Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Setelah memastikan mobil Kelvin benar-benar menghilang di balik gerbang tinggi, Nada memutar tubuhnya. Ia kembali ke lantai atas dengan langkah yang tenang, menyusuri koridor megah yang sunyi hingga tiba di kamar utama mereka. Begitu pintu ditutup rapat, topeng malaikat yang ia kenakan di hadapan Siska dan Eyang Arka seketika luruh, menyisakan raut wajah yang dingin dan sedalam lautan malam.
Nada melangkah mendekati meja kerja pribadi Kelvin di sudut kamar. Di sana, di antara beberapa dokumen penting, berjejer tiga buah bingkai foto perak. Nada mengulurkan tangan, meraih salah satu bingkai tersebut.
Di dalam foto itu, Kelvin tampak tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang belum pernah ia tunjukkan pada Nada—sembari merangkul pinggang Catalina yang tertawa lepas berlatar belakang menara Eiffel. Mereka tampak begitu serasi, begitu sempurna, dan begitu saling memuja.
Manik mata indah Nada seketika menyipit, berkilat tajam dan menusuk. Jemarinya mencengkeram pinggiran bingkai foto itu hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ternyata... kalian sangat romantis ya," ucap Nada lirih. Suaranya rendah, bergetar oleh kombinasi rasa muak dan kebencian yang mendalam. "Benar-benar pasangan yang serasi."
Pandangan mata Nada mendadak kosong, terseret masuk ke dalam pusaran memori kelam belasan tahun lalu yang selalu menghantuinya setiap malam.
Flashback On
Masa remaja yang seharusnya indah, bagi Denada adalah neraka dunia. Sejak menginjak bangku SMP, hidupnya dihabiskan dalam ketakutan. Catalina, yang terlahir sebagai putri tunggal dari keluarga terpandang dan menjadi primadona sekolah, menjadikan Nada sebagai sasaran empuk perundungan. Tiga tahun di SMP, Nada selalu menjadi bahan olokan, disiram air kotor di kamar mandi, hingga buku-buku pelajarannya dirobek tanpa alasan.
Siksaan itu tidak berhenti. Berlanjut hingga mereka masuk ke SMA yang sama. Catalina semakin berkuasa, dan puncaknya terjadi saat mereka duduk di kelas 3 SMA. Saat itu, Catalina yang mulai merambah dunia model, berhasil memikat hati seorang pemuda kaya raya dari kota—Kelvin Alexander. Dengan adanya Kelvin di sisi Catalina, gadis itu merasa menjadi ratu yang tidak bisa tersentuh oleh hukum apa pun.
Hingga pada suatu sore yang naas, hujan deras mengguyur kota. Nada yang sudah tidak tahan lagi karena seragamnya dikotori, akhirnya mencoba melawan Catalina di area parkir luar sekolah. Perdebatan sengit terjadi di tengah guyuran hujan yang lebat.
Khawatir karena putrinya belum pulang, kedua orang tua Nada datang menjemput menggunakan sepeda motor tua mereka. Di saat yang sama, Catalina yang baru saja mendapatkan mobil mewah baru dari orang tuanya—meski belum lancar mengemudi—nekat menghidupkan mesin dengan emosi yang meluap-luap setelah dilawan oleh Nada.
Catalina menginjak pedal gas terlalu dalam demi menghindari adu mulut. Mobil itu melesat tak terkendali di atas aspal yang licin karena hujan, tepat saat motor orang tua Nada berbelok memasuki area luar gerbang.
Brakkk!
Suara hantaman keras berdenting, membelah suara gemuruh guntur. Nada terbelalak kaku. Di depan matanya sendiri, sepeda motor itu terpental jauh. Tubuh ayah dan ibunya terkapar di atas aspal, bersimbah darah yang perlahan luntur tersapu air hujan.
Namun, yang membuat jiwa Nada mati malam itu bukanlah sekadar kecelakaan tersebut, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Keluarga Catalina menggunakan pengaruh mereka, ditambah dengan backingan dana serta kuasa hukum dari keluarga Kelvin Alexander yang waktu itu buta karena cinta, untuk menutupi kasus ini.
Kasus itu diredam dengan sangat rapi. Catalina yang bersalah bahkan tidak menyentuh dinding sel penjara sama sekali, ia hanya mendapatkan teguran dan rehabilitasi mengemudi ringan. Sementara itu, Nada harus pulang ke rumah dengan dua peti mati. Sejak hari itu, Denada yang ceria telah mati, digantikan oleh jiwa yang dingin yang mengabdikan hidupnya demi satu tujuan: pembalasan dendam.
Flashback Off
Napas Nada memburu saat memori itu terputus. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya, namun ia segera mengusapnya dengan kasar. Ia menolak terlihat lemah, bahkan di hadapan bayangan masa lalunya.
Nada meletakkan kembali bingkai foto Kelvin dan Catalina ke atas meja dengan ketukan yang keras, hingga kaca bingkai itu retak seribu di bagian wajah Catalina.
"Dan dari sinilah... aku memulai dendamku," desis Nada, suaranya terdengar sangat tajam dan mengerikan di dalam kamar yang sunyi itu.
Ia menatap retakan kaca di wajah Catalina dengan senyuman sinis yang menawan sekaligus mematikan. "Aku akan merebut semua yang berharga darimu, Catalina. Dan setelah semuanya hancur, aku sendiri yang akan memaksamu bersujud di bawah kakiku untuk memohon ampunan."