Memiliki suami tampan, mapan, baik dan penyayang adalah impian semua wanita, tapi tidak bagi Bella.
Empat kriteria yang di idamkan para wanita justru menjadi musibah buat Bella. Nathan, pria yang ia nikahi, ia percaya, ternyata mengkhianatinya. Diam diam Nathan menikahi wanita lain di kota tempat ia bekerja. Kepulangan Nathan kembali ke rumah harusnya menjadi kabar yang membahagiakan Bella.
Namun, kenyataan berbicara lain, Nathan pulang bersama istri barunya.
Hancur? sudah pasti. Namun luka yang Bella terima tidak hanya sampai di situ. Nathan dan ibu mertua menuduh Bella telah selingkuh dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Nathan. "Dia bukan putraku!"
Greta. "Akhirnya rencana malam itu membuahkan hasil, akan kusimpan rencana besar ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Menolak
"Bella!" Puput menepuk bahu Bella yang sedang berjalan menuju pantry hendak mengambil alat dan kain pel.
"Hei, ngagetin. Ada apa?" Bella memegang dadanya terkejut dengan kedatangan Puput yang tiba-tiba.
"Dipanggil pak Riko disuruh ke ruangannya sekarang," jawab Puput.
"Aku? Sekarang, ada apa sih?" Bella bertanya dengan wajah heran.
"Nggak tahu Bella, sepertinya penting banget. Aku cuman disuruh nyampein gitu doang," jawab Puput. "Ya sudah, aku lanjut kerja dulu," tambahnya lagi lalu berbalik dan pergi meninggalkan Bella untuk memulai pekerjaannya kembali.
"Ya sudah. Makasih ya Put," ucap Bella lalu bergegas menuju ruangan Riko.
"Baru juga absen, sudah langsung dipanggil aja ke ruangannya. Entah apalagi maunya," gerutu Bella sambil berjalan memasuki lift.
Sesampainya di lantai delapan gedung kantor, Bella melangkah menuju ruangan Riko. Sambil menghela napas dalam Bella berharap tidak akan terjadi lagi keributan seperti kemarin saat Ajeng mendatangi Grandratam Grup dan bertemu dirinya.
"Semoga saja tidak ada wanita ular itu lagi disini," gumam Bella lirih.
Tok tok tok!
Bella mengetuk daun pintu, menunggu di depan pintu dengan perasaan sedikit cemas.
Tangannya saling bertaut, sementara kakinya bergerak dengan gelisah menunggu jawaban dari dalam ruangan.
"Masuk!"
Ceklek!
Bella membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan Riko. Dia dapat bernapas lega karena tidak melihat kehadiran Ajeng di dalam sana.
"Bapak memanggil Saya? Apa ada yang bisa Saya bantu?" tanya Bella.
Riko tersenyum sinis saat Bella berdiri di hadapannya, memandangnya dengan wajah polosnya." Apa kau sudah mengambil keputusan untuk secepatnya keluar dari perusahaan ini dan pergi meninggalkan kota ini?" tanya Riko, duduk sambil menopangkan kakinya.
Bella hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun, pandangannya lurus ke depan menatap tajam wajah lelaki di hadapannya itu.
Riko membuka laci mejanya, mengambil amplop coklat berisi uang yang sempat ditolak Bella kemarin. "Ini!" Riko menaruh amplop itu kembali di atas meja. "Tidak usah berlagak lugu, aku tahu Kamu sedang membutuhkan banyak uang. Ambillah dan secepatnya pergi tinggalkan kota ini."
"Simpan saja uang itu untuk keperluan Bapak sendiri. Saya tidak butuh uang dari Bapak, saya bisa cari sendiri. Dan satu lagi, Bapak jangan coba-coba lagi untuk mencampuri urusan saya karena Saya tidak akan tinggal diam melihat semua ketidak adilan yang terjadi pada saya dan anak Saya. Permisi!" Bella balik badan dan keluar dari ruangan Riko.
"Kurang ajar. Berani kamu melawan saya!" Riko berdiri dengan wajah geram menatap punggung Bella.
Bella membuka pintu, tersenyum sinis menatap pada Riko. "Saya tidak akan menjilat ludah saya sendiri. Apa yang saya katakan kemaren sudah jelas. Terserah Bapak sama Ajeng mau melakukan apa. Saya tetap akan terus mencari bukti kalau saya tidak bersalah. Saya hanya melakukan apa yang memang menjadi hak saya, membuktikan kalau memang anak saya Dimas adalah anak kandung Nathan. Lelaki brengs3k yang sekarang jadi suami Ajeng. Justru, posisi Ajeng yang menjadi pelakor di sini," jelas Bella panjang lebar.
"Jaga ucapanmu!" tunjuk Riko pada Bella murka.
"Kalau sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi saya permisi." Bella melangkah mantap keluar ruangan dengan dagu terangkat, meninggalkan Riko yang berdiri menatap kepergiannya dengan wajah gusar.
"Berani dia melawanku," desis Riko marah. "Dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, kita lihat saja sampai kapan dia bisa bertahan bekerja di sini."
........
.......
kesabaran membawa kebahagian buat bella dan kel nya
pdhl ms penasarn sm papa ny bella
smg dimas baik3 sj
oh y thor kbr ayhny bella gimn ap sudh meninggl atu msi hdup
kbr ibu margaret gimn thor
msi adlg rhasua yg blm trbingkar tgu aja