NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

isi kotak yang kosong

Isi kotak itu tidak seperti yang Kirana bayangkan.

Tidak ada perhiasan,tidak ada uang tunai berlembar-lembar seperti di sinetron yang dulu sering ia tonton bersama ibunya. Yang ada hanya tumpukan kertas yang sudah menguning di pinggirnya, sebuah buku catatan kulit cokelat yang sampulnya mulai retak, dan satu amplop putih dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.

Untuk Kirana, kalau saatnya tiba.

Tangan Kirana gemetar saat membuka amplop itu. Taksi masih melaju, melewati lampu-lampu jalan yang berkelebat di kaca jendela, tapi dunia Kirana saat itu menyempit hanya pada selembar kertas di tangannya.

Kirana sayang,

Kalau kamu sedang membaca ini, itu berarti hidupmu sedang berada di titik yang berat. Ayah tidak tahu bentuk kesulitanmu—mungkin soal uang, mungkin soal orang yang seharusnya melindungimu tapi justru menyakitimu. Tapi Ayah tahu satu hal: kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira.

Perusahaan yang Ayah rintis dulu memang bangkrut di atas kertas. Tapi tidak semuanya hilang. Ada 30% saham yang masih atas nama Ayah di PT Cahaya Abadi Investama—perusahaan yang dulu Ayah bangun bersama sahabat Ayah, Pak Hadi. Perusahaan itu sekarang kecil, hampir tidak terdengar namanya, tapi fondasinya masih ada.

Di buku catatan ini, Ayah tulis semua yang Ayah pelajari selama 20 tahun di dunia investasi—termasuk kesalahan-kesalahan yang membuat Ayah jatuh. Jangan ulangi kesalahan itu, Nak.

Ayah tahu kamu selalu merasa tidak cukup pintar, tidak cukup berharga. Itu bohong. Kamu mewarisi otak Ayah untuk melihat peluang, dan hati Ibumu untuk tetap baik di tengah dunia yang keras. Gunakan keduanya.

Ayah menyayangimu, selalu.

—Ayah

Kirana membaca surat itu tiga kali sebelum ia sadar pipinya basah.

Tujuh tahun ia menyimpan kotak ini tanpa berani membukanya—karena membukanya berarti mengakui bahwa ayahnya benar-benar sudah pergi, dan karena selama itu pula ia sibuk menjadi "istri yang baik" di keluarga Wijaya, sampai lupa punya identitas sendiri di luar status itu.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah kos sederhana di pinggiran kota—satu-satunya tempat yang masih Kirana ingat sebagai miliknya sendiri, peninggalan dari ibunya yang sudah lama disewakan tapi belum pernah dijual. Malam itu juga ia memutuskan pindah ke sana, mengusir penyewa lama dengan kompensasi yang wajar, dan menempati kembali kamar kecil yang dulu jadi tempatnya tumbuh sebelum menikah.

Ia duduk di lantai, koper belum dibuka, tapi buku catatan ayahnya sudah terbentang di pangkuan.

Halaman demi halaman berisi tulisan tangan rapi—analisis pasar, catatan tentang perusahaan-perusahaan kecil yang berpotensi, dan yang paling menarik perhatian Kirana: sebuah halaman bertuliskan besar-besar, digarisbawahi dua kali.

"PT Cahaya Abadi Investama—jangan lepas sahamnya apa pun yang terjadi. Suatu hari perusahaan ini akan dibutuhkan lagi."

Kirana membuka laptop tuanya, mengetik nama perusahaan itu di mesin pencari. Hasilnya sedikit—hanya sebuah situs sederhana yang terakhir diperbarui bertahun-tahun lalu, dan alamat kantor di sebuah ruko kecil yang sepertinya sudah lama tidak terpakai.

Tapi ada satu nama yang terus muncul di catatan ayahnya: Hadi Santoso.

Keesokan paginya, dengan pakaian paling rapi yang ia punya—bukan lagi baju-baju mahal pemberian keluarga Wijaya, tapi kemeja sederhana miliknya sendiri—Kirana mendatangi alamat ruko itu.

Pintu kaca yang berdebu terbuka dengan bunyi lonceng kecil. Di dalam, seorang pria berusia sekitar enam puluhan sedang duduk di balik meja penuh berkas, kacamata bacanya melorot di ujung hidung.

"Cari siapa, Mbak?" tanyanya, tanpa mendongak sepenuhnya.

"Saya cari Pak Hadi Santoso," jawab Kirana. "Saya... anak dari Pak Broto."

Nama itu membuat pria itu mendongak cepat, kacamatanya hampir jatuh.

"Broto? Broto yang dulu...?" Ia berdiri, menatap Kirana lekat-lekat, seolah mencari kemiripan wajah. "Astaga. Kamu Kirana?"

Kirana mengangguk, sedikit terkejut karena masih diingat.

"Ayahmu sering cerita tentangmu," kata Pak Hadi, suaranya bergetar antara haru dan kaget. "Terakhir kali kita bicara, dia bilang kamu akan menikah dengan orang kaya. Katanya kamu akan hidup senang."

Kirana tersenyum tipis, pahit. "Itu ceritanya sudah selesai, Pak. Saya baru saja bercerai."

Wajah Pak Hadi berubah, dari terkejut menjadi prihatin. "Duduk dulu, Nak. Duduk."

Kirana duduk di kursi tua di depan meja itu, meletakkan buku catatan ayahnya di atas meja.

"Saya menemukan ini," katanya. "Dan saya baru tahu kalau ayah saya masih punya 30% saham di perusahaan ini."

Pak Hadi terdiam lama, menatap buku itu seperti melihat hantu masa lalu. "Perusahaan ini... sudah lama tidak berjalan seperti dulu, Kirana. Sejak ayahmu sakit dan mundur, saya jalankan sendirian. Kami kehilangan klien besar, kehilangan kepercayaan pasar. Sekarang cuma tinggal nama dan izin usaha yang masih berlaku."

"Tapi izinnya masih aktif?" tanya Kirana cepat.

Pak Hadi mengangguk pelan. "Masih. Saya pertahankan, entah kenapa. Mungkin karena berharap suatu hari ada yang mau melanjutkan."

Kirana menatap buku catatan ayahnya, lalu menatap Pak Hadi.

"Kalau begitu," katanya, suaranya lebih mantap dari yang ia kira sendiri, "bagaimana kalau kita mulai lagi, Pak? Dari nol, kalau perlu."

Pak Hadi tertawa kecil, campuran antara terharu dan ragu. "Kamu tahu apa soal bisnis investasi, Nak? Setahu saya kamu dulu kuliah desain."

"Saya memang tidak tahu banyak," jawab Kirana jujur. "Tapi saya punya ini." Ia menunjuk buku catatan di meja. "Dua puluh tahun pengalaman ayah saya, tertulis rapi di sini. Dan saya punya waktu—karena sekarang, saya tidak punya apa-apa lagi untuk dikejar selain ini."

Ada keheningan sesaat. Debu berjatuhan pelan dari langit-langit ruko, disinari cahaya matahari pagi yang menerobos kaca berdebu.

"Baiklah," kata Pak Hadi akhirnya, mengulurkan tangan. "Tapi saya ingatkan, ini bukan jalan yang gampang. Kita akan mulai dari bawah, benar-benar dari bawah."

Kirana menjabat tangan itu. "Saya sudah terbiasa dianggap tidak ada apa-apanya, Pak. Sekarang saatnya saya buktikan sebaliknya—diam-diam, sampai tidak ada yang bisa menyangkalnya lagi."

Di luar, dunia yang sama sekali belum tahu apa yang akan terjadi terus berjalan seperti biasa. Rangga sedang menandatangani surat cerai dengan tenang di kantor pengacaranya. Vania sedang memilih gaun pertunangan di sebuah butik mahal.

Dan di ruko kecil berdebu itu, sebuah kerajaan bisnis baru saja mulai ditanam benihnya—diam-diam, tanpa seorang pun tahu bahwa nama yang akan mereka sesali suatu hari nanti baru saja duduk di kursi tua yang berderit.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!