Aditya adalah seorang pewaris tunggal dari perusahaan terkenal dan terbesar di Indonesia, suatu hari Aditya di pinta kedua orang tuanya untuk menikah karena usianya sudah mendekati kepala tiga, Aditya terus di desak agar cepat menikah oleh kedua orang tuanya. sampai akhirnya Aditya menjalankan penyamarannya dan bertemu dengan seorang gadis sederhana dan cantik yang menolongnya memberikan makanan dan minuman pada saat masa penyamarannya mencari pendamping hidup yang benar-benar mencintai dan menerima dia apa adanya tidak hanya memandang kemewahan dan kekayaan.
Apakah gadis cantik tersebut adalah pilihan Aditya? atau Aditya lebih memilih gadis cantik yang lain?
yuk kepo-in novel saya yang kedua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sischa cintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACS 12
Wati dan suci sampai dirumah setelah mereka menemui pak Topan di restauran tempat Wati bekerja.
Wati kemudian memarkirkan motornya di garasi rumahnya yang ada di samping rumah tersebut.
Wati dan suci berjalan menemui kedua orangtua Wati yang sedang duduk di teras depan sambil bersantai.
"assalamualaikum Abi umi" ucap Wati sambil meraih tangan kedua orangtuanya diikuti oleh Suci.
"waalaikumsalam nak" jawab kedua orang tuanya tersenyum melihat mereka berdua.
"gimana sudah ketemu dengan bos kamu ?" Tanya Abi Somad.
"Alhamdulillah sudah Bi " jawab Wati.
"Terus apakah mbak mu bisa diterima di tempat kamu bekerja?" Tanya Abi Somad.
Wati tersenyum dengan Abinya kemudian dia menjawab pertanyaan Abinya.
"Alhamdulillah Bi besok Mbak Suci berangkatnya bareng Wati, karena Mbak Suci kerjanya sama dengan Wati, baik liburnya ataupun harinya.
Suci tersenyum...
"Alhamdulillah ya Allah engkau memberikan aku langkah yang terbaik di kota ini dan mengenal orang-orang yang baik yang telah membantu dan menampung diriku disaat aku memerlukan bantuan "gumamnya sambil menatap kedua orangtua Wati.
"Alhamdulillah kalau seperti itu" ucap umi Syiah.
"sekarang Suci bisa panggil Abi dan umi sama bapak dan ibu ya" kata umi Syiah.
Suci menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan umi syiah.
"Nak Suci, sekarang nak suci itu sudah Abi umi anggap seperti anak sendiri, jadi jangan sungkan lagi, insya Allah dengan jalan Allah kita akan bisa mengambil ijazah nak suci di tempat Fira tersebut" ucap Abi Somad.
"Terima kasih Abi, Terimakasih umi sudah menganggap Suci sebagai anak sendiri, doakan Suci semoga Suci bisa membalas kebaikan Abi dan umi, karena Abi dan umi juga sudah Suci anggap seperti orang tua Suci sendiri. " Ucapnya.
Abi somad dan Umi syiah tersenyum.
"Sekarang silakan mempersiapkan segala sesuatunya untuk bekerja besok" ujar Abi Somad beranjak berdiri mau meninggalkan mereka berdua di ikuti oleh Umi Syiah.
"Tapi Abi mau kemana ?" tanya Wati.
"Abi mau ke tempat pak RT mau mengatakan kalau di rumah kita ada salah satu keluarga kita lagi biar Pak RT tahu" ucap Abinya.
"Oh ya udah,kalau gitu hati-hati ya Abi umi " ucap Wati tersenyum.
"assalamualaikum" ucap Abi uminya.
" waalaikumsalam " jawab Wati dan suci memandangi kepergian Abi dan uminya yang sedang meninggalkan rumah mereka menuju rumah pak RT.
Kemudian suci memandang Wati yang sedang tersenyum senyum sendiri.
"kamu kenapa tersenyum dek?" Tanyanya.
" nggak Mbak aneh aja deh, dengan pak Topan, sekali Wati ngomong dia langsung menerima Mbak, padahal masih banyak yang lain mau masuk ke restoran itu sebagai karyawannya" ucap Wati tersenyum pada Suci.
"itu mungkin rezeki mbak aja kali, Jangan berpikiran yang aneh-aneh dek" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Nggak mbak, Wati bukannya berpikir aneh-aneh cuman Wati bingung aja semudah itu pak Topan mengatakan iya jangan-jangan pak Topan naksir Mbak Suci kali" Kekeh Wati.
"apa-apaan sih enggak kali" ujarnya ikut terkekeh juga.
" jangan ngomong seperti itu sama aja kamu berprasangka yang tidak-tidak " ucapnya lagi sambil merangkul Wati.
Kemudian mereka berdua masuk kedalam kamar untuk mempersiapkan perlengkapan besok bekerja Wati dan suci.
*****
Keesokan paginya tepat sehabis salat subuh Wati dan suci pergi ke dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.
Setelah selesai Mereka kemudian duduk di kursi meja makannya untuk sarapan pagi bersama.
Tepat jam 7 mereka berpamitan kepada Abi dan umi untuk berangkat kerja, sementara suci mengenakan pakaian celana panjang dan baju yang sopan.
Wati berboncengan dengan suci menuju ke arah tempat mereka bekerja.
Sesampainya di sana Wati memarkirkan motornya,kemudian mereka berdua masuk ke dalam Restoran tersebut.
Wati dengan sabar memberikan penjelasan kepada Suci kalau pertama datang mereka harus absen kehadiran dulu, kemudian mereka bersih-bersih merapikan meja makan dan mempersiapkan segala sesuatunya. Kemudian tepat jam 8 mereka membuka restoran tersebut.
Suci begitu telaten menerima keterangan dari Wati dan juga para teman-temannya, mereka merasa senang mendapat teman baru seperti Suci yang begitu rajin dan suka membantu teman-temannya, walaupun di antara teman barunya ada beberapa yang bersikap sinis dan penuh kebencian padanya, tapi dia tidak menghiraukan sama sekali, dia tetap senyum pada meraka walaupun muka mereka tidak membalas senyum suci.
Karena baru pertama Suci bekerja dia memberanikan diri untuk mengetahui apa yang belum dia ketahui tentang pekerjaan yang sekarang baru di gelutan.