NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belanja Pertama

Pagi telah menyingsing. Cahaya matahari yang cerah menembus celah gorden kamar Ezra. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kesegaran yang luar biasa pada otot-otot tubuhnya. Tidak ada lagi rasa kaku atau nyeri yang biasanya mendera bahu dan punggungnya. Tidurnya malam tadi juga begitu nyenyak. Sebuah kemewahan yang sudah lama tidak ia nikmati.

Dengan semangat yang jauh lebih baik, Ezra beranjak dari ranjang dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ritual mandinya tidak memakan waktu lama. Begitu ia keluar dengan rambut yang masih agak basah, tatapannya langsung tertuju pada tempat tidur. Sprei dan selimutnya sudah ditata rapi. Begitu pula pakaian kerjanya yang sudah lengkap berada di sana.

Ezra terdiam sejenak, melirik pintu kamar yang tertutup rapat. Ia bertanya-tanya kapan tepatnya wanita itu masuk ke kamar untuk menyiapkan semua ini tanpa sepengetahuannya. Ada rasa penasaran yang menggelitik, namun ia segera mengusir pikiran itu. Ia hanya menghela napas panjang, lalu mulai mengenakan pakaiannya.

Walaupun enggan mengakuinya secara langsung, ia harus jujur pada dirinya sendiri bahwa memulai hari dengan persiapan yang teratur seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada harus sibuk mencari sendiri di antara tumpukan lemari.

Sementara itu di lantai bawah, Azizah tengah bereksperimen dengan menu sarapan baru. Ia mencoba menyiapkan sandwich ala orang kota dengan isian telur, smoked beef, selada, tomat, dan keju. Resep itu berasal dari internet yang sejak subuh tadi sibuk ia pelajari.

Setelah memotong sandwich itu menjadi dua bagian, Azizah menatanya di piring Ezra. Untuk dirinya sendiri, ia justru merasa cukup dengan memakannya langsung di atas talenan. Ia menggigit potongan miliknya, lalu mengangguk antusias. Rasanya tidak terlalu buruk untuk percobaan pertama.

Tepat saat itu, Ezra turun. Azizah buru-buru menelan makanannya dengan panik.

Ezra menatap wanita itu lalu menggeleng pelan, “Kalau lapar, duluan saja. Tidak perlu menungguku,” ucapnya, lalu duduk di kursinya.

Azizah hanya bisa menutup mulutnya yang masih penuh, lalu mengangguk patuh.

Ezra mulai menggigit sandwich itu. Azizah memperhatikannya dengan saksama. Matanya tertuju lurus pada setiap gerakan rahang suaminya untuk menunggu reaksi. Namun Ezra tetap diam dan terus mengunyah tanpa ekspresi. Wajahnya datar, membuat Azizah bertanya-tanya dalam hati. Hasil karya pertamanya ini sebenarnya enak atau tidak?

Namun keraguan itu sirna saat Ezra menghabiskan seluruh bagiannya tanpa sisa. Ia kemudian menatap Azizah.

“Bisa kau buatkan untuk bekal?”

Azizah terpaku sejenak, lalu senyum lebar merekah di wajahnya. Ia mengangguk cepat dengan semangat.

Tandanya lezat, bukan? Batinnya girang. Ia segera berdiri untuk menyiapkan kotak bekal.

Sambil menunggu, Ezra membuka ponsel untuk membalas pesan sekretarisnya terkait rapat penting pagi ini. Tidak butuh waktu lama bagi Azizah untuk mengemas sandwich itu ke dalam kotak, lalu memasukkannya ke dalam paper bag yang ia temukan di rak dapur. Ia kemudian meletakkannya di meja makan.

Ezra menyimpan ponselnya dan meraih paper bag itu. Saat ia hendak berdiri, Azizah buru-buru menunjukkan layar ponselnya.

‘Isi kulkas hampir habis. Apa aku boleh minta izin untuk berbelanja?’

Ezra terdiam, seperti baru saja dihantam palu. Ia baru sadar bahwa selama Azizah tinggal di sini, ia belum memberikan uang untuk kebutuhan rumah tangga. Tanpa kata, ia merogoh dompet di saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu.

“Pakai ini untuk belanja. Pinnya akan kukirim lewat pesan. Berikan nomormu.”

Azizah mengetik di ponselnya.

‘Sebenarnya Mama sudah memberi nomormu. Aku akan menghubungimu nanti.’

Ezra menghela napas panjang. Ibunya memang selalu memiliki rencana di balik punggungnya.

“Baiklah, terima ini.”

Azizah menerimanya dengan ragu, namun ia tahu ini adalah bentuk nafkah yang seharusnya. Ia kembali menulis di ponselnya.

‘Aku berjanji menggunakannya hanya untuk belanja kebutuhan rumah. Aku tidak akan menggunakannya untuk kebutuhanku sendiri. Jadi Mas tenang saja, uangmu tidak akan terpakai sia-sia.’

Membaca itu, hati Ezra serasa tersentil. Ia tiba-tiba membandingkan sikap Azizah dengan Sienna, yang biasanya tanpa ragu meminta barang-barang mewah padanya. Azizah, di sisi lain, bahkan harus berjanji untuk tidak menggunakan uangnya demi kepentingan pribadi.

Wanita macam apa dia sebenarnya? Batin Ezra. Hartanya tidak akan habis walaupun digunakan Azizah, tapi justru kejujuran wanita itu yang membuatnya tertegun.

Azizah kembali mengetik.

‘Terima kasih.’

“Pesanlah taksi. Jangan naik kendaraan umum, karena itu lebih aman,” ucapnya dingin sebelum beranjak pergi.

Sebelum Ezra benar-benar keluar, Azizah merasa ada yang kurang. Di depan pintu, saat Ezra sedang sibuk memakai sepatu, Azizah meraih tangan kanan suaminya dan mencium punggung tangan itu. Ia kemudian menunjukkan layar ponselnya.

‘Hati-hati, Mas.’

“Hm,” balas Ezra singkat.

Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar sambil membawa bekal sandwich buatan Azizah.

......................

Setelah sedikit berjuang dengan aplikasi navigasi di ponselnya, Azizah akhirnya berhasil menemukan lokasi pasar tradisional di kota itu. Ia membayar ongkos taksi yang tadi ia tumpangi, lalu melangkah mantap masuk ke dalam pasar yang ramai.

Azizah sangat antusias memilih sayur-sayuran segar dan bumbu dapur. Saat hendak membayar belanjaannya di pedagang pertama, ia pun menyodorkan kartu yang diberikan Ezra tadi pagi. Namun pedagang sayur itu mengerutkan kening, lalu terkekeh pelan.

“Nak, kartu seperti itu biasanya dipakai di supermarket mewah. Bukan di sini tempatnya,” ucap pedagang itu ramah.

Wajah Azizah merona merah karena malu. Ia segera meletakkan kembali sawi yang sempat ia pegang, lalu dengan cepat mengetik di ponselnya dan menunjukkannya.

‘Maaf, saya tidak tahu. Suami saya hanya memberikan ini tanpa memberitahu tempat mana yang bisa menggunakannya.’

Pedagang itu tersenyum maklum, “Dari logatmu, kau bukan asli sini ya?”

Azizah hanya mengangguk sopan, lalu kembali mengetik.

‘Kalau begitu, saya permisi. Mohon maaf sekali lagi.’

“Santai saja, Nak. Hati-hati, ya,” sahut pedagang itu.

Azizah mengangguk hormat, lalu bergegas keluar dari area pasar. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan sisa semangatnya, ia kembali membuka aplikasi navigasi di ponsel. Kali ini mengganti kata kunci pencarian menjadi supermarket. Matanya berbinar saat melihat titik lokasi supermarket yang cukup besar ternyata terletak tidak jauh dari sana, bahkan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Tanpa membuang waktu, Azizah mengikuti petunjuk arah digital di ponselnya dan menyusuri trotoar kota dengan langkah yang mantap.

Begitu kaki Azizah sampai di depan bangunan supermarket, ia mendongak dengan takjub. Bangunan itu megah dan bertingkat. Inilah kali pertamanya berbelanja di tempat seperti itu.

Azizah membulatkan tekad, lalu melangkah masuk ke dalam supermarket. Baru satu langkah, ia langsung di sambut hawa dingin dari pendingin ruangan. Tatapannya kemudian menyusuri deretan rak yang menjulang tinggi dan penuh dengan barang-barang yang tersusun rapi menurut kategori. Ia merasa seperti sedang berada di dalam gudang ajaib. Segala hal ada di sini, mulai dari bahan makanan segar, buah-buahan, hingga beraneka jenis kebutuhan rumah tangga dengan kemasan yang mengilap.

Azizah takjub, namun sekejap kemudian ia terkejut saat melirik label harga yang tertempel di beberapa produk. Harganya berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan harga di pasar tradisional. Namun ia teringat kartu Ezra. Ia yakin, uang suaminya itu tidak akan habis hanya untuk membeli kebutuhan rumah tangga.

Ia pun mengambil troli dan mendorongnya dengan sedikit canggung di antara barisan pembeli lain. Azizah fokus memilih bahan makanan pokok, lalu beralih ke deretan perlengkapan rumah tangga. Ia mengambil tisu toilet, sabun mandi, sampo, sabun pel, hingga sabun cuci piring dan perlengkapan dapur dengan hitungan yang cermat. Ia tetap mengutamakan barang yang benar-benar dibutuhkan. Tidak sembarangan mengambil walaupun ia tahu uang itu milik suaminya.

Setelah trolinya terisi cukup penuh, ia bergabung dalam antrean panjang menuju kasir. Sambil menunggu gilirannya, Azizah terus menghafal angka pin kartu yang baru saja dikirimkan Ezra melalui pesan singkat. Takut-takut ia salah memasukkannya nanti.

Begitu sampai di urutan depan, ia segera memindahkan barang-barangnya ke atas meja kasir. Petugas mulai memindai barang satu per satu dengan cekatan. Saat angka total harga muncul di layar monitor, Azizah membulatkan matanya hingga hampir copot.

Astaga, hanya untuk beberapa kebutuhan dapur dan sabun-sabun saja harganya bisa sebanyak ini? Batinnya kaget. Walaupun ia sudah berusaha menghemat, nominal itu tetap terasa fantastis baginya.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengeluarkan kartu Ezra dari dompet kecilnya. Petugas kasir menyambut kartu itu dengan ramah, lalu memberi isyarat agar Azizah memasukkan nomor pin di mesin EDC. Dengan hati-hati, Azizah menekan tombol angka satu per satu sesuai yang ia hafalkan.

Proses pembayaran selesai. Azizah mengembuskan napas lega yang tertahan. Ia membawa dua kantung kresek berukuran besar yang cukup berat, lalu melangkah keluar dari supermarket dengan perasaan campur aduk. Antara bangga karena berhasil menjalankan tugasnya dan sedikit cemas melihat harga kebutuhan hidup di kota yang begitu tinggi.

......................

Di sisi lain, Ezra baru saja melangkah keluar dari ruang rapat dengan dasi yang sedikit longgar. Ia merasa lega rapat penting itu telah usai dengan hasil yang memuaskan. Sesaat kemudian, ponsel di saku jasnya bergetar. Ia membukanya dan ternyata notifikasi dari pihak bank yang merinci nominal pengeluaran dari kartu yang ia berikan pada Azizah tadi pagi.

Ezra menatap layar ponselnya sejenak, lalu menyeringai tipis.

“Cukup murah dibanding biasanya,” gumamnya.

Ia teringat betapa Mbak Ida seringkali menghabiskan nominal yang jauh lebih besar setiap kali berbelanja bulanan. Rasa penasaran tiba-tiba menyelinap di benaknya.

“Sebenarnya apa saja yang dibeli wanita itu?”

Ezra mematikan layar ponselnya. Ia sempat terpikir, apa jangan-jangan Azizah sengaja menghemat?

Namun ia segera menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran itu. Baginya, mustahil seorang wanita tidak akan memanfaatkan kesempatan untuk berbelanja sebanyak mungkin jika sudah diberi akses penuh ke kartu milik suaminya.

“Ada-ada saja,” decaknya

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!