Tak pernah terpikir oleh Kania, jika ia akan mendapatkan perlakuan yang tak adil dari sang suami (Yohanes- Hans). Pernikahan yang telah terjalin selama beberapa bulan itu ternyata di bumbui oleh kedustaan sang suami. Janji pernikahan yang telah di ucap Hans rupanya hanya demi harta semata. Akankah hati Hans yang keras itu akan luluh seiring berjalannya waktu. Ataukah pernikahan yang di dasari perjodohan itu akan kandas di usia pernikahan seumur jagung?
Yuk simak cerita perdana Autor...
klik like+koment...
thank you very much readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqishe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib memang tak selalu buruk
***
BLAM!!
Kania membanting pintu itu dan lekas menjatuhkan tubuhnya kasar di kursi ruang tunggu pasien yang berada di luar kamar Hans.
"Keterlaluan! Apa salahku! Kenapa pas sadar dia langsung saja ngamuk pada ku tampa mengucapkan terimakasih! Huh menyebalkan! Dia pikir siapa dirinya? Huh bertindak seakan akan dia itu tuhan saja... Dasar pria menyebalkan!" Kania menghentak lantai beberapa kali karna kesal. Ia putuskan menunggu di luar ruangan itu beberapa saat.
"Richi pun tak ikut keluar... Setidaknya, antarkan aku pulang kerumah lah..." Kania sungguh merasa sangat kecewa pada Hans juga Richi.
Setelah setengah jam ia menunggu, akhirnya... Kania putuskan untuk keluar dari rumah sakit itu. Ia merasa bahwa ia memang tak di butuhkan oleh suaminya. Meski selama dua hari ini ia tak memperhatikan kesehatannya dengan mogok makan juga tak merawat dirinya demi terjaga dan menunggu hingga Hans kembali sadar. Tapi, apa boleh buat, meski Hans terlihat tampan saat ia terlelap.. Kania memang harus terima kenyataan pahit, jika pria tampan itu akan jadi Arogan lagi setelah dirinya sadar dari keadaan kritisnya.
"Sekarang. Apa yang harus aku lakukan?" Bisiknya seraya mengelus perutnya yang mulai terasa sangat lapar.
Ia berdiri di sebrang jalan setelah keluar dari rumah sakit besar itu dan ia tak tahu harus bagai mana selanjutnya.
"Bagai mana ini... Aku tak punya uang dan perutku sangat lapar... Apa yang aku pikirkan. Setidaknya aku harus tunggu dulu hingga Richi keluar dan memberiku tumpangan atau setidaknya jika Richi tak bisa mengantarku pulang. Ia juga bisa kan memberiku selembar uang untuk naik taksi?" gumamnya kebingungan.
Akhirnya, mau tak mau... Kania harus berjalan kaki ke arah halte bus. Mungkin ia bisa dapat tumpangan gratis jika ia mau terus jalan kaki. Lama melangkah ia makin lemas dan terhenti beberapa kali... Tubuhnya mulai tak karuan karna harus menahan lapar dan juga terik matahari. Ia tak kuasa melangkah lagi hingga ia mulai terhanti di persimpangan jalan area lampu merah "Ah... Astaga... Aku pusing sekali. Juga perutku sakit melilit rasanya. Tenggorokan ku juga kering... Apakah ini pertanda bahwa aku akan mati?" tanya Kania menepis beberapa bulir keringatnya yang mulai bercucuran lebat itu.
Namun... Siapa sangka, hal tak terduga mulai menghampirinya. Sebuah mobil sport warna hitam yang mengkilat terhenti di samping Kania. Meski lampu sudah kembali hijau, tapi mobil itu tak melaju seperti mobil mobil lainnya yang berburu waktu ketika melihat lampu mulai berubah warna.
TIN TIN! Mobil mobil di belakang mobil sport hitam itu mengelaksoni mobil tersebut. Kania merasa heran hingga ia mulai menatap mobil di sampingnya itu "Kenapa dengan mobil hitam ini? Aneh sekali..." Bisik Kania merengutkan wajahnya. Perasaannya tak enak ia berfikir jika mobil itu adalah mobil anggota sindikat perjualan manusia.
"Jangan jangan... Memang benar?" Kania mulai mundur dan menjauhi mobil itu, tapi siapa sangka mobil tersebut malah membuntuti langkah Kania yang kala itu makin cepat.
"Apa! Dia mengejarku! Ini mustahil... Mobil itu sungguh sindikat gelap... Jangan jangan dia ingin menjual organ tubuhku! Oh tidak. Ini lebih buruk dari pada tinggal dengan pria arogan yang kejam itu' Gerutu bathin Kania mengoceh tiada henti.
Saat Kania mulai lemas dan sesak napas, kakinya pun mulai tak kuasa menahan berat tubuhnya. Hingga ia pun harus oleng dan jatuh "Bruukkk!!" Kania terjatuh di trotoar jalanan berlubang. Kakinya memar dan tampak terkilir, akhirnya mobil sport hitam itu pun mulai terhenti di depan Kania dan membuka pintu dengan sangat tergesa gesa.
Pentopel hitam mengkilat mulai menjulur keluar dari dalam mobil mewah itu "Siapa?" mata Kania berkaca kaca karna ia ketakutan dan kesakitan juga kelaparan dan kelelahan.
Kania tak mampu mendonggakan wajahnya karna terlalu takut. Tangannya gemetaran dan mengepal erat erat siap meninju. Namun ketika pertanyaan kelam mulai menguasai pikirannya. Suara lembut dan merdu mulai menyapa ketakutan Kania dengan begitu hangatnya.
"Apakah kamu baik baik saja?" tanya seorang pria.
Kania serasa mengingat suara yang begitu familiar di telinganya. Ia pun berusaha sekeras mungkin untuk mendongakan wajahnya ke arah pria tersebut. Pria itu menjulurkan tangannya, pandangan Kania terhalang cahaya matahari. Hingga wajah pria itu tampak begitu misterius dan gelap. Kania yang ragu ragu itu pun mulai membalas juluran tangan pria itu. Hingga pria itu pun mulai menarik Kania dan kania pun mampu berdiri kembali.
"Terimakasih..." Ucap Kania mulai menyeimbangkan tubuhnya.
"Syukurlah... Ternyata memang kau" Ucap Pria itu Kania pun mulai menoleh ke arah wajah pria itu. Dan betapa terkejutnya Kania saat mendapati pria tampan yang begitu menawan juga baik hati telah membantu dirinya untuk yang ke dua kalinya.
"Kau..." ucap Kania menunjuk pria itu...
bahkan dalam novel pelakor akan dibuat kayak wanita tidak punya hati dan tidak punya malu dan pada akhirnya akan dibuat selalu jahat tapi beda dengan pebinor sosok sangat diperlakukan lembut oleh para novelis
kan dia juga ditampar, hanya ditampar tapi lihat spesialnya sosok ini, bisa berkali2 berdekatan dengan istri orang, bisa berkali memprovokasi suami orang, dia kayak punya hak mengancam suami orang, dan pda akhir dia akan dibuat kayak lelaki paling pngertian