Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.
Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.
Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Stress
Akhirnya dua kenderaaan beda merek berhenti di pintu rumah mewah milik Alvin. Semua serba putih bersih tanpa noda kotor sedikit pun. Kusen pintu dan jendela dicata warna metalic perak bikin rumah bercahaya terang. Siapapun yang merancang rumah ini pastilah seorang insinyur handal.
Ketiga tamu Alvin tertegun begitu turun dari mobil. Mereka terpana melihat keindahan rumah milik Alvin. Seumur hidup baru kali ini melihat rumah seindah ini. Pemilik rumah benar-benar berjiwa seni. Ketiga orang itu tak segar beranjak dari tempat mereka menginjakkan kaki. Kaki mereka seolah-olah terpaku di lantai sehingga tidak bisa bergerak sama sekali. Keindahan rumah itu telah membius mereka sehingga terpaku tak bergerak.
Alvin tidak heran melihat tamu-tamunya mengagumi rumah. Ini bukan pertama kali orang memberi penilaian sama terhadap bangunan hasil rancangan dia sendiri. Siapapun yang datang pasti akan tenggelam oleh keindahan rumahnya.
"Ayok kita masuk! Jangan lama-lama berdiri di luar. Tak baik untuk ibu hamil.." suara Alvin menyadarkan ketiga orang itu dari pesona rumah Alvin.
Rendi tersipu malu ketahuan kagum pada rumah orang lain. Rendi tidak malu akui kalau dia belum memiliki kemampuan mempersembahkan rumah semewah ini kepada Wina. Taraf kekayaan Rendi belum mencapai level Alvin. Rendi masih bertatih-tatih merangkak pelan menuju ke atas. Rendi tidak tahu kapan dia akan menyenangkan Wina memberinya rumah semewah ini. Yang pasti Rendi tidak akan putus asa untuk mengejar ketinggalannya.
Alvin memimpin masuk ke rumah yang pintunya memang sudah terbuka lebar menanti majikannya masuk ke dalam. Dari dalam menyebar harum segar floral menenangkan jiwa orang yang mencium haru lembut itu.
"Assalamualaikum..." Alvin mengelus ucapkan salam walau itu adalah rumahnya. Alvin belum melupakan etika sebagai orang beragama. Asal masuk rumah harus menyempatkan diri mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam..." terdengar sahutan dari dalam. Suara seorang perempuan bernada lemah. Ada suara tetapi tidak terlihat sosoknya.
Alvin terus berjalan sampai ke satu ruang luas berisi satu set sofa besar warna metalic perak. Sejauh mata memandang sudah dipastikan tempat duduk itu bukan barang murahan. Keanggunan sofa itu sudah menunjukkan kelasnya.
"Ayok silahkan duduk!" Alvin mempersilakan tamu-tamunya duduk dengan gaya luwes. Alvin duluan mengambil tempat di salah satu sudut sofa. Dia duduk dengan gaya elegan orang berkelas tidak memberitahu semua orang dia adalah orang yang memiliki taraf hidup tinggi.
Ketiga tamu Alvin duduk dengan agak segan takut mengotori sofa yang menciutkan nyali orang untuk menempatkan pantat di atasnya. Ntah datang dari mana perasaan segan mengotori tempat duduk Alvin.
Alvin memandangi ketiga orang itu yang masih ragu-ragu mengambil tempat. Alvin mengerut kening heran mengapa ada orang takut disuruh duduk. Apa kaki mereka tak pegel berdiri lama-lama di lantai.
"Kenapa tak duduk? Rumahku bukan sarang penyamun. Sofanya tidak makan orang kok."
"Sejujurnya kami takut mengotori tempat dudukmu." ujar Luna malu-malu kucing.
Tawa Alvin meledak mendengar apa yang dikatakan oleh Luna. Di undang duduk bukannya segera mengambil tempat malah memikirkan nasib sofa bila terkena kotoran. Pemikiran konyol dan lucu bagi Alvin.
"Macam saja... Aku mau beli sofa ini memang untuk diduduki. Bukan jadi pajangan di ruangan. Kalau kotor kita bisa membersihkannya jadi tidak perlu berpikir aneh-aneh."
Berdasarkan kalimat Alvin maka ketiga orang itu memberanikan diri duduk sejajar dengan Alvin. Wina dan Luna duduk berdekatan sedang Rendi duduk sendirian di sudut lain. Alvin tampak puas akhirnya tamu-tamunya merasa nyaman.
Luna mengelus permukaan sofa yang lembut dengan telapak tangan. Licin tanpa sebutir abu. Hati Luna mencelos membayangkan bagaimana bersihnya Alvin. Luna tidak tahu bagaimana nasib wanita yang menjadi istri Alvin. Persyaratan utama pastilah harus cantik, lalu putih bersih kayak Alvin. Berbadan bagus dan memiliki karakter sempurna. Inilah gambaran istri Alvin. Itu kalau Alvin doyan cewek.
Luna menilai tingkah laku Alvin sedikit janggal. Berbadan tegap tetapi memiliki jiwa feminim. Jangan-jangan Alvin ini cewek terperangkap di tubuh lelaki kekar. Luna hanya berani mengulas kekurangan Alvin dalam hati. Dia mana berani berterus terang mengatakan Alvin itu berkepribadian ganda. Sebentar terlihat sebagai feminim dan sebentar lagi bertingkah seperti lelaki macho. Sulit menebak karakter Alvin sesungguhnya.
Luna cepat-cepat membuang pemikiran tentang Alvin. Siapapun Alvin sesungguhnya bukanlah urusannya. Luna mengikuti Alvin hanyalah untuk mencari perlindungan dari serangan Anjas. Luna tidak butuh mengenal Alvin lebih lanjut.
"Sekarang boleh katakan apa tujuan pak Alvin membawa kami ke sini!" Rendi tidak berlama-lama terpaku dengan keindahan rumah Alvin. Lebih baik langsung ke pokok permasalahan agar semua lebih jelas.
"Baiklah... Aku ini adalah musuh Anjas dalam tanda kutip. Kalian pasti bingung apa yang kumaksud dengan tanda kutip."
Tidak ada yang mau menyahut karena mereka tidak paham kemana arah tujuan kata-kata Alvin. Lebih baik menjadi pendengar yang baik membiarkan Alvin mengungkapkan Apa yang hendak dia lakukan.
"Aku mengenal Anjas dengan baik tapi tidak bersahabat baik. Anjas termasuk saudaraku yang tidak berani mengakui keberadaan aku. Dari dulu kami berseteru dalam bidang farmasi walau beda jalur. Dia fokus ke obat-obat sedangkan aku fokus pada produk skincare. Sama-sama berkecimpung dengan obat-obatan beda produk. Itu bukan topik yang ingin kubahas. Aku berada di tempat sewaktu kejadian terjadi di tempat tinggal Anjas. Aku memahami bagaimana perasaan Nona Luna maka itu aku ingin memberi perlindungan kepada Nona Luna sekaligus menjatuhkan keangkuhan Anjas."
Luna mengerut kening masih belum paham apa yang diinginkan oleh Alvin. Apa hubungannya Luna dengan perseteruan antara Alvin dan Anjas. Luna tidak ingin terlibat di dalam perseteruan tak sehat ini. Lebih baik dia pilih tempat lain untuk berlindung ketimbang menjadi sandera di antara kedua orang itu.
"Maaf ya... aku tidak punya banyak waktu mendengar cerita yang tidak ada hubungan dengan diriku. Aku harus segera meninggalkan kota ini sebelum Anjas melakukan sesuatu." Luna mulai memberanikan diri melindungi diri sendiri. Tidak ada yang bisa menjaganya bila Luna sendiri tidak mau bekerja sama. Tinggal menunggu nasib dikejar oleh mata-mata Anjas.
"Oh maaf nona... tidak seharusnya aku curhat di tempat ini. Aku akan langsung ke topik pembicaraan kita. Aku menawarkan perlindungan karena aku tidak mau Anjas menang lagi. Aku tidak akan membiarkan Anjas mendapatkan apa yang dia inginkan yakni putramu. Dia akan semakin sombong bila mendapatkan pewaris. Aku mau meruntuhkan kesombongannya dengan mengambil alih anak-anaknya."
Luna terhenyak mendengar kata-kata Alvin. Mengapa dia begitu yakin mampu merebut anak Luna. Luna belum gila menyerahkan anak sendiri pada orang asing. Bagaimana kalau orang ini menjual anaknya kepada orang lain. Belum terpikir yang baik, yang buruk duluan menghampiri otak Luna. Bisa jadi Alvin itu kepala dari perdagangan manusia.
"Enak saja ambil anakku. Siapa sudi berikan anak kepadamu? Matikan saja niat jahatmu." Luna memarahi Alvin yang tidak punya otak. Enak saja mau mengambil alih anak orang. Anjas saja tidak berhak untuk anak-anak itu bagaimana orang asing meminta tanpa kenal kata malu.
"Nona... aku tidak berniat jahat. Aku mengambil alih bukan berarti aku mengambil anak-anakmu. Maksudku aku akan melindungi anak-anak ini tanpa memisahkan kalian. Aku belum sedia menjadi papa mereka. Aku bersumpah akan menganggap mereka sebagai anak-anakku."
Wina dan Rendi tidak kalah kesal dari Luna. Ternyata ada orang yang lebih gila dari Anjas. Anjas ingin ambil anak Luna masih termasuk kategori pantas karena Anjas merupakan ayah biologis dari anak-anak Luna. lalu Apa peran Alvin tentang anak-anak Luna?
"Aku tidak peduli apa tujuanmu... yang pasti aku tidak akan menyerahkan anak-anakku kepada orang gila macam kamu. Lebih baik aku pergi jauh ketimbang anak-anak,enjadi korban orang stress."
"Nona marah padaku itu wajar...ibu mana rela anak-anak mereka pindah tangan. Begini nona... aku akan mendaftarkan diri kita di mahkamah agama sebagai suami istri. Lalu aku yang akan mengadopsi kedua anak-anakmu sebagai anak-anakku. Kita akan menikah dengan resmi secara hukum. di sini Kita akan menghapus peran Anjas sebagai papa dari anak-anak. Secara resmi akulah Papa mereka! Nona Luna jangan salah paham mengira aku akan melakukan tindakan terpuji! Aku melakukan semua ini dengan maksud tertentu."
"Cisss... Baru kali ini aku mendengar maling mengaku secara terus terang. Aku puji nyalimu..." Wina sudah gatal mulut ingin memotong semua kata-kata Alvin. Wina menggunakan kesempatan ini untuk memojokkan Alvin bahkan menghinanya sebagai maling.
Alvin tidak marah melainkan tersenyum kecil. Tidak ada tanda-tanda Avin akan ketakutan menghadapi ketiga orang itu. Dia begitu tenang seakan-akan apa yang dia lakukan itu adalah hal wajar.
"Nona... aku memberi perlindungan yang diinginkan oleh Nona Luna dengan persyaratan aku harus menjadi Papa dari anak-anak ini."
"Stress..." rutuk Rendi ikutan gerah mendengar permintaan Alvin. Baru kali ini ada orang sepede ini hendak ambil anak orang tanpa merasa berdosa. Rendi menduga Alvin ini orang kaya berpenyakit jiwa. Saking gila sehingga tak sadar kelakuannya merugikan orang lain.
"Tunggu dulu sobat! Aku akan menjelaskan tujuanku. Kedengarannya konyol bukan tapi ini caraku mencari kemenangan dari Anjas dan nona Luna mendapatkan perlindungan. Sebenarnya Anjas itu saudara tiriku. Kami satu ayah lain ibu. Aku tidak berhak menyandang marga Kutilan karena hanya anak di luar nikah. Aku mau membuktikan pada keluarga sombong itu aku juga bisa kaya walau tanpa bantuan Kutilan. Aku akan mengambil anak-anak keturunan Kutilan sebagai anak-anakku biar mereka tahu rasa bagaimana rasanya kehilangan segala-galanya."
"Maksudmu kamu mau menikahi Luna sebagai balas dendam terhadap Anjas? Apakah kau tak merasa perbuatanmu sangat egois. Kamu mengorbankan Luna dan anak-anaknya sebagai alat untuk memuaskan kebencian kamu." Rendi kesal bukan main lihat keegoisan Alvin.
Alvin manggut-manggut memahami perasaan Rendi. Kedengarannya Alvin memang seperti orang tak punya perikemanusiaan tega menganiaya orang lain demi kepuasan batinnya. Namun Rendi tak sadar Alvin menjanjikan keamanan buat Luna. Anjas takkan berani melawan Alvin karena tahu Alvin yang nyiur melambai bukan lawan ringan. Di balik gemulai tersimpan power tak kasat mata. Itulah modal melindungi Luna.