NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 – Rahasia di Balik Menara Tua

Embun pagi masih menggantung di dedaunan ketika lonceng Akademi Aetherion kembali berdentang. Suaranya menggema hingga seluruh penjuru akademi dan membangunkan seluruh murid yang masih terlelap. Namun bagi Aurelia, pagi itu terasa berbeda, karena semalaman, Aurelia tetap terjaga tanpa mampu memejamkan kedua matanya.

Bayangan anak laki-laki yang muncul dari cahaya liontinnya terus terngiang di otaknya. Wajah anak itu terlihat samar dengan senyum yang hangat, dan pita biru yang berada ditangannya terasa begitu akrab, seolah pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tapi, semakin keras ia mencoba mengingatnya, kepalanya justru semakin terasa sakit.

“Ada apa denganku sebenarnya?” Gumamnya pelan.

Di atas meja, tongkat sihir Astralis kembali memancarkan cahaya yang lembut. Kristal berbentuk bintang itu berkilau untuk sesaat, lalu kembali meredup, seolah sedang merespons apa yang tengah dirasakan oleh pemiliknya.

“Aurelia! Cepatlah! Hari ini kita ada kelas pertama dengan Profesor Cedric.” Suara Lyra terdengar riang dari balik pintu bersamaan dengan ketukan pintu.

Mendengar suara Lyra, Aurelia segera mengambil jubah akademinya, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya tersenyum kecil. Untuk sementara, ia memutuskan untuk menyimpan semua pertanyaan itu sendiri.

Koridor utama Akademi Aetherion kini kembali dipenuhi oleh para murid. Mereka berjalan berkelompok seraya membawa buku mantra masing-masing. Namun saat Aurelia melintas bersama Lyra, percakapan di sepanjang lorong perlahan berhenti, seakan terdapat tatapan penasaran yang kembali mengarah padanya.

“Aku dengar Gedung Astralis terbuka karena dia, lho.” Bisik salah seorang murid disana dengan tatapan yang tak lepas dari Aurelia.

“Benar. Bahkan katanya tongkat kuno yang didalamnya juga telah memilihnya.” Ujar murid lain

“Apa benar dia keturunan keluarga kerajaan sihir?” Tutur murid lain lagi.

Bisikkan-bisikkan itu membuat Lyra yang ikut mendengarnya pun merasa sangat risih, ia bahkan memelototi beberapa murid yang masih terus-menerus berbisik terlalu keras, seakan mereka sengaja agar ucapan mereka didengar oleh Aurelia.

“Apa mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain bergosip?” Decak Lyra kesal dan sikap Lyra itu membuat Aurelia tersenyum.

“Tidak apa-apa. Aku juga sudah mulai terbiasa.” Ungkap Aurelia. Meski begitu, jauh didalam hatinya, ia tetap merasa tidak nyaman, karena ia merasa bahwa ia hanyalah gadis biasa yang dibesarkan oleh keluarga Arvendis dan ia tidak pernah meminta semua perhatian yang kini tertuju padanya.

Ruang kelas Ilusi dan Enigma terletak di puncak menara Timur. Ruangan itu benar-benar luas, dindingnya dipenuhi oleh rak buku yang menjulang hingga ke langit, jendela besar pada ruangan itu juga mampu memperlihatkan pegunungan Arcanis yang diselimuti kabut tipis.

Di tengah ruangan terdapat lingkaran sihir raksasa yang terukir di lantai marmer. Disana juga ada Professor Cedric yang sudah berdiri didepan kelas dan seperti biasanya, wajahnya terlihat tenang. Dibalik kacamata tipisnya, terdapat tatapan mata yang tajam, begitu semua murid duduk, ia mulai berbicara.

“Ilusi bukan sekedar tipuan mata.” Suara Cedric terdengar lembut namun juga berwibawa. “Ilusi merupakan kemampuan untuk memengaruhi persepsi, seorang penyihir hebat tidak selalu menang karena kekuatan. Terkadang, ia menang karena lawannya mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada.” Terang Cedric.

Seluruh kelas terdiam mendengarkan penjelasan Cedric. Kini, Cedric mulai mengangkat tongkat sihirnya dan seketika ruangan berubah. Rak buku yang semula ada disana mendadak hilang, lantai marmer juga berubah menjadi padang rumput luas, langit biru terbentang di atas kepala mereka dan terdapat burung-burung berterbangan.

Beberapa murid berdiri ketika angin sepoi-sepoi terasa begitu nyata di kulit mereka, Lyra bahkan sampai spontan berdiri. “Indah sekali.” Decak Lyra kagum memandangi apa yang ia lihat kini dan hal itu membuat Cedric tersenyum tipis.

“Lihat sekeliling kalian. Apa yang kalian lihat?” Tanya Cedric. Ada yang menjawab padang rumput, ada yang mengatakan pohon, ada juga yang mengatakan langit, namun Cedric langsung menggeleng pelan. “Yang kalian lihat hanyalah mana yang ku bentuk menjadi ilusi.” Cedric menjentikkan jarinya, seluruh pemandangan menghilang dalam sekejap dan ruangan kembali seperti semula.

Sihir Cedric membuat beberapa murid disana bertepuk tangan dengan kagum. Namun Cedric justru memandang Aurelia yang tengah tampak diam memperhatikan, dan untuk sesaat tatapan mereka bertemu, entah kenapa Aurelia juga merasa bahwa pria itu seolah sedang mencoba membaca pikirannya.

Pelajaran berlanjut dengan beberapa latihan sederhana. Setiap murid diminta untuk menciptakan ilusi kecil, ada yang berhasil membuat kupu-kupu, bunga, dan ada pula yang hanya menghasilkan asap tipis.

Kini, giliran Aurelia tiba. Aurelia menggenggam tongkat Astralis secara perlahan. Gadis itu mulai menutup matanya dan mencoba mengatur napasnya pelan.

“Bayangkan sesuatu yang paling dekat dengan hatimu.” Suara Cedric terdengar pelan dan Aurelia mengangguk.

Aurelia mulai membiarkan pikirannya kosong. Namun tanpa diduga, cahaya putih keperakan muncul dari tongkatnya. Berbeda dengan murid yang lain, ilusi yang diciptakan oleh Aurelia bukan hanya sekedar benda, karena di tengah kelas tiba-tiba saja muncul langit malam dengan ribuan rasi bintang yang memenuhi ruangan dan membuat semua murid disana terpana.

Bintang-bintang dilangit itu mulai berputar secara perlahan membentuk pola yang indah, kemudian berubah menjadi seekor burung bercahaya. Burung itu terbang mengelilingi seluruh kelas sebelum menghilang menjadi partikel cahaya.

Keheningan mulai menyelimuti ruangan, tak seorang pun bicara karena merasa kagum dengan apa yang mereka lihat saat ini. Cedric menatap langit ilusi itu dengan wajah yang sulit ditebak, tangannya sedikit bergetar, karena ia pernah melihat sihir seperti itu bertahun-tahun lalu dan hanya ada satu orang yang mampu melakukannya.

Bel istirahat mulai berbunyi dan seluruh murid berhamburan keluar, namun Cedric langsung menahan Aurelia. “Tunggu sebentar.” Pinta Cedric dan membuat Lyra ikut menoleh.

“Relia, aku tunggu kamu di kantin, ya.” Ujar Lyra yang membuat Aurelia mengangguk. Begitu ruangan kosong, Cedric berjalan mendekatinya dengan tatapan yang lembut.

“Aurelia. Apakah kau pernah bermimpi tentang tempat yang asing bagimu?” Mendengar pertanyaan itu membuat Aurelia terdiam sejenak, kemudian ingatan tentang wanita berjubah putih, anak laki-laki dengan pita biru dan juga Gedung Astralis.

“Sering,” jawabnya seraya mengangguk pelan dan Cedric langsung menarik napas panjangnya.

“Jika suatu hari nanti kenangan itu kembali, jangan takut. Itu bukanlah kutukan, itu adalah bagian dari dirimu.” Cedric menerangkan dengan tenang dan juga dengan nada suara yang lembut, sedangkan Aurelia menatapnya bingung.

“Sebenarnya siapa aku?” Cedric hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan itu.

“Aku berharap suatu hari nanti kau bisa menemukan jawabannya sendiri.” Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan, dan meninggalkan Aurelia dengan lebih banyak pertanyaan dari pada sebelumnya.

Menjelang sore, Lyra mengajak Aurelia berjalan-jalan di taman Akademi. Bunga-bunga mana bermekaran di sepanjang jalan, air mancur di tengah taman memancarkan cahaya pelangi ketika terkena sinar matahari.

“Aku dengar dibelakang perpustakaan ada menara tua yang sudah ditutup dan ktanya menara itu berhantu.” Lyra berbisik pelan dan membuat Aurelia tertawa kecil.

“Kau percaya cerita seperti itu?”

“Tentu saja.” Jawab Lyra seraya mengangguk serius. “Murid tahun lalu bilang, mereka mendengar suara seseorang menangis disana.” Sambung Lyra.

Aurelia memutar pandangannya ke arah utara Akademi. Di balik pepohonan tua, tampak sebuah menara batu yang menjulang tinggi. Sebagian dindingnya telah ditumbuhi tanaman rambat dan entah kenapa dadanya kembali berdebar seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari sana. Perasaan itu sama seperti saat pertama kali melihat Gedung Astralis.

Malam hari, Aurelia tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya, ia lekas mengenakan jubah tipis lalu keluar diam-diam dari asrama. Koridor akademi telah sunyi, hanya ada cahaya lampu kristal yang menerangi jalan.

Aurelia berjalan perlahan menuju menara tua. Semakin dekat, udara terasa semakin dingin, pepohonan pun bergoyang pelan tertiup angin. Saat tiba didepan pintu menara, Aurelia menghentikan langkahnya. Pintu kayu tua itu penuh ukiran rasi bintang, sama seperti yang ada di Gedung Astralis.

Jantung Aurelia mulai berdegup cepat, tanpa sadar ia mengangkat tangan, dan begitu ujung jarinya menyentuh pintu, ukiran rasi bintang itu mulai bersinar. Cahaya biru menyebar ke seluruh permukaan kayu dan suara mekanisme kuno terdengar dari dalam.

Krekk…

Pintu tersebut perlahan terbuka, udara dingin menyapu wajah Aurelia. Dari balik kegelapan menara, ia mendengar suara lonceng kecil yang bergema pelan seolah seseorang sedang menunggunya.

Dentingan lonceng yang menggema itu membuat Aurelia menelan air liurnya. Kini, rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Namun kakinya tetap melangkah masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, cahaya di sepanjang dinding menara menyala satu per satu.

Disana terdapat tangga yang terbuat dari batu terlihat melingkar mengarah ke atas. Di dinding tergantung puluhan lukisan penyihir kuno. Namun anehnya, semua mata dalam lukisan itu seakan mengarah kepadanya.

Aurelia mulai menggenggam erat tongkat Astralisnya, dan di puncak menara, jauh di atas sana terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan. Entahlah itu seseorang atau sesuatu yang tengah menunggu kedatangannya.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!