Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Penting
“Zain dirawat oleh neneknya dan beliau sudah meninggal sekitar satu bulan yang lalu.”
Kabar itu mengejutkan Ashqar. Tidak ada kabar mengenai siapa yang mengasuh Zaini, satu-satunya hal mengenai itu yang ia ketahui adalah Nita ‘lah yang merawat putra mereka.
“Lalu bagaimana dengan Zain sekarang? Siapa yang merawat anakku, Mbak?”
Rahma bersandar ke kepala sofa, menoleh ke arah Ashqar dan melayangkan tatapan tak terbaca. “Coba tebak?” Namun, Ashqar enggan menjawab dan menunggu. “Menurut teman Mas Dani, Zain diasuh oleh sepupu jauh perempuan itu. Dan dari informasi yang didapat oleh teman Mas Dani, keluarga yang mengasuh Zain bukan keluarga baik-baik. Mbak sendiri nggak tahu maksudnya.”
Ashqar tampak terkejut, raut wajahnya berubah khawatir. “Kalau begitu besok kita datangi rumah keluarga sepupu jauh Nita itu, Mbak.”
Rahma menatapnya sinis. “Kita nggak bisa seenaknya datang ke rumah orang, Ashqar. Lagi pula teman Mas Dani masih mencari informasi keluarga itu.”
“Tapi teman Mas Dani itu sudah dapat alamatnya, ‘kan?” Rahma mengangguk dan hampir membuka mulut saat Ashqar melanjutkan, “Kalau gitu besok kita langsung ke sana aja, kita jemput Zain. Nggak perlu lagi cari-cari informasi.”
“Kamu bisa tenang nggak?” Melihat Ashqar memberengut, Rahma berkata, “Kita butuh memastikan kelegalan hak asuh yang dimiliki keluarga itu atas Zain. Lagi pula, kita perlu bukti untuk mengambil hak asuh Zain. Sekalipun kamu adalah ayah kandungnya tapi kalau kamu bertindak gegabah hak asuh Zain tidak akan kamu dapatkan.”
Ashqar menjadi lesu. Sampai saat ini hak asuh Zaini dipegang oleh Nita dan tidak sekalipun Ashqar mencoba untuk merebut Zaini dari tangan Nita. Dia menyadari bahwa Zaini lebih membutuhkan sosok Nita sebagai seorang ibu ketimbang dirinya. Namun, sekarang ia menyesali pemikirannya itu.
Ashqar terdiam sejenak, mencerna ucapan Rahma yang ada benarnya. Ashqar menyadari kekeliruannya dengan hampir bertindak gegabah, tapi ia juga adalah orang tua. Dan sudah sangat lama sejak terakhir kali Ashqar menggendong Zaini dalam buaiannya.
“Apa hak asuh Zain bisa aku dapatkan, Mbak?”
“Kenapa tidak?” Rahma menyadari anggur di piringnya telah habis, jadi ia berencana menguras isi kulkas Ashqar malam ini. Sebelum beranajak menuju dapur, Rahma mengganti saluran televisi lalu berkata, “Kamu harus sabar dan tunggu kabar dari mbak, insya’allah Zain segera bisa kamu bawa ke rumah ini nantinya.”
Sensasi dingin menjalari tulang belakang Ashqar tepat ketika Rahma beranajak menuju dapur. Dalam diam Ashqar mengamini ucapan Rahma. Kakak perempuannya itu benar, yang ia butuhkan saat ini adalah kesabaran dan doa. Juga dukungan Rahma yang selalu ada setiap kali dibutuhkan.
“Terus kapan kira-kira kabar itu, Mbak?”
Suara hembusan napas Rahma yang keras terdengar dari dapur disusul suara pintu kulkas yang tertutup. “Sudah mbak bilang tunggu kabar dari mbak. Dasar nggak sabaran,” gerutu Rahma kembali ke tempatnya semula setelah sebelumnya memukul kepala belakang Ashqar, dengan membawa sepiring anggur dan strawberry.
“Sakit, tahu!”
“Bagus dong kalau masih bisa merasakan sakit.” Rahma berucap enteng tanpa ingin tahu ekspresi Ashqar yang menahan sakit. Jangan ragukan kekuatan geplakan Rahma, Ashqar sudah menjadi korban tetap tangan dingin itu.
“Ngomong-ngomong, Ibu mau menjodohkan kamu.”
Ashqar mendelik horror. “Mbak ini nggak ada basa-basinya dikit ya?”
“Not my style. Lagian mbak tahu, kamu pasti akan nolak permintaan Ibu, ‘kan?”
Ashqar terdiam. Hal itu membuat Rahma merasa tertarik. “Jangan bilang kali ini kamu tertarik?”
Nada suara Rahma yang terdengar tidak percaya memancing Ashqar untuk menjahili Rahma. “Menurut Mbak gimana? Bukannya aku udah cocok buat menikah? Lagipula kalau Zain berhasil aku bawa pulang, dia juga butuh sosok seorang Ibu, ‘kan?”
Rahma melotot tidak percaya. “Bentar, bentar,” sanggahnya heboh, mencari ponsel kesana-kemari. “Ini harus direkam sebagai bukti. Duh! HP-ku mana sih?”
Sementara Rahma masih sibuk mencari ponselnya, Ashqar diam-diam mengertawai tingkah Rahma sambil berjalan menuju kamar tamu. Dan Rahma tidak tahu jika ponselnya disembunyikan Ashqar di kotak sendok-garpu, di atas meja makan.