NovelToon NovelToon
Bidadari Dalam Sangkar.

Bidadari Dalam Sangkar.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:169.8k
Nilai: 5
Nama Author: ekha dewi

Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.

Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.

Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.

Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.

Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.



ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BDS. Chapter 12(Murid bandel)

Tin...

Tinn..

Klakson kendaraan terdengar bersahutan

Srakk..Srakk..langkah kaki tamu yang menuju kerumah Alyra berjalan pelan, namun terdengar nyaring saat peraduan sendal dengan ubin trotoar dekat Alfamidi depan rumah Alyra.

Sepertinya mereka numpang parkir disana. Menilik papan nama yang tertera dengan nama~ Aurora cake~ Basuki bingung mencari pintu untuk bertamu, masa dia harus menggedor lorring dor depan.

Saat berjalan kesamping nampak ada taman bunga 4 x 4 meter dengan macam-macam bunga tertanam di sana.

Dia menekan Bell dua kali, tidak lama pintu terbuka saat dia menatap gadis di hadapannya.

Waw Siapa ini cantik juga

Gerutu Uki dengan wajah menilik, dia makin penasaran siapa gadis di hadapannya.

"Ada perlu apa kak?"

"Mbak Lyranya ada?"

Luna mengerutkan alis sejak kapan ada pria yang menanyakan sang kakak.

"Maaf dia sedang di bawa dinner sama calon suaminya."

"Suami"

Uki terkejut dia bingung bukan main bagaimana menghadapi majikannya nanti.

walah bakalan berabe ini urusan.

Gerutu Basuki dengan wajah bingung, "Siapa nak, kenapa tamu di biarkan berdiri di luar?" Tanya sang ayah dengan langkah mendekat sambil menatap kearah pintu.

"Masuk Nak bicaranya di dalam!"

Pinta Ayah Akbar dengan wajah menilik

pria yang sedang terbengong.

"Terimakasih om?" saat Uki bilang terimakasih dia terkejut bukan main dia Dosen tampan dan berkarisma dimasa itu.

Uki menutup mulutnya lalu membungkuk meminta maaf. "Maafkan aku pak Dosen, aku kira siapa?" Uki menyodorkan tangannya, dengan jantung naik turun, dia murid paling iseng saat itu, dimana gadis-gadis pada masa kejayaan pria itu dia pernah menjahilinya dengan menaruh prement karet di kursinya, dan dia kena hukuman seminggu tidak bisa mengikuti pelajaran pria berkarisma di depannya.

"Siapa?"

"Masih ingat saya Pak,saya Edo Basuki Bin Jayadi Basuki." Suara ragu nampak di perlihatkan, saat tatapan ayah Akbar menatap intens dari atas sampai bawah, mengamati penampilan pria itu, tidak ada yang mencolok, sepertinya dia pria nakal berahlak "Ada perlu apa Nak Edo?"

Matanya membulat saat nada bicara ayah Akbar saat sekarang dan dulu jauh, berbeda, kini wibawanya semakin kuat.

"Anu-pak A-nu boss saya membutuhkan bantuan Mbak Lyra."

"Kamu kenal putri saya dimana?" pertanyaan santai menbuat Edo semakin kikuk, "Mbak Lyra bekerja di rumah boss saya pak."

Kenapa aku baru sadar jika pria ini begitu baik, tapi kenapa aku takut.

Gerutu Edo Basuki dalam hati, dia menunduk, Hingga bell berbunyi dan suara yang mengucap salam terdengar berkali-kali, pintu terbuka nampak wajah kusut dengan mata memerah datang tiba-tiba memeluk sang Ayah, dia tidak sadar ada tamu di depannya.

tangisan pecah saat sang ayah mengusap lembut kepala putrinya.

"Ada apa kenapa menangis?" pertanyaan dengan sorot penuh kekhawatiran nampak jelas di mata ayah Akbar.

"Kenapa ayah membiarkan aku jalan dengan pria homo?" bergidik ngeri dengan tangisan terisak-isak.

"Apa."

Suara Edo Basuki lepas kendali, dan Lyra mendengar jelas suara asing berada di dekatnya. Malu dan terkejut mendapati Edo duduk santai menatap kelakuan paling memalukan yang sedang di alaminya.

"Kak Uki."

Bersuara pelan dengan mulut tertutup telapak tangan, dia menggelengkan kepala tidak percaya.

"Sedang apa disini?"

Pertanyaannya lolos begitu saja, dia masih takut, jijik dan ngeri melihat kejadian tadi di belakang kape, saat dua pria gagah sedang memadukan mulut, dan membuatnya enek.

Semakin takut jika semua pria mungkin seperti itu, "Mbak Lyra aku mendapat tugas dari Boss, untuk menjemput mbak, jika Nona Suci dan Nona Murni tidak mau keluar kamar dan tidak mau makan, sejak mbak pulang kemarin malam."

Lyra terkejut dan dia menatap sang ayah. hingga tiga cangkir teh hangat dengan Cake keju lumer tersedia di hadapan mereka.

"Kakak sudah pulang?"

Luna menatap wajah kakaknya, menilik seksama dengan mata sang kakak yang sembab, Lyra menunduk malu jika harus mengulangi pembicaraan yang membuatnya jijik.

"Mbak, pak Akbar bagaimana?"

Pertanyaan Edo Basuki membuat Luna terdiam, "Aku akan ikut, demi Nona, namun seminggu sekali aku ingin pulang menjenguk ayah."

"Boleh mbak, minta sekalian naikan gajinya mumpung boss kita lagi galau."

"Kak Uki jangan begitu, aku kesana karena aku, khawatir Nona-Nona kenapa-kenapa."

"Bercanda mbak." Uki nyengir kuda, tatapan sang Ayah menatap pada anak gadis dan juga pria di hadapannya.

Namun sayang tidak ada tatapan lain dari gadisnya menatap datar pria di hadapannya.

Masih jauh untuk meminang cucu.

Gerutu Ayah sambil mengusap wajah sang putri, "Tapi aku tidak rela melihatmu harus bekerja lagi sayang."

"Ayah sekali ini saja, kasian majikan ku bagaimana kalau dia sakit, aku janji jika aku lelah aku akan berhenti bekerja, dan aku akan pamit dulu."

"Kakak bagaimana dengan aku?"

"Aku akan minta ijin sama tuan, jika hari libur kamu boleh main kesana. Boleh kan kak Uki?"

Pertanyaan Lyra membuat Uki senang bukan main dia bahagia, ternyata kerja rodi nya mudah.

"Pak lain kali aku akan sering datang kemari bersilaturahmi, maaf aku tidak membawa oleh-oleh malam ini."

"Apakah kamu bisa di percaya, jika dia luka lecet dan pulang dalam keadaan tida baik-baik aja, Bapak akan ringkus kamu menjadi makanan tikus got."

Nada ancaman dengan seringai canda menjadi satu, dan putri-putri mereka heran sejak kapan sang ayah bisa berbicara seperti itu.

"Dia murid bandel."

"Ampuun pak dosen, aku akan taruhkan hidupku demi Mbak Lyra, asal aku jangan di hukum keliling lapangan hanya pakai kolor doang.!"

"hahaha."

Suara tawa menggema, kedua putri mereka ikut tertawa melihat wajah kikuk di hadapan mereka.

"Temani kakakmu malam ini, besok berangkat kampus dari rumah majikan kakak, jaga diri kalian baik-baik."

Suara Ayah membuat mata Lyra terkejut, antara bahagia dan tidak percaya, kalau dia mengijinkan sang adik ikut.

"Bagaimana dengan ayah?"

Tiba-tiba raut wajah Lyra berubah sendu, menatap dan memeluk sang ayah haru.

"Bekerjalah dengan baik. Apapun pekerjaanmu lakukan dengan ikhlas semoga hasilnya berkah, dan kamu bisa nabung di masa depan."

"Ayah."

Kedua gadis itu memeluk sang ayah, menangis terisak, meluapkan cinta mereka untuk lelaki paruh baya itu.

"Ayah aku bawa Motor ya?"

"Biar besok aku tidak susah berangkat ke kampus." Alyra terdiam.

"Naik Grab aja sayang?"

Lyra bergegas, kekamar menyiapkan rangsel-nya mengisi baju seperlunya, Luna pun sama dia menyiapkan tugas sekolahnya, memasukannya pada rangsel dan dia berdiri mematung di belakang pundak sang ayah, apa maksud sang ayah menyuruhnya ikut kesana.

"Ayah kami siap?"

Sang adik yang duluan memeluk kembali ayahnya, juga mencium pipi kiri dan kanan, "Jangan lupa obatnya di minum ayah?" pinta si cantik Lyra sambil memeluk erat tubuh sang ayah, "Do'akan aku agar sehat selalu ayah!"

Hingga mereka pamit pergi sang ayah masih nampak termangu, menatap sang putri melambai tangan dan berhenti di depan Alfamidi. ternyata mobil mewah yang di bawa pria itu, sepertinya majikannya bukan orang-orang kalangan menengah kebawah.

"Bukan ayah membiarkan kalian jauh dari pengawasan ayah, namun Ayah hanya ingin belajar bagaimana jika kalian berdua nanti benar-benar pergi meninggalkan Ayah, Ayah ingin tahu bagaimana diri ini mampu tanpa sosok kalian."

Tangis pilu dari bibir sang ayah nampak menyayat hati, bagaimana dia nanti melepas anak gadisnya pergi dan pasti itu terjadi, malam ini ayah Akbar benar-benar uji nyali, melepas kedua anak gadisnya.

Ayah Akbar kembali masuk dan isak tangisnya benar-benar dia luapkan di dalam kamarnya, seraya berdo'a memohon keselamatan untuk kedua putrinya.

...Ya Allah lindungi mereka, Pertemukan keduanya dalam kebahagiaan....

Tubuhnya bergetar hebat, baru serasa kemarin dia bermain dalam gendongannya, kini mereka berdua yang menggendongnya menopang tubuhnya dalam keadaan sakit dan tak berdaya.

Ayah begitu pilu, sosok bidadari dalam sangkar mulai mengepakan sayapnya, mencoba terbang dalam kurungannya selama ini.

Memeluk foto mereka, sewaktu kecil, meraba wajahnya yang nampak sudah jauh berubah. Ayah berjalan perlahan masuk pada kamar kedua putrinya.

Dulu Alyra gadis yang tomboy, saat di kampung sang ibu, dia beberapa kali terjatuh dari pohon Asem milik pak RT.

Kenangan demi kenangan bermunculan membuat air mata terkuras dari matanya. 'kalian tetap menjadi anak kecil ayah sampai kapan pun."

Suara lirih dengan derai air mata, tidak mau surut dari mata sang Ayah, hingga dia masuk kamarnya, mengambil whudu lalu mengambil Al-qur'an membacanya dengan tartil, lalu dengan perlahan kantuk mulai menyerangnya

****

Mobil melesat meninggalkan kawasan rumah Alyra, mereka terdiam dan sesekali Luna menatap keluar, dia kangen udara malam.

Namun si Cantik Lyra nampak menangis bagaimana bisa tenang memikirkan sang ayah yang tertidur sendirian.

Satu jam dua puluh lima menit, mereka telah sampai di rumah mewah milik tuan mereka.

Luna tercengang melihat rumah mewah tiga lantai berdiri kokoh, dengan bangunan modern halaman yang luas, juga nampak pekarangan yang bisa menampung ratusan manusia di sana.

"Kakak."

Lyra mengangguk, mengerti keterkejutan sang adik. Mereka turun di garasi, dan Lyra sudah nampak terbiasa, namun berbeda dengan sang adik jiwa matrenya tergugah.

"Jangan bilang pada ayah jika halaman seluas ini kakak yang bersihkan."

Peringatan sang kakak membuat Luna terasa tercekik, bagaimana sang kakak bekerja keras selama ini melakukan pekerjaan di luar nalarnya.

1
Zaim Jepara
mau ketawa takut dosa🤭, semangat Thor sudah 2 novelmu ku baca dan semuanya menguras air mata😭
Ria dardiri
bagusss
Nurul
hmmm dah banyak bc crt... tp cerita ni terasa nyata GT...
Ratna Faidilna
jangan pelit up nya thor
semoga aja mey jodoh nya derek
fairy
up lagi dong
Lasmi Kasman
bahagia
Lasmi Kasman
Sonia engak kapok2
Lasmi Kasman
penasaran
Lasmi Kasman
sunguh menyakitkan
Lasmi Kasman
takut di jual jadi bilang TDK perawan
Lasmi Kasman
semangat Kak
Lasmi Kasman
orang jahat
Lasmi Kasman
Bayu kasihan lyra
Lasmi Kasman
sehat terus Alyra
Lasmi Kasman
lucu
Lasmi Kasman
kasihan
Aisyah Yuni Novita
lanjut thor..segera up donk
♨ˢᶜⰼ⃞☪🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Kenapa enggak dilanjut Thor, ayo up lagi
Nur Wahyu
Thor kapan up lagi?
Dini Anggoro
kok di part ini karakter nya alira berubah ya thor.. jd kyk orng gila. td baca di part awal alira aku udh sreg, mungkin di part ini aja kali ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!