Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Rekaman suara Kevin menyebar sebelum makan siang.
Akun besar belum berani menyebut nama, tetapi inisialnya terlalu jelas. Putra keluarga S. Klub Senopati. Perempuan masuk rumah sakit. Ancaman terhadap keluarga korban.
Keluarga Santoso bergerak cepat, tetapi kali ini jejaknya terlalu banyak. Setiap unggahan yang dihapus muncul lagi di akun lain. Potongan suara Kevin dipakai sebagai latar video pendek. Komentar netizen bergerak seperti banjir.
Di ruang kerja, Baskara memukul meja.
"Alya, kamu berjanji tidak akan menyebarkan."
Alya duduk di sofa dengan wajah tenang. "Aku tidak menyebarkan."
Pak Hendra dan Kevin hadir lewat video call. Wajah Kevin merah karena marah. Bu Santoso tidak terlihat, mungkin sedang mengurus tim hukum.
Kevin menunjuk layar. "Bohong. Cuma kamu yang punya rekaman itu."
"Livia punya. Orang yang mengambil ponselnya punya. Teman-temanmu mungkin punya. Staf klub mungkin punya. Kenapa langsung menuduhku?"
Kevin tersedak marah. "Karena kamu memang licik."
Raka yang berdiri di samping Alya berkata, "Jaga ucapanmu."
Pak Hendra menatap Baskara. "Kalau masalah ini tidak berhenti hari ini, kerja sama selesai."
Baskara menutup mata sebentar.
Alya tahu ia sedang menghitung lagi.
Reputasi Santoso atau martabat anak sendiri.
Seperti biasa, hitungan itu tidak lama.
"Alya," kata Baskara, "buat klarifikasi. Katakan kamu salah paham dan rekaman itu tidak utuh."
Raka menoleh cepat. "Pa."
"Diam."
Alya bertanya, "Papa ingin aku berbohong?"
"Papa ingin kamu menyelamatkan keluarga."
"Keluarga yang mana?"
Baskara membeku.
Kevin tertawa sinis dari layar. "Sudahlah, Alya. Kamu mau apa? Uang? Saham? Minta saja. Jangan pura-pura jadi pahlawan."
Alya menatapnya. "Aku mau kamu meminta maaf pada Livia secara terbuka."
Kevin seperti mendengar lelucon. "Tidak akan."
"Kalau begitu tidak ada klarifikasi."
Pak Hendra berkata dingin, "Kamu pikir kami tidak bisa membuatmu menyesal?"
Rafi yang berdiri di belakang Alya bergerak sedikit. Alya mengangkat tangan, menahannya.
"Pak Hendra," kata Alya, suaranya tetap sopan, "kalau keluarga Santoso menyentuh Livia atau keluarganya lagi, file lengkapnya akan masuk ke polisi, media, dan tiga pengacara berbeda. Saya tidak perlu menyesal. Saya hanya perlu menekan satu tombol."
Wajah Pak Hendra mengeras.
Baskara membentak, "Kamu mengancam rekan bisnis Papa?"
"Aku memperingatkan pelaku intimidasi."
Video call terputus dari pihak Santoso.
Baskara berdiri. "Kamu tahu akibatnya?"
"Tahu."
"Kamu membuat Papa kehilangan proyek besar."
"Papa membuatku kehilangan delapan belas tahun. Kita belum impas."
Kalimat itu jatuh terlalu dalam.
Raka menatap Alya dengan dada sesak. Baskara tampak seolah ingin marah, tetapi untuk beberapa detik ia tidak menemukan kata.
Alya berdiri. "Aku ada jadwal sekolah besok. Kalau Papa sudah selesai menjualku, aku ingin menyiapkan berkas."
"Sekolah?" Baskara mengerutkan kening.
"Papa menjemputku pulang untuk memberiku masa depan, kan? Aku harus sekolah."
Baskara mungkin baru ingat bahwa anak yang ingin ia jadikan alat pernikahan masih berusia delapan belas tahun.
Maya masuk saat itu, wajahnya lebih tenang setelah kekacauan pagi. "Soal sekolah sudah Tante urus. Alya bisa masuk SMA Cakrawala mulai besok."
SMA Cakrawala.
Sekolah elite tempat Dinda belajar.
Alya menatap Maya. "Terima kasih."
Maya tersenyum lembut. "Tante ingin kamu cepat beradaptasi. Dinda akan membantumu."
Dinda yang berdiri di belakang Maya tampak tidak senang, tetapi ia tersenyum. "Tentu, Kak. Aku akan kenalkan teman-temanku."
Raka langsung berkata, "Aku bisa mengantar Alya besok."
Maya menjawab cepat, "Tidak perlu. Dinda dan Alya satu sekolah. Supir bisa mengantar mereka."
Alya tahu maksudnya.
Maya ingin Dinda menguasai panggung sekolah lebih dulu.
Bagus. Panggung kedua sudah disiapkan.
Keesokan pagi, mobil keluarga mengantar Alya dan Dinda ke SMA Cakrawala. Rafi duduk di depan bersama sopir, meski Dinda beberapa kali mengatakan sekolah tidak mengizinkan pengawal masuk. Alya hanya menjawab bahwa Rafi tidak harus masuk kelas.
Gerbang sekolah lebih mirip pintu masuk kampus kecil. Gedung modern, lapangan luas, kafe siswa, dan deretan mobil mahal di area drop-off.
Begitu Dinda turun, beberapa siswa menghampiri.
"Dinda!"
"Kamu nggak apa-apa? Aku dengar kemarin rumahmu ramai."
"Itu kakakmu?"
Dinda tersenyum lemah. "Iya. Ini Kak Alya. Dia baru pindah dari Yogyakarta. Tolong bantu dia ya."
Kalimat itu terdengar baik.
Namun kata "tolong bantu" membuat Alya langsung ditempatkan sebagai orang yang tidak mampu.
Seorang gadis berambut pendek menatap Alya dari kepala sampai kaki. "Pindahan kelas tiga? Berat loh. Kurikulumnya beda."
Alya menjawab, "Aku akan belajar."
Seorang laki-laki tertawa. "Semangat. Di sini nggak cukup cuma rajin."
Dinda buru-buru berkata, "Jangan begitu. Kak Alya pintar kok."
"Kamu tahu dari mana?" tanya gadis lain.
Dinda terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum. "Dia kakakku. Aku percaya."
Lagi-lagi indah di luar, kosong di dalam.
Di ruang kepala sekolah, Alya diterima oleh Pak Harun, kepala sekolah yang tampak ramah tetapi matanya cermat. Maya sudah mengirim rekomendasi dan donasi keluarga, jadi proses administrasi cepat.
"Nilai dari sekolah lama cukup baik," kata Pak Harun sambil melihat berkas. "Tapi SMA Cakrawala punya standar tinggi. Kamu perlu mengikuti tes penempatan."
Dinda yang ikut menemani langsung berkata, "Kak Alya baru pindah, Pak. Mungkin jangan terlalu berat dulu."
Pak Harun menatap Dinda. "Aturan tetap aturan."
Alya berkata, "Saya siap."
Tes dilakukan hari itu juga.
Matematika, bahasa Inggris, sains, logika umum. Dinda menunggu di luar bersama teman-temannya. Mereka beberapa kali melihat jam, berbisik, lalu tertawa kecil.
Dua jam kemudian, Alya keluar.
Dinda mendekat. "Bagaimana, Kak?"
"Lumayan."
"Sulit ya?"
"Tidak terlalu."
Teman-teman Dinda saling pandang. Mereka jelas menganggap Alya terlalu percaya diri.
Hasil keluar sebelum jam pulang.
Pak Harun memanggil Alya dan Dinda kembali.
Wajahnya sedikit berbeda.
"Alya, hasil tesmu menarik."
Dinda langsung menahan napas.
Pak Harun melanjutkan, "Nilaimu tidak buruk, tetapi juga tidak terlalu tinggi. Kamu akan masuk kelas reguler dulu."
Dinda tampak lega.
Alya mengangguk. "Baik, Pak."
Pak Harun memperhatikan wajahnya. "Kamu tidak kecewa?"
"Tidak. Saya memang baru menyesuaikan diri."
Di luar ruangan, Dinda merangkul lengan Alya di depan teman-temannya. "Nggak apa-apa, Kak. Nanti aku bantu belajar."
Alya membiarkannya.
Karena ia tahu hasil itu bukan kemampuan sebenarnya.
Ia sengaja menjawab sebagian saja.
Ia perlu semua orang meremehkannya lebih dulu.
Sebelum pulang, ponselnya bergetar.
Raka mengirim pesan.
Ada kabar buruk. Santoso mundur dari proyek, tapi Papa menyalahkanmu. Selain itu, Tante Maya meminta sekolah mengawasi sikapmu.
Alya menatap pesan itu, lalu tersenyum tipis.
Sekolah, keluarga, bisnis.
Mereka ingin mengepung dari semua arah.
Baiklah.
Ia akan membuka jalan dari dalam.
Sebelum mobil datang, Alya menoleh ke gedung sekolah. Di balik kaca lantai dua, ia melihat Dinda berdiri bersama dua temannya. Dinda tidak melambai. Ia hanya menatap, seolah sedang menimbang apakah Alya lebih berbahaya di rumah atau di sekolah.
Alya menyimpan ponselnya.
Rafi membuka pintu mobil. "Hari pertama menyenangkan?"
"Lumayan."
"Definisi menyenangkanmu menakutkan."
Alya masuk ke mobil. "Besok mungkin lebih baik."
Rafi menutup pintu, lalu duduk di depan. "Lebih baik untuk siapa?"
Alya melihat Dinda masih berdiri di balik kaca.
"Belum tahu."
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔