Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA APA DENGANMU
Setelah mengakhiri panggilan pada Naura, Nasya membuka pesan, pesan yang banyak dari nomor yang sama yaitu Varel.
💌 udah bobo?
💌 kok ngak dibalas?
💌 woi balas..
💌 udah bobo?
💌nasya...
💌perlukah aku datang kerumahmu..
💌nasya..
💌kau sedang telponan sama siapa?
💌kenapa no ponselmu sibuk?
💌kamu selingkuh...
💌nasya...
"Dasar aneh," ucap Nasya mengeleng-gelengkan kepala dan mengabaikan pesan dari Varel, meletakan ponselnya di atas meja nakas.
"Ting.. tong... Bel depan rumah berbunyi.
"Siapa yang bertamu di jam segini sih, guman Nancy, membuka pintu depan.
"Selamat malam Bibi," Varel menyapa Nancy dan mencium punggung tangan Nancy.
"Varel?" Nancy bingung dengan kedatangan Varel.
"Mari masuk Nak,"
"Nasya ada bi?"
"Tunggu sebentar, akan bibi panggilkan."
Nancy melangkah cepat menuju kamar Nasya.
"Tok.. tok.. mengetuk pintu kamar Nasya.
"Kenapa mi?" Nasya dengan malas menghampiri Nancy sang mami.
"Ada tamu yang ingin menemuimu."
"Siapa mi, orang aneh mana lagi yang bertamu di jam segini." Menunjukan jam di meja nakasnya yang menunjukan pukul 10 malam.
"Ganti dulu baju mu, seksi banget, ngak sopan nemuin tamu dengan baju begitu." Ucap Nancy memperhatikan putrinya yang hanya mengenakan romper yang memperlihatkan leher jenjangnya serta paha mulusnya.
"Malas ah, begini aja ngak apa-apa." Menolak permintaan maminya. "Siapa memang tamunya?" tanpa menghiraukan maminya yang terlihat marah, terus berjalan menuju ruang tamu.
"Kamu akan menyesal, ngak dengarin mami." Bisik Nancy di telinga Nasya.
"Mami apaan sih,"
"Varel!"teriak Nasya kaget. Ketika dia tiba di ruang tamu. Terlihat Varel menatapnya tanpa berkedip.
Kenapa dia bisa ada disini.
Spontan Nasya membalikan badannya berlari kembali menuju kamarnya. Dia malu karena pakaian yang dia kenakan.
"Sudah dibilangin kok, keras kepala ya begitu jadinya." Berucap memandang Nasya yang berlari cepat menuju kamarnya.
Tiba di kamarnya, Nasya mengenakan night robe untuk menutupi romper mini yang ia kenakan.
"Ada apa?" Tanya Nasya kembali menemui Varel dengan pakaian yang lebih rapi.
"Kenapa lo ngak balas pesan dari gue?"
"Hah?"
"Pesan gue kenapa ngak dibalas?" Memperjelaskan pertanyaannya sekali lagi.
"Pesan lo kebanyakan, gue binggung harua balas yang mana. Lo sesambet apa, masa cuma karena gue ngak balas pesan dari lo, lo jauh-jauh datang kesini.
"Ngak kok, itu...itu... apa. hemm setidaknya balaslah salah satu, gue jadi mengkhawatirkan lo. gugup dan merasa malu karena menyadari keanehan pada dirinya. Varel mengaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.
"ih, lo tambah aneh aja."
"Lagian kalau gue ngak ke sini malam ini, gue ngak bakal tahu kalau lo berpakaian seseksi itu di rumah."
"Seksi gimana sih, itu biasa aja kali."
"Apanya yang biasa, di sinikan ada beberapa laki-laki, lo ngak malu memperlihatkan auratmu pada mereka."
"Lelaki siapa maksud lo, Zoan dia adikku dan Kenzo adalah Papiku.Mereka sudah terbiasa dengan pakaianku yang seperti itu.
"gue ngak suka melihat lo berpakaian seperti tadi."
"Varel lo kesambet apa sih, datang jauh-jauh kesini cuma karena gue ngak balas pesan dari lo dan sekarang ikut ngatur-ngatur cara berpakaian gue. Lo sehat kan?" meraba kening Varel, memastikan dia baik-baik saja.
Ketika tangan Nasya menyentuh kening Varel, jantung Varel beraksi berlebihan, jantungnya tiba-tiba berdegub kencang tak beraturan.
Varel menahan tangan Nasya yang meraba Keningnya, meletakan tangan tersebut didadanya. "Ini yang lagi sakit Nasya, apakah lo merasakan debaran jangtungku yang berdebar hebat ketika berada didekatmu?"
"Iya Varel, jantung lo kenapa begitu?Apa perlu kita bawa ke dokter? Ucap Nasya, tidak paham apa yang di maksud Varel.
"Haha, Varel tertawa pelan, kemudian mengacak-acak rambut Nasya yang duduk duisampingnya.
"Varel, stop rambutku nanti jadi kusut."
"Kamu gemesin banget sih,Nasya."
"Sudah hampir jam 11 loh, ngak sopan bertamu di rumah orang di jam segitu." Suara Kenzo, dia tiba-tiba berdiri di belakang Varel.
"Heh, Paman maaf. Varel pamit pulang dulu. Spontan Varel berdiri, membungkukan badanya berlari menuju pintu keluar kediaman Kenzo.
Nasya hanya tersenyum melihat tingkah konyol Varel saat ini.
"aku kenapa sih, mengapa di pikiranku hanya Nasya dan Nasya lagi." Umpatnya kesal setelah tiba di mobilnya.
Untuk meneangkan diri, Varel langsung masuk kamar mandi setibanya di rumah.
"Varel," Panggil sang Mama berdiri di depan pintu Varel.
"Iya Ma, Varel lagi mandi."
"Kamu sudah makan belum?"
"Udah Ma."
"Oh, ya sudah." Anita meninggalkan kamar Varel.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, dengan masih mengenakan handuk dia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Nasya.
💌 aku udah dirumah.
💌Syukurlah. Balasan singkat dari Nasya.
💌 Udah mau bobo ya?
💌belum.
💌Lagi apa?
💌rebahan aja di atas kasur.
💌gue baru habis mandi
💌ngak tanya.
💌maaf ya, kedatangan mendadak gue tadi.
💌 oke.
💌 gue video call ya.
Belum mendapat persetujuan dari Nasya,Varel sudah menghubunginya melalui panggilan Video call.
Panggilan pertama diabaikan, Varel tak berputus asa, dia kembali menghubungi Nasya.
"Kenapa?" Terlihat wajah kesal Nasya terpampang di layar ponsel Varel.
"gue pengen ngeliat wajah lo. "
"Lo mau balas gue dengan memamerkan tubuh lo yang bertelanjang dada."
"Apa?" Varel melihat tubuhnya hanya mengenakan handuk.
"Hiyaa, spontan dia menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Tunggu jangan di matikan,gue pengen pakai baju dulu." Dia menghilang dan kembali dengan mengenakan baju santainya.
Nasya hanya tersenyum melihat tingkah konyol Varel.
"Udah, maaf ya soal yang tadi."
"Wow aku sangat terpesona tadi." Nasya berniat mengoda Varel
"Gue tampankan?" Memainkan kedua alisnya naik turun.
"Biasa aja ah, gue juga sering liat yang begitu."
"Nasya." Varel Memperlihat muka sedih.
"Haha, tawa Nasya.
"Lo cantik banget kalau lagi ketawa,Nasya."
"Biasa aja ah. Nasya tersipu malu. "Sudah, matikan gue mau tidur."
"Nanti dulu, jangan di matikan."
"Varel, lo kenapa jadi aneh begini sih."
"Aneh gimana?"
"Lo ngak sadar kalau lo itu aneh."
"Ngak ah, biasa aja kok.
"Oh jadi pada semua wanita kamu juga begini sikapnya! "
"Hey bukan begitu. Tiba-tiba Varel bernyanyi
🎵🎵Saat kujumpa dirinya
Di suatu suasana
Terasa getaran dalam dada
Kucoba mendekatinya
Kutatap dirinya
Oh dia sungguh mempesona
Ingin daku menyapanya
Menyapa dirinya
Bercanda tawa dengan dirinya
Namun apa yang kurasa
Aku tak kuasa
Aku tak tau harus berkata apa
Inikah namanya cinta
Inikah cinta
Cinta pada jumpa pertama
Inikah rasanya cinta
Inikah cinta
Terasa bahagia saat jumpa
Dengan dirinya
Kujumpa dia berikutnya
Suasana berbeda
Getaran itu masih ada
Aku dekati dirinya
Kutatap wajahnya
Oh dia tetap mempesona
Rindu terasa
Dikala diri ini ingin jumpa
Ingin s'lalu bersama
Bersama dalam segala suasana
Dengan suara merdunya Varel menyanyikan lagu itu, lagu yang mengambarkan suasana hatinya saat ini.
.
.
.
.
.
🕊🕊
Thaks buat yang sudah mampir, semoga kalian menyukai ceritaku. 😘😘
selalu dukung Author ya🙏🙏