~Novel ini masih tahap revisi. Mohon maaf jika masih banyak tipo dan kepenulisan yang tidak sesuai kaidah kepenulisan dan PEUBI, terlebih di seperempat bab awal.~
Rania gadis cantik yang berprofesi sebagai guru SD bertemu dengan Kanaya anak kecil si periang yang memiliki magnet tersendiri, membuatnya begitu nyaman bersama kanaya dan begitupun sebaliknya.
Tanpa diketahui Rania, Kanaya adalah anak dari Leo dan Ayu sang kekasih yang menghianatinya dengan sahabatnya sendiri. Kanaya yang merindukan sosok seorang ibu dan terlanjur jatuh hati pada sang guru bertekad menjodohkan Rania dengan sang Papa, sesuai amanah ibunya untuk menyatukan kembali cinta Papa Leo dengan sahabatnya.
Namun, Rania sudah terlanjur sakit hati dengan pengkhianatan Leo dan Ayu yang membuatnya begitu terpuruk. Akankah Rania menerima Leo kembali setelah ia mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang Salah
Hari demi hari t'lah terlewati, waktu bergulir terasa begitu cepat. Semenjak kepindahannya ke sekolah baru, Kanaya merasakan hari-harinya begitu bermakna.
Pertemuannya dengan Rania membuat anak kecil itu merasakan kasih sayang sosok seorang ibu yang tak pernah Kanaya dapatkan selama ini.
Setiap hari sepulang sekolah Kanaya selalu mampir ke rumah Rania. Keluarga Rania pun selalu memperlakukannya dengan baik seperti cucu mereka sendiri.
**
Hari ini adalah hari sabtu, sekolah Kanaya sedang mengadakan gotong royong. Semua murid diperintahkan untuk membersihkan kelas masing-masing. Begitu pun dengan siswa kelas satu.
Di saat anak kelas satu sedang membersihkan kelasnya, tiba-tiba terdengar teriakan salahsatu siswa.
"Awww ...." seorang siswa terjatuh dari atas meja dan kepalanya membentur sudut kursi, sehingga jidatnya berdarah. Siswa lain pun datang menghampiri.
"Aya kamu kenapa?" tanya seorang siswa. Ternyata yang jatuh adalah kanaya.
"Aya kepleset. huwaaa ...." jawab Kanaya sambil menangis.
"Ibu! Kanaya jatuh!" teriak siswa lain memanggil salahsatu guru.
Seorang guru wanita dan seorang guru pria menghampiri mereka dan langsung membawanya ke UKS.
Setelah sampai di UKS, petugas UKS sudah bersiap mengobati Kanaya, tetapi Kanaya menolak. Kanaya hanya ingin diobati oleh Rania, sedangkan sang guru sedang tidak ada di sekolah. Rania sedang keluar untuk membeli beberapa keperluan sekolah. Terpaksa, seorang guru menelponnya karena Kanaya bersikukuh ingin di obati oleh Rania.
Tring! Tring!
Suara ponsel Rania berdering. Rania yang sedang mengendarai sepeda motor langsung menepi dan mengangkat panggilan itu.
"Halo, assalamualaikum." Rania menjawab telepon.
"Waalaikumsalam, Rania kamu masih di mana?" tanya si Penelepon di seberang sana.
"Di jalan, bentar lagi nyampe Pa, ada apa?"
"Kanaya jatuh dia terluka dan kakinya kayaknya terkilir. Tapi, dia gak mau di obati, maunya di obati sama kamu," jelasnya.
"Apa Kanaya jatuh? Ya, sudah aku akan segera ke sana. Ini sudah dekat kok, Pak!" lalu telepon terputus.
Rania tampak kaget mendengar Kanaya terjatuh, ia langsung melajukan motornya kembali.
"Kanaya kenapa Ran?" tanya Suci yang ikut menemani Rania belanja.
"Katanya jatuh Ci, aku juga belum tahu pasti. Tapi, kata pak Andi dia gak mau di obatin kalau bukan sama aku," jelas Rania.
"Kayaknya dia deket banget ya sama kamu?"
"Ya begitulah, aku udah terlanjur sayang sama dia," jawab Rania.
Di tempat lain seseorang juga sedang mengangkat telepon dari nomor baru.
"Hallo, assalumalaikum!" ucapnya.
"Waalaikumsalam. Apa ini dengan bapak Leo?" tanya seseorang.
"Iya saya sendiri. Ini dengan siapa dan ada perlu apa ya?"
"Saya Tina, guru di sekolah Kanaya. Cuma mau memberitahukan Kanaya jatuh dari atas meja," jelasnya
"Apa kanaya jatuh?!" Leo tak percaya. "Terima kasih informasinya, saya akan segera ke sana," jawab Leo lalu telepon terputus.
Leo yang sedang rapat diluar kantor langsung tampak panik setelah mendengar Kanaya terjatuh.
"Maaf, Pak, sepertinya saya harus meninggalkan rapat ini. Anak saya terjatuh di sekolah saya harus menyusulnya," ucap Leo memutuskan.
"Ya sudah, tidak apa-apa, Pak. Rapatnya juga sudah hampir selesai. Bukankah kita sudah saling menyepakati kerjasama ini?" tutur rekan rapat Leo.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Dan, soal legalitas Bapak bisa membahasnya bersama pegawai saya, Pak."
"Baik, Pak."
"Kalau begitu saya permisi, Pak!" ucap Leo pamit.
Setelah menyerahkan tugasnya kepada Winda— sekretarisnya—Leo langsung keluar dari sebuah resto tempat dia mengadakan rapat. Untung saja tempat rapatnya tidak terlalu jauh dari sekolah.
**
Rania dan Suci telah tiba di sekolah, Rania langsung ke UKS melihat keadaan Kanaya.
"Kanaya kenapa Sayang?" tanya Rania menghampiri Kanaya.
"Aya jatuh, Bu!"
"Kenapa belum diobati nanti tambah sakit lho?" tutur Rania.
"Mau sama ibu diobatinnya," ucap Kanaya manja.
"Ya sudah, ibu ambil plester sama betadine dulu buat obatin luka Aya. Tapi, kalau yang keplintir ibu gak bisa mijat di pijat sama pak satpam ya! Dia yang jago," ujar Rania yang di jawab anggukan oleh Kanaya.
Rania pergi ke ruang sebelah untuk mengambil kotak P3k.
Di saat bersamaan Leo tiba di ruang UKS.
"Kanaya apa yang terjadi Sayang?" tanya Leo menghampiri Kanaya.
Kanaya yang sedang kesakitan kaget saat melihat kehadiran Leo di sekolah.
"Huwaaaaa ... Aya jatuh Pa!" Kanaya menangis dan langsung dipeluk Leo.
"Tidak apa-apa Sayang. Aya, 'kan anak kuat," ujar Leo menenangkan.
Bukannya reda, tangis Kanaya malah semakin keras. Sebenarnya Kanaya menangis bukan hanya karena sakit jatuh terplintir, tetapi Kanaya juga bingung di sana ada Rania dan juga Leo. Dia tak ingin mereka bertemu sekarang, tetapi sepertinya takdir berkata lain, semesta tak bisa menahan mereka tuk tak bertemu.
Bagaimana ini bunda pasti kaget liat Papa ada disini, kenapa harus sekarang? Waktunya salah ... sungguh salah .... belum saatnya mereka bertemu. Aku belum menyelesaikannya. Kanaya kebingungan.
Sedangkan di ruang sebelah Rania yang sedang mengambil kotak p3k. Ia mendengar seseorang memanggil Kanaya. Suara yang tak asing di telinga Rania, ia pun lalu bergegas tuk memastikan siapa pemilik suara itu.
Setiba di kamar UKS tampak jelas seorang lelaki sedang memeluk Kanaya dan menenangkannya. Rania sangat kaget dia tak percaya seseorang yang dikenalnya sedang memeluk Kanaya. Ternyata perkiraannya benar, orang yang memeluk Kanaya adalah orang yang selama ini selalu Rania hindari sampai dia harus pergi ke luar kota.
Karena terlalu kaget, tanpa sengaja kotak P3k yang dipegangnya terjatuh dan hampir mengenai kakinya. Semua menoleh ke arah suara benda terjatuh dan tampak Rania yang sedang mematung.
*terima kasih buat semuanya yang udah mo baca karyaku, maaf ya masih amburadul maklum aku hanya penulis amatirann...😂😂. di tunggu like dan komennya ya....🙏🙏.