Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
BRAKK!!
Dentuman keras dari arah lantai dua mengejutkan semua orang yang tengah berkumpul di ruang tamu. Baru saja Justin membanting pintu kamarnya dengan keras. Pemuda itu berjalan menuju tempat tidurnya sambil mengacak rambut blodenya sedikit frustasi.
Rasanya sulit sekali untuk percaya jika adik sepupu Hanna adalah Jia. Kenapa dunia begitu sempit dan untuk apa pula takdir mempertemukannya dengan gadis yang memiliki keterikatan kuat dengan masa lalu dan kakak kandungnya sendiri.
Dan jika memang Jia orangnya, lalu bagaimana mungkin Justin bisa melakukannya? Sedangkan dalam hati kecilnya Justin memiliki keinginan untuk bisa melindungi Jia, lalu bagaimana dia bisa menghancurkannya? Kenapa semua menjadi begitu sulit?
Justin bangkit dari posisi duduknya dan berjalan lurus menuju jendela kaca besar yang ada di kamarnya, wajahnya mendongak menatap langit malam dengan hiasan jutaan bintang. Salah satu tangannya bersandar pada jendela besar itu sedangkan tangan satu lagi terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Drett! Drett!! Drett!
Tiba-tiba ponsel dalam saku celana belakangnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Justin mengeluarkan ponsel itu dan mendapati satu pesan masuk dan itu dari Leo yang mengabarkan bila Jia sudah sadarkan diri. Justin mendesah lega dan memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku celananya.
"YAKK!! WANITA GILA, APA YANG KAU LAKUKAN EO? KENAPA KAU MELUKAI SUAMIKU? APA KAU INGIN MEMBUNUHNYA, EO?"
"YA, KARNA DIA MEMANG PANTAS MATI."
Pertengkaran yang berasal dari ruang keluarga sedikit menyita perhatian Justin. Dua wanita saling berteriak dengan nada di atas 4 oktaf, Justin yang merasa penasaran pun beranjak dan berjalan meninggalkan kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.
Dari lantai dua, Justin melihat Brian yang tengah memegangi kepalanya yang terluka dan berlumur darah akibat pukulan dan hantaman vas bunga yang Hanna hantamkan padanya. Justin memicingkan matanya dan menyeringai tajam
"Sepertinya kau membutuhkan ini, Nyonya Kim" Juatin melemparkan sebuah pistol pada Hanna. "Kau bisa langsung meledakkan kepalanya agar dendammu bisa segera terbalaskan."
Brian mengangkat wajahnya dan menatap Justin tak percaya. "Kau ingin aku mati? Apa kau sudah tidak waras? Aku ini kakakmu." bentak Brian marah.
"Kau fikir aku peduli? Kim Hanna, kali ini aku berpihak padamu."
"JUSTIN QIN!!!"
Justin melambaikan tangannya dan masuk kembali kedalam kamarnya. Namun Alex langsung merebut pistol itu dari tangan Hanna dan membuangnya. Alex berusaha untuk menenangkan istrinya dan meninta Thalita untuk segera mengobati Brian yang terluka.
Bruggg!!!
Hanna menjatuhkan tubuhnya begitu saja dan menangis sejadi-jadinya. Alex mensejajarkan posisinya dengan Hanna dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya
"Hiks, aku benar-benar kakak yang tidak berguna, Oppa. Bagaimana bisa aku tidak tau jika tunangan adikku adalah, Brian, padahal hubungan mereka sudah berjalan selama 3 tahun. Kenapa aku tidak pernah memintanya untuk mempertemukan dia denganku? Aku tidak akan pernah memaafkan baj*ngan itu meskipun dia putramu, tidak akan pernah." dalam pelukkan Alex tangis Hanna semakin pecah.
Wanita itu mencengkram kuat baju tidur yang Alex pakai. Alex tidak berkata apa pun, saat di rasa Hanna mulai tenang... dia segera membawa wanita itu kembali kedalam kamar.
Tak lama berselang, terlihat Justin menuruni tangga dengan pakaian berbeda dari sebelumnya. Jeans hitam belel, tank top putih yang di balut long vest hitam bertudung...
Lima anting tampak pada dua telinganya, eyeliner yang semakin mempertajam tatapannya membingkai mata abu-abunya dan tak ketinggalan perban putih yang masih belum mau beranjak dari dahinya. Justin berencana untuk kembali ke rumah sakit.
Waktu yang menggantung di dinding rumah sakit menunjuk angka 04.00 saat Justin tiba di rumah sakit. Dari kejauhan dia melihat Shilla dan Leo yang sudah terlelap, mereka terlihat lelah.
Mengabaikan mereka berdua, Justin berjalan mendekati ranjang inap Jia dan mendapati kedua mata gadis itu tertutup rapat. Tidak ingin mengganggu istirahatnya, Justin beranjak dan menghampiri Leo.
"Leo , bangun." Justin mengguncang pelan bahu Leo memaksa pemuda jangkung itu membuka matanya dan mendapati Justin berdiri di hadapannya
"Justin," ucapnya serak, Leo mengosok matanya dan mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya.
"Sebaiknya bawa gadismu itu pulang, biar aku yang berjaga di sini." ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Leo
"Baiklah,"
.
.
.
Matahari sudah beranjak dari peraduannya. Sinarnya yang agung telah sampai di ujung cakrawala, cahayanya yang terasa hangat menelusup masuk kedalam ruangan serba putih dengan aroma rumah sakit yang begitu khas.
Seorang gadis lengkap dengan baju pasien terlihat duduk termenung di atas ranjang inapnya sambil menatap lurus kedepan. Tatapannya kosong dan tampak redup.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok tampan berpenampilan serampangan yang datang dengan sebuah keranjang buah yang di genggam tangan kirinya.
Justin menghampiri Jia yang sedang duduk melamun di ranjang inapnya. Karna terlalu larut dalam lamunannya sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Justin. Justin menutup kembali pintu ruang inap Jia dan mendekati gadis itu.
"Bagaimana keadaanmu?" Justin meletakkan keranjang buah di atas nakas samping ranjang inap Jia. "Apa kau masih merasa pusing?"
"Justin-ssi, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Dan kenapa aku bisa berada di rumah sakit?" alih-alih sebuah jawaban, Justin langsung di berondong beberapa pertanyaan oleh gadis itu.
Justin menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, saat aku kembali untuk mengambil ponselku yang tertinggal di rumahmu. Aku menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di ruang tamu. Dan justru pertanyaan itulah yang ingin aku tanyakan padamu, sebenarnya apa yang terjadi padamu dan kenapa kau bisa sampai jatuh pingsan?"
Jia terdiam dan mencoba mengingat kembali tentang apa yang sebenarnya terjadi "Tiba-tiba saja aku merasa pusing dan setelah itu aku tidak mengingat apa pun lagi." ujar Jia lalu menggelengkan kepala.
"Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Jia mengangguk. "Aku sudah tidak apa-apa dan hanya sedikit pusing saja, Dan maaf merepotkanmu lagi. Aku tidak tau bagaimana caranya harus membalas semua kebaikkanmu padaku." ujar Jia.
Gadis itu benar-benar merasa tidak enak pada pemuda itu karna lagi-lagi harus merepotkannya. Justin berdiri di samping kanan Jia dan menatap datar sepasang mutiara hazel milik gadis itu.
"Jangan banyak berfikir, sebaiknya kau istirahat saja agar keadaanmu segera membaik."
Jia tidak merespon dan tampak berfikir. "Justin-ssi, bisakah kau membawaku ke taman? Aku merasa bosan terlalu lama di ruangan ini." Ucapnya memohon.
"Baiklah, aku akan mengambil kursi roda untukmu." Namun cengkraman lembut pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Justin. "Ada apa?"
"Tidak perlu pakai kursi roda, aku masih kuat berjalan kok." ucapnya meyakinkan. "Kau yakin?" Jia mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
Justin membawa Jia untuk duduk di taman rumah sakit, mata hazelnya langsung di manjakan oleh keindahan bunga mawar berbagai warna dan sebuah air mancur berukuran raksasa yang berada di tengah-tengah taman.
Di sana banyak anak-anak pengidap kangker yang sedang bermain, wajah mereka begitu sumringah meskipun rasa sakit sering kali menyiksa. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka membuat sudut bibir Jia tertarik keatas.
"Melihat anak-anak itu membuatku merasa malu. Mereka yang masih sangat kecil berjuang untuk melawan rasa sakitnya dan berjuang untuk tetap hidup. Tapi aku malah berkali-kali berusaha untuk mengakhiri hidupku sendiri. Bukankah hidupku begitu menggenaskan."
Jia tersenyum perih, jari-jarinya menghapus lelehan kristal bening yang mengalir dari pelupuk matanya tanpa mampu di cegah. Justin yang duduk di samping Jia tidak memberikan respon apa pun dan hanya diam layaknya patung yang bisu dan tuli. Namun bukan berarti Justin tidak mendengar apa pun.
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....