Hidup seorang gadis muda yang biasa di sapa Caca harus menjadi berantakan karena dia harus mendekam di dalam penjara untuk menanggung kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, dia menanggung semua itu hanya demi menyelamatkan kehidupan sang kekasih hati dan sebuah alasan
Tetapi apa yang dia dapatkan saat pertama kali keluar dari jeruji besi adalah sebuah pengkhianatan, dan sebuah kenyataan yang selama ini dia tak ketahui
Tiba-tiba saja Daniel Putra Perkasa seorang CEO muda yang sangat tampan mulai mendekati Caca dan memberikan Caca sebuah cahaya di dalam kehidupannya yang sudah berantakan, tetapi Caca tak mengetahui sama sekali bahwa semua yang Daniel lakukan hanya untuk menyakiti Caca
Apakah cinta bisa mengalahkan rasa benci? atau malah cinta mereka akan saling menyakitkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triana mutia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Semakin Baik
Daniel mulai melajukan mobilnya ke sebuah arah karena Daniel tau dengan pasti semua tentang Caca, tetapi dia pun tak ingin membuat Caca dengan semua rencana yang telah dia siapkan
"Kamu tinggal di mana?" menoleh sekilas ke arah Caca
"Maaf apa bisa turunkan saya nanti di halte bus depan aja"
"Kenapa?"
"Saya ga enak hati pak kalau merepotkan bapak untuk mengantarkan saya pulang," dengan sopan
"Saya ga merasa di repot kan, jadi sekarang kamu tinggal jawab rumah kamu di mana?" dengan nada suara yang terdengar tegas
Dengan berat hati Caca pun memberikan alamat rumah Sindy, dan Daniel pun memerankan peran nya dengan baik. Daniel ingin memerankan peran seorang pria yang baik yang akan membuat Caca jatuh hati padanya
Di sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan antara mereka berdua, sesekali Caca mencuri pandang ke arah pria tampan yang berada di sebelah nya. Tak bisa di pungkiri bahwa Daniel memiliki paras yang sangat tampan dan penuh wibawa
"Ya ampun kenapa ada orang yang di lahir kan ke dunia ini dengan sangat sempurna seperti orang ini?"
Akhirnya mobil itu pun tiba di tujuan nya
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pak," tersenyum
Daniel pun hanya menjawab dengan senyuman tipis
"Kalau begitu saya turun dulu pak"
"Saya harap lain kali kamu bisa belajar untuk percaya sama orang lain, karena ga semua orang di dunia ini terlahir sebagai orang jahat." menatap ke arah Caca dengan serius
"Iya pak,"
"Ya udah turun, istirahat. Setau saya pegawai magang di larang untuk datang telat,"
"Iya pak, sekali lagi terima kasih pak"
Daniel hanya menjawab dengan sedikit anggukkan kepalanya, Caca pun mulai turun dari dalam mobil dan mulai melangkahkan kakinya ke arah rumah Sindy. Sedangkan Daniel terus menatap punggung Caca dengan tatapan mata yang sulit di artikan
"Setelah kamu di khianati calon tunangan kamu itu pasti kamu akan sulit percaya dengan yang namanya laki-laki, tapi saya akan masuk secara perlahan ke dalam kehidupan kamu dan hati kamu" tersenyum licik
Daniel pun pergi meninggalkan tempat itu dan setelah masuk ke dalam rumah Caca pun bergegas masuk ke dalam kamarnya, Caca segera mengganti pakaiannya dan mulai merebahkan tubuhnya karena rasa lelah menghampiri dirinya. Dan tiba-tiba saja ucapan Daniel pun kembali terlintas di dalam benak Caca
"Apa yang udah mereka lakukan memang membuat aku sulit untuk percaya sama orang lain, tapi apa omongan orang tadi juga ga salah. Aku ga bisa menilai semua orang sama dengan mereka"
Hari pun terus berlalu dan kini Caca merasa hari-harinya di kantor sudah semakin membaik karena ada Adel yang selalu menyambut dirinya dengan hangat, melihat sikap Adel terhadap Caca lambat laun rekan kerja yang lain pun mulai bisa menerima keberadaan Caca. Caca benar-benar merasa bersyukur dapat mengenal Adel di tempat itu
Tetapi entah mengapa ada sesuatu yang sedikit mengganggu pikiran Caca, karena secara tak sengaja Caca beberapa kali berpapasan dengan Daniel. Walaupun sudah pasti itu karena Daniel yang merencanakan itu semua, Daniel juga tak segan untuk melempar senyuman saat berpapasan dengan Caca
Saat menjelang hari terakhir bekerja sebelum libur akhir pekan sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel Caca, dan ternyata pesan tersebut di kirimkan oleh Rizal
"Kamu ga lupa sama janji kamu kan?"
"Ya, tapi aku yang tentuin tempatnya"
"Oke, kamu pulang kerja jam berapa? biar aku jemput kamu"
"Buat apa?"
"Ya supaya aku bisa antar kamu pulang dong, jadi aku bisa tau tempat tinggal kamu. Kan bisa aja nanti kamu kabur waktu mau bayar makanannya, kalau aku tau rumah kamu aku bisa cari kamu ke rumah kamu kalau kamu kabur dari tanggung jawab"
Caca pun menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali
"Ampun aku sama orang yang satu ini, kok bisa sih ada orang yang kayak gini?" tersenyum tipis
"Oke sampai rumah nanti aku share lock ya, tapi hari ini aku ga bisa soalnya pulang kerja aku mau kumpul sama anak-anak. Katanya supaya semakin dekat"
"Janji ya.!!"
"Iya"
Selesai jam kerja semua pun bersiap untuk berkumpul dan saat itu Adel menentukan satu tempat makan yang membuat semua orang secara serentak menggelengkan kepalanya
"Kenapa?"
"Itu sih namanya pemborosan kelas berat Del, aku dengar harga makanan di sana bisa bikin gaji setengah bulan kita raib"
Adel pun tampak memikirkan sesuatu
"Ga usah takut kebetulan saudara aku manager di sana jadi dia kasih kupon diskon ke aku, makanya aku ajak kalian semua buat kumpul di sana"
"Tetap ajalah Del, sayang uang nya kalau mau makan aja kita ke sana. Kalau ga salah kalau mau makan di sana juga harus reservasi dulu"
"Sebenarnya hari ini hari ulang tahun aku, jadi aku udah pesan tempat buat kita semua di sana. Dan nanti semua makanan nya aku yang bayar," tersenyum
Semua orang langsung menatap seolah tak percaya dengan ucapan Adel, tetapi ada dua orang yang saling pandang di antara mereka semua. Seolah kedua orang itu sedang saling mengungkapkan jalan pikiran mereka
"Kamu serius Del?"
"Serius lah, tapi ya aku bayar pakai diskon juga." tertawa kecil
Semua orang di sana bahagia mendengar hal tersebut, hanya kedua orang tadi yang memandang Adel dengan tatapan mata sedikit meremehkan. Ketika semua orang sedang bersiap Caca pun mulai mendekati Adel
"Kenapa kamu ga bilang kalau kamu ajak kita kumpul karena kamu ulang tahun?"
"Kalau aku bilang dari awal pasti nanti ga semua mau ikut," tersenyum
"Ga mungkin lah, tapi kalau aku tau kamu ulang tahun kan aku bisa siapin kado untuk kamu"
"Maaf ya Ca aku bohong sama kamu, sebenernya aku cuma cari alasan supaya semua mau ikut aja"
"Ya ampun ga usah lah, aku kan udah besar masa masih mau terima kado sih." tersenyum canggung
"Ya harus dong Del, kamu kan udah traktir kita makan. Ya udah kado dari aku nyusul ya," tersenyum
"Ya"
Mereka semua pun bersiap untuk pergi dan mulai menuju ke tempat yang di tentukan oleh Adel, semua benar-benar tak menyangka bila mereka akan berada di tempat itu sebuah rumah makan bernuansa Eropa yang paling terkenal di kota itu
Mereka sama sekali tak menyangka bila Adel berbohong akan ulang tahunnya hanya untuk membawa mereka makan di tempat itu, dan tanpa ada orang yang tau kedua orang tadi tetap memasang wajah datar dan sesekali menatap Adel dengan tatapan mata sedikit meremehkan
"Rasa Yang Terpendam"