Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah yang gegabah
Vania akhirnya berhasil menghubungi Yoga lewat nomor baru miliknya sendiri, setelah dua hari mencoba tanpa hasil.
"Kenapa kamu menghilang?" desisnya begitu Yoga mengangkat telepon, suaranya tajam dan penuh tekanan. "Kita sudah sepakat, kamu nggak boleh cerita ke siapa pun soal ini."
"Aku nggak cerita ke siapa-siapa," jawab Yoga, meski nada suaranya jelas gugup, sesuatu yang tidak luput dari kepekaan Vania. "Aku cuma... lagi hati-hati aja, Van. Redaksi curiga sama sumber informasinya."
"Hati-hati bagaimana maksudmu?" Vania mendesak lebih jauh, insting curiganya semakin tajam. "Kamu ketemu siapa belakangan ini?"
Yoga terdiam terlalu lama sebelum menjawab—jeda yang, bagi Vania, sudah cukup menjadi jawaban tersendiri.
"Yoga," katanya, suaranya mulai bergetar antara marah dan panik. "Jangan bilang kamu udah ketemu Kirana."
"Aku cuma mau selesaikan masalah ini dengan baik-baik, Van," jawab Yoga akhirnya, memilih jujur daripada terus berbohong. "Aku nggak mau kena masalah hukum karena kamu."
Sambungan telepon terputus setelah Vania melempar makian singkat, tangannya gemetar menahan amarah yang bercampur ketakutan.
Di kantor PT Sentosa Abadi Grup, Rangga sendiri mulai melakukan sesuatu yang tidak biasa ia lakukan sebelumnya: mengecek riwayat transaksi kartu kredit bersama yang selama ini otomatis terhubung dengan rekening keluarga, sesuatu yang biasanya ia serahkan sepenuhnya pada Vania untuk urusan pernikahan.
Satu transaksi mencurigakan muncul di catatan tiga minggu lalu—transfer tunai ke sebuah nama yang tidak familiar, dengan keterangan hanya "jasa konsultasi", jumlahnya cukup besar untuk sebuah "konsultasi" yang tidak jelas jenisnya.
Rangga menatap layar itu lama, mencoba mengingat-ingat apakah Vania pernah menyebut soal konsultasi tertentu belakangan ini. Tidak ada yang ia ingat.
Ia mengetik nama penerima transfer itu di mesin pencari, dan hasil yang muncul membuat dadanya sesak: nama yang sama dengan penulis salah satu artikel di tabloid Bisnis Kota, kontributor lepas bernama Yoga Pratama—penulis artikel yang memuat isu utang lama Cahaya Abadi Investama sebelum klarifikasi Kirana terbit.
Rangga bersandar di kursinya, mencerna kemungkinan yang tiba-tiba terasa sangat nyata di hadapannya.
Apakah Vania yang ada di balik semua ini?
Sore itu, Rangga memutuskan menemui Kirana langsung di ruko Cahaya Abadi Investama—bukan untuk urusan proyek Kavling Timur, tapi untuk sesuatu yang jauh lebih personal.
Kedatangannya yang tiba-tiba membuat Dimas dan Pak Hadi saling pandang, sebelum akhirnya memberi ruang privasi di ruang kerja kecil Kirana di bagian belakang ruko.
"Ada apa?" tanya Kirana, sedikit heran melihat ekspresi Rangga yang tegang, jauh berbeda dari sikap formalnya selama rapat-rapat proyek belakangan ini.
"Aku menemukan sesuatu," kata Rangga, langsung ke inti tanpa basa-basi. "Transfer dari rekening bersama aku dan Vania, ke seseorang bernama Yoga Pratama. Kontributor media yang nulis artikel soal utang lama perusahaanmu."
Kirana terdiam, memperhatikan wajah Rangga lekat-lekat, mencoba membaca apakah ini jebakan atau kejujuran yang sesungguhnya.
"Kamu udah tahu soal ini?" tanya Rangga, memperhatikan reaksi Kirana yang tidak sepenuhnya terkejut.
Kirana menghela napas panjang, mempertimbangkan sejenak sebelum menjawab jujur. "Ya. Yoga sendiri yang datang ke saya beberapa hari lalu. Dia kasih bukti chat, Rangga. Vania yang minta dia sebarkan informasi itu."
Rangga menutup wajahnya dengan kedua tangan sesaat, mencoba mencerna kenyataan yang, meski sudah ia curigai, tetap terasa berat saat benar-benar dikonfirmasi.
"Kenapa kamu nggak bilang ke aku?" tanyanya, suaranya campuran antara kecewa dan bingung.
"Karena ini bukan urusanmu, Rangga," jawab Kirana, tegas tapi tidak kasar. "Ini urusan bisnis saya, dan cara saya menghadapinya. Saya nggak butuh kamu turun tangan membela saya."
Kalimat itu terasa seperti tamparan halus bagi Rangga—bukan karena kasar, tapi karena benar. Ia sadar, posisinya di hidup Kirana sekarang memang tidak lagi seperti dulu.
"Aku cuma... nggak nyangka Vania bisa sejauh ini," kata Rangga akhirnya, duduk di kursi seberang Kirana, wajahnya lelah. "Aku kenal dia hampir setahun, tapi rasanya aku nggak pernah benar-benar tahu sisi ini dari dirinya."
"Orang selalu punya sisi yang nggak diperlihatkan ke semua orang," jawab Kirana, datar, meski ada sedikit ironi dalam kalimat itu yang tidak luput dari kesadaran Rangga sendiri.
Rangga menatap Kirana lama. "Aku minta maaf, Kirana. Bukan cuma soal Vania. Tapi soal semuanya. Soal malam itu, soal cara aku nyeraikan kamu di depan semua orang tanpa sedikit pun mikirin perasaanmu."
Kirana terdiam sesaat, membiarkan kata-kata itu mengendap. Ini pertama kalinya Rangga benar-benar meminta maaf, tanpa dalih, tanpa pembelaan diri.
"Permintaan maafmu nggak mengubah apa yang udah terjadi, Rangga," jawab Kirana akhirnya, suaranya tenang meski dalam. "Tapi saya hargai kamu bilang itu."
"Apa masih ada kesempatan buat aku memperbaiki semuanya?" tanya Rangga, suaranya nyaris berbisik, penuh harap yang tidak coba ia sembunyikan lagi.
Kirana menatapnya lama, mencari jawaban yang jujur di dalam dirinya sendiri. "Saya nggak tahu, Rangga. Yang saya tahu, sekarang saya harus fokus menyelesaikan masalah dengan Vania dulu—untuk bisnis saya, bukan untuk kamu."
Malam itu, sepulang dari ruko, Rangga pulang ke apartemen dengan pikiran penuh. Vania menyambutnya di ruang tamu, wajahnya pucat, jelas sudah menduga sesuatu setelah Rangga tidak membalas pesannya sepanjang sore.
"Kamu dari mana?" tanya Vania, mencoba terdengar biasa saja meski suaranya bergetar.
"Dari ketemu Kirana," jawab Rangga, tidak lagi berusaha menyembunyikan apa pun. "Aku tahu soal Yoga, Van. Aku tahu soal transfer itu."
Wajah Vania berubah pucat pasi, tangannya mulai gemetar. "Rangga, aku bisa jelasin—"
"Jelasin apa?" potong Rangga, suaranya meninggi untuk pertama kalinya sejak mereka bersama. "Kamu sengaja jatuhkan reputasi orang yang sudah nggak ada hubungannya lagi sama kita, cuma karena kamu merasa terancam?"
Vania terdiam, air matanya mulai menggenang, meski Rangga tidak lagi yakin apakah itu air mata penyesalan yang tulus, atau sekadar taktik terakhir yang biasa Vania gunakan untuk meluluhkan hatinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pertunangan mereka diumumkan, apartemen itu dipenuhi keheningan yang berat—keheningan yang menandakan bahwa sesuatu di antara mereka baru saja retak, mungkin tidak bisa disatukan lagi.