Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Freedom
Memasuki penginapan, aku tak tau harus berkata apa jika Fiora menanyakan anak itu. Ku harap ia sudah tidur saat aku masuk ke kamar.
"Hari yang cukup berat," Ucapku sembari menahan rasa lelah.
Untungnya, Fiora terlihat tertidur lelap ketika aku memasuki kamarnya, aku membuka semua pelindungku dan menggantinya ke pakaian biasa. Aku bersiap tidur di samping Fiora.
Ruangan gelap dan hanya ada cahaya di tengah membuat diriku kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Tuan, tolong beli korek api ini tuan," Ucap seorang anak perempuan.
"Aku tak memiliki uang nak."
"Tolong beli korek api ini tuan, tolong beli korek api ini tuan."
"Maaf nak, aku tak punya uang untuk membelinya."
"Tolong beli korek api ini tuan, TOLONG BELI KOREK API INI TUAN." Semaikin lama ia mengulang kata itu, semakin keras ia berteriak.
Anak perempuan yang menggunakan jaket bertudung merah perlahan berubah menjadi sesuatu yang cukup mengerikan.
"TOLONG BELI KOREK API INI TUAN." Suara anak perempuan itu berubah menjadi suara monster yang aku tak tau itu monster apa.
Mukanya membesar dan membelah menjadi 2, badan kecilnya menjadi lebih besar dan tinggi dengan tulang menonjol seperti ranting pohon, tangan mungilnya menjadi tangan monster yang membesar dan berkuku tajam, kaki kecilnya berubah seperti beruang yang berbulu oleh darah
"TOLONG BELI KOREK API INI TUAN." Ia terus mengatakan itu tanpa henti.
"Hei Desmon, kita bertemu lagi." Ucap Fury yang datang dan menepuk bahuku dari belakang.
"Fury? Apa ini alam jiwa?."
"Yap, tepat sekali."
"Apa yang terjadi dengannya?."
"Sepertinya kau mempunyai pengalaman pahit atau seperti itu dengan seorang anak perempuan."
Aku mengingat apa yang pernah ku alami, melihat anak itu semakin membesar dan bertranformasi menjadi hal yang mengerikan, aku bertanya kepada Fury apa yang harus ku lakukan.
"Apa kau punya ide bagus untuk ini?."
"Ya.... bunuh dia adalah satu satunya jalan."
"Tapi aku tak memiliki pedang di sini."
"Coba kau kuatkan pikiranmu untuk memiliki pedang di tanganmu."
Aku mencoba menguatkan pikiranku dan benar saja, pedang ku tiba tiba ada di tangan kananku.
"Jadi.... apa kau siap untuk menyerangnya?." Tanya Fury
Mengambil kuda kuda untuk menyerang, akupun mengayunkan pedangku ke arah tanganya ketika ia berusaha menyeraku.
Tangan monster itu terbelah, sepertinya ia lemah di dalam pertahanan.
Aku menyerang dadanya dan mengeluarkan darah berwarna hitam, ku putuskan tangan kirinya dan membuat ia tak memiliki lengan.
"Kau barusaja membelah tanganya dengan mudah, sekarang yang kau perlu lakukan adalah memenggal kepalanya." Ucap Fury yang terlihat menikmati pertarungan ini.
Aku bersiap untuk memenggalnya, mendapati ia sedang berusaha menyerangku dengan sundulan kepalanya, aku berhasil menghindarinya dan membelah kepalanya menjadi 2 bagian.
"To-long beli ko-rek api i-ni tu-." Sebelum ia selesai mengatakannya, ia mati dengan keadaan yang cukup mengerikan.
"Ku harap apapun itu bisa beristirahat dengan tenang."
"Hei Desmon, sepertinya Fiora ada di sini juga."
Fiora berada di ujung ruangan, perlahan menghampiri anak yang menjadi monster yang kubunuh tadi.
"Desmon, kenapa kau membunuhnya?."
"Dia berubah menjadi monster Fiora."
"Tapi kenapa? hanya itu alasanmu?."
"Dia mencoba membunuhku Fiora, tolong mengertilah."
"TAPI KENAPA? APA HANYA MENBUNUH YANG KAU TAU?."
"Tidak, maksudku-" Sebelum aku menjelaskannya, ia memotong pembicaraanku.
"KENAPA KAU HARUS MEMBUNUH SEORANG ANAK YANG BERUSAHA BERTAHA HIDUP!?, KENAPA KAU BEGITU NAIF DAN KEJAM!?, KENAPA KAU MEMILIKI HATI JIKA DI DALAMNYA TERDAPAT KEGELAPAN!?." Kata kata darinya membuatku terdiam dan tertunduk.
"Aku kecewa padamu Desmon, aku mengira kau adalah lelaki yang baik seperti dulu."
Ia berjalan menghampiriku dan menusuk dadaku menggunakan tangannya, aku hanya bisa melihat dirinya dan terjatuh seperti akan kehilangan nyawa.
Sesaat setelah aku menutup mata, aku terbangun dari tidurku. Sepertinya mimpi buruk datang menghampiriku untuk kedua kalinya.
"Tenanglah Desmon, aku ada di sampingmu." Ucap Fiora sembari memegang erat tanganku.
"Aku... apa yang terjadi kepadaku?."
"Kau tadi seperti bermimpi buruk Desmon."
Melihat ke arah Fiora, sepertinya aku membuat ia cemas.
"Apa kau ingin sarapan Desmon? aku bisa membuatkan yang kemarin untukmu."
"Ya, terimakasih Fiora."
Ketika Fiora terbangun dan mengambil tas selempang miliknya, aku mendekati arah jendela dan melihat pemandangan yang kemarin terjadi.
"Mereka berebut makanan seperti kemarin."
"Ya Desmon, itu terjadi bahkan di saat matahari baru saja terbangun."
"Pemerintah di sini tidak memiliki moral dan perasaan terhadap warganya sedikitpun."
Aku melihat beberapa warga seperti berkelahi dengan tentara atau suruhan petinggi yang menjual makanan itu.
"Desmon, aku sudah selesai membuatnya, ayo kita sarapan dulu."
"Terimakasih Fiora."
Aku memakan makanan itu dengan lahap, energi tubuhku terasa terisi ulang setelah tidur dan sarapan di pagi hari.
"Fiora, apa kau membawa air di tasmu?."
"Ya aku bawa."
Setelah selesai dengan semua itu, aku besiap memakai perlengakapku.
"Kau mau ke mana Desmon?."
"Aku akan ke bawah sebentar Fiora, kau sebaiknya tidak meninggalkan kamar ini sebelum aku datang kembali."
"Baiklah."
Aku berjalan menuju arah bawah, melihat kerumunan yang sedang berebut makanan membuatku tertarik untuk mendekatinya.
"Hei tuan, berapa harga roti dan kentang ini?." Ucapku bertanya ke salah satu penjaga.
"4 Koin emas untuk kentang itu dan 5 koin emas untuk rotinya." Ucap penjaga yang terlihat seperti seorang tentara kaya raya sembari tertawa kecil, sepertinya hanya dia yang tenang di keadaan seperti ini dan penjaga lainya kewalahan atau takut dengan warga yang protes.
"APA KAU TIDAK WARAS? KAU BILANG TADI KENTANG ITU SEHARGA 8 KOIN EMAS DAN ROTI ITU SEHARGA 10 KOIN EMAS." Ucap seorang warga yang terlihat kesal dengan perilaku tentara itu.
"Diamlah rakyat jelata, kau tidak tau alasannya."
"Apa alasannya?." Ucapku dengan nada sedikit marah.
"Hehe, kau tau, kau adalah orang pertama yang membeli makanan ini dengan perlengkapan dan persenjataan lengkap, jadi aku memberikan diskon untukmu."
"SIALAN KAU TENTARA KORUP." Ucap seorang pria yang marah kepadanya.
"Baiklah, kau memberikan ku diskon tapi tidak terhadap rakyat yang kelaparan ini ya?." Ucapku dengan nada sedikit marah.
Aku mengambil segenggam koin emas dan menyimpanya di atas meja penjaga itu, sepertinya itu 200 koin lebih.
"Kalau aku membeli semua ini dengan harga diskon yang kau berikan tidak apa apa kan?."
"A-APA?."
"Baiklah, para warga Agonim, kalian bisa mengambil makanan ini sesuka kalian." Ucapku kepada para warga yang berada di sekitar.
Mereka terlihat bahagia setelah aku mengatakan itu.
"Terimakasih nak, kau adalah pahlawan bagi kami." Ucap seorang warga yang berlari ke arah tumpukan makanan.
Di saat para warga sibuk mengambil makanan itu, aku meloncat ke arah tentara korup dan menyerangnya, Ku putuskan kedua kakinya dan membuat dirinya tak bisa berjalan.
"AAAAAAAH, APA YANG KALIAN LAKUKAN, CEPAT SERANG DIA!." Teriak tentara kaya raya yang tak mempunyai kaki.
"Kalau kalian menyerangku kalian akan tau akibatnya, aku tau kalian di paksa oleh tentara berengsek ini." Ucapku kepada tentara yang lain.
Mereka menurukan pedang milik mereka dan diam melihat apa yang terjadi kepada tentara berengsek ini, sepertinya dugaanku benar bahwa mereka di paksa melakukan hal keji seperti ini.
"KAU AKAN MENYESAL, KAU BELUM TAU BAHWA AKU ADALAH ANAK DARI PEMERINTAH KOTA INI!."
"Dan dimana ia sekarang?." Ucapku dengan nada mengintimidasi.
Ia tiba tiba tak mengatakan apapun, sepertinya aku harus memaksa dirinya untuk memberitahu dimana letak pemerintah korup itu.
"Desmon, apa kau tak tau bahwa Fiora melihat apa yang kau lakukan? ia seperti terkejut dan sedikit takut melihat apa yang terjadi."