segera mencegahnya dengan menarik ujung gamis Mia dengan kuat. Sehingga membuat gadis itu jatuh terduduk di tempanya semula.
“Astaghfirullah haladzim! Ranu! Ih! Sakit tau.” Hardik Mia.
“Ups, sorry. Gak sengaja. Heeee.”
“Hufh.” Dengus Mia lagi. “Itu dimakan karinya. Gak enak nanti kalau dingin.”
“Wah. Harumnya gurih banget.”
“Mau pake nasi, gak?” Tawar Mia kemudian.
Ranu mengangguk. “Boleh. Mana nasinya?”
“Tunggu bentar.” Ujar Mia yang langsung beranjak untuk mengambilkan Ranu sepiring nasi.
Tak lama kemudian, Mia sudah kembali dengan membawa sepiring nasi dan memberikannya kepada Ranu.
“Kok cuma satu? Kamu gak makan?” Tanya Ranu mengernyit.
“Belum laper. Nanti aja. Kamu makan duluan aja.”
Ranu segera melahap kari kambing dengan selera. Gurihnya bumbu kari membuat nafsu makannya bertambah. Sedangkan Mia hanya memperhatikan saja pria itu menghabiskan sepiring nasi dan semangkuk kari kambing.
“Kamu pacaran ya sama Fandra?”
Pertanyaan itu membuat Mia mengernyitkan keningnya. Ia heran kenapa Ranu bisa tau nama Fandra.
“Kok kamu tau Mas Fandra?” Mia mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya tau lah. Udah kenalan dari kemarin. Pacarmu?” Ranu mengulangi pertanyaannya.
“Enak aja, pacar. Bukan pacar. Tapi Insha Allah calon suami, kalau Allah mengijinkan.” Jawab Mia. Nada suaranya terdengar sangat yakin. “Kenapa kepo?”
“Maaf kalau aku banyak tanya. Gak tau kalau hubungan kalian udah sejauh itu ternyata. Ahh, kasihan mamaku. Pasti dia kecewa banget gak jadi dapet calon menantu sholehah.” Seloroh Ranu pada akhirnya.
“Ranu! Bisa diem gak sih? Becandamu gak lucu, tau gak? Ngeselin.” Dengus Mia. Ia kemudian pergi meninggalkan Ranu sambil membawa piring kotor bekas makan Ranu.
Dan Ranu hanya terkekeh saja mendengar kemarahan Mia. Entah kenapa, ia senang sekali menggoda gadis itu.
Dari beberapa gadis yang pernah dekat dengan Ranu, belum ada yang menarik perhatian pria itu sampai ingin menggodanya seperti itu. Ada sesuatu dari Mia yang berbeda. Ranu tau itu sejak pertemuan pertama mereka kemarin. Gadis itu, sama sekali tidak tertarik dengan ketenaran yang sedang di sandang oleh Ranu.
Heeemmm... Menarik.
walaupun bukan otor/novel populer dan masih sedikit yg mengenal tp aku suka ceritanya
🤣🤣🤣🤣