Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Gak terasa pagi pun tiba, gue bersemangat untuk berangkat sekolah meskipun kaki masih terasa sakit. Gak lama, gue mendengar suara Bima yang menjemput gue. Karena gue terburu-buru, gue menabrak bangku meja makan yang ada di ruang tengah.
"Nah begitu anak yang bercicilan, nambah deh tuh sakit kamu! hehehe." Nyokap tertawa lepas.
"Iya Tan, Zahra anaknya emang gak bisa diam." Bima menambah meledek gue.
"Bima, kok kamu malah belain Mamah sih!" raut muka cemberut.
Akhirnya, gue berangkat sekolah dengan Bima naik angkot. Meskipun hanya angkot, gue merasa senang bisa dekat Bima setiap hari.
"Masih aja cemberut?" Bima mencubit pipi gue yang cabi.
"Kamu gak belain aku sih, udah tahu aku tuh buru-buru sampe nabrak itu, aku pengen cepat ketemu kamu." Gue menjelaskan dengan muka cemberut.
"Iya deh, aku minta maaf!" Bima langsung membelai rambut gue sambil tersenyum.
Akhirnya, gue sampai sekolah. Anjar yang melirik gue dan Bima tidak suka dan mengejek Bima.
"Pengen punya pacar, tapi gak modal, ha-ha-ha." Sahut Anjar.
"APA LO BILANG TADI?" Bima emosi dan marah.
"Sayang, udah jangan di ladenin! aku gak mau kamu kena masalah." Gue langsung menarik tangan Bima.
"ANJAR DENGAR YAH! GUE LEBIH BAHAGIA COWOK TANPA MODAL, GUE SENANG BISA NAIK ANGKOT ASAL GUE BISA TERUS BERSAMA BIMA. DAN LO DENGAR! BIMA ITU ANAKNYA MANDIRI, BISA USAHA CARI UANG SENDIRI, GAK KAYA LO, KAYA TAPI MASIH PUNYA ORANG TUA, MALU DONG LO! gue langsung pergi meninggalkan Anjar dan datang Tio menghalangi jalan gue dan Bima.
"INI APA LAGI! MINGGIR LO!!!" gue langsung
menarik Bima dan mendorong Tio.
"Wihh! pacar aku hebat yah! udah bisa melawan." Bima tersenyum dan menatap gue.
Lalu gue dan Bima pun masuk kelas, Manda dan Santi meledek gue dan Bima sambil tersenyum bahagia.
"Cie-cie-cie, romeo and Juliet udah datang." Sahut Manda dan Santi.
"ha-ha-ha, bisa aja lo berdua." Jawab gue ke kedua sahabat gue.
kurang ajar, awas lo ratu manja. Lo udah ambil Bima dari gue. Gue gak bakal diam.
"Kemaren suka gak? puisi sama lukisan aku?" Bima menatap gue.
"Suka banget, makasih yah sayang!" gue tersenyum sambil menatap Bima.
"Cuma itu yang bisa aku kasih ke kamu, aku belum bisa bahagiakan kamu, setelah aku lulus kuliah nanti dan dapet kerja, baru aku bisa bahagiakan kamu." Bima menatap gue sambil mencium tangan gue.
"Aku akan selalu dukung kamu, dan aku akan setia menanti kamu! untuk saat ini, aku sudah merasa bahagia bisa bersama kamu, yang penting kamu jangan pernah sakitin aku yah! dan jangan tinggalin aku!" gue menatap Bima tersenyum.
"Iya, aku janji!" Bima pun tersenyum ke gue.
Bel masuk sekolah pun berbunyi, Bu Sarmi pun sudah masuk dan memberi salam pada anak-anak. Ada ulangan matematika, sedangkan gue belum belajar sama sekali.
"Sayang, ulangan matematika, aku belum belajar, gimana dong!" gue panik takut nilai gue jelek.
"Aku aja gak belajar, tapi jangan pesimis! kamu harus optimis! aku yakin kamu bisa!" Bima tersenyum dan menyemangati gue.
Gue harus bisa, gue harus buktiin ke Bima kalau gue bisa.
"Kita ada sesi 1 dan 2 yah! jadi kalian duduk sendiri-sendiri, dan ulangan untuk sesi pertama dulu, habis itu baru sesi kedua, yang pertama Ibu sebutin namanya Dan yang gak Ibu sebutin tunggu di luar mengikuti sesi ke dua." Bu Sarmi mengarahkan.
"Mudah-mudahan kamu sesi ke dua, jadi bisa belajar di luar dulu!" Bima tersenyum dan mendoakan gue.
"Alhamdulillah, aku sesi ke dua, kamu semangat yah!" gue sambil memberi semangat Bima.
"Alhamdulillah, kamu belajar benar-benar! di kasih waktu buat belajar, manfaatin sebaik-baiknya!" ucap Bima
"Siap! komandan Cinta!" gue tersenyum dan meledek Bima memberi hormat.
Gue di luar mengikuti sesi ke 2, apa yang di bilang Bima, gue ikutin kalau gue gak boleh kecewain dia, dan gue di kasih kesempatan untuk belajar dan manfaatin dengan sebaik-baiknya.
Gak lama, sesi pertama selesai dan giliran sesi ke 2 masuk. Bima kembali menyemangati gue dan memberi senyuman. Sandra mengikuti sesi pertama, saat di luar Sandra mencoba mendekati Bima dan mencari perhatian.
"Bima, kalau soal no 2 gimana sih? di bagi dulu yah!" Sandra mencari perhatian Bima.
"Iya." Jawab Bima singkat.
"Bim, nyokap lo gimana? udah sembuh?" tanya Sandra.
"Udah." Jawab Bima lagi singkat.
"San, ngapain sih tuh suster ngesot dekatin Bima gitu!" sahut Santi.
"Iya Man, ayo ah kita dekatin Bima! biar suster ngesot itu gak dekatin Bima terus." Jawab Santi.
"Ayo San! dasar nenek ngesot." Manda dan Santi kesal.
Akhirnya, Sandra pergi juga. Manda dan Santi bilang ke Bima jangan sampai nyakitin hati Zahra. Bima berkata dia juga tahu mana batasannya dan bilang kalau dia gak akan menyakiti Zahra.
Sesi kedua pun telah selesai, sesi satu pun masuk. Dan kami kembali ke tempat masing-masing.
"Gimana sayang? kamu bisa kan?" tanya Bima ke gue.
"Bisa." Jawab gue singkat.
"Dih, kenapa sih? kok mukanya cemberut gitu!" Bima mencubit pipi gue.
"Tadi ngapain tuh di luar sama Sandra? ngobrol asik banget." Raut wajah merah dan marah.
"ha-ha-ha... ya Allah, dia cuma nanya soal no 2 kok, aku juga jawab singkat, gak ada apa-apa." Bima meledek gue sambil terus memeggang pipi gue.
"Kan kamu tahu sendiri, dia suka sama kamu! dia itu, mau rebut kamu dari aku!" Gue tegas dan semakin kesal dengan Bima.
"Kalau cemburu kamu tambah cantik, sayang aku gak akan sama dia, kalau aku suka sama dia kenapa gak dari dulu aja, kenapa aku milihnya kamu padahal kamu dan aku belum lama kenal lama, karena apa? karena sejak pertama lihat kamu, aku udah jatuh cinta sama kamu! aku bisa lihat mana yang baik, mana yang enggak." Bima menatap gue sambil tersenyum.
"Tau ah, gombal!" gue tersenyum terpaksa.
"kalau mau senyum-senyum aja kali, jangan di tahan! ha-ha-ha." Bima terus meledek gue.
"Ihh... ngeselin!" gue memukul bahu Bima.
****
Bel istirahat pun berbunyi, nilai ulangan belum di sebutkan. Akan di koreksi setelah selesai istirahat. Gue ke kantin dengan Bima, Santi dan Manda.
"Zahra!" Tio menghampiri gue.
"Sini boy! lo ngapain sih masih dekatin cewek gue! Zahra itu sekarang cewek gue! jadi lo pergi sekarang!" Bima menarik Tio.
"Baru pacar boy, belum janur kuning! SIAPA AJA BISA DEKATIN DIA!" Tio langsung mengeluarkan suara keras ke Bima.
"LO PUNYA OTAK GAK? GAK ADA YANG BOLEH DEKATIN CEWEK GUE! TERMASUK LO! DAN GUE PERINGATIN JANGAN GANGGU ZAHRA!!! NGERTI LO!" Bima ingin menghajar Tio tapi gue berusaha menghalangi agar tidak jadi ribut.
"Sayang, udah sayang kita gak usah ladenin orang gila ini!" gue langsung menarik Bima.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪