Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C012: Kencan
...Selamat Baca...
Matahari telah sepenuhnya tenggelam di balik ufuk, digantikan oleh langit malam yang bertabur bintang-bintang berkilauan.
Di kediaman megah milik Alexander Sterling, suasana tampak lebih hidup namun tetap memancarkan ketenangan yang mewah.
Seperti janji yang diucapkan Alexander sore tadi, Liana kini telah bersiap dengan penampilan terbaiknya.
Ia mengenakan gaun panjang berwarna perak pucat yang berkilau lembut setiap kali terkena cahaya,
Dipadukan dengan potongan anggun yang menutup tubuhnya dengan sopan namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping dan indah.
Rambut hitam panjangnya disanggul rapi ke belakang, membiarkan leher jenjang dan wajah cantiknya yang tenang terlihat jelas.
Tidak berlebihan, namun aura keanggunan seorang wanita bangsawan dari Virlan terpancar kuat dari setiap gerak-geriknya.
Saat Liana melangkah turun tangga utama, Alexander sudah menunggunya di ruang tengah.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan, tampak gagah dan berwibawa seperti biasa.
Namun, saat matanya menangkap sosok Liana, sorot matanya yang biasanya dingin kini melembut, dipenuhi kekaguman yang mendalam.
Ia diam sejenak, seolah terpukau oleh keindahan wanita di hadapannya.
"Kau tampak luar biasa indah malam ini," ucap Alexander pelan, suaranya rendah dan terdengar tulus.
Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan kanannya.
Liana tersenyum tipis, menerima uluran tangan itu dan meletakkan tangannya di atas telapak tangan hangat milik Alexander.
"Terima kasih, Tuan. Kau pun tampak sangat menawan," jawabnya lembut.
Mereka berdua pun beranjak keluar, menuju mobil mewah yang sudah bersiap di halaman.
Malam itu, Alexander memilih untuk menyetir sendiri, membiarkan sopirnya beristirahat.
Ia ingin waktu ini benar-benar milik mereka berdua saja, tanpa ada orang lain yang mendampingi.
Perjalanan menuju tempat tujuan berlangsung dalam keheningan yang nyaman.
Di dalam mobil yang hangat itu, tangan Alexander sesekali menggenggam tangan Liana yang bertumpu di atas paha wanita itu, memberikan rasa aman yang begitu besar.
Liana memandang ke luar jendela, melihat kilauan lampu-lampu kota Auronia yang berjejer indah, namun pikirannya tertuju sepenuhnya pada pria di sampingnya.
Pria yang dulunya hanya dianggap sebagai paman dari suaminya, kini menjadi satu-satunya tempat ia bersandar di dunia ini.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan mewah yang berdiri megah di pinggiran teluk.
Itu adalah restoran ternama yang hanya menerima tamu terbatas, tempat di mana segala sesuatu disajikan dengan standar tertinggi.
Suasana di dalamnya hangat, diterangi cahaya lilin dan diiringi alunan musik piano yang lembut, menciptakan suasana romantis namun tetap berkelas.
Alexander telah memesan ruang makan pribadi, sehingga mereka berdua benar-benar terpisah dari keramaian.
Di sana, mereka duduk berhadapan, ditemani pemandangan laut yang gelap namun indah di balik kaca besar.
"Makanlah dengan nikmat, Liana. Malam ini, lupakan segala hal yang berat di masa lalu."
"Anggaplah malam ini sebagai perayaan kebebasanmu," ujar Alexander sambil menuangkan minuman ke dalam gelas Liana.
Liana mengangguk perlahan, senyum bahagia terukir di bibirnya. "Terima kasih, Alex. Aku benar-benar merasa... beruntung."
"Dulu aku mengira hidupku akan berakhir suram dan penuh penderitaan, namun aku tidak menyangka bahwa di ujung jalan itu, justru kaulah yang menungguku dan menuntunku keluar dari sana."
Alexander menatapnya lekat-lekat, sorot matanya dalam dan penuh perasaan. "Kau tidak beruntung, Liana. Kau berharga. Keluarga Sterling—termasuk keponakanku sendiri—mereka semua buta."
"Mereka tidak menyadari apa yang ada di depan mata mereka. Mereka melepaskan permata paling indah hanya karena mereka tidak paham cara menghargainya."
Ia menjeda ucapannya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun tegas. "Tapi tidak denganku. Sejak saat aku menyadari siapa dirimu yang sebenarnya,"
"Aku berjanji pada diriku sendiri: aku akan memastikan kau mendapatkan tempat yang seharusnya, tempat di mana kau bisa bersinar sepenuhnya."
Kalimat itu menyentuh hati Liana begitu dalam. Ia menunduk sejenak, menahan rasa haru yang meluap,
Lalu kembali menatap Alexander dengan mata yang berbinar. Di sini, di hadapan pria ini,
Ia merasa dirinya bukan sekadar wanita yang dibuang, melainkan seseorang yang sangat berharga.
"Alex..." panggilnya pelan. "Sebenarnya... ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu."
"Sesuatu yang sudah lama tersimpan di dalam hatiku, dan kini rasanya waktu yang tepat untuk mengucapkannya."
Alexander mengangkat alisnya sedikit, memberi isyarat agar wanita itu melanjutkan. "Katakan saja. Apapun itu, aku dengarkan."
Liana menarik napas panjang, menata kata-katanya agar tersampaikan dengan benar.
"Selama lima tahun aku tinggal di kediaman utama keluarga Sterling, hidupku terasa begitu sempit dan terkekang. Aturan-aturan kaku yang berlaku di sana melarang banyak hal."
"Wanita harus diam, harus tenang, harus selalu berada di belakang layar, dan tidak boleh menonjolkan diri."
"Padahal... sejak aku kecil, saat aku masih dididik di Virlan, aku diajarkan banyak hal."
"Aku belajar seni, aku belajar memainkan berbagai alat musik, baik yang tradisional maupun modern. Aku pun belajar teknik vokal dan komposisi lagu."
Ia tersenyum kecil, namun ada sedikit rasa getir yang terselip di sana.
"Dulu, aku sangat menyukai musik. Itu adalah satu-satunya cara bagiku untuk menumpahkan segala perasaan saat aku merasa sepi dan kesepian."
"Saat Alistair tidak pernah mengunjungiku, saat aku hanya sendirian di dalam kamar yang besar itu... aku sering menulis lirik, menyusun nada, dan merekamnya diam-diam."
"Aku memiliki banyak sekali karya yang tersimpan, namun semuanya hanya menjadi milikku sendiri karena aku tidak memiliki kebebasan untuk memperlihatkannya kepada dunia."
"Keluarga Sterling menganggap hal-hal seperti itu tidak penting, bahkan dianggap sesuatu yang tidak pantas bagi istri mereka."
Alexander mendengarkan dengan saksama, wajahnya tampak serius, namun tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal,
Seolah menahan rasa kesal yang mulai muncul kembali mengingat perlakuan keluarganya terhadap wanita ini.
"Dan kini..." Liana menatap lurus ke manik mata pria itu, suaranya terdengar semakin yakin.
"Kini aku sudah bebas. Aku tidak lagi terikat oleh aturan kaku mereka. Aku ingin sekali... bisa mengembangkan bakat itu."
"Aku ingin bernyanyi, aku ingin menciptakan lagu, dan aku ingin karyaku didengar oleh banyak orang. Alexander, aku ingin terjun ke dunia hiburan. Aku ingin menjadi seorang penyanyi."
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Liana sedikit gugup, menunggu reaksi pria di hadapannya.
Ia takut jika keinginannya ini dianggap sepele atau mengganggu rencana Alexander.
Namun, sepersekian detik kemudian, Alexander justru mengembangkan senyum lebar yang sangat tulus.
Ia tampak sangat senang, bahkan terlihat lega seolah ia telah menunggu kalimat itu keluar dari mulut Liana.
"Kau ingin menjadi penyanyi?" tanyanya pelan, nada suaranya penuh persetujuan.
"Liana, kau tidak perlu meminta izin untuk hal seperti itu. Kau tidak perlu ragu sedetik pun."
"Jika itu yang kau inginkan, jika itu yang membuat hatimu bahagia, maka aku akan mendukungmu sepenuhnya."
"Bahkan jika kamu ingin menjadi aktris sekalipun, aku akan tetap terus mendukungmu dibelakang layar."
Alexander condongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap wanita itu dengan pandangan yang berbinar bangga.
"Aku sudah menduga, bahwa wanita sepertimu tidak mungkin hanya memiliki keindahan rupa saja. Pendidikanmu di Virlan, ketenanganmu, kecerdasanmu..."
"Semuanya menunjukkan bahwa kau memiliki talenta luar biasa yang selama ini dikurung. Mendengar kau mengatakan hal ini justru membuatku sangat gembira."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang bertekad kuat.
"Besok pagi, aku akan segera mengurus segalanya. Aku akan menyiapkan tempat terbaik untukmu."
"Sebuah studio musik lengkap, tempat di mana kau bisa berkarya sepuas hatimu, tanpa ada yang melarang atau membatasi."
"Aku ingin mendengar apa yang telah kau buat selama ini, Liana. Aku ingin mendengar suaramu, dan aku yakin... dunia pun akan terpesona saat akhirnya mereka mendengarmu bernyanyi."
Hati Liana terasa penuh meluap oleh rasa bahagia yang tak terlukiskan. Matanya berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan,
Melainkan karena rasa syukur yang mendalam. Ia tidak menyangka dukungan yang ia terima akan sebesar ini, sepenuh ini.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Alex," ucapnya dengan suara sedikit bergetar.
Alexander bangkit berdiri dari kursinya, lalu berjalan mengitari meja hingga tiba di sisi Liana. Ia mengulurkan kedua tangannya, dan Liana pun bangkit berdiri.
Tanpa ragu lagi, Alexander merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya—sebuah pelukan hangat, lembut, dan penuh perlindungan.
Tidak ada hal lain yang melampaui batas, hanya rasa aman dan kasih sayang yang terasa begitu nyata dalam dekapan itu.
"Jangan pernah berterima kasih padaku untuk hal-hal yang seharusnya kau dapatkan," bisik Alexander tepat di samping telinga Liana.
"Segala hal indah di dunia ini memang pantas menjadi milikmu. Tugasku hanyalah memastikan kau mendapatkannya."
Malam itu berlanjut dengan percakapan-percakapan ringan yang menyenangkan, di mana mereka berdua saling bercerita tentang banyak hal, saling mengenal lebih dalam lagi.
Di bawah cahaya remang dan suasana malam yang tenang itu, benih-benih mimpi Liana mulai tumbuh kembali, disirami oleh dukungan penuh dari satu-satunya orang yang paling ia percayai.
Malam itu juga menjadi tanda awal yang baru. Sebuah babak kehidupan di mana Liana Varella tidak lagi sekadar menjadi bayang-bayang di belakang nama besar keluarga Sterling,
Melainkan mulai bersiap untuk menciptakan namanya sendiri, bersinar dengan cahayanya sendiri,
Didampingi oleh pria yang akan selalu ada di sisinya—sebagai pelindung, pendukung, dan pendamping seumur hidupnya.