Pertemuan yang tidak disangka antara Fatur dan Anggita menjadikan mereka yang awalnya saling membenci menjadi saling cinta. Anggita yang niatnya pergi ke Batam untuk liburan karena sedang patah hati karena kekasihnya dan bertemu dengan Fatur mahasiswa jurusan arsitektur.
Awalnya Anggita hanya menganggap Fatur sebagai teman namun lama-kelamaan mereka saling mencintai dan menjalin hubungan pasca hubungannya dengan Damar putus. Namun tiba-tiba Anggita harus menikah dengan Damar karena kedua orang tuanya yang sudah dekat. Anggita terpaksa harus berbohong kepada Fatur dan meninggalkannya tanpa kabar membuat Fatur trauma serta patah hati hebat.
Setelah perpisahan mereka selama 4 tahun akhirnya Fatur kembali bertemu dengan Anggita. Mereka bertemu saat Anggita mencari seorang arsitek untuk membuat sebuah rumah setelah pernikahannya. Luka dan trauma yang ditinggalkan Anggita masih Fatur rasakan tapi anehnya Fatur kembali jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?
"Based On A True Story"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Di Waktu Yang Tepat
"Di Batam lo tidur di mana?" tanya Fatur menyadarkan lamunan Anggita akan ucapannya tadi.
Mendengar suara Fatur yang begitu lembut di telinga membuat Anggita tersadar dan langsung menatapnya. Deg, mengapa saat ini jantungnya berdegup begitu sangat cepat saat Fatur menatap dirinya begitu lekat. Baru kali ini Anggita menatap wajah Fatur sedikit lebih lama dari biasanya. Dan ups, Anggita tertuju pada suatu objek yang berada di wajah Fatur, tepatnya di pelipis sebelah kanan Fatur. Seperti ada bekas luka goresan yang membekas namun tidak begitu terlihat dengan jelas jika hanya dilihat sepintas oleh mata. Itu adalah bekas luka saat Fatur kecelakaan motor beberapa tahun lalu, kecelakaan yang sangat fatal waktu itu dan membuat dirinya mempunyai penyakit vertigo.
"Lo masih dengar ucapan gue, kan?" Fatur mengulang pertanyaannya saat Anggita masih terdiam membisu menatapnya.
Seketika Anggita tersadar dengan cepat memalingkan wajahnya ke sembarang arah, agar Fatur tidak melihat dirinya sedang dilanda rasa gugup serta wajahnya yang putih cantik bak susu berubah menjadi merah merona karena malu.
"Iya. Gue dengar kok," jawanya dengan nada gugup dan kedua bola matanya masih menatap ke sembarang arah menghindari kontak mata dengan Fatur.
Sebisa mungkin Anggita menguasai dirinya agar tidak tampak bodoh di depan Fatur, tapi lelaki itu tahu jika gadis yang ada di depannya kini sedang salah tingkah.
"Lo tidur di mana? Di hotel mana?"
"Mau apa lo tanya gue tidur di mana?" Anggita langsung menoleh menatap Fatur saat lelaki itu bertanya dimana dirinya menginap selama ini.
"Gue mau nganter lo pulang," jawab Fatur singkat dan Anggita terdiam karena malu.
Sudah mau memasuki pukul 03:00 pagi tidak mungkin Fatur membiarkan Anggita pulang sendirian, apalagi dengan berpakaian seperti itu.
"Nggak usah gue bisa pulang sendiri," tolak Anggita mentah-mentah dengan nada jutek sok jual mahal.
Bukan jual mahal tapi Anggita hanya takut terjadi sesuatu terjadi kepadanya jika mengiyakan tawaran Fatur. Secara perjanjian antara mereka berdua belum selesai terlaksana. Atau mungkin Fatur mau mengeksekusinya di kamar hotel tempat Anggita menginap! Jika memang benar kali ini tamat sudah riwayat Anggita.
"Memang lo berani pulang sendiri?" Fatur bertanya meyakinkan Anggita yang sedari tadi terlihat sangat ketakutan.
"Nggak sih," jawabnya tiba-tiba dengan nada lembut menatap Fatur.
"Ya udah. Gue antar lo pulang, lo tidur di hotel?"
"Kalau bukan di hotel gue tidur di mana lagi?"
Sungguh Fatur sangat senang sekali menggoda Anggita yang begitu sangat polos, memang benar jika Anggita selalu membuat dirinya tersenyum dan bersemangat untuk terus menggodanya. Senyum yang selama ini hilang kini terlihat nampak kembali, walupun hanya sesekali terlihat dan tidak begitu sering setidaknya Fatur bisa tersenyum lagi setelah lama dan itu karena Anggita.
Betapa bingungnya Anggita saat Fatur mau mengantarkan dirinya menggunakan motor miliknya. Motor yang sangat tinggi dan besar, sesaat Anggita terdiam bagaimana dirinya bisa duduk nyaman di atas sana dengan pakaian seperti ini.
"Ayo naik," perintah Fatur yang sudah lebih dulu menaiki motornya mengajak Anggita yang masih berdiri menatap motornya.
"Lo serius mau anterin gue naik motor?" Anggita balik bertanya dengan wajah keheranan menatap Fatur.
"Memang lo pikir gue datang ke sini naik apa?"
"Bagaimana caranya gue naik motor lo dengan baju kayak gini?" Anggita menunjukkan pakaian dress-nya yang sangat minim.
Karena perdebatan kembali terjadi antara mereka berdua membuat Fatur terpaksa membuka helm yang sudah dipakainya.
"Tinggal naik dan duduk manis," jelas Fatur singkat.
Jawaban Fatur membuat Anggita sedikit kesal dan geram, mengapa Fatur selalu membuatnya kesal. Baru saja mereka berbaikan tapi belum juga sampai satu jam lelaki itu sudah mengajaknya berdebat lagi.
"Tapi lo tahu kalau gue pakai baju kaya gini, jadi gimana bisa gue duduk? Masa lo nggak paham sih!"
"Siapa juga yang menyuruh lo pakai baju kekurangan bahan. Baju buat anak SMP masih lo pakai," sindir Fatur terus meledek Anggita.
Anggita semakin geram akhirnya rasa kesal di hatinya yang disimpan sejak tadi meledak juga. Anggita tidak peduli jika disebut perempuan tempramen atau pemarah, karena. Fatur selalu saja menguji kesabarannya.
"Susah ya bicara sama lo! Bikin gue emosi terus!" Anggita mencoba pergi meninggalkan Fatur sendirian.
Belum sempat Anggita melangkahkan kakinya meninggalkan Fatur karena kesal, lelaki berambut hitam itu segera melepaskan jaket varsity berwarna hitam miliknya. Sejurus kemudian Fatur memberikan jaket itu kepada Anggita. Wajah Anggita mendadak kebingungan mengapa Fatur melepaskan jaket dan memberikan kepadanya.
"Buat menutupi bagain paha lo," jelas Fatur menyerahkan jaket itu kepada Anggita.
Hati Anggita tersentuh dengan hal kecil yang diberikan oleh Fatur kepadanya, ternyata di balik sikap dingin dan sinis Fatur ada sisi peka serta perhatian yang tersimpan. Anggita masih malu-malu saat akan mengambil jaket yang masih berada di tangan Fatur. Mengapa dirinya sekarang begitu mudah gugup ketika berhadapan dengan Fatur, tidak seperti mereka pertama kali bertemu.
"Nih ambil. Mau nggak?" tanya Fatur menawarkan jaket itu kepada Anggita yang masih terdiam menatap jaket milik Fatur.
Sesaat kemudian Anggita mengambil jaket milik Fatur dengan senyum yang sumringah, hatinya bahagia entah kenapa. Dipegangnya jaket milik Fatur dan Anggita bersiap untuk menaiki kuda hitam milik Fatur, tapi gadis itu lupa akan sesuatu. Melihat Anggita yang kembali melamun membuat Fatur kebingungan.
"Kenapa lagi? Kenapa diam?" tanya Fatur ketika Anggita tidak jadi menaiki motornya.
"Kalau jaket ini buat menutupi paha gue, terus gue nggak pakai jaket?" tanya Anggita lagi kepada Fatur ketika dirinya sadar akan baju yang sedang dipakainya malam ini.
Ya, dress yang Anggita pakai malam ini begitu sangat terbuka. Bahkan tidak ada tali yang terlihat di bagian tubuhnya. Fatur menutup kedua matanya sedikit kesal, baru saja satu masalah terpecahkan sekarang bertambah lagi masalah baru. Memang benar yang dibilang oleh Erik jika makhluk yang bernama perempuan itu sangat merepotkan. Rasanya Fatur sudah tidak ingin berbicara lagi atau membahas apa yang Anggita alami, tapi jika terus seperti ini sampai matahari terbit tidak akan selesai. Mengalah, itulah cara satu-satunya yang harus Fatur lakukan untuk kesekian kalinya.
"Jaket itu lo pakai buat menutup badan lo yang terbuka. Lagian gue heran sama lo kenapa bisa lo beli baju yang kekurangan bahan kaya gini?" tanya Fatur sedikit menyindir dengan nada yang mulai terdengar kembali kesal.
"Ini model, bukan kekurangan bahan!" balas Anggita menjelaskan tidak mau kalah.
"Whatever you say, yang jelas baju yang lo pakai itu kekurangan bahan."
Hal sekecil apapun akan menjadi perdebatan antara Fatur dan Anggita, dan tidak akan pernah selesai jika salah satu antara mereka tidak ada yang mau mengalah.
"Kalau gue nggak pakai jaket nanti gue kedinginan, mana cuacanya dingin banget lagi," keluh Anggita yang mulai meminta belas kasihan kepada Fatur berharap akan mengasihaninya.
"Terus lo mau gue buka baju gitu buat lo pakai? Pakai jaket aja paha lo nggak usah ditutupin." Fatur kembali mulai emosi menatap Anggita dengan sedikit sinis.
"Tapi..."
Belum selesai Anggita berbicara dengan cepat Fatur memotong ucapannya dengan nada tegas membuatnya menuruti perintahnya.
"Sudah hampir pagi nggak akan ada yang liat paha lo. Apa lo mau masuk angin gara-gara lo menutupi paha lo bukan tubuh lo?"
Benar juga yang diucapkan oleh Fatur, sudah pagi seperti ini jalanan sangat sepi jadi tidak ada akan yang melihat bagian pahanya. Mungkin hanya Fatur saja yang melihatnya dan itu sudah terlanjur. Sejenak Anggita berpikir sampai akhirnya menuruti ucapan Fatur. Gadis ini begitu sangat penurut walaupun sedikit rewel tapi membuat Fatur menyukainya.
Jalanan kota Batam pagi ini menjadi saksi bagi Fatur dan Anggita bahwa mereka berdua pernah mempunyai cerita diwaktu pagi hari. Entah mengapa Fatur begitu sangat bahagia dengan pertemuan ini, pertemuan dengan Anggita di diskotik. Walaupun papanya muncul di sana tidak membuat Fatur merasa takut, yang Fatur takutkan adalah jika Anggita mengetahui jika lelaki itu adalah papanya.
Jujur Fatur sangat malu mempunyai papa seorang polisi, karena dirinya sangat kecewa akan apa yang dilakukan papanya kepada mama dan dirinya. Kejadian itu membuat Fatur selalu menutup rapat siapa orang tua lelakinya, siapa papanya dan apa pekerjaannya.
Selama diperjalanan tidak ada kata yang terucap antara mereka berdua. Fatur yang terhanyut dalam rasa bahagianya kerena pertemuan dengan Anggita. Berbeda dengan Anggita yang begitu ketakutan saat Fatur mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya langit memberi salam diiringi rintik hujan yang semakin lama semakin membesar. Mengetahui hujan turun membuat Fatur bukan menepi tapi mempercepat kecepatan motornya sehingga membuat keduanya basah kuyup.
awas dingin ka
semangat Thor 😘
Hanya sebatas komen no like..
Hadir berdasarkan rekomendasi 🥰
jangan lupa mampir juga ya