Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 13
" Zraash.. Zraashh Zrassh.. "
Lin menyirami tubuhnya dengan air hangat dibawah shower dikamar mandinya. Tidak kekar, namun otot-ototnya cukup kencang. Menjadikan dada yang bidang, otot-otot diperutnya pun membentuk roti sobek yang menggemaskan.
Beberapa bekas luka dipunggungnya menggambarkan banyaknya pertarungan yang telah ia lewati. Mereka menjadi seni tersendiri bagi seorang pria yang hidup dalam dunia yang keras penuh persaingan.
Dimatikannya keran, sehingga air berhenti mengalir dari dalam shower yang membasahi tubuhnya itu. Disambarnya handuk yang selalu tersusun rapi diatas meja. Disekanya setiap inci dari tubuhnya yang basah itu dengan handuk tersebut. Kemudian dia berjalan menuju lemari tempat menggantungkan jubah-jubah handuknya. Diambilnya salah satu diantara mereka, kemudia ia kenakan untuk menutupi tubuh bidangnya itu.
Berjalan ia menuju ruang tidurnya, kemudian ia membantingkan tubuhnya itu keatas ranjang king size nya yang super empuk. Dipandanginya langit-langit kamarnya yang putih dan polos tidak ada apa-apanya.
" Putih, dan polos. " Gumamnya dengan senyum yang tersungging diujung bibirnya.
Dipejamkannya kedua matanya, tergambar jelas wajah putih dan polosnya seorang gadis yang sedang memarahinya karena hendak pasrah dan menyerah saat kecelakaan lebih dari setengah tahun lalu itu.
" Sial !" Umpatnya pada dirinya sendiri sambil mengusap kasar wajah tampannya itu.
Siangnya, seperti biasa Lin menjalani aktifitasnya. Menghadiri berbagai rapat dengan para klien ataupun rapat internal dengan karyawan-karyawannya. Lin adalah contoh manusia yang selalu bekerja dengan sungguh-sungguh dan sangat keras terhadap dirinya sendiri. Ia bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk istirahat. Satu-satunya waktu istirahat baginya adalah saat ia di rumah sakit menemani Putri dengan segala ceritanya. Baginya, itulah me time** nya.
Setelah menyelesaikan rapat temu dengan kliennya, Lin mengintruksikan Doni untuk mengantarnya ke rumah sakit. Wajah yang semula penuh dengan gambaran lelah dan letih, kini mulai hilang dan berganti dengan wajah penuh semangat dan berbunga-bunga bak musim semi.
Dengan senyum yang tergaris diwajahnya, Lin menatap jauh keluar jendela, bukan gedung-gedung tinggi atau lampu-lampu jalan, namun wajah seorang gadis mungil yang polos dan indah didalam bayangannya itu.
" Kita mampir ketoko bunga dulu. " Perintahnya kemudian.
Sesampainya mereka ditoko bunga, Lin segera turun dari dalam mobil dan berlari kecil menuju toko bunga tersebut.
" Maaf, kami sudah akan tutup. " Ujar nyonya pemilik toko yang sedang sibuk memasuk-masukkan pot-pot bunga yang berjajar diluar tokonya itu.
" Nyonya, saya hanya memerlukan beberapa tangkai bunga saja. " Jawab Lin.
" Apa untuk kekasihmu ?" Tanya nyonya pemilik toko.
" Bukan. Emm, lebih tepatnya.. Emm.. " Jawab Lin ragu-ragu.
" Apa dia penting ?" Tanya nyonya itu lagi.
" Sangat. " Jawab Lin cepat.
Nyonya itu tak menjawab ataupun bertanya lagi. Dia terus sibuk mengangkat dan membawa pot-pot itu kedalam tokonya, dengan sigap Lin mengikutinya dengan ikut membawakan beberapa pot juga. Namun nyonya pemilik toko terus mengabaikannya.
" Nyonya, gadis ini adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa saya, dan karena itu, kini ia terluka parah. Hingga kini ia belum sadar dari komanya. " Kata Lin berusaha meminta belas kasihan dari nyonya pemilik toko itu.
Nyonya pemilik toko masih mengabaikannya seolah ia tak menganggap keberadaan Lin disana. Meskipun Lin telah membantunya mengangkat beberapa pot dan kinipun Lin membantunya mengangkat pot yang lebih besar.
" Nyonya !" Panggilnya. " Sekarang dia sedang terbaring dirumah sakit dalam keadaan koma. Meski begitu saya percaya bahwa dia bisa mendengar dan merasakan kehadiran saya. Dan juga wangi bunga yang selau saya bawakan. Saya mohon, berikan saya beberapa tangkai bunga, saya akan bayar berapapun juga. " Ujar Lin berusaha meyakinkan nyonya pemilik toko.
" Hemms.. " Dengus nyonya itu kemudian. " Baiklah, akan saya bungkuskan beberapa. " Kata nyonya itu pada akhirnya.
" Terima kasih, nyonya. " Jawab Lin lega.
Nyonya pemilik toko lalu mengambil beberapa tangkai bunga aster kuning, merah dan putih setelah ia beberapa saat memilih diantara bunga-bunganya.
" Maaf, nyonya, tapi saya menginginkan bunga lily, bukan aster. " Protes Lin.
" Aster merupakan simbol kasih sayang dan kesabaran. Ini menandakan bahwa kau mencurahkan kasih sayangmu untuk dia. Dan bahwa kau menunggunya, merindukannya. Sehingga dapat memberikannya semangat untuknya agar dia segera bangun dari komanya. " Jelas nyonya pemilik toko sembari mengikatnya.
" Ah, baiklah jika begitu. " Jawab Lin menurut.
" Merah menandakan keberanian untuk semangatnya, putih untuk kesucian dan ketulusan hati, dan kuning mewakili rasa kasih sayang. " Kata nyonya itu lagi sembari menyerahkan rangkaian bunga aster itu kepada Lin.
" Terima kasih, nyonya. " Ujar Lin sembari menerima rangkaian bunga aster tersebut.
" Pergilah, jangan buat dia menunggu terlalu lama. " Kata nyonya pemilik toko melambaikan tangannya agar Lin segera pergi.
Lin segera memberikan beberapa lembar uang kepada nyonya pemilik toko, namun beliau menolak.
" Ini gratis. Pergilah. Sampaikan salam saya untuknya. " Kata nyonya itu.
" Apa ini kurang ?" Tanya Lin bingung.
" Tidak. Saya sudah mengatakannya. Ini gratis. Saya memberikannya untuk gadis itu. Pergilah, ingat untuk selalu menjaganya. Dia akan membawa kebaikan dan keberuntungan dimasa mendatang. " Jawab nyonya pemilik toko hangat.
" Baiklah, saya akan menyampaikan salam nyonya kepadanya. Permisi. " Jawab Lin.
Lin segera lari kembali menuju mobilnya, dan Doni segera melajukan mobil menuju rumah sakit.
" Maaf tuan, mengapa tuan sampai harus memohon kepada nyonya pemilik toko untuk sekedar bunga-bunga itu ? Padahal tuan bisa membeli toko bunga itu ." Tanya Doni yang penasaran dengan sikap merendah tuannya itu yang dulu bahkan tidak pernah sekalipun merendahkan harga dirinya, justru lebih kejam dan dingin.
" Kau akan mengerti suatu saat nanti. " Jawab Lin enteng. " Lagian dijam sekarang tidak akan mudah menemukan toko bunga lain. Mungkin saja saat kita sampai mereka benar-benar sudah menutup toko mereka. " Tambahnya.
" Sepertinya, kau harus segera mencari kekasih, Don. " Celetuk Lin tiba-tiba.
" Baik, tuan... Eh, ah.. Apa ?" Tanya Doni kaget saat menyadari apa yang baru saja dikatakan tuannya itu.
" Hahahahaaaa " Tawa Lin meledek.
" Hahaa. Jangan meledek saya, tuan. Saya masih tidak bisa membagi waktu bekerja saya demi hal-hal seperti itu, tuan. " Jawab Doni.
" Lho, memangnya kenapa ? Selama itu tidak mengganggu pekerjaanmu, Saya tidak akan mempermasalahkannya. " Ujar Lin. " Lihat adikmu, Dani. Sudah berapa banyak wanitanya sampai sekarang ?" Lanjutnya.
" Dia... Ah, dia memang suka bermain wanita. Saya hanya akan bersama satu wanita yang benar-benar akan saya cintai. " Jawab Doni yakin.
" Yaya, terserah padamu. Begitu juga bagus. " Jawab Lin.
*istilah untuk menyebutkan waktu istirahat untuk diri sendiri. atau biasanya digunakan untuk melakukan kegiatan bersantai sesuai dengan yang kita inginkan.
Jangan lupa untuk selalu dukung Author dengan vote, like, favorite dan tinggalkan komen kalian untuk kritik dan sarannya ya sahabat readers. Terima kasih😊😊😊