NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Motor matic yang kami naiki pun perlahan memasuki halaman rumah. Di teras, aku melihat Mama sedang berkumpul dengan beberapa ibu-ibu tetangga. Gerakan mereka seketika membeku. Mereka terkejut setengah mati melihatku datang membonceng seorang pria asing yang perawakannya tegap, dengan wajah yang plek ketiplek mirip sekali dengan Jayan.

​Belum sempat rasa syok mereka reda, suara klakson mobil yang nyaring terdengar dari arah luar gerbang. Sebuah mobil Kijang mewah perlahan masuk dan terparkir mulus di halaman rumah kami yang cukup luas.

​"Eh, siapa itu?" bisik ibu-ibu tetangga menggunakan bahasa daerah, mata mereka berbinar kepo.

​Aku hanya diam, menatap datar ke arah mobil itu. Pak Jalal dengan langkah ringan langsung mendekati mobilnya. Tak lama, pintu kemudi terbuka dan keluarlah seorang pria yang tak lain adalah Rudi. Setelah bertukar kata dengan Pak Jalal, Rudi dengan sigap berlari ke bagasi belakang dan membukanya lebar-lebar.

​Dari dalam bagasi, Rudi mulai mengeluarkan berbagai macam barang bawaan. Mulai dari tumpukan sembako kelas satu, hingga bermacam-macam kotak kue dan camilan mahal.

​"Hati-hati, Rud! Jangan sampai kue bolu untuk mertuaku penyok!" seru Pak Jalal mengingatkan asistennya dengan suara cukup lantang.

​Aku tertegun di tempat. Mertua? Berani sekali dia memesan sebutan itu sekarang?

​Melihat kehebohan di halaman, Mama langsung berjalan cepat mendekatiku. "Yas...! Siapa dia?" tanya Mama berbisik panik, matanya bergantian menatapku dan Pak Jalal.

​Aku menunduk dalam, lalu berucap dengan suara yang teramat pelan, "Bapaknya Jayan, Ma."

​Mama tersentak kaget. Beliau langsung menelisik perawakan Pak Jalal dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan tidak percaya. "Kau bilang dulu umurnya sudah empat puluhan, kenapa ini masih kelihatan muda sekali? Masih ganteng, tegap lagi...!" tanya Mama bertubi-tubi karena syok.

​"Heh, kan sudah Yasita bilang dulu, Ma. Dia itu aslinya sudah tua! Hanya saya juga tidak tahu kenapa mukanya bisa begitu-begitu saja dari dulu, tidak berubah!" jawabku frustrasi.

​Karena tidak sanggup lagi menghadapi situasi yang mendadak riuh ini, aku langsung melangkah lebar masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan panggilan Mama maupun pandangan menyelidik dari orang-orang. Aku mengunci diri di dalam kamar, lalu mengempaskan tubuhku ke atas kasur dengan posisi tertelungkup. Kubekap wajahku erat-erat menggunakan bantal, lalu menjerit sekuat tenaga di sana. Tangan mengepal, memukul-mukul kasur yang kini pasrah menjadi pelampiasan rasa sesak dan bingung yang berkecamuk di dalam dadaku.

​Setelah emosiku agak mereda, aku bangkit berdiri dan melangkah pelan menuju jendela kamar. Tersingkap sedikit gordennya, aku mengintip ke luar.

​Di halaman, Jayan tampak melompat-lompat girang melihat begitu banyak jajanan dan mainan yang dibawa Rudi. Pandanganku kemudian beralih pada Pak Jalal. Pria berwibawa itu dengan sangat sopan mendekati Mamaku, lalu menyalami tangannya dengan khidmat. Namun, hal berikutnya membuat jantungku mencelos. Pak Jalal mendadak menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Mama, bahunya bergetar, dia menangis seolah sedang memohon ampun atas segala kesalahan masa lalu. Mama tampak mengangguk-angguk paham, lalu mengusap-usap lembut bahu tegap pria yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu, mencoba menenangkannya.

​Hatiku seketika gamang melihat pemandangan itu. Tak lama kemudian, aku mendengar suara Mama memanggil Andra dan Andri, menyuruh kedua adik kembarku untuk membantu mengangkat barang-barang bawaan yang menggunung di bagasi. Awalnya kedua adikku melongo kaget melihat sosok 'kakak ipar' dadakan mereka, namun dengan cepat mereka bergerak membantu Rudi mengangkut barang masuk ke dalam rumah.

​Mama mempersilakan Pak Jalal masuk ke ruang tamu, lalu langkah kaki Mama terdengar mendekati kamarku.

​Tok, tok, tok.

​"Yas...! Buka dulu pintunya, Nak..." panggil Mama lembut.

​Dengan helaan napas berat, aku berjalan mendekati pintu lalu memutar kunci. "Kenapa, Ma?" tanyaku begitu pintu terbuka.

​Mama tidak langsung menjawab. Beliau masuk, lalu menuntun jemariku untuk duduk bersama di tepi tempat tidur. "Kau kenapa, Nak?" tanya Mama pelan, menatap lurus ke dalam mataku.

​Aku hanya menggeleng lemah, menyembunyikan wajahku yang kusut.

​Mama menggenggam erat kedua tanganku, menyalurkan kehangatan seorang ibu. "Yas... Saya tahu kau masih marah dan sakit hati sama dia. Tapi, kejadian dulu itu juga bukan sepenuhnya keinginan dia, Nak. Dia juga korban dari keegoisan istri pertamanya..." ucap Mama dengan nada bicara yang teramat lembut.

​Mendengar kalimat itu, pertahananku runtuh seketika. Air mataku meleleh deras membasahi pipi. Mama mengusap pelan bahuku, membiarkanku menangis sejenak sebelum kembali melanjutkan petuahnya.

​"Maafkanlah dia, Nak. Jika malam kelam itu tidak pernah terjadi, mungkin Jayan yang lucu, pintar, dan menggemaskan itu tidak akan pernah ada di dunia ini untuk menemani kita," ucap Mama lirih.

​Kata-kata Mama menembus langsung ke lubuk hatiku. Aku mengangguk pelan, mengiyakan kebenaran ucapan beliau, meskipun jujur saja perasaanku saat ini masih terasa sangat berat untuk menerima kehadiran Pak Jalal kembali.

​"Keluarlah, Nak. Sapa suamimu. Kasihan dia, sudah jauh-jauh menyeberang pulau hanya untuk mencari keberadaan kamu," ucap Mama sembari bangkit berdiri dari kasur. "Hapus air matamu sekarang. Mama mau ke dapur buat makan siang dulu, bapakmu juga sebentar lagi mau pulang dari kebun."

​Mama mengusap air mataku yang tersisa, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kamar. Meninggalkanku sendirian dalam kesunyian yang dipenuhi dilema besar.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!