"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETEKTIF JALANG
Jengkel sekali rasanya menemani Tristan menemui klien setelah maghrib. Sejak pukul 5 aku sudah di ruangan Tristan dan hanya bermain ponsel, sedangkan bos ganteng itu masih sibuk dengan dokumen-dokumen. Menjelang maghrib sungutku serasa keluar, bagaimana tidakTristan mandi, mengganti kemejanya dengan kaos berkerah dan celana jeans.
"Kamu mau mandi dulu?" tanyanya dengan santai.
"Mau, tapi gak punya baju ganti. Tau gini aku keluar sebentar beli baju, daripada nunggu gak jelas," omelku.
"Udah mandi aja dulu, tunggu Arik dulu, tadi udah aku suruh beli kebutuhan kamu."
"Handuk?" tanyaku menyela Tristan yang hendak sholat maghrib.
"Di lemari sayang."
"Sikat gigi?"
"Ambil di etalase kamar mandi ada," ucap Tristan dengan sabar. Aku banyak bertanya karena aku gak pernah masuk ke ruang pribadi Tristan. Tak kusangka, ruang pribadi Tristan lengkap juga.
"Mas, bajukuuuuuuu," teriakku dan aku yakin Tristan sudah selesai sholat.
Tok
Tok
Tok
Aku membuka sedikit pintu kamar mandi, dan menyodorkan tanganku.
"Gak bakal aku apa-apain kamu sayang," ucap Tristan, sedikit membuatku tenang. Tapi aku tetap waspada saja, Tristan laki-laki normal, meski selama ini ia tidak pernah berbuat aneh-aneh.
Aku sholat dan bersiap dengan baju yang disediakan, celana jeans, kaos lengan panjang dan astagfirullah pakaian dalam kenapa bisa pas, jangan sampai Arik selama ini menelisik tubuhnya, huh ...memikirkan hal itu pengen gue getok aja pikiran Arik, pantas saja dia mau main sama istri orang, playboy cap kingkong.
"Udah siap?" tanya Tristan, duh cowokku ganteng banget.
"Mas..," aku mendekat dan berbisik pada Tristan mau komplain kelakuan 'mesum' Arik. "Yang beli pakain dalamku siapa?"
"Arik."
"Kok tau?"
"Ya aku beritahulah."
Aku spontan memukul lengan Tristan, "Mesum,"
"Ya kan kemarin kamu di WA mama toh, buat seserahan."
Gantian aku yang nyengir, masih ingat kemarin malam Mama Tristan mengirimku pesan menanyakan berbagai size kebutuhanku, termasuk pakaian dalam. "Mama kok bilang sama kamu sih."
"Mama muji kamu, makanya aku tahu."
"Muji gimana?" tanyaku curiga.
"Kukira Ata itu minimalis ternyata 36D loh, Yan," Tristan meniru ucapan mama dengan senyum jahil, dan tanpa ba bi bu kucubit lengannya.
Tepat pukul 7 malam, kita sampai di restoran mewah. Aku memaksa di lain meja saja, biar Tristan leluasa membahas proyeknya.
Beruntung Tristan mengiyakan, aku bisa leluasa bermain ponsel, menanti kabar dari Lita dan Mbak Tiwi.
DETEKTIF ******
Aku menahan tawa dengan nama grup yang dibuat Lita beberapa detik lalu. Grup yang berisikan aku, Lita dan Mbak Tiwi mungkin lebih mudah koordinasi pergerakan Evelyn.
Ya Allah, Tuhan, sumpah kurang kerjaan banget kita ini. Sebegitunya pengen tahu kehidupan Evelyn. Bingung juga apa motif kita mengorek kehidupannya. Sepertinya perlu ada rapat khusus untuk menelaah motif kita.
Lita: Pak Dar otw ke apartemen jalan S
Mbak Tiwi: Tapi di mobil sendirian.
Me: Heh....kalian yang nyetir mobil siapa?
Lita: Lo gak tahu ya, Ta. Mbak Tiwi bawa cowoknya demi misi khusus ini.
Mbak Tiwi: Peringatan aja, biar kalau ketemu Evelyn gak tergoda.
Lita: Kalau tergoda?
Mbak Tiwi: Gue bejek tuh perempuan.
Me: Jangan nyalahin ceweknya doang, Mbak. Hubungan terlarang itu karena mau.
Lita: Gue pikir Evelyn itu pakai pelet deh.
Me: Jangan fitnah,Litaaaaaa. Meski kita lagi ada misi, tetap aja kalau bukan fakta jangan disebar, jatuhnya fitnah.
Lita: Baik ustadzah.
Mbak Tiwi: Ini bukan fitnah sayang, udah kenyataan kalau Evelyn tuh ******.
Lita: Mbak...mbak.....Evelyn.
Me: Kirim gambar, Lit.
Aku sudah gusar, menanti pengintaian mereka berdua. Kalau saja aku di sana, sudah pasti aku ikutan gemas atau malah hanya melongo.
Ting
Ting
Ting
Ting
Aku melotot mendapat kiriman gambar dari Lita, belum aku download tapi aku yakin gambar itu mengandung makna dalam hubungan terlarang yang dilakukan Pak Dar.
Dengan perasaaan cemas, kudownloaf satu per satu gambar itu. Kolase gambar tersebut membuatku deg-degan, Pak Dar yang hanya menjemput seorang wanita dari apartemen, lalu mobil Pak Dar di restoran yang sekarang dirinya berada. Gambar terakhir membuatku lemas, ternyata Pak Dar bertemu Evelyn di restoran ini.
Me: kalian di mana, aku di dalam restoran dekat private room.
Lita: Kok bisa?
Me: Nemenin bos ganteng.
Mbak Tiwi: Oke kita kesitu.
Berharap meeting Tristan lama, dan aku bisa menunggu kedua sahabatku. Berselang lima menit saja, aku sudah menangkap kehadiran kedua sahabatku.
"Gimana ini, gue pengen tahu di meja sana," Mbak Tiwi memang yang paling kepo akan kelanjutan hubungan Pak Dar dan Evelyn, setelah ditelisik lebih jauh ternyata istri Pak Dar adalah kakak kelasnya dulu saat SMA. Dunia sempit sekali. Istri Pak Dar dan Mbak Tiwi bertemu sesaat beliau mencari perempuan yang bernama Elin tempo hari, disitulah tabir kedekatan Evelyn dan Pak Dar terkuak.
"Mbak, jangan grusah grusuh. Harus punya taktik menghadapi Evelyn," saranku. Meski misi ini gak penting, tetap saja perlu strategi menghadapi perempuan cerdik kelewat licik seperti Evelyn ini.
"Kalian tau gak, Mbak Asna (Istri Pak Dar) hampir tiap hari chat gue, gimana Pak Dar di kantor masih berhubungan kah dengan si Elin," jelas Mbak Tiwi dengan menggebu. Memang Asna dan Tiwi tidak dekat, hanya saja sebagai perempuan yang saling mengenal ada perasaan iba dan siap membantu untuk menyelamatkan rumah tangga temannya.
"Aku heran sama mereka yang di selingkuhi, kenapa harus mempertahankan sih. Udah jelas dikhianati, aku yakin kepercayaan juga udah pupus," aku berpikir secara realistis. Suatu hubungan toxic gak perlu lah dipertahankan, justru kalau semakin memaksa malah menyakiti salah satu pihak.
"Ya itu kan pemikiran kita sebagai perempuan single, belum berkeluarga dan belum punya anak. Pasti Mbak Asna memikirkan masa depan anak-anaknya lah. Dia juga tidak bekerja," Mbak Tiwi bijak sekali.
"Nah...kebanyakan memang seperti ini. Si istri rela dimadu atau diselingkuhi dan bèrtahan demi anak karena ekonomi, mereka tidak memikirkan hati yang tersakiti yang penting kebutuhan anak tercukupi. Dari sini kita belajar sih, jangan sampai perempuan hanya berpangku tangan pada uang suami. Harus mandiri secara financial, kalaupun gak bekerja di instansi bisalah jualan sambil mengasuh anak," Lita mengungkapakan sisi perempuan cerdas.
Aku manggut-manggut saja, ada benarnya yang diucapkan Lita, mandiri secara financial, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, jangan pernah menggantungkan ekonomi pada suami saja. Bisa jadi bukan selingkuh saja yang membuat perempuan harus mandiri financial, tapi memprediksi suami yang meninggal atau PHK.
"Lo juga nanti jangan jadi Nyonya Tristan ongkang-ongkang doang, Ta. Tetap bekerja meski gak di kantor," Mbak Tiwi memberi nasehat.
"Iya," balasku yang memang setuju dengan pemikirab kedua sahabatku ini.
"Apalagi Pak Tristan WOW di semua lini, dijaga ekstra ketat," Mbak Tiwi masih menasehati. Mungkin tahu apa yang aku khawatirkan ketika menolak Tristan dulu.
"Beres, kepercayaan dan komunikasi memang harus dibangun sedini mungkin untuk menguatkan hubungan kita," ucapku mantap.
"Pintar," sahut Lita dan Mbak Tiwi kompak.
"Makasih ya detektif ******," godaku mengingat nama grup baru kita. Kami pun tertawa hingga suara seseorang menghentikan tawa kami.
"Kalian ngapain?"
#########
Jangan lupa mampir ke karyaku lain
CINLOK
SULUNG
Terimakasih
Happy Reading 😍😍😍
yg jelas ditunggu kelanjutannya