Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Tiga Sahabat
Jesslyn berjalan keluar dari gedung pencakar langit itu dan berhenti sejenak di depannya. Ia memejamkan matanya dan menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
'Aku pasti bisa melewati semua ini. Jangan menangis, Jessy. Jangan bersedih. Aku kuat! Aku bisa! Jangan pikirkan orang-orang menyebalkan itu. Yang harus aku lakukan sekarang adalah terus berpikir positif dan tersenyum. Aku bahagia. Demi bayiku,' tekad Jesslyn memotivasi dirinya sendiri.
Jesslyn membuka matanya saat mendengar handphone-nya yang berdering. Ia kemudian menggeser tombol hijau itu ke samping dan menjawab panggilan teleponnya.
"Halo, Martha," sapa Jesslyn dengan nada sedatar mungkin agar Martha tidak curiga akan masalahnya.
"Anak nakal, di mana kamu?!" teriak Martha. Jesslyn pun segera menjauhkan handphone itu dari telinganya. "Aku sudah menunggumu sejak tadi di restoran, tetapi kamu belum datang juga," imbuhnya kesal.
"Iya, maaf, Nyonya Besar. Aku sedang ada meeting tadi. Sudah, jangan marah lagi. Jika tidak kerutmu akan bertambah nanti," gurau Jesslyn.
"Apa kau bilang?! Aku berkerut?! Kemari cepat! Aku akan menghajarmu nanti!"
"Baiklah, Ibu Suri. Tunggu sebentar. Aku akan segera menemuimu. Dan berhentilah berteriak, jika tidak maka mereka akan menganggapmu gila."
"Kurang ajar kau, Jessy!" teriak Martha kencang, tetapi Jesslyn mengabaikannya.
Ia pun segera mematikan handphone-nya dan menghentikan taksi untuk menuju ke restoran favorit mereka, tempat Martha sedang menunggunya kini. Perjalanan menuju ke restoran itu memakan waktu sekitar hampir 30 menit, karena memang saat ini bertepatan dengan jam makan siang, sehingga menjadikan lalu lintas agak tersendat.
"Halo, Sayang, bolehkah aku menemanimu untuk makan siang hari ini?"
Martha pun mendongakkan wajahnya dan melihat jika Jesslyn sedang menggodanya.
"Dasar anak nakal! Apa yang kau lakukan? Mengapa baru datang? Kau lihat, aku sudah berjamur karena menunggumu. Ayo cepat duduk!"
Jesslyn pun terkekeh mendengar omelan sahabat baiknya itu. Ia pun segera menarik kursi di depan Martha.
"Aku sudah memesan banyak makanan untuk kita. Cepat makanlah! Jangan biarkan keponakanku itu kelaparan," ucap Martha seraya terus meletakkan berbagai macam lauk ke mangkuk Jesslyn.
"Hey! Sudah cukup. Ini terlalu banyak. Aku sedang tidak selera makan sekarang."
"Tidak boleh! Tidak berselera pun harus tetap makan. Nutrisimu harus terpenuhi demi bayimu. Ayo makanlah. Salmon ini banyak mengandung omega-3 dan tinggi protein, sangat baik untuk perkembangan janinmu kelak."
Martha memperlakukan Jesslyn dengan sangat baik. Terkadang perhatian Martha, membuatnya merasa jika wanita itu lebih seperti ibunya dari pada sahabatnya. Namun, Jesslyn sangat bersyukur karena mempunyai sahabat seperti Martha.
"Setelah ini kau harus menemaniku bermain sampai puas. Kita bisa berbelanja, menonton film, ke salon atau bahkan hanya memperhatikan pria-pria tampan di gym." Martha tersenyum saat membayangkan mereka akan menikmati keindahan tubuh para pria tampan itu.
"Aku sudah meminta Ryan agar memberikanmu cuti hari ini. Jadi kau tenang saja dan baik-baiklah temani aku hingga aku bosan. Kau mengerti, 'kan, Nona Manis?" Martha mengerlingkan matanya manja. Sementara Jesslyn pun hanya terdiam.
'Aku bukan hanya cuti hari ini, tetapi juga sudah dipecat. Jadi tidak akan ada yang mencariku meskipun aku menemanimu setiap hari.'
"Hey, Nona! Kau dengar aku tidak?"
"Iya, iya. Aku dengar. Kau cerewet sekali seperti nenek-nenek," ejek Jesslyn seraya berusaha menelan makanannya. Ia harus memaksakan dirinya untuk makan agar bayinya tidak kelaparan.
"Kau bilang aku seperti nenek-nenek? Dasar anak ini! Kau sangat menyebalkan seperti Ryan."
Martha mencubit kedua pipi Jesslyn dengan gemas.
"Ampun, Martha. Lepaskan aku. Sakit!"
Mereka pun makan seraya terus bersenda gurau. Beruntung Martha memesan ruang VIP sehingga tidak akan ada pengunjung restoran lain yang akan terganggu oleh tingkah berisik mereka.
Jesslyn pun tertawa karena ulah cerewet Martha. Ia menjadi lebih relaks sekarang dan sudah melupakan kekesalannya tadi karena orang-orang jahat itu.
'Terima kasih, Martha.'
.
.
.
Setelah makan siang, Martha benar-benar melakukan rencananya tadi. Ia segera menyeret Jesslyn untuk masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke sebuah mall terbesar di kota itu.
Begitu sampai, mereka pun segera masuk ke dalam sebuah outlet terkenal yang menjual beragam keperluan ibu dan anak. Martha membeli banyak perlengkapan untuk bayinya, mulai dari baju, sepatu, mainan, popok, hingga sabun mandi dan susu formula karena memang ASI Martha tidak mencukupi.
Jesslyn pun hanya memperhatikannya saja di samping. Ia merasa belum perlu untuk membeli barang apa pun sekarang untuk bayinya karena usia kandungannya pun baru menginjak satu bulan.
"Jessy, kau lihat baju-baju ini? Sangat cocok untuk dipakai saat kau pergi bekerja nanti."
Martha menunjukkan beberapa potong pakaian ibu hamil yang nyaman dan modis, tetapi tetap elegan saat dipakai untuk pergi ke kantor. Namun, karena Jesslyn kini tidak bekerja lagi maka ia pun segera menolaknya.
"Kurasa tidak perlu. Masih butuh beberapa bulan lagi hingga perutku membesar dan terlihat. Jadi aku tidak akan membelinya sekarang."
"Haish! Kau ini. Beberapa bulan itu adalah waktu yang sangat singkat. Sekejap saja, perutmu itu akan segera membesar nanti. Saat itu kau pun akan semakin sulit untuk bergerak dan beraktifitas. Ibu hamil juga mudah lelah.
Jadi lebih baik kau mempersiapkan segala sesuatunya sekarang. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus menerimanya karena ini adalah hadiah pertamaku untuk menyambut keponakan mungilku itu," ucap Martha dengan nada tak dapat dibantah.
Jesslyn pun akhirnya menuruti Martha, karena jika tidak maka wanita itu akan terus mengoceh seharian, bagaikan suara dengung lebah di telinga Jesslyn. Setelah puas berbelanja, Martha pun mengajak Jesslyn untuk pergi ke cafe dan beristirahat sejenak karena ia takut Jesslyn akan kelelahan.
Martha memesan kopi favoritnya sementara Jesslyn memesan jus buah segar. Ditemani beberapa potong cake lezat, mereka pun kembali berbincang santai dan tertawa riang. Tak lama kemudian ada seseorang yang menghampiri mereka berdua.
"Jessy!" sapa seorang wanita kepada Jesslyn seraya menepuk punggung Jesslyn dan membuatnya menyemburkan minuman itu karena terkejut.
"Uhuk! Uhuk!"
Jesslyn segera menyeka mulutnya dan menoleh ke arah wanita itu.
"Hey, teman-teman. Ini aku," ucap wanita itu seraya menurunkan maskernya sebentar dan kemudian memakainya lagi.
"Alicia!" teriak Martha kesal karena minuman Jesslyn tadi telah mengenai wajahnya. Jesslyn pun segera meraih tisu dan memberikannya kepada Martha. Alicia pun tertawa dan segera duduk di sebelah Jesslyn.
"Maaf. Maaf. Aku terlalu senang tadi. Bagaimana kabar kalian? Sudah sekitar enam tahun kita tidak bertemu. Ya ampun, aku rindu sekali dengan kalian."
Alicia memeluk Jesslyn dan menempelkan gemas pipinya di pipi Jesslyn. Ia sangat merindukan para sahabat baiknya ini. Sementara Martha hanya dapat mengerucutkan bibirnya karena Alicia telah merebut perhatian Jesslyn darinya.
"Kami baik-baik saja, Alice. Bagaimana denganmu? Kapan kau kembali dari luar negeri?" tanya Jesslyn.
Alicia Guan adalah salah satu sahabat baiknya selain Martha. Hanya saja, setelah lulus sekolah menengah atas, Alicia pergi untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, jadi mereka pun sudah lama sekali tidak bertemu.
"Aku baru saja kembali dua hari yang lalu. Ada jadwal shooting di kota ini selama beberapa minggu. Bagaimana kalau kita pergi minum? Sudah lama sekali aku tidak bersenang-senang dengan kalian. Kebetulan nanti malam aku senggang," ajak Alicia.
Sejak sekolah, Alicia memang sudah menjadi seorang model terkenal. Dengan wajahnya yang cantik namun terkesan dingin, mudah saja bagi Alicia untuk menaklukan dunia modeling. Kini ia pun tengah melebarkan sayapnya menjadi seorang pemain film.
"Tidak bisa! Aku harus menjaga bayiku. Sedangkan Jesslyn sedang hamil. Jadi kami tidak bisa pergi denganmu," tolak Martha.
"Apa?! Bayi? Hamil? Jadi kalian sudah menikah?! Oh, Ya Tuhan. Beruntung sekali kalian."
"Apa maksudmu? Tentu saja kau yang lebih beruntung dari kami. Kau bebas mengejar mimpimu dan bisa berkeliling dunia mengunjungi banyak negara indah dan romantis. Sedangkan kami hanya bisa terus berada di kota ini," hibur Jesslyn karena melihat raut wajah kecewa Alicia.
"Tidak, kalian salah. Aku juga sangat ingin menikah dan berkeluarga. Tetapi, karena aku terikat dengan kontrak, maka aku tidak boleh menjalin hubungan yang serius dengan orang yang aku cintai selama beberapa waktu."
"Benarkah? Aku pernah melihatmu di berita online yang sedang berlibur di Hawaii bersama dengan seorang pria. Itu yang kau sebut tidak boleh menjalin hubungan?" cecar Martha pada Alicia.
"Haish! Dia bukan orang yang aku suka. Dia hanya-lah seorang aktor, lawan mainku. Aku harus melakukan akting dengannya untuk mempromosikan film kami. Berpura-pura seperti saling mencintai satu sama lain, tetapi sebenarnya tidak ada perasaan di antara kami.
Sedangkan, pria yang aku cintai bukan berasal dari dunia hiburan. Ia hanyalah seorang pengusaha biasa. Aku tidak tahu apa aku bisa bersama dengannya nanti? Banyak sekali rintangan di antara kami," terang Alicia sedih.
"Ya ampun, Alice. Kemarilah. Aku akan memelukmu."
Jesslyn pun segera memeluk Alicia dan wanita itu terlihat sangat senang bisa bermanja-manja dengan sahabatnya ini. Alicia memang lebih dekat kepada Jesslyn karena Martha terkenal sebagai ratu sekolah yang ketus dan cerewet. Tak lama kemudian terdengar sapa dari seorang pria di belakang mereka.
"Hey, Nona Cantik. Maukah kau memelukku juga?"
.
.
.