Hai, ini kisah pertamaku yang berkolaborasi dengan salah satu temanku Amanda. Karya ini murni hasil khayalan kami berdua. Semoga kalian suka ya? Ini cerita Kerajaan di abad 21.
Aithan Regner Cainio, adalah pangeran ketiga yang sebenarnya bukan ahli waris kerajaan. Makanya ia memilih menjauh dari istana dan akhirnya jatuh cinta pada Argani Christabel, seorang Mahasiswi asal Indonesia yang derajat sosialnya sangat berbeda jauh dari Aithan.
Setelah susah payah Aithan mendapatkan cinta Argani, ia justru dipanggil pulang ke istana untuk menjadi raja. Dan sebagai raja, Aithan hanya bisa menikah dengan putri bangsawan. Aithan hanya bisa menjadikan Argani sebagai selirnya. Sementara Argani tidak ingin cintanya dibagi.
Bagaimana Aithan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja dibalik semua kelicikan di istana yang ingin menjatuhkannya? Apakah ia rela melepaskan cinta sejatinya demi tahta yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepi Tanpamu
Dengan wajah yang sedikit lelah, Argani mencuci tangannya di wastafel. Ini adalah hari kelima ia bertugas di IGD. Rumah sakit ini adalah rumah ini adalah salah satu rumah sakit pemerintah. Argani sudah dua kali ditugaskan di sini. Tugasnya hanya membantu saja jika dimintakan. Namun Argani senang karena mendapatkan banyak pengalaman saat berada di sini. Semakin banyak kelas praktek yang dijalaninya akan semakin baik nilainya nanti.
selesai Argani mencuci tangan, ia segera ke toilet untuk mengganti pakaiannya. Sebentar lagi ia akan pulang setelah semalaman berjaga di IGD ini dengan pasien yang lumayan banyak.
"Argani....!" Panggil seseorang saat Argani keluar dari toilet.
"Kak Reza?" Argani langsung tersenyum.
Reza akan menyelesaikan studinya. Makanya waktunya lebih banyak berada di rumah sakit.
"Sudah selesai jam jaganya?" tanya Reza.
"Iya, kak."
"Kita sarapan bersama, yuk! Aku juga sudah selesai jam jaganya. Semalaman aku berada di ruang khusus jantung." ujar Reza. Argani mengangguk. Ia juga merasa lapar.
Keduanya kini duduk di dalam cafe rumah sakit yang ada di lantai satu.
"Aku mendengar dari dokter Merry Walss kalau kamu mendapatkan nilai tertinggi untuk semester ini." ujar Reza sambil menunggu pesanan.
Argani hanya bisa tersenyum tipis. Ia tak mau sombong setiap kali ada orang yang memujinya.
"Aku pikir kamu akan ikut dengan Aithan."
"Kami baru 2 bulan jadian. Rasanya terlalu cepat untuk ikut liburan dengannya ke rumahnya. Apalagi aku belumlah menjadi apa-apa. Aku hanya mahasiswi biasa. Mungkin kalau aku sudah jadi dokter maka semuanya akan berbeda."
Reza mengangguk setuju. Ia semakin kagum dengan Argani. Kebanyakan gadis, bila sudah dekat dengan pria kaya, ia akan menempel begitu saja tanpa peduli dengan yang lain. Bahkan dengan keluarga pria itu. Reza merasa kalau Argani adalah gadis yang memiliki harga diri. Dibesarkan dalam keluarga miskin tak membuat gadis itu mendadak ingin kaya saat pacaran dengan orang setajir Aithan.
********
Sementara itu, di kerajaannya, Aithan nampak duduk termenung sambil menatap butiran salju yang jatuh.
Seminggu berpisah dari Argani membuat Aithan begitu merindukan gadis itu. Ia sedikit sedih karena Argani menolak untuk ikut. Pada hal Aithan ingin mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Saat ini, Aithan ada di camp musim dingin. Sejak pagi ia sudah latihan menembak, bela diri dan bagaimana menyusun strategi menghadapi musuh.
Aithan akan berhenti ikut camp jika ia sudah berusia 25 tahun.
Darren datang membawakan kopi untuk Aithan.
"Sebentar sore kita akan meninggalkan camp ini dan menuju ke istana." ujar Darren.
"Bukankah aku harus ada di sini selama 2 minggu?"
"Lupa dengan ulang tahun Baginda raja?"
Wajah Aithan nampak kurang bersemangat. "Aku rindu kembali ke London. Rindu pada kekasihku."
"Sabar, pangeran. 2 Minggu lagi kalian akan berjumpa."
Aithan mendesah kesal. "Dua minggu itu rasanya seperti 2 tahun saja. Aku hampir gila karena terus memikirkannya. Kami bahkan jarang berkomunikasi karena ketatnya aturan di camp ini."
"Sore nanti kan pangeran bisa meneleponnya."
Ada senyum di wajah Aithan. Ia memang sangat ingin mendengar suara Argani.
Sorenya, ditemani Darren dan 2 pengawal lainnya, Aithan pun keluar dari camp. Ia diberi ijin selama dua hari untuk mengikuti acara di istana. Besok adalah ulang tahun dari sang raja.
Saat mobil meninggalkan camp, Aithan langsung menghubungi Argani dengan panggilan Videocall. Argani nampak baru bangun tidur karena ia baru saja lepas tugas saat pagi hari.
"Sayang, kau tahu kalau aku hampir gila memikirkan mu.."
Argani tersenyum. Senyum yang membuat Aithan selalu merasa tenang.
Benarlah apa yang dikatakan orang-orang. Jika ingin melihat kecantikan asli seorang wanita, lihatlah saat ia baru saja bangun tidur. Dan hari ini Aithan mengakui. Argani memang benar-benar cantik alami.
Darren dan dua pengawal yang melihat bagaimana bucin nya sang pangeran pada kekasihnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Mobil pun memasuki istana. Permaisuri Viola langsung menyambut anaknya dengan pelukan hangat.
"Mama sangat merindukanmu."
Sejak pulang ke kerajaan, Aithan memang belum bertemu mamanya karena ia langsung di bawah ke camp militer. Hal itu terjadi karena Aithan pulang terlambat makanya ia tak punya waktu untuk sekedar datang ke istana.
Aithan memeluk mamanya. Sejak kecil ia memang lebih dekat dengan mamanya. Papanya terlalu sibuk dengan tugas negara.
"Ganti baju dan bersiaplah untuk makan malam."
Aithan menuju ke kamarnya yang ada di lantai 3 istana ini. Sedangkan kamar papanya ada di lantai 4.
Saat ia berada di lorong untuk menuju ke kamarnya, ia berpapasan dengan kakaknya, sang putra mahkota yang bernama pangeran Cloudio.
"Hei adikku, akhirnya kau datang juga."
Kedua kakak beradik itu saling berpelukan secara jantan. Cloudio usianya sudah 32 tahun. Ia sudah menikah dan memiliki satu orang putra. Istri Cloudio bernama Renata. Seorang putri bangsawan dari Monaco.
Aithan tahu kalau Cloudio tidak mencintai Renata. Pernikahan mereka hanya pernikahan politik. Cloudio seorang playboy. Bahkan sampai sekarang, ia tak mau tinggal di kamar yang sama dengan Renata karena Cloudio memiliki beberapa kekasih.
"Berhentilah menjauh dari istana. Bukankah kerajaan kita memiliki universitas yang bagus? Orang dari luar negeri saja datang bersekolah di sini. Eh, pangeran kerajaannya justru bersekolah di London."
Aithan hanya tersenyum. Ia tak mau menanggapi kakaknya. "Aku mau siap-siap dulu." ujar Aithan lalu segera menuju ke kamarnya yang berada di ujung lorong. Berhadapan dengan kamar Safiye, kakak kedua, yang juga sudah menikah setahun yang lalu. Usia Sefiye 28 tahun. Ia adalah salah satu hakim yang ada di kerajaan ini sedangkan suaminya anak perdana menteri Kelautan adalah seorang peniliti di labolatorium obat Kerajaan. Keduanya memang dijodohkan namun Aithan tahu kalau keduanya kini saling menyayangi. Sayangnya, sampai setahun menikah, Sefiye belum juga hamil.
Setelah masuk ke kamarnya, Aithan kembali merasa hampa. Ia berada di kamar mewah dengan semua perabotan super mewah. Bahkan di kamar Aithan ini ada ring basket yang dibuat karena hobinya bermain basket dan bermain bola kaki.
Tak ada kedamaian yang Aithan rasakan di sini. Ia rindu suasana di apartemen sederhananya di depan asrama Argani. Karena di sana ia merasa sangat dekat dengan Argani.
Aithan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat fotonya bersama Argani. Tak dapat menahan rasa rindunya, ia kembali menelepon Argani.
"Ai, ada apa?" terdengar suara Argani yang lembut membuat hati Aithan seakan meronta-ronta.
"Kangen...."
Terdengar kekehan Argani. "Kamu kan sedang bersama keluargamu. Nikmati saja kebersamaan dengan mereka. Aku sendiri sudah tak punya keluarga. Sebenarnya aku agak iri denganmu."
"Aku akan menjadikanmu keluarga ku. Kita menikah, yuk!"
"Menikah? Aku masih ingin kuliah dan menjadi dokter."
"Selesai menikah kan masih boleh terus kuliah. Kita dapat menunda memiliki anak namun aku ingin kamu akan memakai namaku. Argani Christabel Cainio. Terdengarnya sangat cocok."
Kali ini Argani tertawa. "Aku baru 19 tahun."
"Tapi aku sudah 23 tahun."
"Aku masih kecil."
"Tapi aku sudah dewasa."
" Pangeran Aithan......!" terdengar suara pintu kamar yang diketuk membuat Aithan sedikit kesal.
"Sayang, nanti aku telepon lagi ya? Kayaknya mamaku sudah memanggilku untuk makan malam. Pikirkan tentang apa yang kita bicarakan tadi."
"Apa?"
"Menikah." Aithan memutuskan sambungan telepon. "Masuklah!"
Pintu kamar terbuka dan masuklah Darren. "Pangeran sudah ditunggu untuk makan malam."
Aithan bangun dari tempat tidur. Ia segera ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya lalu segera menuju ke ruang makan yang ada di lantai 2.
Istana utama ini memang berlantai 4. Sedangkan istana khusus perempuan hanya berlantai tiga.
Albert langsung tersenyum menatap putra bungsunya. Putra yang paling pintar menurut-nya. Agak berbeda dengan Cloudio yang tidak terlalu suka dengan dunia pendidikan sehingga ia hanya menyelesaikan studinya sampai S1 saja.
Di meja makan sudah ada papa dan mamanya, Cloudio dan Renata, Sefiya dan David suaminya serta paman Nikolas, kakak dari papanya yang merupakan jendral tertinggi di kerajaan ini. Pangeran Nikolas tidak menikah. Itulah sebabnya adiknya, pangeran Albert yang menjadi raja.
"Aithan kau terlihat semakin gagah." puji Nikolas.
"Terima kasih, paman."
Aithan duduk di sebelah pamannya. Ia baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang duduk di samping Sefiya.
Melihat pandangan Aithan yang sepertinya bertanya siapa gadis itu, Sefiya pun menjelaskan. "Ini putri Naysila Beatrix. Dia adalah adik anak dari bangsawan yang berasal dari kerajaan Pelin." Kerajaan Pelin adalah suatu kerajaan kecil yang letaknya tak jauh dari kerajaan Aithan.
Aithan hanya tersenyum sekilas lalu menatap mamanya. "Kita makan sekarang, ma? Aku sudah lapar."
Selama makan malam berlangsung, Aithan akhirnya bisa mengerti kalau putri Naysilla adalah gadis yang dengan sengaja didatangkan di kerajaan ini dengan tujuan belajar namun ada misi tersendiri. Itu semakin yakin setelah makan malam dan berbincang di teras lantai 2, mereka dibiarkan sendiri.
Naysilla sebenarnya gadis yang asyik di ajak bicara. Ia terlihat pintar membangun komunikasi.
"Baguslah kalau kamu mau belajar di sini. Kalau aku lebih suka belajar di luar. Soalnya sudah bosan sejak TK sampai lulus SMA di sekolah kerajaan. Makanya ingin merasakan yang berbeda. Apalagi pacarku juga kuliah di tempat yang sama denganku. Jadi semangat kan?"
Aura wajah Argani langsung berubah saat mendengar kalau Aithan sudah punya pacar.
"Pasti dia gadis yang sangat istimewa dan cantik." Ujar Naysilla sambil menahan sesak di dada.
"Ya. Malahan ia tercantik menurutku. Aku justru ingin menikahinya secepat mungkin agar dia tak di ambil oleh orang lain."
Sefiya yang menguping percakapan itu pun bertanya-tanya. Siapa gadis itu? Aku harus mencari tahu.
**********
Apakah Naysilla akan menjadi penghalang hubungan Aithan dan Argani?
Dukung terus cerita ini ya??
love Amanda....