Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.
Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.
Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?
Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tirai Cinta yang Terkoyak
Ketika melihat Bu Maya yang muncul di ruang tamu, bersama Guntur yang berada di belakangnya, Bu Hamidah langsung bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat merah membara menahan amarahnya yang bergejolak di dalam dirinya. Namun ia masih berusaha untuk menyembunyikan perasaan yang sejak tadi dipendamnya.
"Eh, mimpi apa Aku tadi malam! Kedatangan tamu agung! Kok datang kesini nggak ngasih kabar dulu, Bu Hamidah?" Seru Bu Maya sambil berjalan menghampiri Bu Hamidah.
"Iya Bu Maya! Kita datang kesini mendadak!" Balasnya. Mereka berdua pun saling menempelkan pipi kanan dan kirinya. Lalu Bu Maya bersalaman dengan Wina, yang duduk disebelah kiri ibunya.
"Wina! Kamu tambah cantik aja!" Pujinya sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Makasih Tante!" Balas Wina sambil menyambut tangan kanannya.
"Maaf ini Bapaknya Wina ya?" Tanya Bu Maya tersenyum manis.
"Iya Bu. Perkenalkan namaku Santoso Raharja. Panggil aja Pak Santoso!" Balas Pak Santoso sambil mengulurkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
"Nama Saya Bu Maya! Teman SMA-nya Bu Hamidah!" Bu Maya menyambut tangan kanan Pak Santoso. Mereka berdua pun saling berjabat tangan dengan wajahnya mengulum senyum lebar.
"Ternyata ibunya Guntur masih terlihat cantik dan awet muda!" Puji Pak Santoso dalam hati. Tanpa disadari oleh Pak Santoso dan Bu Maya, Bu Hamidah memandangi tangan kanan mereka yang cukup lama bersalaman. Ia pun bergegas mengeluarkan suara.
"Eeehhhmmm." Mendengar suara dari mulut Bu Hamidah, Bu Maya dan Pak Santoso seolah baru tersadar dari pengaruh hipnotis. Mereka berdua pun langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Oh ya, perkenalkan ini anak tunggalku namanya Guntur!" Bu Maya menoleh kearah belakang.
"Malam Om!" Sapa Guntur dengan grogi. Ia pun mengajak bersalaman dengan Pak Santoso. Setelah bersalaman dengannya, lalu ia bersalaman dengan Wina dan Bu Hamidah. Ia pun duduk disamping kiri ibunya dengan jantung berdetak kencang.
"Kabar Bu Hamidah sekeluarga baik?" Sapa Bu Maya kembali membuka pembicaraan.
"Kabar Kami kurang baik, Bu! Terutama Wina!" Jawab Bu Hamidah dengan ketus.
"Memangnya Kamu kenapa Wina?" Bu Maya terkejut.
"Wina sedang dilema oleh seorang laki-laki! Dia takut lelaki yang sudah berjanji untuk menikahinya akan mengingkari janjinya!" Balas Bu Hamidah.
"Oh masalah laki-laki! Kirain apaan! Apakah laki-laki yang dimaksud adalah Ferdy keponakanku?" Tanya Bu Maya tersenyum.
"Ferdy siapa Tante? Aku nggak kenal Ferdy!" Wina baru pertama kalinya mengeluarkan suara. Setelah sejak tadi hanya berdiam membisu.
"Katanya Guntur, Kamu dikenalin sama Ferdy! Bukankah begitu Gun?" Tanya Bu Maya menengok kearah Guntur yang berada di sebelah kirinya.
"Bu, Aku mau bicara yang sebenarnya." Balas Guntur gugup. Keringat dingin mengucur di wajahnya yang tampan. Bu Maya kembali hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba saja Sovia muncul di ruang tamu sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat lima buah cangkir teh hangat. Sovia pun menaruh kelima cangkir tersebut, diatas meja dihadapan mereka.
"Silahkan diminum dulu Pak Santoso, Bu Hamidah, Wina! Maaf cuma seadanya!" Pinta Bu Maya.
"Aku mau jujur Bu. Sebenarnya Aku belum perkenalkan Wina dengan Ferdy." Guntur bersuara dengan perlahan.
"Kenapa Kamu harus bohongin Ibu, Gun?" Tanya Bu Maya penasaran.
"Karena..." Guntur tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Karena apa Guntur?" Tanya Bu Maya semakin penasaran.
"Karena Guntur sudah menghamili Wina!!!" Teriak Bu Hamidah dengan keras. Begitu mendengar teriakan Bu Hamidah, Sovia yang sedang berjalan meninggalkan ruang tamu, langsung berdiri mematung. Tubuhnya seperti disambar petir di malam yang sunyi. Sedangkan Bu Maya tidak kalah kagetnya, sampai ia beranjak dari tempat duduknya. Lain halnya dengan Wina. Ia hanya duduk berdiam diri. Hanya terdengar suara isak tangisnya. Air matanya pun terlihat membanjiri kedua pipinya.
"Apa??? Apa Aku nggak salah dengar ucapan Bu Hamidah?" Tanyanya.
"Bu Maya sama sekali nggak salah dengar! Anak Ibu memang sudah merusak kehormatan anakku! Guntur sudah merusak masa depan Wina! Dan sekarang Wina sedang mengandung anaknya Guntur!!!" Jawab Bu Hamidah dengan keras sambil kembali bangkit berdiri. Mendengar jawaban Bu Hamidah, tubuh Sovia mendadak lemas tidak bertenaga. Air matanya seketika langsung mengalir dipipinya dengan derasnya. Nampan yang terbuat dari seng, langsung terlepas dari genggaman tangan kanannya dan jatuh diatas lantai keramik.
Trraannnggg...trrraaannnggg...trrraaannng...
"Bohong...!!! Mas Guntur nggak mungkin melakukan perbuatan serendah itu!!! Mas Guntur sudah cerita semuanya!!! Mas Guntur sama sekali nggak merasa telah berzina dengan Wina!!! Mas Guntur pasti dijebak!!!" Teriak Sovia dengan keras, yang membuat semua orang yang berada di tamu langsung memandang kearah Sovia, yang berdiri dekat pintu menuju ruang keluarga.
"Dari mana Kamu tahu kalau Guntur sudah dijebak, Sovia?" Tanya Bu Maya terkejut sekali.
"Sewaktu Mas Guntur berhasil menolong Wina dari lelaki yang hendak menodainya, Mas Guntur meminum segelas soda pemberian Wina. Begitu meminum minuman itu, Mas Guntur sama sekali tidak ingat apa-apa. Begitu sadar, Mas Guntur sudah berada didalam kamar bersama Wina tanpa sehelai pun pakaian!!!" Jawab Sovia dengan yakin.
"Benarkah yang dikatakan istrimu, Gun?" Tanya Bu Maya masih belum yakin.
"Betul sekali Bu! Aku sama sekali nggak sadar telah merusak kehormatan Wina!" Balas Guntur dengan tegar.
"Kurang ajar...!!!" Teriak Bu Hamidah sangat marah. Telapak tangan kanannya langsung melayang kearah pipi kiri Guntur.
Ppplllaaaaakkkkk...!!!
"Maaf Bu!!! Tapi Aku sama sekali nggak merasa telah menodai Wina!!!" Seru Guntur dengan berani.
"Setelah mengambil kesucian Wina, Kamu mau lepas tangan??? Lelaki busuk!!!" Maki Bu Hamidah.
"Tapi Aku yakin, bukan Aku yang sudah menghamili Wina! Siapa tahu ada lelaki lain yang pernah tidur bersama Wina!" Seru Guntur membela diri.
"Brengsek...!!! Jadi Kamu menuduh anakku memfitnah Kamu??? Kamu pikir anakku, perempuan murahan yang suka gonta-ganti pasangan???" Tanya Pak Santoso dengan keras. Tanpa ragu-ragu ia melayangkan tangan kanannya yang telah menggenggam, kearah bibir Guntur dengan keras sekali.
Bbbuuukkkkk...!!!
"Tolong Pak, Bu!!! Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik!!! Pinta Bu Maya sambil memegangi lengan anaknya yang terjatuh diatas sofa.
"Kami datang kesini secara baik-baik! Tapi kalau Guntur nggak mau bertanggung jawab terhadap Wina, jangan harap lusa ia bisa melihat matahari terbit! Akan Aku laporkan Dia ke kantor polisi atas tindakannya yang telah memperkosa Wina!!!" Ancam Bu Hamidah.
"Betul! Biar anak kesayanganmu membusuk di penjara!" Pak Santoso menimpalinya.
"Tolong Bu Hamidah, Pak Santoso! Jangan laporkan Guntur ke kantor polisi! Guntur mau bertanggung jawab kok Pak, Bu!" Pinta Bu Maya sambil menangis sesenggukan.
"Aku masih nggak percaya kalau belum mendengar ucapan itu dari mulutnya Guntur sendiri!" Balas Bu Hamidah dengan sinis.
"Guntur, Kamu mau kan menikahi Wina? Ibu sudah kehilangan Bapak! Jangan biarkan Ibu kehilangan Kamu!" Katanya. Air matanya terus menerus mengalir dipipinya.
"Tapi Bu, Aku sudah mempunyai istri! Aku nggak bisa menduakan cintanya Dek Sovia!" Balas Guntur menahan sakit sambil mengusap darah segar yang keluar dari sela bibirnya.
"Aku ikhlas kalau Mas menikahi Wina! Aku nggak ingin kehilangan Kamu, Mas!" Sovia memegang jari-jemari tangan kiri suaminya. Kedua matanya yang basah menatap tajam kearah mata suaminya. Guntur membalasnya dengan tatapan mata yang mendalam. Perlahan Sovia memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku bersedia menikahi Wina! Tapi dengan satu syarat! Wina harus menerima Sovia sebagai istri pertama! Dan Wina menjadi istri kedua! Apakah Kamu sanggup, Wina?" Tanya Guntur.
"Sanggup! Aku mau menjadi istrimu! Walaupun harus menjadi istri kedua!" Balas Wina dengan sumringah.
"Kalau begitu Kami membatalkan rencana Kami untuk melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian! Kutunggu Kalian untuk melamar Wina! Hari minggu besok jam 10! Sekarang Kita pamit pulang dulu!" Ucap Bu Hamidah. Ia pun berjalan menuju pintu depan diikuti oleh suami dan anaknya. Begitu keluar dari dalam rumah, mereka bertiga berjalan menuju mobil milik Pak Santoso yang terparkir didepan pagar. Setelah masuk kedalam mobil, dengan cepat mobil itu melaju meninggalkan rumah Bu Maya.